Jurus Ponsel Cina Hadapi Serangan Balik Pemain Besar

Beberapa tahun terakhir ini, pasar telepon seluler (ponsel) di Tanah Air dibanjiri aneka merek. Terutama sekali merek ponsel yang diproduksi di pabrik, Cina – yang lebih dikenal sebagai ponsel Cina (walaupun pemilik mereknya lebih suka menyebutnya sebagai ponsel lokal). Mulai dari yang sudah punya nama cukup kuat seperti Nexian, K-Touch, IMO, Mito, Taxco, eTouch, MyG, Mixcon, Z Tech, Cross, TOM, dan masih banyak lagi. Saat ini, diperkirakan ada sekitar 200 merek ponsel Cina yang beredar di Indonesia.

Asosiasi Importir Seluler Indonesia mencatat, selama kuartal I/2010, pasokan ponsel berbagai merek dari Cina mencapai 9,6 juta unit, atau 80% dari total impor ponsel yang mencapai 12 juta unit. Dibanding kuartal I/2009 yang sebesar 6,3 juta unit, terjadi lonjakan impor ponsel Cina 52,4%.

David Tirta Wijaya

Harga murah (segmen low end), ditopang fitur dan model yang up-to-date, tampaknya merupakan daya tarik ponsel Cina. Contohnya, hanya dengan Rp 150 ribu, orang sudah bisa memiliki sebuah ponsel. Atau, cukup dengan Rp 1 juta, sebuah smartphone Cina sudah bisa dimiliki. Mengambil contoh sukses tipe S Nexian di pasar, Maneesh Tripathi, Direktur Pengelola Affinity Group dan Selular Group, menilai lantaran produk ini berada di rentang harga murah yang disesuaikan dengan kebutuhan konsumen. “Mereka yang membeli Nexian bukanlah para gadget freak, tapi mereka yang sangat memperhitungkan value for money,” ujarnya.

Tentu saja, banjir ponsel Cina itu mengoyak pangsa pasar merek ponsel besar yang sudah punya nama global, seperti Nokia, Samsung, LG, dan Sony Ericsson. Nah, tak mau berdiam diri, vendor ponsel besar ini pun memutuskan bertarung di segmen low end. Misalnya, Nokia mengeluarkan seri C dan X2, sedangkan Samsung merilis Corby dan Champ. Rata-rata ponsel merek itu dijual dengan harga di bawah Rp 1 juta.

Lantas, bagaimana pengaruh terjunnya merek besar ke segmen low end? Diakui Wijaya Kusuma, Manajer Pemasaran Mito Mobile, penjualan ponsel Cina ikut terpengaruh oleh kehadiran mereka di pasar low end. “Penurunan penjualan mulai terasa awal tahun ini. Teman-teman yang lain juga merasakan hal yang sama. Tapi seberapa besar penurunan angka penjualannya, saya belum bisa menginformasikan,” kata Wijaya.

Hal senada diakui David Tira Wijaya, Direktur Pemasaran dan Penjualan PT Tiphone Mobile Indonesia Tbk. Ia mengakui, penjualan ponsel TiPhone juga turun. Namun, David tidak mau merinci penurunannya. “Yang paling kami takutkan Samsung. Terutama kemampuannya menurunkan harga,” kata David. Ia mencontohkan, Samsung Champ yang awalnya dijual Rp 1,4 juta, lalu diturunkan menjadi hanya Rp 500 ribu. “Semenjak itu penjualan ponsel lokal mandek.”

Singkatnya, seperti diakui para pemilik merek ponsel Cina, persaingan di segmen low end semakin ketat. Selain mesti bersaing dengan sesama merek ponsel Cina yang jumlahnya ratusan, mereka juga mendapat tekanan dari para vendor ponsel besar yang terjun menggarap pasar bawah.

Untuk bisa survive, mereka tentu harus memainkan aneka strategi. Menurut Christian Sudibyo, Dirut PT Wahana Jaya Seluler, pengembang ponsel lokal merek TOM, untuk bisa survive, strateginya tidak boleh menggunakan cara me too. “Agar bisa survive atau ingin membunuh kompetitor harus bisa membuat tren di pasar. Kalau tidak, perlahan-lahan akan mati,” ujar Christian.

Ungkapan senada dikemukakan Harijadi Prawirotomo Budi Martono, Direktur dan COO Selular Group, keberhasilan S Nexian selama ini juga karena kemampuannya melakukan inovasi produk yang disesuaikan dengan kebutuhan pasar. Salah satu inovasi terbarunya adalah S Nexian Application World, sebagai pasar aplikasi lokal pertama untuk ponsel Android.

Adapun TiPhone, disebutkan David, terus memperkuat aspek pengadaan produk dan penambahan jaringan distribusi di berbagai daerah. Untuk distribusi, TiPhone memanfaatkan jaringan luas yang dimiliki Telesindoshop. “Strategi lainnya adalah pelayanan pascajual produk-produk TiPhone,” ujar David.

Pentingnya aspek pascajual juga diamini Wijaya Kusuma. “Untuk itu, Mito terus menambah dan memperbaiki service centre, baik dari segi kualitas pelayanan maupun jaringan,” ujarnya. Langkah lainnya, berpromosi gencar dengan merangkul figur seperti Limbad dan Deddy Corbuzier guna meningkatkan brand awareness. “Dengan promosi seperti ini, masyarakat jadi tahu bahwa Mito masih ada,” katanya. Maklumlah, pemain yang berkerumun di segmen ini amat banyak.

A. Mohammad B.S., Darandono, Herning Banirestu & Radito Wicaksono

Riset: Siti Sumariyati

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)