Juchiro Tampi: Bermimpi Jadi Pemain Migas Kelas Asia Pasifik

Juchiro Tampi ~~

Usaha keluarga Eddy Tampi bermula dari bisnis katering untuk industri migas pada 1971, terutama memasok makanan ke Petro Merten dan ConocoPhillips. Semula bisnis kateringnya dijalankan lewat CV Sele Raya, kemudian berubah menjadi PT Sele Raya pada 1977. Eddy Tampi lalu terlibat lebih dalam di industri migas dengan terjun ke bidang seismik akuisisi pada 1980-an. Seismik akuisisi adalah kegiatan pertama yang harus dilakukan sebelum pengeboran. Jadi, Sele Raya bergerak sebagai layanan pendukung industri migas.

Tahun 1986, Sele Raya mendapat kepercayaan untuk mengoperasikan Sembakung Field di Kalimantan selama empat tahun dengan produksi minyak sekitar 3.600 barel per hari. “Bila dilihat dari kemampuan, kami sudah tahu know-how dari seismik, sudah berpengalaman dalam pengoperasian produksi. Ayah saya pun punya cita-cita. Perusahaan dan pengusaha nasional harus bisa berkompetisi dengan perusahaan asing dalam pengelolaan minyak dan gas bumi,” tutur Juchiro Tampi, yang diberi kepercayaan oleh ayahnya untuk memimpin perusahaan minyak keluarga itu sejak 2004.

Pada 1994, Sele Raya benar-benar menjadi perusahaan minyak. Layanan jasa pengeboran dilepas. Sele Raya berkonsentrasi menjadi operator production sharing contractor – seperti Pertamina dan Medco. “Kami pegang TAC BUMP Meruap dan TAC Mayumi. Pada 2003, kami mulai mengelola Blok Sele Raya Merangin Dua, Blok Belida, dan Blok Blora,” Juchiro menerangkan.

Anak kedua dari empat bersaudara ini bertanggung jawab menjalankan operasional PT Sele Raya Merangin Dua, PT Sele Raya Belida, dan PT Sele Raya Blora. Si sulung, Mariko Tampi, memegang keuangan. Anak ketiga, Yuriko Tampi, memegang divisi pengembangan bisnis. Sementara si bungsu, juga perempuan, masih menempuh pendidikan di Amerika Serikat. Juchiro yang kelahiran 26 Juli 1979 ini adalah satu-satunya anak laki-laki keluarga Tampi.

Juchiro menempuh pendidikan di New York University, tepatnya di Stern Business School, selama empat tahun. “Saya mengambil program empat gelar, yakni Finance, Marketing, International Business, dan Arts and Humanity,” tuturnya. Tak satu pun mayor kuliahnya berhubungan dengan sektor perminyakan. Maka, setelah lulus tahun 2002, Juchiro kembali ke Indonesia. Kemudian mulai dengan menjadi wirausaha. “Saya memasok jasa pengeboran untuk Pertamina dan CNNOC,” ia menambahkan.

Kiprahnya di pengeboran membuatnya mengenal industri migas, mulai dari material, manajemen, timing, sampai kenal dengan para profesional yang lebih senior. Ia menjalankan bisnisnya sampai 2004. Tahun itu pula, Juchiro dipercaya ayahnya menjadi GM Sele Raya. Tugasnya, mengonsolidasikan divisi migas Sele Raya, meliputi perencanaan, penganggaran, sampai eksekusi.

Di bawah kepemimpinan Juchiro, Sele Raya tumbuh pesat, termasuk mampu menjalin kemitraan strategis dengan perusahaan multinasional, antara lain Sinochem (China) dan Tata Power (India). “Proyek ini dilakukan untuk beberapa aset Sele Raya,” ia menandaskan.

Di Blok Merangin Dua, Sele Raya berhasil mendapatkan persetujuan pemerintah untuk pengembangan lahan (land development) pada tahun ke-9. Di Indonesia, waktu 9 tahun tergolong cukup cepat. Biasanya, proses ini memakan waktu 10-12 tahun. Sele Raya bisa bergerak cepat karena organisasinya ramping, birokrasinya tidak gemuk, sehingga bisa bergerak lincah.

Karena kecepatan gerak itulah, Sele Raya pernah memperoleh penghargaan dari SKK Migas (dulu BP Migas), sebagai perusahaan terbaik dalam kategori komitmen eksplorasi tahun 2008 dan 2009. “Kami bisa mendapat kontrak komitmen dengan negara untuk mengebor 8 sumur dalam waktu 10 tahun. Tapi, kami bisa menyelesaikannya lebih cepat daripada perusahaan migas lain, termasuk asing,” tutur Juchiro.

Sele Raya kini menghasilkan minyak rata-rata 2.400 barel per hari dari lapangan Blok Merangin Dua. Adapun di Blok Belida, Sele Raya masih dalam tahap persetujuan POD. Ini merupakan langkah sebelum produksi, setelah eksplorasi. Kandungan minyak di Blok Belida diperkirakan di bawah angka 3.000 barel per hari. Sementara di Blok Blora, masih tahap eksplorasi. Dari produksi 2.400 barel itu, 89% merupakan jatah negara, sisanya 11% atau 264 barel per hari merupakan hak Sele Raya. Jika harga minyak US$ 95 per barel, pendapatan Sele Raya adalah US$ 25.080 atau Rp 238.260.000 per hari.

Investasi yang dibenamkan cukup besar. Pada pengeboran di darat (onshore), biaya keseluruhan berjumlah US$ 80 ribu/hari. Biasanya proyek onshore memakan waktu dua bulan sehingga investasi bisa mencapai US$ 4,8-6,5 juta. Ketiga ladang minyak Sele Raya berada di darat semua.

Meski begitu, Sele Raya pun pernah rugi besar ketika mengebor sumur minyak di Blok Blora tahun 2009. Ternyata, sumurnya kering (dry hole). Tidak mengandung minyak. “Jumlah kerugian untuk satu sumur sampai Rp 65 miliar. Bisnis migas memang padat modal, butuh teknologi tinggi, dan berisiko tinggi. Dan belum tentu high return,” kata Juchiro. Impian Juchiro, dalam lima tahun ke depan, Sele Raya bisa menghasilkan minyak sebanyak 10 ribu barel/hari dari tiga blok lapangan minyak yang dikelolanya.

 

Didin Abidin Masud & Rosa Sekar Mangalandum

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)