Kecap Cap Korma Sudah Sampai Timur Tengah

Khadijah tak berputus asa saat ditinggal pergi selama-lamanya oleh sang suami tercinta, Habib Ibrahim Assegaf. Ia tetap tegar mencari penghasilan untuk menghidupi ke-8 anaknya. Petunjuk dari Yang Maha Kuasa akhirnya datang lewat kecap.

Ia memang ahli membuat kecap. Ia pun memberanikan diri merintis usaha kecap kecil-kecilan. Dari skala rumah tangga, bisnisnya terus membesar hingga berdirilah PT Korma Jaya Utama pada tahun 1948 dengan produknya, Kecap cap Korma.

Nama Korma dipilih karena rasanya enak dan halal. Permintaan banyak berdatangan dari para penjual sate. Khadijah memutuskan mendirikan pabrik di Jakarta pada tahun 1974.

"Pada awalnya, kecap ini ditujukan untuk rumah tangga. Namun, ternyata lebih banyak dipasarkan ke penjual sate. Selain di Jakarta, kami juga memiliki pabrik di Solo," kata Direktur Utama PT Korma Jaya Utama, Inayah.

Direktur Utama PT Korma Jaya Utama, Inayah Direktur Utama PT Korma Jaya Utama, Inayah

Perjalanan Kecap cap Korma sempat diganggu isu lemak babi pada tahun 1988. Saat itu, hampir semua produk diragukan kehalalannya, termasuk kecap. Beruntung, kecap milik Khadijah dianggap sebagai kecap halal.

Banyak konsumen beralih ke Kecap cap Korma hingga Khadijah dan anak-anaknya kewalahan melayani permintaan yang membludak. Omset pun melonjak 100% pada saat itu. Imej halal telah melekat pada Kecap cap Korma.

“Para konsumen pun sadar rasa kecap kami enak. Hingga saat isu lemah babi hilang, mereka tetap menggunakan Kecap cap Korma. Ini bukti slogan Enak dan Halal kami benar-benar jujur," katanya.

Selanjutnya, Khadijah berusaha menjaga kualitas bahan baku yang sehat dan halal, tidak menggunakan pemanis buatan, pewarna tambahan, dan kedelai hitam yang bukan hasil rekayasa genetika.

"Kami beriklan lewat billboard dan spanduk. Kami juga terjun langsung mendekati pelanggan lewat kegiatan Islami dan kekeluargaan seperti pengajian rutin. Kami juga berhubungan baik dengan pondok-pondok pesantren di Madura," kata Inayah.

Hasilnya, loyalitas pelanggan tetap kuat sampai sekarang. Dalam rangka mendekatkan diri kepada Sang Pencipta, lanjut dia, perseroan rutin menyisihkan 2,5% dari hasil penjulan untuk infak.

Perusahaan juga sempat memberi wakaf berupa mobil jenazah untuk para pelanggan, khususnya di Madura. Tujuannya, untuk mengajak para konsumen Kecap cap Korma agar mau peduli terhadap kegiatan sosial dan dakwah.

"Untuk wilayah Indonesia, kami sudah ada dari wilayah Sumatera hingga Kalimantan. Sedangkan untuk pasar ekspor kami sudah menjangkau kawasan Timur Tengah," katanya.

Saat ini, kapasitas produksi di dua pabrik mencapai 18 ribu liter dan biasanya terjual sekitar 40-50% dengan harga mulai dari Rp 12.500-Rp 22.500 untuk berbagai kemasan seperti botol kecil, botol besar, refill, hingga jerigen.

“Kami mengusung strategi 4P yakni Produk, Price, Promotion, dan Placement. Kami tengah mengembangkan website sebagai media penjualan," kata Inayah. (Reportase: Putri Wahyuni)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)