Idealisme Sang Pemodal Ventura

I’m the one who never abandon my idealism from the very beginning.” ucap Nicko Widjaja. Idealismenya dalam berbisnis inilah yang sempat membuat seret peruntungan bisnisnya. Thinking Room (TR), perusahaan agensi desain yang dibangunnya, pernah dijauhi para klien karena menetapkan berbagai persyaratan yang rumit agar bisa sejalan dengan visi Nicko.

Nicko Widjaja Nicko Widjaja

Namun, berkat dedikasi Nicko dan timnya, akhirnya justru TR menjadi perusahaan agensi desain yang disegani. Bahkan, saat ini telah berkembang lebih jauh. Ia dan beberapa mitranya kini tengah mengembangkan bisnis modal ventura (MV) sebagai payung beberapa unit usaha milik Nicko lainnya.

Penulis buku Starting Over: A Story of Accidental Entrepreneur itu sendiri menempuh pendidikan S-1 Antropologi Terapan bidang pemasaran di Oregon State University, Amerika Serikat. Sementara MBA-nya dengan spesialisasi Manajemen Strategis, ditempuh di Dominican University of California, AS. Sambil menyelesaikan studi S-2-nya, ia bekerja di perusahaan keuangan DeltaCap LLC.

Selulus S-2, Nicko kembali ke Indonesia. Di Jakarta, ia bekerja di Indofood selama hampir empat tahun. Pada 2006, ia mengundurkan diri. Saat itu usianya 32 tahun dengan posisi yang sudah tinggi, Direktur Pemasaran. “Siapa mau meng-hire saya saat itu dengan posisi yang sudah tinggi?” ungkap kelahiran Jakarta tahun 1974 ini.

Belakangan, beberapa mentor dan mantan atasannya menyarankan Nicko untuk membesut bisnis sendiri. Setelah menimbang-nimbang, Nicko sadar, meski dirinya bukan desainer, dia menyukai dunia itu. “Saya jatuh cinta pada desain, tapi saya bukan desainer. I’m a supporter a good desain. Banyak orang yang berpikir bahwa desain hanyalah sebuah produk. Menurut saya, desain merupakan sebuah proses yang kompleks. Jadi, Anda tidak bisa melihat desain hanya dalam bentuk kampanye, iklan TV, poster dan sejenisnya. Maka saya buat Thinking Room, salah satu agensi desain yang terbaik di regional hingga saat ini,” cerita suami Kunang Andries, perancang perhiasan ternama, dan ayah Rinzen ini.

TR, lanjut Nicko, merupakan agensi desain yang bereputasi tinggi di komunitas desain Indonesia, bahkan regional. Idealisme awak TR yang tinggi, membuat agensi ini sempat berdarah-darah pada tiga tahun pertama sejak didirikan. “Citra kami yang idealis di mata para klien membuat klien enggan mendatangi kami. Kami juga selektif memilih klien. Thinking Room di kalangan komunitas desain kreatif merupakan agensi yang dihormati. Kami tidak menjual diri kami,” tutur Nicko yang juga penulis naskah skenario film berjudul Medley.

Namun, setelah melewati tiga tahun pertama, TR banyak dicari klien yang membuat bisnisnya pun menanjak. Nicko melihat para awak yang bergabung di TR berkarakter intrapreneur. Banyak alumni TR yang membuat bisnis sendiri. “Jadi, setelah mereka keluar dari Thinking Room, mereka tidak bekerja di tempat lain, melainkan membangun bisnis sendiri,” katanya. Dengan kecenderungan ini, Nicko melihat peluang mendirikan bisnis MV untuk menampung para intrapreneur dan creativepreneur ini. Maka, didirikanlah Grup Systec yang di dalamnya, selain terdapat divisi MV, juga ada divisi lain seperti Incyte dan Advisory. Dua divisi terakhir dibuat untuk mendukung pengembangan divisi MV.

Nicko Widjaja ~~

Incyte adalah divisi student engagement program, yang ditujukan untuk menjaring ide dan talenta dari perguruan tinggi. Program Incyte banyak berkaitan dengan seminar dan pelatihan untuk mahasiswa, beberapa mahasiswa potensial nantinya bisa berkontribusi di Grup Systec. Adapun di divisi Advisory terdapat beberapa unit usaha yang mendukung proses pengembangan start-up digital. Beberapa di antaranya adalah agensi desain TR dan Platform Design Co. yang jasanya dapat digunakan start-up yang tengah diinkubasi atau perusahaan yang didanai. Ada pula perusahaan konsultasi manajemen SDM, Atmos Performa, yang jasanya juga bisa digunakan oleh start-up binaan Nicko. Untuk pemasaran, para start-up bisa belajar di Mindcode.

Hal itu pula yang membedakan Grup Systec dari MV lainnya. Ketika banyak MV lain di Indonesia sekadar memberikan dana dan mentorship, Systec justru terjun langsung ke bisnis para start-up yang didanainya. “Systec memberikan model yang lain. Tidak hanya dana dan mentorship, tapi kami menjadi entrepreneur dan operator bisnis juga. Semua anggota Systec turun langsung,” ungkap Nicko.

Sejauh ini, Systec hanya fokus di perusahaan bidang teknologi dan Internet, karena menurut Nicko, perekonomian Indonesia bahkan dunia tengah menuju ke arah itu. Awalnya, September 2011, Systec hanya menyertakan modal di dua perusahaan. Kini jumlahnya berbiak menjadi 7 perusahaan, yakni dua game studio Tinker Games dan Hobo Games; perusahaan payment gateway Teknologi Mitra Solusi; penyedia jasa Internet, Hypernet; perusahaan consumer engagement; dan dua perusahaan portal media (salah satunya Talkmen). Adapun SDM Systec kini sekitar 200 orang di 6 lokasi: Kemang, Simprug, Grogol,Tanjung Duren dan Bandung.

Hingga kini, modal yang yang telah disertakan untuk keseluruhan Grup Systec masih di bawah US$ 3 juta. Jumlah ini, diakui Nicko, masih tergolong konservatif dibanding MV lain. Hal ini dilakukannya karena alasan kehati-hatian. Sayangnya, ia enggan merinci penyertaan modal di 7 perusahaan yang didanainya itu. Modal untuk Grup Systec sendiri diperoleh dari kocek masing-masing pendiri (general partner) yang berjumlah lima orang, termasuk Nicko.

“Kami sangat konservatif karena risikonya juga besar. Cukup besar kemungkinan start-up yang kami danai dan kembangkan tidak berujung sukses. Maka, kami buat miniekosistem agar jika start-up itu gagal, bisa kami serap ke ekosistem kami atau ke salah satu perusahaan kami. Kami tidak mencari capital gain di sini. Kami mau membuat bisnis yang berjalan. Bukan kami beli perusahaan dan kami jual lagi,” tutur Nicko yang hobi menulis.

Meski demikian, Systec tetaplah entitas bisnis. Rencana penempatan modal Systec bergantung pada kondisi dan keuntungan start-up. Yang jelas, untuk start-up yang berasal dari Incyte, terdapat setahun masa inkubasi. Jika perkembangannya bagus, start-up itu akan naik tingkat yang akan dibiayai oleh divisi MV Systec.

Nicko mengaku, hingga kini usahanya belum menghasilkan untung. Namun perkembangannya cukup signifikan. Salah satu contohnya Hobo Games. Start-up studio game dengan permainan Cattleship besutan mahasiswa Institut Teknologi Bandung itu, kini mulai dilirik perusahaan asing. “Kami suka pada produknya dan mereka sudah bicara dengan publisher game dari Amerika. Saham Systec di Hobo kurang dari 10%. Kemudian kami investasi lagi di Hobo sekitar Rp 1 miliar untuk kepemilikan kurang dari 40%,” ujar Nicko.

Contoh lainnya Talkmen, salah satu perusahaan portal media khusus pria, yang memiliki 10 ribu view tiap harinya dan dalam tiga bulan terdapat sekitar 50 ribu like di Facebook. Jaka Putranto, Pemimpin Redaksi Talkmen, memaparkan, meski belum melaba, portal yang dipimpinnya sudah bisa menghasilkan pendapatan iklan. “Yang sudah online ada tiga klien dan ada satu klien lagi yang pada Maret nanti berkampanye melalui Talkmen,” katanya.

Jaka menyukai budaya perusahaan yang dibangun Systec. “Systec terbuka. Saling menerima ide. Karena anggota Systec kebanyakan orang muda, maka tidak kolot dan sangat passionate. Apalagi fokus bisnisnya di bidang digital yang butuh pandangan millennia generation,” katanya memuji.

Jaka pun mengaku mendapat berkah tersendiri dengan keberadaan anak-anak usaha Systec lainnya. “Untuk masalah teknis digital, kami memiliki mitra yang bisa memberikan pengetahuan mengenai lanskap digital di Indonesia,” papar mantan analis merek di Makki Makki Strategic Branding Consultant ini.

Bagi Nicko sendiri, ambisi bisnisnya masih terbentang luas. Untuk dua tahun ke depan, Systec akan menggelontorkan lagi dana sekitar US$ 3 juta buat membidik target empat portofolio bisnis di divisi MV; sedangkan untuk Incyte, ia menargetkan dapat menjaring 10 start-up.

Eddy Dwinanto Iskandar dan Denoan Rinaldi

Riset: Sarah Ratna Herni

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)