Indra Noveldy, Akuntan yang Jadi Konsultan Pernikahan

Psikolog jadi konsultan pernikahan sudah biasa. Lulusan pendidikan agama yang mengambil profesi ini juga sudah jamak. Namun, kalau lulusan pendidikan akuntan jadi konsultan pernikahan? Ini yang tidak biasa. Orang yang tidak biasa itu adalah Indra Noveldy.

Sarjana Akuntansi dari Universitas Indonesia ini empat tahun lalu mendirikan kantor konsultan pernikahan, atau istilah kerennya marriage counselor. “Banyak dari klien saya yang kaget ketika mereka tahu saya bukan seorang psikolog,” kata Indra seraya tersenyum. “Tetapi, saya menyadari bidang dan profesi ini adalah passion yang selama ini saya cari,” pria kelahiran Jakarta 7 November 1970 ini menambahkan.

Menurut Indra, usaha ini didorong oleh masih tingginya angka perceraian di Tanah Air. Ia pun mengakui secara terus terang, sebagiannya juga karena pengalaman rumah tangganya sendiri yang hampir karam. Indra menceritakan, ia dan istrinya, Nunik Hermawati, nyaris bercerai hingga beberapa kali karena pasang-surut kehidupan rumah tangga mereka.

Demi memperbaiki hubungan dengan istrinya, kala itu (2005) ia mengambil keputusan cukup drastis: melepas kursi empuknya sebagai manajer produk di sebuah perusahaan distribusi. “Pertaruhan saya tidak sia-sia. Walau karier hancur, hubungan kami kembali harmonis,” ungkapnya. “Sejak saat itu, kami ingin membagi pengalaman ke banyak orang,” ujarnya mengenang masa lalu.

Usaha ini, meskipun dirintis sejak 2007, baru ia garap secara profesional setahun belakangan. “Desakan dari Pemimpin Redaksi Parent Guide mendorong saya membagi pengalaman pribadi ke banyak orang,” katanya. Keinginan belajarnya yang tinggi tak menyulitkannya mendalami bidang yang sama sekali berbeda dengan latar belakang pendidikannya. Untuk memperkaya pengetahuan dan kemampuannya di bidang ini, ia rajin membaca buku serta mengikuti beberapa pelatihan tentang hubungan pernikahan.

Selama 2009-10 acara workshop yang saya gelar selalu sepi peminat sehingga saya merugi. Tetapi, setelah dijalankan secara profesional, kegiatan yang saya selenggarakan berhasil menggaet animo masyarakat,” ujar Indra.

Memang, jumlah konsultan pernikahan profesional sebenarnya terbilang sedikit. Ini berbeda dengan di negara-negara maju. Padahal, masalah seputar pernikahan semakin kompleks. “Profesi ini sangat prospektif, karena setiap tahun demand-nya selalu naik. Di luar negeri, profesi ini sudah banyak yang menggeluti, “ ujarnya.

Setiap hari Indra melayani 3-4 proses konseling yang masing-masing berlangsung selama dua jam. Konseling biasanya dilakukan lebih dari satu sesi, biasanya terdiri dari tiga sesi: pertama, mencari akar permasalahan; sesi berikutnya, mengajak klien mengubah diri; dan sesi terakhir, praktik.

Indra membagi tiga kegiatan konsultasi: private counselling, public seminar, dan in-house training. Selain untuk pasangan suami-istri, Indra juga melayani konseling untuk pasangan yang ingin menikah dan mereka yang ingin memperoleh keharmonisan dalam hubungan pekerjaan.

Kebanyakan kliennya adalah perempuan berusia 20-50 tahun, mulai dari ibu rumah tangga, profesional, hingga pejabat, dengan usia pernikahan dari hitungan bulan hingga dua puluhan tahun. Bahkan, ada yang datang dari luar Jawa dan luar negeri. “Soal tarif, ada ketentuan yang berlaku, bisa dilihat di website kami,” katanya. Website yang dimaksud adalah www.konsultanpernikahan.com dan www.indranoveldy.com.

Untuk personal branding, yang biasanya memang dibutuhkan oleh jasa seperti ini, Indra menjalankan tiga cara. Pertama, menjadi pembicara di Lite FM setahun terakhir. Kedua, muncul sebagai tamu di beberapa media seperti O-Channel, Trans TV dan beberapa majalah. Ketiga, memanfaatkan website dan jejaring sosial. Dari kicauannya di Twitter, Indra mampu menarik simpati 15.000 pengikut. “Tantangan terberat dari profesi ini adalah mengajak masyarakat mau terbuka soal masalah mereka,” ujar pehobi baca buku ini.

Dalam pengamatan Indra, kliennya memiliki permasalahan beragam, mulai dari kurangnya komunikasi hingga perselingkuhan. Menurut ayah Ananda Muhammad Adiv ini, intrik dalam rumah tangga disebabkan karena kurangnya pemahaman tentang konsep pernikahan hingga pribadi yang tidak mengenali diri sendiri. “Parahnya, mereka yang datang adalah mereka yang masalahnya sudah stadium 3 dan 4, atau dalam ambang perceraian dan sering ribut di depan anak,” ia mengungkapkan. Kalau dihadapkan pada kasus seperti itu, menurut Indra, proses konseling harus lebih intens karena mayoritas permasalahan bersumber dari pribadi yang bersangkutan.

Idealnya, menurut Indra, konsultasi bisa diikuti suami dan istri. Namun, sering hal itu tidak mudah. Untuk itu, ia menganjurkan klien tidak menunggu pasangan untuk mau berkonsultasi. Ia berusaha membangun hubungan personal yang mendalam dengan klien sehingga mereka mau mengungkapkan masalah secara jelas dan sebenarnya-benarnya. Caranya, dengan menciptakan suasana yang bersahabat layaknya mengobrol dengan teman. Ia memilih tempat konsultasi seperti kafe atau tempat lain yang lebih nyaman menurut klien.

Seperti berobat ke dokter, tidak pernah ada jaminan Anda pasti sembuh. Namun, saya akan melakukan yang terbaik,” kata Indra tandas. Ukuran keberhasilan jasa ini, menurutnya, bukan hanya terletak pada kembalinya keharmonisan hubungan suami-istri, tetapi juga perubahan perilaku yang lebih baik dari setiap individu meskipun tetap harus diakhiri dengan perceraian.

Kebahagiaan yang tak ternilai dari profesi ini adalah melihat pasangan yang dulu bertengkar menjadi pasangan yang harmonis. Namun jika jalan keluarnya tetap cerai, setidaknya mereka sudah mampu mengoreksi dan memperbaiki diri,” ujar Indra.

Ke depan, Indra berniat membangun sekolah konsultasi sehingga akan banyak ahli yang mampu membantu menciptakan keharmonisan pasangan suami-istri dan keluarganya. (*)

 

Yuyun Manopol & Ario Fajar

 

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)