Jagoan Frozen Seafood di Pasar Ekspor

PT Sekar Bumi Tbk. (SB) mampu meningkatkan ekspor produk udang karena Thailand, sebagai produsen utama sedang bermasalah. Karena itu, manajemen SB memproyeksikan peningkatan ekspor hingga 40% pada tahun ini, dengan nilai US$ 110 juta. Bagaimana SB mengatasi berbagai kendala dan tantangan di pasar ekspor? Harry Lukmito, Presiden Direktur PT Sekar Bumi Tbk. mengungkapkannya kepada Radito Wicaksono dari SWA Online.

Bagaimana perkembangan ekspornya sekarang? Apakah terus bertumbuh?

Sejauh ini perkembangan ekspor kami cukup bagus, terutama untuk produk perikanan khususnya udang. Sebab, Thailand, sebagai produsen terbesar di dunia untuk udang, sedang mengalami penurunan yang cukup drastis. Mereka menghadapi masalah tersendiri, seperti lahan yang tidak terlalu besar. Ini mestinya menjadi momentum bagus untuk Indonesia dalam meraih pasar dunia yang cukup besar.

Tahun ini kami proyeksikan ada peningkatan sebesar 40% dari tahun lalu. Secara total dalam kurun waktu tiga tahun terakhir sudah ada peningkatan sekitar 60%. Tahun ini kami proyeksikan mampu mencapai penjualan ekspor sebesar US$ 110 juta.

Harry Lukmito (utama)

Seperti apa tantangan yang dihadapi? Semenarik apa pasar ekspor?

Untuk mengekspor produk-produk frozen seafood, tantangan yang kami hadapi adalah peraturan yang ketat dari negara-negara tujuan terhadap produk-produk seperti ini. Di negara-negara maju seperti Amerika Serikat, negara-negara Uni Eropa, peraturan mengenai produk frozen seafood ini cukup ketat. Untuk itu kami harus mampu untuk terus menyesuaikan dengan standar yang mereka berikan.

Selain itu, tantangan berikutnya bagi kami adalah memasuki pasar produk olahan. Saat ini peluang di situ masih cukup luas dan kami sedang berusaha masuk ke sana. Mereka cukup menggemari produk-produk olahan, seperti makanan-makanan tradisional mereka. Tadinya mereka hanya menginginkan produk-produk yang berasal dari sana. Hal tersebut mungkin terkait dengan standar mutu yang mereka miliki. Tapi setelah adanya kondisi krisis seperti ini, pasar disana lebih sensitif di masalah harga. Untuk itu hal tersebut peluang untuk kami. Di sini tersedia bahan baku yang cukup banyak dan labour yang tersedia.

Mengenai seberapa menariknya pasar ekspor, karena kami menjual produk kami melalui letter of credit atau payment against documents. Jadi istilahnya kami tidak memberikan kredit. Itu menurut saya yang paling menarik. Selain itu, kami dibayar dengan US$, sehingga merupakan perolehan devisa bagi negara. Mengenai pangsa pasar, yang masih terbuka ya itu tadi, produk-produk olahan.

Ke negara-negara mana saja Sekar Bumi melakukan ekspor? Negara mana yang menyerap paling besar dari produknya yang diekspor?

Untuk jumlah pastinya saya kurang hafal, karena produk kami ada di hampir setiap negara di dunia. Tapi yang menjadi pasar terbesar kami ada di Amerika Serikat, kemudian diikuti negara-negara Eropa dan kemudian Jepang.

Apa saja yang dilakukan untuk membuka pasar ekspor yang baru?

Kami harus terus mengikuti tradeshow. Sampai nanti di kemudian hari kami juga akan menggunakan iklan sebagai cara kami membuka pasar ekspor. Tapi iklan ini membutuhkan skala ekonomi yang harus dibangun oleh kami.

Gambarkan, keunggulan yang dimiliki Sekar Bumi dibandingkan dengan pemain dari negara lain di produk sejenis?

Yang kami tonjolkan tentu sebagai pemain dari Indonesia, kami harus bisa menyampaikan bahwa raw material yang kami gunakan adalah memang diproduksi di dalam negeri. Jadi freshness menjadi lebih baik, dan tentu kami lebih natural.

Harry Lukmito (tegak)

Strategi-strategi unik seperti apa yang dijalankan untuk menembus pasar ekspor?

Seperti yang tadi saya bilang, dengan kondisi pasar di luar negeri yang lebih sensitif di urusan harga, maka kami harus mengetahui betul kebutuhan-kebutuhan mereka agar mampu menangkap peluang yang ada di sana. Kami melakukan market survey di negara-negara tujuan. Dari situ kami lakukan customized produk di negara-negara tersebut.

Dukungan seperti apa yang diharapkan untuk terus mengembangkan pasar ekspornya?

Sejauh ini pemerintah sudah cukup baik mendukung kami. Terutama dari Kementerian Perikanan dan Kelautan, di mana mereka sedang menggalakan program industrialisasi perikanan. Untuk mampu menjalankan program seperti itu tentu harus ada dukungan dari pihak-pihak lain agar program tersebut terwujud. Terutama untuk persoalan mengenai raw material kita yang kaya ini harus dijaga sebaik mungkin. Mungkin itu harapan kami, agar semua pihak mampu bekerjasama dengan baik menjalankan program tersebut. (***)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)