Gerak Cepat Icon+ Menjawab Tantangan di 2014

Banyak orang percaya bahwa 13 adalah angka sial. Namun skeptisme itu nampaknya tidak berlaku bagi PT Indonesia Comnets Plus (Icon+). Diusianya yang genap 13 tahun, anak perusahaan PT PLN (Persero) tersebut semakin menunjukkan perfoma terbaiknya diindustri teknologi informasi komunikasi (TIK).

Sebagai bagian dari perusahaan plat merah, Icon+ mengklaim, bahwa keberadaannya memegang peranan penting dibisnis TIK di Indonesia. Selain menawarkan layanan TIK terlengkap, perusahaan yang didirikan pada 3 Oktober 2000 ini juga mengaku sebagai penyedia solusi TIK yang berhasil menggaet banyak perusahaan, baik skala besar ataupun usaha kecil dan menengah (UKM).

Muhammad Danny Buldansyah, Direkur Utama Icon+ (tengah), beserta jajaran BOD dan BOC Muhammad Danny Buldansyah, Direkur Utama Icon+ (tengah), beserta jajaran BOD dan BOC

Muhammad Danny Buldansyah, Direkur Utama Icon+, menerangkan, saat ini Icon+ miliki jaringan fiber optik sepanjang 891.000 kilometer yang terbentang di Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Sumatera, Sulawesi dan Kalimantan. Perusahaan tersebut telah mengelola pelayanan pelanggan PLN secara terpadu di seluruh Indonesia. Hal itu, menurutnya, menjadi bukti adanya terobosan yang dilakukan Icon+ terhadap PLN melalui contact center PLN 123, sehingga induk perusahaan tersebut dapat meningkatkan pelayanan kepada para pelanggannya dengan memberikan kemudahan dan percepatan sistem pelayanan PLN.

“Untuk itu kami siap menjadi mitra strategis bagi perusahaan-perusahaan layanan jaringan berbasis fiber optik ke segmen yang lebih luas seperti penyedia layanan TIK dan konten, termasuk kerjasama infrastruktur dengan penyelengara telekomunikasi di Indonesia,” papar Buldansyah, yang akrab disapa Danny.

Walau semakin moncer, bukan berarti bisnis Icon+ berjalan tanpa hambatan. Sebagai komandan tertinggi, kekhawatiran terhadap fluktuasi bisnis perusahaan masih menjadi momok terbesar Danny. Misalnya, soal penyalahgunaan right of ways (RoW), pelayanan dan omset perusahaan, hingga masalah nilai merek (brand value).

Disela-sela perayaan Icon+, Danny mengungkapkan bahwa ada tiga hal yang menjadi tantangan bisnis Icon+ di tahun ini dan 2014. Meski begitu, ia tetap optimis hal tersebut bisa diselesaikan sehingga dapat memuaskan semua mitra dan menghijaukan laporan keuangan perusahaan. Seperti apa tantangan yang dihadapi Icon+?. Berikut wawancara Reporter SWAOnline, Ario Fajar dengan pria murah senyum ini.

Selama 13 tahun berdiri, apa prestasi terbesar Icon+?

Kami masih tetap mendukung bisnis induk perusahaan yakni PLN. Misalnya, billing, payment gateway dan contact center. Hal itu disebabkan karena kami memanfaatkan infrastruktur yang dimiliki oleh PLN. Jadi kepuasan pelanggan PLN juga menjadi tanggung jawab kami. Pendapatan kami juga ditopang dari kontribusi PLN yang mencapai 45%, sisanya dari mitra lainnya.

Layanan apa yang paling memberikan kontribusi terbesar untuk perusahaan?

Secara umum, kami menyediakan layanan solusi IP dan data komunikasi. Bisnis data komunikasi masih menyumbangkan kontribusi 70% di mana rata-rata kebanyakan berasal dari perusahaan telekomunikasi

 Bisa dirinci apa saja layanan yang ditawarkan?

Clear Channel, IP VPN, Metronet, VSAT, Layanan akses internet dan IIX, jasa teleconference, teknologi informasi, ICON Cloud, Colocation, dan Hosting.

Siapa saja mitra atau klien Icon+?

Hampir semua bank di Indonesia menggunakan layanan Icon+. Perusahaan besar seperti Astra dan beberapa penyedia telekomunikasi juga telah menjadi klien kami.

 

Muhammad Danny Buldansyah, Direkur Utama Icon+ Muhammad Danny Buldansyah, Direkur Utama Icon+

Bagaimana soal pendapatan perusahaan?

Tahun 2011 pendapatan perusahaan kurang dari Rp 700 miliar, tahun 2012 menembus Rp 1 trilun dan tahun ini diproyeksikan meningkat 20-30%.

Adakah rencana investasi?

Rencana investasi tahun ini adalah Rp 600 miliar. Dana tersebut akan digunakan untuk pengembangan cakupan wilayah, konektivitas, dan meningkatkan kinerja.

Bagaimana tanggapan PLN soal kinerja Icon+?

Yang pasti mereka terus mendukung bisnis Icon+.

Adakah target tertentu terkait pendapatan yang ditetapkan PLN?

Tidak ada. Sebagai induk perusahaan, PLN berharap, kami terus memberikan jasa TIK yang cepat sehingga menjadi nilai tambah untuk perusahaan.

Seperti apa posisi Icon+ bagi PLN bila dibandingkan dengan anak-anak perusahaan lainnya?

Ini bukan soal seberapa besar kontribusi kami untuk induk perusahaan, tapi lebih kepada jasa yang kami berikan kepada induk dan perusahaan-perusahaan lainnya. Pendapatan PLN mencapai Rp 100 triliun dan itu tidak bisa menjadi bahan perbandingan. Jadi, langkah bijaknya adalah kami akan menggunakan deviden untuk investasi dan pengembangan perusahaan.

Apa yang menjadi tantangan perusahaan tahun ini dan tahun depan?

Tantangannya ada tiga. Pertama soal, penyalahgunaan right of ways (RoW). Ini kami anggap sebagai masalah yang cukup serius. Masalahnya adalah banyak pihak-pihak yang tanpa izin (ilegal) yang menggunakan infrastruktur Icon+ yaitu berupa tiang listrik. Itu tentu merupakan tindak pelanggan sehingga dapat mengganggu layanan Icon+ serta bisa saja membahayakan orang-orang sekitar. Ada satu tiang melebihi batas kuota pemasangan. First Media misalnya, di mana anak-anak perusahaannya banyak melakukan tindak pelanggan itu.

Apakah berdampak pada kerugian bisnis Icon+?

Jelas. Kejadian ini terjadi dibeberapa wilayah, contohnya : Jakarta dan Bangka Belitung. Sebagian dari mereka sudah diproses ke meja persidangan. Kami harus gerak cepat mengatasi tantangan ini.

Berapa besar kerugiannya?

Saya tidak bisa menyebutkan angka pastinya berapa. Hitung-hitungan sederhananya adalah sewa satu tiang mulai dari Rp 14.000- Rp 20.000 per bulan. Satu tiang katakanlah ada empat “penumpang gelap”. Jadi bisa dijumlahkan : 100.000 tiang yang disalahgunakan x Rp 14.000.  Maka kerugian bisa ditaksir Rp 1 miliar per bulan.

Tantangan selanjutnya?

Tantangan kedua adalah bagaimana agar Icon+ terus menjadi perusahaan terdepan di industri TIK. Meski banyak kompetitor, kami tidak gentar berkompetisi di ranah ini. Kekuatan kami adalah kami memiliki infrastruktur yang sangat luas.

Sedangkan tantangan terakhir yaitu soal identitas merek. Jika diperhatikan, kami baru saja berganti “wajah”. Logo tidak diganti, tapi ornamen-ornamen yang disesuaikan. Misalnya ada unsur warna merah, kuning, biru. Kami juga memiliki tagline baru yaitu “We Speak Beyond Connectivity”. Program rebranding ini akan terus berjalan ke publik. Caranya dengan melakukan aktivasi merek ke tiga kota besar, pusat perbelanjaan, dan jumpa media.

Bagaimana soal rencana pengembangan bisnis tahun depan?

Kami segera meluncurkan produk baru yakni bisnis cloud. Ke depannya untuk mengantisipasi “penumpang gelap”, kami akan tawarkan kontrak kerjasama dengan sistem revenue sharing. Kami bisa sediakan tiang, mereka bisa gunakan kabel mereka sendiri. Ketentuannya yakni 7% dari pendapatan mereka harus diberikan ke Icon+.

Target tahun depan?

Kami proyeksikan pendapatan perusahaan mencapai dua digit. Kontribusi sumber pendapatan mungkin tidak terlalu banyak berubah yakni sekitar 40:60 untuk non-PLN dan PLN. (EVA)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)