Grup Siba di Tangan Generasi Ketiga Siap IPO di 2017

Ketika Markus Darmawan Suryaatmadja menimba ilmu keuangan di DePaul University, Chicago, Amerika Serikat, cita-citanya sangat jelas: ingin berkiprah di bisnis finansial. “Sempat terlintas juga ingin bekerja di Wall Street. Tapi, atas saran paman saya, dan saya di sana sendirian tidak ada keluarga, maka saya memutuskan bergabung di Grup Siba,” tutur Markus menceritakan awal mula dia bergabung dengan bisnis keluarganya.

Markus Darmawan Suryaatmadja Markus Darmawan Suryaatmadja

Setelah meraih MBA, Markus pun bergabung dengan Grup Siba (GS) pada 2004, perusahaan yang didirikan oleh kakeknya. Pamannya, Daniel Budi Setiawan, yang memintanya untuk membantu di GS. Markus ditunjuk sebagai trading officer. Tugasnya mencari suku cadang truk dari Tiongkok. Selama setahun Markus bermukim di Shanghai.

Kembali ke Indonesia pada akhir 2005, Markus ditempatkan di Siba Surya, anak perusahaan GS yang mengurusi pengangkutan kargo skala besar, dengan jabatan asisten manajer departemen teknik. “Otomatis saya berhubungan dengan truk dan sopirnya di sini,” ujarnya mengenang.

Pamannya sengaja memasukkan Markus ke bagian teknik, sebagai medan pembelajaran bisnis logistik keluarganya. “Saya diminta belajar lebih dulu, supaya tidak asal nangkring dan supaya saya tidak mudah dikibulin nantinya. Selain itu, dalam bisnis transportasi, memang intinya ada di pengelolaan pengemudi dan pembiayaan, bagian teknik inilah tempat yang tepat karena memang pusatnya di sini,” ungkap Markus.

Ketika pertama kali diterjunkan di bagian teknik, Markus ikut perjalanan sopir, Semarang-Jakarta, dengan waktu tempuh selama dua hari waktu itu. “Dari situ saya bisa memahami kehidupan mereka seperti apa sebenarnya,” kata Markus.

Markus dibimbing pula oleh pamannya. “Saya kerap diberi masukan. Saya kerap dibawa meeting oleh paman saya, sehingga membuat saya bertemu dengan pebisnis yang skalanya nasional dan internasional, dari situlah saya belajar,” tuturnya.

Selama 9 bulan Markus menjalani peran sebagai Asisten Manajer Departemen Teknik Siba Surya. Selanjutnya, ia ditempatkan sebagai asisten manajer logistik di perusahaan selama 9 bulan. Tahun 2007, Markus menjabat sebagai GM Keuangan Siba Surya. “Di tahun 2007 itu, saya juga merangkap sebagai GM di Siba Mandiri, anak perusahaan Grup Siba yang lain,” Markus menerangkan. Siba Mandiri ini fokusnya perdagangan suku cadang otomotif dan peralatan transportasi. Sekarang, jabatan Markus sebagai VP Keuangan & Urusan KorporatSiba Surya, Direktur Pengelola Siba Mandiri, dan Direktur Keuangan Siba Sistem. “Fokus saya sekarang lebih ke keuangannya,” ia menegaskan.

Apa saja terobosan yang dilakukan Markus selama membantu perusahaan keluarga? Menurut Markus, secara keseluruhan memodernisasi dan mentransformasi Siba Surya, yang merupakan perusahaan keluarga, tetapi tetap modern. “Saya hampir 10 tahun di sini, proyek saya dan kakak saya serta tim adalah menyusun Key Performance Indicator (KPI)untuk pengemudi.” Tujuannya mengidentifikasi pengemudi yang berperforma dan yang tidak. “Dari sini, kami memberikan reward berdasarkan performa mereka,” ujar Markus.

Ketika memperkenalkan KPI, Markus menghadapi penolakan. Namun, ia tetap berjalan terus, dan hal itu menjadi cara tetap dalam mengelola pengemudi di sini sampai sekarang. “Jadi, setiap tahun kami membagikan sepeda motor untuk pengemudi yang berprestasi. Tahun ini kami membagikan 95 sepeda motor dan ada juga yang kami membantu DP KPR,” ia menerangkan.

Selain itu, Markus melakukan perubahan di sistem keuangan. Dulu, untuk mengonsolidasi laporan yang valid, sistemnya dilakukan secara manual, sehingga banyak kekurangannya, salah satunya keterlambatan. Untuk itu dilakukan terobosan sebagai perusahaan yang modern, dengan membuat sistem keuangan yang online di seluruh cabang.

Yang lainnya, tahun 2005-2006 GS mendatangkan 420 truk dari Inggris berikut trailer-nya sebanyak 300 unit. Lalu, tahun 2011-2012 menambah 480 unit truk dengan 400 trailer-nya. “Ini wujud ekspansi,” ia menandaskan.

Lalu untuk Siba Mandiri, pada 2011 Markus menginisiasikan untuk menjual truk bekas dari Inggris yang kondisinya masih bagus, sehingga initial investment-nya belum terlalu tinggi. “Kalau sebelumnya, kami hanya berinvestasi di truk baru dan kami melihat ini peluang truk bekas yang bagus,” kata Markus. Izinnya memang susah, bergantung pada kemampuan perusahaan untuk merekondisi, dan Siba punya kemampuan merekondisi truk bekas. Lalu truk bekas rekondisi itu dijual ke transporter lain dan responsnya bagus. “Sebelum kami menjual truk bekas, omset Siba Mandiri Rp 18 miliar di tahun 2010, setelah melakukan penjualan truk bekas rekondisi, omsetnya naik menjadi Rp 56 miliar di tahun berikutnya,” tutur Markus.

Apa yang akan dilakukannya untuk lebih mengembangkan lagi GS? Markus menyatakan, akan ada pergantian sistem di kuartal ketiga atau keempat 2015. “Transaksi dilakukan secara elektronik dan pengemudi juga akan menggunakan device dalam menerima order, yang bekerja sama dengan Siba Sistem,” kata Markus. Lebih jauh lagi ia menyebutkan, target ke depan, GS hendak initial public offering (IPO). “Tapi kami sekarang masih wait and see, menunggu kebijakan dari pemerintahan yang baru sekarang. Targetnya, kalau di 2015 pemerintahan berjalan dengan baik berarti sekitar 2016 atau 2017 kami IPO, karena sekarang internal kami sudah siap,” ungkap Markus.

Didin Abidin Masud & Destiwati Sitanggang

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)