Jepretan Himawan Sutanto di Bisnis Photo Booth

Tidak seperti biasanya, setelah memberikan ucapan selamat kepada mempelai dan menyantap hidangan yang tersedia, Miko (50 tahun), tidak langsung balik badan meninggalkan resepsi pernikahan yang dihadirinya. Kali itu, ia rela berlama-lama berdiri di salah satu sudut gedung pernikahan bersama istrinya. Rupanya, ia memiliki niat senada dengan para undangan lainnya, ingin difoto lebih dulu sebelum meninggalkan acara. “Soalnya pas banget buat difoto, sudah rapi, pake baju bagus, terus datang sama istri. Nunggu cetaknya juga cuma 10 menit,” kata salah satu karyawan swasta yang berkantor di kawasan Tanah Abang, Jakarta Pusat itu.

Himawan Sutanto ~~

Memang, alih-alih memberikan buah tangan standar berupa kipas tangan, keramik atau tas kecil khas suvenir pernikahan pada umumnya, pengundang Miko kali itu memberikan kenang-kenangan lain, yakni kesempatan berfoto plus hasil cetaknya. Prosesnya pun cukup instan. Setelah difoto, hanya perlu menunggu 5-10 menit untuk memperoleh hasil foto lengkap dengan hiasan latar belakang yang menarik. Bagi Miko, suvenir foto diri dan pasangannya itu jauh lebih berkesan ketimbang suvenir kecil yang segera hilang entah ke mana dalam beberapa hari kemudian. “Lebih awet karena ada kenangannya, hehehe,” ujar Miko menyebutkan alasannya betah berlama-lama mengantre.

Produk foto instan yang diperoleh Miko itu adalah salah satu tren cenderamata terkini yang menyemarakkan pesta pernikahan, ulang tahun, gathering perusahaan, peluncuran produk, pameran dan acara lainnya. Lazimnya, orang menyebutnya sebagai photo booth, karena memang arena fotonya menyerupai booth alias bilik kecil. Nama resminya sesungguhnya instant photo corner (IPC). Tiga tahun silam, penyedia jasa IPC masih jarang, tetapi kini silakan cari di Google dengan kata kunci tersebut, puluhan bahkan ratusan penyedia jasa IPC di Jakarta dan sekitarnya terpampang di sana.

Meski ratusan pesaing sudah menyesaki bisnis IPC, perintis kehadirannya di Indonesia, Himawan Sutanto (36 tahun), tidak gentar. “Kami kini bermain di kualitas layanan, jaringan dan layanan pascajual,” ujar Himawan, pendiri sekaligus pemilik Moments To Go, yang merintis kehadiran IPC di Indonesia sejak Desember 2010.

Himawan yang diwawancara SWA di kantornya di Apartemen City Loft, Sudirman, Jak-Pus, mengaku, dirinya membawa konsep IPC ke Indonesia setelah melihat bisnis serupa marak di luar negeri pada 2008-2009. Namun, butuh waktu agar konsep IPC bisa diterima konsumen. Sebab, konsumen memandangnya tak beda dari layanan fotografer pernikahan lainnya. Himawan pun dengan gigih dan cerdik terus mengedukasi calon konsumennya. “Kami bukan sekadar foto, tapi untuk menghibur tamu yang datang ke acaranya,” ucap Himawan yang memayungi Moments To Go dengan badan hukum PT Cipta Karya Group.

Perlahan tetapi pasti, bisnis lulusan Fakultas Seni Rupa Universitas Trisakti ini mulai menemukan pasarnya. Meski Himawan gencar beriklan di radio, majalah, media sosial dan pameran pernikahan, tetap saja tidak ada yang bisa mengalahkan keampuhan getok tular alias word of mouth. “Memang, karena ini hiburan jadi mereka yang sudah pernah experience dengan Moments To Go dan merasa terhibur mempromosikannya dari mulut ke mulut,” ujarnya.

Himawan tak mau menunggu lama untuk mengembangkan bisnisnya. Dalam tempo singkat, ia mengembangkan Moments To Go ke 7 kota lain yakni Bandung, Semarang, Yogya, Solo, Surabaya, Denpasar dan Medan dengan kantor pusat tetap di Jakarta. Anak buahnya pun membengkak mencapai 100 orang.

Beruntung pula Himawan mengembangkan cabang dan SDM-nya dengan cepat. Sebab, saat persaingan kini kian ketat, dua keunggulannya itu menjadi kunci keberhasilannya dalam menguasai pasar. “Saat ini, kami mampu menangani puluhan acara dalam sehari. Kalau sudah begitu, kami pasti sudah bicara urusan logistik, mulai dari inventori, alat, pelatihan SDM. Jadi yang kami jual sekarang ini lebih ke pelayanan,” tutur dia.

Berkat sejumlah keunggulannya itu, Himawan bisa tetap unggul tanpa harus perang harga. Adapun saat ini paket layanan Moments To Go dibanderol mulai dari Rp 4,5 juta hingga Rp 12,5 juta dengan durasi dua hingga empat jam pelayanan.

Jaringan Moments To Go yang tersebar di 8 kota pun pada akhirnya dipandang Himawan mampu memberikan harga yang lebih bersaing. “Kalau pun di kota yang tidak dekat dengan cabang kami, tapi tetap dong biaya jadi lebih murah. Misalnya, dia mau buat acara di dekat Surabaya, biaya tetap bisa lebih murah karena tidak perlu menerbangkan kru dan alat langsung dari Jakarta,” ungkapnya.

Himawan kini bisa menjepret tak kurang dari 20 acara di akhir pekan atau total sekitar 300 acara per bulan di seantero Nusantara. Separuh kliennya berasal dari kalangan perorangan, sedangkan selebihnya dari segmen korporat seperti industri perbankan, telekomunikasi, penerbangan, hingga pusat perbelanjaan. DBS Bank dan UOB adalah dua di antara sekian banyak klien korporatnya.

Agar tidak terkejar para pesaingnya, Himawan melangkah lebih jauh dengan memberikan layanan pascajual berupa mengirim angket untuk mengetahui tingkat kepuasan, serta demi menggali saran dan kritik dari konsumen. Selain itu, ia juga rutin menggelar ajang kumpul-kumpul dua kali per tahun untuk mengapresiasi klien korporat. “Jadi, kami rasa strategi dan teknik pemasaran kami ini sudah profesional, tidak seperti bisnis perorangan.”

Sayap bisnis pun kian dikepakkan Himawan. Dua layanan terbaru yang diluncurkan adalah Take Me Away dan Treats To Go. “Kalau Take Me Away lebih ke event fotografi, ini beda dari dokumentasi fotografi yang ada. Kami menggunakan sistem wireless, photo kiosk system. Jadi di sini fotografernya yang keliling dan langsung di-print hasilnya. Di akhir acara nanti kami akan kirim albumnya sehari sesudah acara.”

Sementara layanan Treats To Go nampaknya agak melebar dari bisnis intinya yang terkait dengan urusan potret-memotret. Pasalnya, Treats To Go menawarkan layanan camilan sepuasnya. “Memang agak spin off sedikit ya, hahaha,” ujar Himawan berterus terang seraya tertawa. “Kalau melihat di sebuah acara pasti kan ada bujet untuk menghibur, jadi kayaknya lumayan juga kalau kami coba dengan camilan yang sepuasnya dan tamu bisa enjoy,” Himawan menambahkan.

Moments To Go ditargetkan Himawan segera menambah cabang di dalam negeri dan menjepret pasar di negeri jiran. Targetnya, dalam waktu yang tak terlalu lama, Moments To Go diharapkan sudah nongol di Malaysia, Singapura dan Thailand. Selain itu, ia sesungguhnya masih menyimpan ide yang cukup nyeleneh. “Kami juga akan mulai dengan theme park photography untuk taman bermain karena kami lihat saat ini taman bermain sudah bagus dan berkembang. Saat ini masih tahap negosiasi dengan calon partner, jadi belum bisa menjelaskan secara rinci,” kata Himawan mengungkap rahasia bisnis yang tak kalah kreatif dibanding bisnisnya terdahulu.

Eddy Dwinanto Iskandar dan Nimas Novi Dwi Arini

Riset: Dian Solihati

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)