Goris Mustaqim, Terpanggil Membangun Tanah Kelahiran

Di usia yang masih muda, Goris Mustaqim sukses menggelorakan semangat kewirausahaan di kalangan pemuda Garut. Yayasan Asgar Muda Foundation, yang bergerak di bidang pendidikan, kewirausahaan pemuda, pengembangan komunitas, microfinane, dan pemberdayaan petani mampu menggali potensi Garut lewat berbagai aktivitas bisnis sosial. Apa kunci sukses Goris dalam membesarkan Asgar Muda Foundation? Goris menuturkannya kepada Mochamad Januar Rizki:

Bagaimana latar belakang Anda menularkan semangat wirausaha kepada anak muda?

Saya dulu adalah kreator dari ITB Entrepreneurship Challenge (IEC) semasa aktif di kemahasiwaan ITB pada 2006. IEC sekarang telah menjadi ikon business plan competition di kalangan mahasiswa dengan digelar tiap tahun dan peserta serta acara yang semakin banyak. Dari sana saya membentuk usaha sendiri bersama beberapa alumni ITB di bidang RFID Solution dalam payung PT Resultan Nusantara. Seiring perjalanan waktu saya tergerak juga untuk menggunakan kewirausahaan dalam pemecahan masalah sosial di kampung halaman saya, di Garut. Selain terlibat aktif dalam beberapa konferensi kewirausahaan dunia, saya juga menjadi konsultan untuk menyebarkan gerakan kewirausahaan sosial, seperti kompetisi Mandiri Bersama Mandiri yang diadakan oleh Bank Mandiri.

Goris Mustakim

Tolong ceritakan awal mula Anda mendirikan Asgar Muda Foundation?

Yang menjadi motivasi saya adalah begitu besarnya potensi Garut, tetapi masih underdevelopment, dulu sempat jadi daerah tertinggal. Merupakan panggilan bagi kami untuk berkontribusi kepada daerah asal dan memberikan peluang untuk banyak orang agar lebih sejahtera. Kami membentuk Asgar Muda pada 2007, disusul dengan berdirinya Yayasan pada 2008, dengan visi mengembangkan beragam potensi lokal agar bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Bagaimana kendala yang Anda alami saat merintis, menjalankan Asgar Muda Foundation?

Kendalanya beragam, seperti waktu yang sangat sempit, karena harus bolak balik setiap akhir pekan ke Jakarta-Garut. Kemudian mencari mitra kegiatan, dan pendanaan untuk menggulirkan berbagai bisnis sosial, yang lebih ditujukan untuk memberdayakan masyarakat, bukan untuk memaksimalkan profit. Yang paling menantang adalah pendekatan sosial, bagaimana agar masyarakat atau anak muda yang terlibat dalam program serta menjadi penerima manfaat dapat memiliki visi sama serta kepemilikan dan bersama-sama mengembangkan program agar sukses.

Apa-apa saja program yang digulirkan serta tujuannya yang dilakukan Asgar Muda Foundation?

Kami bergerak di tiga bidang yaitu pendidikan, melalui kegiatan Supercamp (bimbel unggulan yang mempersiapkan para pelajar kelas 3 SMA lolos ke perguruan tinggi dengan pendidikan yang membangun karakter, 50% pesertanya berasal dari keluarga tidak mampu, dijalankan oleh manajemen dengan skema bisnis sosial, yaitu subsidi silang). Kami juga menjadikan sekretariat kami sebagai pusat komunitas dengan berbagai fasilitas seperti perpustakaan, internet, ruangan bersama. Kedua, kewirausahaan pemuda untuk mendorong dan memfasilitasi pemuda menjadi wirausahawan yang mengembangkan potensi lokal dengan berbagai fasilitas seperti akses ke angel investor, mentorship, kantor bersama, atau akses ke pemasaran, Ketiga community development, microfinance, BMT, Lembaga Keuangan Mikro, koperasi, pemberdayaan petani melalui Gerakan Investasi Pohon kayu di seluruh Garut Semuanya dijalankan dengan bisnis model dan membentuk kelembagaan-lembagaan bersama masyarakat.

Bagaimana cara Anda merangkul anak muda agar terlibat dalam Asgar Muda Foundation?

Anak muda bergabung dengan terlibat dalam kegiatan, sebagai contoh alumni-alumni Supercamp yang telah berumur 6 tahun sebanyak sekitar 1.200 orang langsung menjadi anggota kami. Begitu juga dengan para wirausaha muda binaan, ecopreneur pendamping gerakan investasi pohon, volunteer yang terlibat di berbagai kegiatan sosial, mahasiswa dll. Kami pun mengadakan kaderisasi secara berjenjang.

Bagaimana sistem pendanaannya?

Pendanaan bervariasi. Ada yang kami dapat sebagai modal dari CSR (contoh pendidikan Supercamp dengan Chevron), ada yang kami dapat dari investor langsung seperti wirausaha muda binaan, gerakan investasi pohon, dll. Ada yang kami dapat dengan menggalang dana masyarakat serta campuran dengan PKBL dan investasi pengusaha seperti BMT,Lembaga Keuangan Mikro. Keuntungan yang didapat seperti dari bimbingan belajar, share bagi hasil usaha binaan, maupun hasil usaha yang bersifat jangka panjang selain digunakan untuk gaji dan operasional, dikembalikan ke pemilik modal dan digunakan untuk menggulirkan kembali kegiatan-kegiatan tersebut.

Goris Mustakim2

Apa yang menjadi target ke depan dari Asgar Muda Foundation?

Target kami adalah Asmud semakin berkembang dan memberikan dampak atau impact. Misalnya BMT makin banyak cabang, sekarang sudah 1.000 lebih nasabah, makin banyak usaha-usaha yang maju dan memberikan hasil lumayan untuk yayasan, makin banyak binaan dan nasabah BMT yang maju usahanya, makin banyak anak muda yang kami bina dan telah selesai kuliah dan sukses bisa berkontribusi dalam segala hal ke yayasan dan Garut. Lahan gerakan investasi pohon kami ditargetkan berkembang menjadi 100 hektare dalam lima tahun ke depan. juga makin bertambah layanan kami seperti bidang kesehatan yang belum digarap, rencananya tahun ini akan kami dirikan Rumah Sehat untuk membantu ibu-ibu hamil dan menyusui dari keluarga miskin.

Target lainnya adalah model-model kami semakin banyak menginspirasi daerah lain dan bisa membantu lahirnya social enterprise berbasis kedaerahan sehingga dalamj angka panjang tercatat berkontribusi dalam pembangunan Indonesia yang lebih baik.

Bagaimana progres dari Asgar Muda Foundatin dalam wujud nyatanya?

Sudah ada 1.200 pelajar terbantu dengan program Supercamp kami, lalu sekitar belasan usaha anak muda yang kami bantu supaya lebih berkembang seperti kerajinan kulit, akarwangi, bengkel, peternakan, dan kuliner. Sebanyak sekitar 1.100 nasabah mikro pedagang pasar, pedagang keliling, UKM mikro. Kami bantu dengan pendanaan dengan sistem syariah. Sekitar 80 petani dan ecopreneur memiliki tabungan atau saham dalam gerakan investasi pohon bernilai sekitar Rp 2 miliar dalam lima tahun ke depan komunitas-komunitas anak muda di Garut yang terfasilitasi dengan berbagai kegiatan dan layanan di sekretariat.

Bagaimana saran Anda agar wirausaha sosial mampu berkelanjutan?

Harus mengatasi masalah sosial yang jelas, memiliki model bisnis yang jelas, pendekatan sosial atau community engagement yang kuat dengan masyarakat, serta kelembagaan yang kuat di tingkat masyarakat

Apa yang Anda rasakan ketika merintis dan menjalani usaha di usia muda?

Banyak suka dukanya. Kita lebh cepat dewasa dengan bebagai kesulitan. Menjadi pelopor itu sarat dengan tanggung jawab dan juga dituntut lebih cepat belajar. Dalam kewirausahaan sosial. Kesan paling membahagiakan adalah ketika banyak orang yang terbantu dan dapat lebih sejahtera dengan inisiatif kita. (***)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)