Jefry Romdonnny: Generasi Kedua Raja Bola Majalengka

Jefry Romdonnny ~~

Masih ingat pergelaran Piala Dunia (World Cup) 2014 di Brasil? Ketika itu, Jerman muncul sebagai juaranya, setelah mengandaskan perlawanan Argentina di partai final. Di sela-sela pesta olah raga yang paling menyita perhatian publik dunia itu, Indonesia pun diam-diam ikut menyemarakkannya. Bukan sebagai peserta putaran final Piala Dunia, karena prestasi Indonesia di sepak bola cuma sebagai penggembira – bahkan di tingkat Asia Tenggara sekalipun.

Keterlibatan Indonesia diwakili oleh produsen bola sepak asal Majalengka, Jawa Barat, yaitu PT Sinjaraga Santika Sport (atau lebih populer dengan sebutan Triple S). Setiap ada pergelaran pesta bola, mulai dari Piala Dunia, Euro, hingga Copa Amerika, The Fédération Internationale de Football Association(FIFA)– induk olah raga sepak bola – selalu memesan bola ke Triple S.

Reputasi Triple S sebagai produsen bola sepak memang tidak diragukan lagi karena sudah memiliki sertifikasi FIFA. Tak anehlah, bola yang diproduksi Triple S menggelinding ke berbagai belahan dunia, seperti Jepang, Argentina, Prancis, Italia, Afrika Selatan dan banyak lagi negara lainnya.

Triple S didirikan oleh Irwan Suryanto pada 1994. Pada awalnya, pria yang akrab dipanggil Pak Haji ini mendirikan toko olah raga di kawasan Kadipaten, Majalengka. Terkadang juga menjadi pemasok peralatan olah raga. Hingga pada akhirnya dia berkenalan dengan seorang mitra dari Korea Selatan, dan mulai saat itulah mereka menjalankan pabrikan, lebih khususnya bola sepak.

Ketika pertama kali berdiri, jumlah karyawan Triple S tidak lebih dari 100 orang. Namun, seiring makin derasnya arus permintaan bola sepak, hingga kapasitas produksinya mencapai 100 ribu bola per bulan, jumlah karyawan pun terus bertambah hingga mencapai 2 ribu orang. “Ada yang khusus mengerjakan penjahitan panel (segi 6/segi 5) di rumah-rumah, ada yang untuk finishing di pabrik, dan masih banyak lagi,” tutur Jefry Romdonny, Direktur Ekspor-Impor Triple S.

Jeffry adalah salah satu anak kandung Irwan yang mendapat kepercayaan dari ayahnya untuk melakukan penetrasi pasar, lokal ataupun global. Ia tanpa ragu memercayakan posisi Direktur Ekspor-Impor Triple S kepada alumni Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Majalengeka ini karena kepiawaiannya dalam bahasa asing. Jefry menguasai bahasa Inggris, Arab, dan sedikit bahasa Mandarin. “Jadi, kalau urusannya melayani pembeli dari luar negeri, kami percayakan kepada Jefry,” tutur Irwan.

Ketika pertama kali terjun ke bisnis keluarga pada 2002, Jefry “diceburkan” lebih dulu ke pabrik, untuk mempelajari bagaimana proses produksi pembuatan bola sepak. “Awalnya saya digembleng oleh Pak Haji mulai dari menjalankan pekerjaan layaknya karyawan lain, seperti membuat panel, menggabungkan panel, menyablon, finishing, distribusi, dan masih banyak lagi,” kata Jefry mengenang. Jadi tidak langsung duduk sebagai direktur ekspor-impor.

Pada 2004, Jefry mulai diajak mengikuti berbagai pameran di luar negeri. Dari pameran itulah Jefry memetik banyak pengalaman, mulai dari pameran yang sepi pengunjung hingga jualannya tidak laku sama sekali. Dia ingat persis ketika mengikuti pameran di Ekuador dan membawa 3.500 bola. “Kebayangdong banyaknya seperti apa?” kata Jefry.

Hari pertama, pengunjung yang datang sangat sepi. Rasa takut mulai muncul di benak Jefry: bola yang dibawanya tidak akan laku terjual. Akhirnya di hari kedua Jefry menurunkan harganya jadi harga ekspor. Hasilnya? Pada hari ketiga bola yang dibawa ludes terjual. Kini, setiap mengikuti pameran, di awal hari Jefry akan memasang harga yang agak mahal. Namun, beberapa hari sebelum pameran berakhir baru harganya diturunkan.

Pengalaman Jefry dalam mengenali karakter pelanggan semakin kaya. Ia tahu persis anak-anak Jepang yang keranjingan karakter animasi. Maka, ketika Triple S pameran di Jepang, bolanya dihiasi karakter animasi Naruto dan sejenisnya. Respons pasar Jepang pun menjadi cukup baik. Demikian pula dengan warga Hongaria yang menggandrungi kata kulit (bahasa Hongaria). Maka, ketika pameran di Hongaria, kata kulit disablon di bolanya.

Ia menjelaskan, agar produk bolanya mendapatkan tempat di pasar dunia, sertifikasi FIFA sangat penting. Namun, untuk mendapatkan sertifikasi FIFA banyak persyaratan yang mesti dipenuhi, mulai dari dilihat pekerjanya, cukup adilkah pengupahannya, atau adakah tenaga kerja yang di bawah umur, bagaimana manajemen limbah, bagaimana kualitasnya. Idealnya, bagi FIFA, bola yang bagus adalah bola yang tidak rusak ketika ditendang sebanyak 2 ribu kali. “Kami juga punya mesin penendang bola yang kekuatan tendangnya 10 kali lebih keras dari tendangan Christiano Ronaldo,” kata Jefry.

Di bawah pengendalian Jefry, laju ekspor bola Triple S makin kencang menggelinding. Misalnya, ekspor bola ke Afrika Selatan. Sebelumnya, hanya satu kontainer ukuran 20 feet dalam setiap pengiriman dengan kapasitas 8.316 bola. Namun, sejak awal 2010 ekspornya meningkat hingga dua kontainer ukuran 40 feet per bulan. Peningkatan pesanan bola sepak juga terjadi untuk ekspor ke negara lain, di antaranya Jepang, Malaysia, Singapura, dan beberapa negara di Timur Tengah.

Didin Abidin Masud & Fardil Khalidi

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)