“Gubuk Kopi” Sang Belia dari Yogyakarta

 Dwi Kartika Sari Dwi Kartika Sari

Umurnya baru menginjak usia 27 tahun, tetapi Dwi Kartika Sari sudah berani unjuk diri sebagai sosok pengusaha kuliner yang layak diperhitungkan. Dari gerai Goeboex Coffee miliknya yang didirikan bersama kakak dan sahabatnya di Depok, Sleman, Yogyakarta tahun 2006, wanita yang akrab disapa Sari ini berhasil mengembangkan dari awalnya hanya memiliki luas 300 m2 kini telah berkembang 10 kali lipat lebih hingga mencapai 4 ribu m2 dengan jumlah pengunjung ratusan orang per hari.

Sari, mengawali bisnis kafenya 8 tahun silam, ketika ia baru menginjak usia 19 tahun. Dengan modal awal Rp 60 juta hasil patungan – bersama kakak kandungnya, Fandi Hanifan dan teman akrabnya Adelia Pradifta – mereka bertiga membesut bisnisnya di atas tanah kas desa yang disewanya.

Lokasi lahan yang dipilih sengaja berdekatan dengan sejumlah kampus seperti Universitas Gadjah Mada, Universitas Islam Indonesia, Universitas Pembangunan Nasional, dsb. sehingga menjadikannya sebagai sarana tepat pasar pelajar dan mahasiswa di sekitar wilayah tersebut. Mereka bertiga sungguh-sungguh mempelajari pasar dengan baik yang kemudian menerapkannya dalam pemilihan menu ataupun program promosi.

Dari sisi menu, mereka mafhum, meski penikmat kopi kebanyakan merupakan kaum Adam, pasar perempuan terlalu menarik untuk dilewatkan. Maka, mereka lantas menambahkan menu racikan es kopi, aneka minuman cokelat, susu seperti milkshake dsb.

Ditambah, harga yang dipasang pun sangat bersahabat bagi mahasiswa. Tengok saja secangkir kopi Toraja yang hanya dihargai Rp 6 ribu, atau segelas besar es kapucino yang cuma dibanderol Rp 10 ribu. Belum lagi seporsi steak ayam lengkap dengan aneka sayur rebus dan nasi putih yang hanya Rp 15 ribu.

Saat menggarap promosi untuk kafenya, Sari dan mitranya juga menembak langsung komunitas mahasiswa dengan cara menebar brosur dan spanduk di sekitar lingkungan kampus. Berbagai acara yang kental dengan anak muda pun digelar di kafenya. Contohnya dengan menarik komunitas band indie untuk tampil di kafe. Strategi ini ternyata sangat efektif karena komunitas band indie merespons dengan positif. Banyak grup band yang tampil sekaligus membawa pasukan penggemar yang sontak memadati setiap bangku yang tersedia.

Berbagai upaya tersebut ternyata berbuah manis. Dalam tempo setahun Sari sukses mengembalikan modal awalnya yang notabene berasal dari kedua orang tuanya. Goeboex Coffee yang memang berkonsep layaknya “gubuk” terbuka itu pun kondang menjadi tempat kongko favorit kawula muda.

Tidak berhenti pada komunitas band indie, Sari dan kedua pendiri Goeboex Coffee lanjut ke komunitas lain, yakni para penggila sepak bola mini-indoor alias futsal. Tahun 2008, masih di lokasi yang sama, Sari mendirikan lapangan khusus futsal pertama di Goeboex Coffee. Yang dilanjutkan dengan lapangan kedua tahun 2011. Di kedua arena itulah Sari kerap menggelar kompetisi futsal antarpelajar dan mahasiswa. Dengan gebrakan tersebut, tak pelak nama Goeboex Coffee makin populer di kalangan pelajar dan mahasiswa.

Menurut Sari, kalau dirata-rata pertumbuhan bisnisnya per tahun mencapai 40%-50% dengan pengunjung harian berkisar 300-400 orang. Pada akhir pekan, pengunjungnya bisa naik sampai 500 orang. Saat ini, Sari mengaku membukukan pendapatan Rp 3-9 juta per hari. Sebuah angka yang lumayan untuk bisnis anak muda di Yogya. “Alhamdulillah, sampai sekarang trennya terus naik,” ungkap Sari yang sudah berbisnis kecil-kecilan sejak SMA.

Di balik kesuksesan Sari membesarkan bisnisnya, ternyata pernah terdapat suatu episode saat dirinya tenggelam dalam rasa frustrasi. Kala itu, ia nyaris tidak kuat dengan tantangan yang dihadapi. Penyebabnya macam-macam, mulai dari perilaku karyawan, konsumen, hubungan dengan pemasok, masyarakat sekitar hingga mengatasi masa sepi konsumen. Salah satu beban yang dirasa berat ketika bisnisnya mulai berkembang, masyarakat sekitar mencurigai bahwa dirinya menjual minuman keras. Juga, kala itu sering datang aparat dari Satpol PP yang melakukan operasi terhadap pengunjung. “Terus terang kami merasa seperti terteror karena kami bisnis beneran bukan bisnis barang haram, kami tidak jual minuman keras,” ujar lulusan D-3 Akuntansi dari UGM itu blak-blakan.

Bahkan suatu ketika, saking merasa tak kuat lagi, Sari sempat menyerah dan mengutarakan niat menutup bisnisnya kepada sang ibu. Untung saja, sang ibu memintanya untuk bertahan. “Ibu saya mengingatkan agar usaha yang sudah jalan jangan sampai ditutup, akhirnya saya mengikuti saran ibu saya,” ceritanya.

Untuk meminimalkan kasus pemerasan yang dilakukan aparat dan masyarakat, Sari lantas melengkapi usahanya dengan perizinan yang lengkap. Dia merasa bersyukur ayahandanya, Sudarto, selalu membantunya untuk berhubungan dengan aparat dan masyarakat.

Sari berprinsip, perusahaan harus pula memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar. Karena itulah, selain memberikan kesempatan bekerja kepada warga sekitar, pihaknya pun tidak segan-segan membantu masyarakat sekitar yang membutuhkan.

Setelah sewindu berjalan kini Goeboex Coffee hanya dimiliki Sari dan kakaknya. Sahabatnya, Adelia mengundurkan diri dari kongsi karena harus mengikuti suaminya berdinas di Sumatera. “Kami akan terus menjaga agar bisnis ini bisa berkembang, suatu saat bisa jadi akan buka di tempat lain,” ucapnya.

Salah satu pengunjung setia Goeboex Coffee, Fuad Budi Nurcahyo, mengatakan, daya tarik Goeboex adalah suasananya yang kasual dan nyaman. “Meskipun ramai tidak bising, karena tempatnya memang ditata cukup bagus,” katanya. Selain itu, Fuad menilai harga yang ditawarkan setiap menu Goeboex relatif murah sehingga tidak menguras kantong. “Untuk santai ataupun ketemu relasi sangat cocok,” katanya lagi.

Ke depan, Sari dan kakaknya memang berniat naik kelas. Caranya, dengan membesut bar khusus kopi dengan konsep open kitchen. Taktik ini ditempuhnya demi menggaet penikmat kopi sejati yang tak hanya sekadar minum, tetapi membutuhkan pengalaman tersendiri di gerai kopi yang mereka sambangi.

Untuk membangun bar tersebut, Sari mengaku menginvestasikan dana Rp 300 juta. Modal itu selain untuk membuat dapur terbuka yang representatif, juga membeli mesin pengolah kopi yang harganya mencapai Rp 50 juta. Jika sudah rampung kelak, Sari menjanjikan pengunjung dapat memilih jenis kopi yang diinginkan dan melihat langsung proses pengolahannya. “Melihat proses inilah yang menjadi salah satu seni menikmati kopi,” ujar Sari yang di tahun 2008 terpilih sebagai salah satu finalis Wirausaha Muda Mandiri besutan salah satu bank BUMN.

Gigin W. Utomo

Eddy Dwinanto Iskandar

 

Leave a Reply

2 thoughts on ““Gubuk Kopi” Sang Belia dari Yogyakarta”

Nice :)
by sprlstore, 16 Apr 2014, 12:53
suuuper sekali infonya, makasih ya
by diana, 13 Apr 2014, 10:05

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)