Joshua Simanjuntak, Membangun Karsa lewat Zylia Design Studio

Ketertarikannya pada desain mebel sejak kecil membawa keberuntungan bagi Joshua Simanjuntak. Setelah mendirikan Zylia Design Studio dan mengembangkan mebel Karsa tahun 2006, karya desainnya semakin diakui masyarakat luas. Salah satunya adalah Nusa Outdoor Table and Bench yang memenangi Gold Award dalam Indonesian Good Design Selection di 2009.

Pria kelahiran Jakarta 16 April 1972 ini sebelumnya menimba ilmu dan bekerja di London. Setelah kembali di Jakarta, ia mewujudkan impiannya dengan mengembangkan Zylia yang dibagi ke dalam dua divisi, yakni divisi konsultan dan divisi produk.

Divisi konsultan menggawangi proyek-proyek desain mebel, bekerja sama dengan pabrik eksportir, interior desainer dan arsitek. Adapun divisi produk adalah divisi bisnis yang menghasilkan produk-produk yang dijual langsung ke end customer dengan merek Karsa. “Kami baru memulai brand Karsa ini di Februari 2012 pada saat kami berpameran perdana di International Furniture Fair of Singapore di Singapura,” ungkap periah gelar Master of Arts dari Royal College of Art London, Inggris, ini.

Keahlian Joshua terasah, selain karena latar belakang pendidikannya di bidang desain, ia juga pernah bekerja sebagai pengembang produk untuk desainer mebel ternama Inggris, Tom Dixon. “Tugas saya saat ini adalah menjembatani antara produsen (manufaktur) untuk merealisasi ide-ide Tom Dixon. Di sana saya banyak belajar mengenai proses manufaktur dan sering dikirim ke Italia, Jerman sampai Denmark,” katanya mengenang.

Dijelaskan Joshua, perusahaannya saat ini terus berkembang, terutama untuk merek Karsa. Bagi anak ketiga dari tiga bersaudara ini, fenomena Karsa menarik. Pasalnya, melalui merek tersebut, ia bisa menciptakan sebuah platform bagi para desainer untuk mewujudkan desainnya ke dunia komersial. Karsa memberikan supportdevelopment sampai promosi desain, sehingga rekan-rekan desainer tidak perlu terbebani dengan biaya dan waktu dalam pengembagaan sebuah desain. “Kerja sama Karsa dengan para desainer dalam bentuk royalti,” tuturnya menjelaskan salah salah satu model bisnisnya.

Akhir-akhir ini, produk merek Karsa banyak memakai kayu impor, yaitu oak. Sisanya, ia banyak mengeksplorasi material lokal seperti marmer dari Tulungagung, Jawa Timur, dan rotan dari Cirebon, Jawa Barat.

Kayu oak banyak digunakan, selain karena Joshua menyukai motifnya dan harganya bersaing, juga karena, yang terpenting, kayu ini berasal dari managedforest yang tidak mengganggu ekosistem. “Kami memilik concern yang sangat besar terhadap illegallogging dan kami juga berusaha menghindari pemakaian kayu yang tidak memiliki asal-usul yang jelas,” ujarnya.

Saat ini, Zylia telah menelurkan sejumlah karya desain yang unik nan elegan, seperti Rakata Table, Rakata Chair, Ombak Seating, Keong Cabinet, Karimun Table, Chester Chair and Bench, serta Bayang Consoltable. “Saya mendapatkan inspirasi dari mengamati lingkungan di sekitar. Banyak sekali ide yang dapat dihasilkan dari mengamati hal di sekeliling kita, budaya, sejarah, semuanya bisa menjadi inspirasi,” papar Joshua tentang sumber inspirasi desainnya.

Joshua SimanjuntakSejumlah desain hasil karya Joshua sangat digandrungi. Tak mengherankan, cukup banyak perusahaan yang menjadi kliennya. Terhadap kliennya, Joshua membantu mengaplikasikan manajemen desain ke dalam perusahaan eksportir mebel sampai bisnis F&B seperti kafe, resto, sampai perusahaan pemasok kursi theatre. Salah satu kliennya adalah eksportir terbesar di Solo, PT Wisanka. “Karya saya yang menembus pasar internasional kebanyakan dibawa oleh klien-klien kami yang memang eksportir. Mereka melakukan banyak pameran di luar negeri. Jika didesain sesuai dengan pasar yang dituju, mebel hampir positif akan menarik buyers,” ungkapnya.

Kendati desainnya sudah menembus luar negeri seperti Australia, Jepang, Spanyol dan Jerman, justru dirinya lebih tertantang untuk menembus pasar dalam negeri. Saat ini, ia melihat mebel Indonesia belum menjadi tuan rumah di negara sendiri. Mulai dari pasar bawah sampai pasar premium masih didominasi produk ekspor, dari Cina sampai Eropa. Saat ni pun, ia lebih banyak (sekitar 60%) berhubungan dengan ekspor, sedangkan 40% proyek lokal beserta merek baru yang sedang dikembangkannya.

Ia pun terus berupaya mengarahkan hasil karyanya ke pasar yang dapat mengapresiasi desain sebagai nilai tambah dalam produk, juga pasar yang mengerti kualitas material dan kualitas craftmanship yang tinggi. “Justru di sini perlunya trik-trik bisnis seperti strategi brand, smartmarketing, socialmediamarketing dibutuhkan,” kata ayah Jayden Simanjuntak (5 tahun) dan Tristan Simanjuntak (3 tahun) ini.

Melalui Karsa, Joshua terus melangkah menjadi produsen berbasis desain dan merek. Melalui Karsa pula, perusahaannya terus memperkuat sisi desain, merek dan smart marketing untuk menembus pasar nasional dan internasional. Menurutnya, smartmarketing adalah pemasaran yang menekankan kepada communitymarketing. Ia berusaha membentuk pasar melalui komunitas denganchannelmarketing-nya melalui jejaring sosial. Melalui channel marketing itu, Joshua bisa bercerita mengenai desain serta ide inspirasi sehingga jika seseorang tertarik membeli produknya, ia akan mengerti apa yang dibeli bukan sekadar barang semata. “We like to grow with our smart constumers,” ungkap Joshua yangingin pensiun sebagai mastercarpenter dengan membuat mebel dari kayu yang ia tanam sendiri.

Dalam pandanganYoris Sebastian, pengamat industri kreatif, peran Joshua saat ini adalah penghubung bagi para pembuat furnitur di Indonesia. Salah satunya, para pembuat furnitur dari Jepara. Dengan demikian, Indonesia tidak lagi semata-mata menjual komoditas atau sekadar meniru desain yang ada, tetapi juga menciptakan desain baru.


Untuk mengarah ke sana, Yoris memberi masukan. Langkah pertama, berkolaborasi dengan perusahaan mebel lokal yang dulu sempat berjaya sebelum pasar Indonesia dihujani produk impor dari Cina yang harganya supermurah. Kedua, mulailah membangun merek untuk produk furnitur yang terjangkau dan juga produk ekspor dengan desain berkualitas. Ketiga, ikut lomba wirausaha yang kini marak diselenggarakan sehingga mendapat kesempatan mengikuti berbagai pameran di dalam dan luar negri.


Di era media sosial ini, menurut Yoris, ”All we have to do is telling a story. Setiap furnitur punya story masing-masing,” katanya. Untuk membangun story ini, cukup dengan memberikan gift kepada beberapa influencer secara reguler dan bergantian, sehingga orang pasti akan membicarakannya. “Bahkan saat sebuah furnitur jadi, dan belum tahu namanya apa. Maka, saat kita sudah punya strongcommunity, kita tinggal bertanya usulan nama dan itu sudah menjadi story lagi”.(*)

Dede Suryadi dan Gustyanita Pratiwi

Riset: Dian Solihati

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)