Gladys Natalia, 'Mawarnya' Bisnis Gaun Gladysposa

Usaha bridal kini tidak hanya didominasi desainer senior. Sukses yang diraih Gladys Natalia (25) melambungkan Gladysposa adalah satu bukti di mana anak muda pun mampu berprestasi. Dengan mengusung beberapa line wedding seperti wedding gown, kids gown, serta wedding shoes, gadis berparas oriental ini menyasar kalangan ‘the have’ sebagai target marketnya.

Segmen premium itu dibidik dengan menawarkan harga gaunnya mencapai Rp 50-80 jutaan per piece. Sementara itu catatan portofolio lain putri pertama dari 2 bersaudara pasangan Sugiharto dan Linda Purnawan ini layak masuk sebagai generasi usaha bridal bermasa depan cerah. Portofolio tersebut di antaranya :

  1. Pernah menangani event-event besar sekelas Miss World Fashion Designer, Miss Earth Fashion Designer, serta Harpers Bazaar Event di Ritz Carlton.
  2. Sering berkolaborasi dengan MNC TV dan Ciputra World Surabaya untuk setiap event-eventnya.
  3. Pernah membuat baju robotic pada saat berumur 18 tahun. Baju tersebut hanya berupa rok pesta, dimana di dalamnya terdapat tombol sehingga ketika ditekan, rok tersebut dapat terangkat menjadi sebuah rok pendek. Waktu itu, gadis kelahiran Surabaya 25 Desember 1988 ini mengambil tema Cultural  Futuristic, yakni perpaduan antara baju daerah dengan bayangan era beribu-ribu tahun mendatang dimana semuanya terbayang serba robotic yang canggih.
  4. Mendapat award bergengsi pada saat berusia 19 tahun yaitu, “The Youngest Bridal Designer,” di sebuah event The Pallace Jewelery.
  5. Awal Juli 2013, mendapatkan award 3rd Runner Up Miss Wirausaha Kreatif Indonesia tahun 2013. Dan sekarang mulai masuk ke dunia Kementerian untuk menjalankan tugasnya memajukan pembangunan Indonesia terutama sebagai ikon young enterpreneur.

Gladys Natalia Gladys Natalia

Lantas bagaimana kelengkapan info bisnis pemilik quote : A woman should have brain, beauty, and behavior and a passionate curious person, she’s doesn’t try to become a women of success, but become a woman with value dengan line produk yang semuanya bertemakan “La vie en Rose” ini? Berikut penuturan gadis yang dari covernya terlihat kalem namun cocok dengan peribahasa air tenang menghanyutkan ini kepada Gustyanita Pratiwi dari SWA Online :

Apa spesifikasi profesi Anda?

Saya adalah bridal designer, kids designer, dan yang akan datang masuk ke lingerie designer juga. Untuk bridal saya juga buat shoes wedding.

Bagaimana awal mula Anda mendirikan bisnis ini?

Sebetulnya saya memulai usaha Gladysposa ini sejak Agustus 2012. Setelah lulus dari Raffles Design Institute, Shanghai 2 tahun lalu, saya kembali ke Indonesia. Sebenarnya saya asli Surabaya. Tapi saya memutuskan pindah ke Jakarta untuk bekerja. Karena saya masih muda, jadi saya merasa tidak akan dapat pengalaman baru kalau hanya ikut orang tua. Saya merasa tidak mandiri. Akhirnya saya pilih hijrah sendiri ke ibu kota. Saya memulainya dari bawah. Coba-coba mendirikan perusahaan bridal. Sebenarnya Orang tua juga tidak ada background di bidang fashion. Tapi saya sangat tertarik ke sana.

Memang latar belakang profesi orang tua apa?

Orang tua punya usaha pabrik dan otomotif di Surabaya, Bali, dan beberapa pulau lainnya di Indonesia.

Apa tonggak-tonggak kesuksesan Anda saat memulai usaha ini?

Dari pertama kali sebelum mendirikan usaha ini, saya sudah mencoba melamar pekerjaan ke beberapa orang. Tapi 5 kali saya ditolak. Alasannya mereka tidak mencari asisten desainer. Memang asisten desainer itu cocok-cocokan ya. Jadi orang jarang ganti. Akhirnya, setahun setelah itu, saya kursus macam-macam. Ya kursus desain, kursus masak, dll.

Tahun lalu, akhirnya saya memutuskan untuk memulai bekerja sendiri. Jadi dari susahnya cari pegawai lewat koran, mengatasi mereka dari nol, itu saya alami semua. Tapi menurut saya itu bukan suatu masalah. Namanya pengalaman, mungkin saja tidak bisa saya dapatkan di lain waktu.

Kemudian saya memulai dengan 1 exhibition di Ritz Carlton, sebuah bazaar wedding yang saya ikuti dengan memamerkan 6 baju dan dress kid saja, kurang lebih total ada 8 pieces. Kenapa saya ambil kids juga? Karena kebetulan di Jakarta ini untuk desainer kids customed masih belum ada. Jadi marketnya masih sangat luas. Dan ternyata memang benar. Marketnya sangat bagus. Tanggapannya luar biasa. Akhirnya saya tambah orang lagi. Meskipun begitu, di belakang sebenarnya banyak lika-liku manajemen yang terjadi.

Sebenarnya orang tua saya adalah tipe orang yang tidak mengajari saya harus seperti apa. Nasihat mereka : saya harus nyebur kolam dulu. Sampai akhirnya tidak bisa keluar, baru mereka tarik saya ke luar. Jadi apapun yang saya kerjakan, saya sendiri yang cari solusinya. Saya pelajari dulu sistem manajemennya seperti apa. Buka-buka internet dan sebagainya.

Nah, dalam setahun, lewat 2 bulan setelah ikut pameran, akhirnya saya dapat mitra bisnis sekelas Ciputra World (Surabaya). Saya mengisi setiap acara mereka. Setiap kali billboard Ciputra World mendapat event, mereka pakai karya-karya saya. Misalnya pada tanggal 21 November 2012, saya pamerkan rancangan saya yang bertema La Vie En Rose di Ciputra World Surabaya. Busana saya waktu itu terinspirasi dari keindahan bunga mawar dengan pilihan warna-warna pastel seperti putih, pink, atau biru. Walaupun ada pula warna tegas seperti merah.

Kemudian saya ikut acara MNC TV dan Fashion TV. Beberapa kali saya ikut fashion show di acara TV mereka selama selang waktu 6 bulan. Dan di bulan ke-7 dan ke-8, saya sudah mendapat fashion show di Pasific Place dan beberapa mall lainnya. Awal tahun kemarin, saya juga beberapa kali sudah mengadakan road fashion show tunggal sendiri di Ritz Carlton. Saya merasa sangat berterima kasih kepada Tuhan karena tidak sampai setahun, saya sudah bisa mendesain baju Miss World untuk September besok.

Bicara soal produk, Apa ciri khasnya yang membedakan dengan bridal lain?

Ciri khas karya saya adalah semuanya pasti berhubungan dengan rose. Kalau tidak bordirannya, siluetnya, atau apapun semua berhubungan dengan rose. Dan saya tidak pernah lepas dari itu karena saya pikir itu adalah signature saya.

Kalau nama caracter designnya “La vie en Rose,” yang menampilkan keindahan, desire, love, beauty, romantic, dan sweet. Bahannya memakai bahan silk atau organza. Semuanya handmade. Untuk lingerie, sedang dalam project pengerjaan dan akan masuk ke market internasional serta departement store.

Gladys Natalia, pemilik Gladysposa (photo by Gustyanita Pratiwi) Gladys Natalia, pemilik Gladysposa (photo by Gustyanita Pratiwi)

Kebanyakan mereka pesan yang jenis apa ?

Tergantung pesanan.

Jadi begitu ada yang pesan baru dibikin ya?

Tidak. Saya juga ada baju-baju sendiri yang dipamerkan di showroom. Lokasinya di Jl. Bumi No. 8, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Berapa rentang harganya?

Itu tergantung juga. Kalau anak-anak, sekitar 8 juta  per piecesnya. Kalau wedding ada yang 50 juta-80 juta, per piecesnya. Ada juga yang Rp 35 juta. Itu harga terendahnya.

Omset berapa?

Maaf sepertinya jangan ditulis.

Lebih ke model barat yang modern ya?

Iya.

Segmen yang Anda sasar?

Segmen menengah dan menengah ke atas.

Kalau pesanan paling banyak bisa mencapai berapa per bulannya?

Tergantung. Untuk bulan ini sampai September sementara saya stop dulu, karena harus konsen di pengerjaan Miss World 2013 yang akan berlangsung di Bali September 2013 depan.

Konsep apa yang akan Anda kerjakan di Miss World Event depan?

Temanya Bizentium, era-era di Turki yang garis besarnya menggambarkan zaman katedral-katedral dicampur dengan batik. Jadi ada sentuhan Indonesianya.

Strategi pemasaran?

Sekarang saya merambah fans dengan mencari Word Of Mouth (WOM). Jadi, yang membeli baju saya bisa mendapatkan kartu member yang saya tulis sendiri. Jika dia mengajak temannya untuk beli ke saya, lalu temannya hanya menyebutkan nama pembeli pertama saya, maka pembeli pertama inilah yang akan mendapatkan diskon lebih atau free gift. Begitu seterusnya.

Kalau pemanfaatan platform media social digunakan juga untuk membantu pemasaran tidak? Bentuknya apa saja?

Media social, di Twitter, Facebook, Instagram. Untuk website masih dibuat.

Siapa saja klien-klien Anda?

Beberapa artis dan kalangan lainnya.

Boleh disebutkan nama-namanya?

Sepertinya confidential. Karena mereka menginginkan privasi.

Total karyawan?

Yang ini juga jangan disebut ya, karena ada beberapa yang tidak tetap.

Catatan prestasi Anda kan lumayan banyak, apa tujuan Anda mengikuti event-event itu?

Punya pengalaman lebih banyak, karena saya tipe orang yang suka mengumpulkan portofolio dan adding value. Saya selalu mengikuti program-program tersebut supaya memperbanyak portofolio, value, serta pengalaman yang tidak bisa kita dapatkan jika kita tidak belajar. Kegiatan-kegiatan seperti ini sisi positifnya juga dapat membangun networking sehingga nantinya bermanfaat untuk kelancaran usaha yang akan kita set.

Apa harapan Anda ke depan?

Saya ingin go international, terutama untuk lingerie, saya melihat pasar internasional itu lebih bagus daripada pasar Indonesia. Karena orang Indonesia masih cenderung menahan diri untuk membeli suatu lingerie buatan desainer sementara antusiasme pasar luar negeri terkait produk ini memang lebih tinggi. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)