Jurus Evrawood Melenggang di Bisnis Fashion

Tas kasual dengan label Evrawood mulai mencuri perhatian kalangan fashionista, terutama para profesional muda. Pasalnya, Evrawood bisa memenuhi kebutuhan mereka yang ingin bergaya kasual di mana pun mereka berada. Mengusung konsep gaya hidup urban yang kasual, Evrawood bisa dipakai untuk ke kantor, hangout, ke tempat gym, bahkan futsal. “Evrawood ingin memenuhi kebutuhan orang yang bergaya kasual dan tetap berpenampilan kasual meski banyak melakukan aktivitas. Setelah kerja mau ke mal, ke tempat gym, futsal, bisa tetap memakai Evrawood,” ungkap Wahyu Adji Setiawan, CEO PT Evrawood Paraja Modatama.

Wahyu Adji Setiawan Wahyu Adji Setiawan, CEO PT Evrawood Paraja Modatama

Tak hanya pasar dalam negeri, Evrawood juga memincut pasar luar negeri. Bahkan, justru pasar luar negeri yang lebih banyak menyerap produk berdesain timeless ini. Dituturkan Adji, sapaan akrab sang CEO, dengan kapasitas produksi mencapai 1.000 unit tas per bulan, 70% dilempar ke mancanegara seperti Singapura, Malaysia, Belanda dan Jerman. Sisanya baru untuk memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri. Di Indonesia, produk Evrawood yang membidik pasar perkotaan dengan rentang usia 25-35 tahun dijual mulai dari Rp 400 ribu. Untuk pasar luar negeri, harga jualnya Rp1,8-2,5 juta.

Untuk memperluas pasar dalam negeri, Evrawood akan membuka gerai di 15 kota besar di Indonesia. Selain itu, ekspansi produk telah pula disiapkan dengan membuat produk turunan dari Evrawood, mulai dari sepatu, T-shirt, kemeja, celana, dan lainnya. “Mimpi kami adalah menjadikan Evrawood perusahaan fashion terkemuka, baik tingkat nasional maupun internasional,” ungkap Adji, yang tahun ini menginjak usia 29 tahun.

Evrawood dipasarkan lewat dua jalur: online dan offline. Untuk online, Evrawood mempunyai situs web dan program affiliate. “Kami memasukkan barang di beberapa marketplace dan e-commerce seperti Lazada, Blibli.com. Kami juga menggunakan media sosial secara intensif seperti Twitter,” katanya. Untuk pemasaran offline, Evrawood didistribusikan ke department store dan mengisi berbagai pameran di kota-kota besar di Indonesia.

Cikal bakal Evrawood adalah pergulatan seorang Adji yang mengasah jiwa bisnisnya sejak masih SMA. Ketika itu, ia menjual barang fashion di Bandung seperti kaus, celana ataupun tas kepada teman-teman sekolah. Memasuki kuliah di Universitas Negeri Surabaya, jiwa kewirausahaannya semakin menggebu. Tawaran dari senior di Badan Eksekutif Mahasiswa untuk menjadi koordinator di bidang kewirausahaan langsung disabetnya. Tahun berikutnya, Adji ikut tender pengadaan 1.200 kaus untuk mahasiswa baru.

Ketika saya menang, masalah pertama muncul: mau buat kaus di mana?” tuturnya. Yellow Pages menjadi panduannya. Setelah menemukan salah satu konveksi besar di Surabaya, muncul masalah kedua. “Uang yang saya miliki tidak cukup untuk membayar DP konveksi sebesar 50%, sedangkan dari kampus hanya 30%,” katanya mengenang. Setelah negosiasi panjang, dia mampu menyakinkan pihak konveksi dengan meninggalkan KTP. Dari order pertama itu, ia mulai berbisnis konveksi dengan orderan jaket kelas, kaus olahraga, dan lain-lain.

Tahun 2006, ia mendapat order membuat 200 tas seminar dari dosennya. Diberi tenggat (batas waktu) satu minggu, dia menggandeng para perajin di Tanggulangin, Sidoarjo. Order pertama ini membuka pintu baginya memperoleh penawaran dari banyak perusahaan di Surabaya untuk membuat tas perusahaan, tas travel haji, dan lainnya.

EvrawoodPilihan menjadi produsen tas kemudian mengelitiknya membesut merek sendiri dengan desain sendiri pula. “Saya membuat konsep dan mengumpulkan calon pembeli,” tuturnya. Tahun 2010, ia pun meluncurkan tas dengan merek Ortiz. Pada tahun yang sama, ia juga mendapat order dan mendistribusikan ke Singapura dan Malaysia dengan standar internasional. Ia mengantongi kontrak 6 ribu tas dalam satu tahun.

Sayang, badai datang tiba-tiba. Pertengahan 2010, ia mendapat somasi dari pemilik merek sah Ortiz, salah satu perusahaan fashion besar dari Spanyol. Dalam somasinya itu, salah satunya adalah perintah untuk menarik produk dalam waktu dua bulan. Jika tidak ditarik, hendak diberi sanksi berupa denda sebesar Rp 7 miliar. “Mau tidak mau, kami harus menarik semua produk kami dan membayar denda ke distributor sebesar Rp 600 juta karena tidak bisa mendistribusikan sesuai dengan kontrak selama satu tahun,” paparnya.

Adji sempat berhenti dua bulan karena tagihan berdatangan dari vendor dan pemasok. Dengan itikad baik, dia memberanikan diri mendatangi satu per satu vendor dan pemasok bahan. “Mereka memercayai kami untuk membayar mundur dan memberikan pinjaman kepada kami berupa bahan untuk produksi kembali.” katanya.

Kepercayaan inilah yang melecutnya untuk membangun kembali usaha setahun setelah mendapat somasi. Bermodal Rp 12,5 juta, Adji membesut label Evrawood yang langsung dipatenkan. Ia juga mengumpulkan tim baru yang berpengalaman dan sesuai dengan renjana (passion). Bidang tas tetap dipilihnya karena ia melihat permintaan semakin tinggi. Dari hasil riset perusahaannya, Adjie memperkirakan, tahun 2020 pembelian tas kelas menengah di Indonesia mencapai Rp 5,5 triliun. “Dan, secara sederhana, bisa dilihat perkembangan merek-merek tas luar negeri yang berumur hingga ratusan tahun,” ungkapnya.

Dengan desain dan kualitas yang bagus, Evrawood pun melenggang ke Singapura dan Belanda. Pemesanan perdana ini membuat Adji makin terpacu membangun Evrawood. Apalagi, menurutnya, produknya disejajarkan dengan produk dari Eropa. Kepercayaan ini juga mendorongnya makin berinovasi, baik dari segi kualitas maupun desain. “Produk kami juga unggul di kualitas dan harga yang lebih murah dibanding produk Eropa. Itu yang membuat kami bertahan dan ada pemesanan kembali,” katanya.

Pemilihan bahan baku seperti kain, aksesori, kulit, dan lainnya, termasuk proses cutting dengan pola yang sudah ada, dikerjakan di workshop-nya. Sementara untuk produksi, ia menggandeng beberapa perajin kecil untuk pengerjaan ringan seperti pengeleman, menempel dan penjahitan sederhana. Sementara proses finishing atau penjahitan besar dilakukan di workshop. “Sehingga, kualitas produk kami tetap terjaga,” imbuhnya.

Sejalan ekspansi Evrawood, Adji menggandeng mitra bisnis yang memiliki renjana yang sama dengannya. Tahun 2012, masuk Veldi Mahartriasa. Tahun ini, Cristian Paulus ikut memperkuat tim manajemen Evrawood. “Saya dan partner adalah ahli di bidang masing-masing. Jadi, untuk pembagian tugas, kami sudah ada posnya masing-masing,” ucapnya.

Agar bisa bersaing, Evrawood melakukan tiga riset: pasar ke depan, konsumen, dan kompetitor. “Ini kami lakukan agar selalu menyesuaikan produk dengan kebutuhan konsumen. Jadi, kami membuat produk yang sangat dibutuhkan konsumen yang sesuai dengan fungsinya,” Adji menjelaskan. Untuk perluasan pasar, ia tengah menjajaki penambahan mitra di saluran distribusi offline seperti department store Sogo, Centro dan Metro. “Untuk proses jangka panjang, kami akan membuat store Evrawood sendiri di beberapa mal di berbagai kota di Indonesia,” kata Adji yang memayungi 11 karyawan tetap dan 27 karyawan lepas.

Ke depan, dia mencanangkan Evrawood menjadi perusahaan fashion terkemuka di ranah nasional ataupun internasional. “Kami akan mengembangkan produk fashion lainnya dalam jangka panjang seperti baju, celana dan sepatu. Kami pun sedang menyiapkan ekspansi ke pasar internasional yang lebih luas lagi. Tentunya kami optimistis, Evrawood akan menjadi perusahaan fashion yang terkemuka di nasional ataupun internasional,” ia menerangkan.

Bergerak di industri fashion yang dinamis, dalam kacamata pengamat bisnis Rahma Gafni, produk Evrawood harus bisa mempertahankan kualitas, terutama bahan baku, desain dan pengerjaan produknya. “Tak kalah penting yaitu inovasi yang didukung teknologi mutakhir untuk mempertahankan kepercayaan pasar dalam menggunakan produk Evrawood,” ucap Rahma, yang juga Ketua Program Studi Magister Ilmu Ekonomi Pascasarjana, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Airlangga.

Peluang dan prospek bisnis Evrawood, menurutnya, sangat bagus ke depan. Jumlah penduduk Indonesia yang sangat besar bisa dijadikan pangsa pasar yang cukup tinggi untuk domestik. Begitu pun pangsa pasar internasional sejalan dengan berlakunya MEA tahun 2015 ini. “Evrawood harus sudah siap menghadapi persaingan global, harus banyak belajar dari produk luar yang menjadi tren, yang sangat luar biasa mendapatkan kepercayaan dari konsumennya. Kita punya bahan baku yang tak kalah bagus dari merek-merek dunia,” ungkapnya.

Untuk itu, Rahma menyarankan agar Evrawood jangan pernah berhenti menciptakan desain baru yang sesuai dengan tren dunia dan kebutuhan konsumen. “Serta, belajarlah dari negara yang bisa mematenkan produknya untuk bisa berkompetisi dengan baik. Perkuatlah dengan SDM yang terampil, tetap menjaga mutu, dan harga yang sesuai dengan pasar. Kemudian, yang paling penting, harus didukung dengan inovasi dan teknologi yang mutakhir,” paparnya.

Henni T. Soelaeman dan Tiffany Diahnisa

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)