Hasani Abdulgani, Sosok Senior di Balik Kehadiran Bintang Top Dunia

Ingatkah Anda dengan kegairahan masyarakat penggemar sepak bola ketika David Beckham datang ke sini pada November 2011? Orang yang berhasil mendatangkan ikon modis di dunia sepak bola ini bersama timnya, LA Galaxy, adalah Hasani Abdulgani.

Ini bukan kali pertama Hasani mendatangkan bintang top dunia dan menggelar hajatan besar. Melalui bendera PT Mahaka Sport Entertaiment (MSE) yang berawak 15 karyawan, pria yang gemar main basket ini pernah menggelar beberapa turnamen besar dengan nilai kontrak Rp 4-5 miliar per tahun, yakni Danone Nation Club, Djarum LA Streetball, dan Pop Mie Basketball. Pada 2004, MSE berhasil mendatangkan klub basket Harlem. “Di Indonesia bisa dibilang kami tidak punya lawan,” kata pria 51 tahun berdarah Aceh ini. “Lawan kami adalah Pro Team Malaysia, Total Sport Hongkong, hingga ESPN dan Star Sport,” ujarnya ketika ditemui di kantornya di kawasan Kelapa Gading.

Awal keterlibatan Hasani di bisnis EO dimulai pada 2001 ketika bertemu Erick Thohir, pemilik Grup Mahaka. Pertemuan itu terjadi di Hotel Hilton, New York, Amerika Serikat. Setelah diskusi selama tiga hari, mereka berdua sepakat membangun bisnis olah raga di Tanah Air.

Dalam pengamatan Hasani, potensi pasar olah raga nasional memang belum tergarap optimal. “Market sudah ada, medianya yang belum banyak,” ujar sarjana komunikasi lulusan City College, AS, ini. “Saya sendiri gak tahu kenapa Erick memilih saya,” ujar mantan kontributor Tabloid Bola di New York, AS, ini.

Kembali ke Indonesia, Hasani pun dipercaya menakhodai perusahaan yang dibentuk itu. Sejak awal MSE diposisikan sebagai perusahaan sport management, yang terdiri dari Divisi Manajemen (bisnis turnamen, program televisi dan pembinaan klub seperti Satria Muda) dan Divisi Promotor. Berbekal pengetahuan di bidang olah raga dan pengalaman di perusahaan investasi, ia memulai kiprah MSE dengan menyelenggarakan beberapa turnamen pada 2002.

Turnamen pertama yang digelar MSE adalah kompetisi bola basket wanita, Kobanita. Sayang, Kobanita berhenti di tengah jalan karena minimnya sponsor dan jumlah penonton. Alhasil, pendapatan perusahaan menurun drastis dan hampir gulung tikar. “Hingga tahun kedua MSE masih dinyatakan belum sehat. Kami tidak bisa menyuntik dana operasional terus-menerus. Keputusannya saat itu, jika tahun ketiga masih merugi, Erick akan menutup MSE,” ujar Hasani yang mengaku memegang 20% saham dan sisanya dimiliki Erick.

Pada 2003, Hasani ternyata mampu membalikkan keadaan. Saat itu, Star Mild, salah satu merek rokok, memintanya dibuatkan sebuah turnamen basket nasional. Tanpa pikir panjang, Hasani menyanggupinya. Ia pun merancang turnamen dengan ide-ide segarnya. Hasilnya adalah Star MildCrushbone Basketball, yakni kompetisi basket 3-on-3 yang ditargetkan untuk kalangan mahasiswa. Crushbone berhasil digelar di belasan kota dengan kontrak selama tiga tahun. “Padahal, Erick sempat pesimistis,” ungkapnya. “Dari Crushbone inilah kepercayaan diri saya muncul,” Hasani mengakui.

Erick pun mengurungkan niatnya menutup MSE. Apalagi, sesudah melihat pertumbuhan bisnis MSE: setelah tahun keempat naik rata-rata 30%.

Tahun 2009, MSE melebarkan sayap bisnisnya dengan menjadi promotor musik. Alasannya, saat itu ada stagnasi di dunia olah raga. Musisi yang didatangkan MSE antara lain Avril Lavigne, Slash dan Pussycat Dolls. Untuk membawa para musisi tersebut, MSE merogoh kocek US$ 200 ribu-US$ 500 ribu per artis.

Laga LA Galaxy versus Tim Nasional Indonesia juga memberi pemasukan untuk perusahaan. Untuk mendatangkan klub asal Negeri Abang Sam tersebut, MSE menggelontorkan US$ 2 juta. “Meski tidak untung-untung amat, nama kami jadi lebih besar dan dipercaya hingga belahan dunia,” ujar Hasani senang. Event tersebut mampu menggaet 25.000 penonton. Menurut Hasani, sebenarnya tahun lalu MSE hampir mengundang klub Manchester United dan Liverpool. Namun karena kalah cepat dalam penawaran, kedua klub tersebut gagal dihadirkan ke Jakarta.

Hasani mengaku proses mendatangkan klub-klub besar bukanlah perkara mudah. “Siapa yang menawar paling tinggi, maka dialah yang dapat,” ujarnya. Karena mahal biayanya, agar tetap bisa mendatangkan keuntungan, MSE menggelar program Meet and Greet dan Coaching Clinic. “LA Galaxy sangat puas dengan service kami. Kata direkturnya, pelayanan kami yang terbaik dari beberapa negara,” ujar Hasani bangga.

Namun, bapak dua anak ini mengaku juga pernah mengalami kegagalan. Ambisinya menggelar 100 pertunjukan musik tahun lalu membuat kas perusahaan terkuras. Walau berhasil mementaskan pertunjukan di 101 kota dari Kupang hingga Aceh, ia harus menanggung kerugian yang cukup besar. “Jujur saya masih trauma,” ujar Hasani sembari melepas kacamata tebalnya. Namun, ia tetap optimistis bisa merancang turnamen besar pada 2012.

Saat ini, menurut Hasani, 70% pendapatan MSE berasal dari Divisi Promotor, dan sisanya disumbangkan oleh Divisi Manajemen. Tahun ini ia menargetkan kontribusi pendapatan dari dua divisi bisa seimbang. Ia juga berambisi mendatangkan tim sepak bola nasional Brasil pada Februari mendatang. Ia mengaku tengah mencari dana untuk menarik tim yang sudah berbanderol jutaan dolar itu. “Kami butuh investor,” ujarnya.

Di mata Erick Thohir, Hasani adalah sosok yang bisa dipercaya, pekerja keras, serta mau terjun ke lapangan dan berbaur dengan karyawan. “Tak sulit bagi kami untuk menyatukan ide dan konsep. Kami sama-sama klik,” ujarnya. Bahkan, Erick mengganggap Hasani mumpuni dalam memimpin MSE selama 11 tahun. Itu terbukti dari perkembangan MSE, dari hampir gulung tikar menjadi perusahaan sport management yang disegani. (*)

Yuyun Manopol & Ario Fajar

Tags:

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)