Furnitur Rotan Premium Besutan Alvin

Di tangan Alvin Tjitrowirjo, rotan menjadi produk furnitur yang elegan dan premium. Maklum, pria berusia 32 tahun ini memiliki keahlian dalam mendesain furnitur sehingga produknya yang bermerek Alvin T terkesan mewah dan berbeda dengan furnitur rotan pada umumnya. Apalagi, furnitur rotannya tidak hanya dijual di dalam negeri, melainkan juga dipasarkan ke negara-negara di Amerika, Eropa dan Australia; sehingga sering dianggap produk dari luar negeri.

Alvin TjitrowirjoBagi alumni Jurusan Desain Furnitur, Royal Melbourne Institute of Technology University, Australia tahun 2004 ini, potensi Indonesia sebagai negara penghasil rotan yang besar belum dimaksimalkan. Juga, meski sudah lama dipakai Indonesia dari ratusan tahun lalu seperti untuk keranjang dan kursi, rotan tetap kurang dihargai.

Menurut finalis International Young Creative Entrepreneur dari British Council Indonesia ini, banjir material rotan tidak diikuti dengan munculnya pengrajin-pengrajin inovatif. “Kebanyakan orang Indonesia puas cuma jadi tukang jahit,” Alvin menyesalkan. “Dan, selamanya akan menjadi tukang bikin saja yang terus bergantung pada orang-orang luar negeri,” lanjutnya, prihatin.

Karena keprihatinannya itulah, Alvin terdorong serius mengibarkan bendera Alvin T. Setelah meraih gelar Master Desain Produk dari IED European Design Labs Madrid, Spanyol, pada 2009, ia terus memproduksi karya furniturnya. Bahkan, beberapa karyanya sempat dipamerkan di Harrods, London, pusat perbelanjaan paling prestisius di Inggris.

Agar bisnisnya maju, Alvin memegang beberapa prinsip. Pertama, tidak boleh menyontek desain orang lain. Di Indonesia urusan sontek-menyontek merupakan hal yang lumrah, tetapi ia tidak mau melakukan hal tersebut. Kedua, jika menggunakan high quality material, harus benar-benar high quality. Tidak boleh menipu jika bicara soal kualitas.

Ketiga, otentik dari segi merek. Pasalnya, kalau melihat merek-merek furnitur modern dan kontemporer kebanyakan mereknya kebarat-baratan atau tidak mencerminkan etnik Indonesia. “Jadi, kami mau create value juga di otentisitas ini. Tiga faktor utama inilah yang ingin kami tunjukkan,” ucapnya.

Sekarang target utama pasar yang dibidik Alvin adalah pasar lokal. Namun, ia juga melayani pemesaan dari pelanggannya dari Amerika, Eropa dan Australia. Hingga saat ini sudah ada 60- an desain furnitur yang dibuatnya atau dalam setahun ia bisa menghasilkan 5-10 desain. Saat ini pun ia sudah memiliki ruang pajang di Jalan Suryo 11A, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. “Di sini tempat orang bisa mencoba produk kami. Kalau mau coba, mau lihat, mau pegang, bisa datang ke sini,” ujar Alvin setengah berpromosi.

Saat ditanya soal omset bisnisnya, Alvin mengatakan bahwa bisnisnya tumbuh cukup sehat. “Perkembangannya cukup pesat dan dari tahun ke tahun berkembang 50%-60%,” ujarnya. Sebenarnya bisnis ini cukup sehat dan sangat menantang, dalam arti pesaingnya belum banyak.

Alvin melihat tantangan dalam bisnis ini adalah pasarnya masih terbatas. Ia mencontohkan Jakarta, yang didiami sekitar 18 juta orang, tetapi hanya sedikit yang benar-benar mengerti desain; hanya sekitar 100 orang yang membeli produknya. Itu sebabnya, saat ini ia tengah mencari cara bagaimana melakukan ekpansi bisnis lebih besar lagi ke luar negeri. Ia pun rajin mengikuti berbagai pameran di luar negeri seperti di Singapura, Thailand, Italia, Jerman, Prancis, dan tahun depan rencananya di Amerika Serikat. (*)

Dede Suryadi dan Sri Niken Handayani

Riset: Gustiyanita Pratiwi

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)