Sang Spesialis UX

Ketut Sulistyawati Ketut Sulistyawati

Pernahkah Anda menggunakan produk tetapi tak tahu cara memakainya sampai harus melihat buku manual? Atau, masuk ke suatu website tetapi tak menemukan apa yang dicari? Atau, pergi ke pusat layanan pelanggan tetapi tidak tahu harus mulai antre dari mana? Itu semua merupakan bidang user experience (UX), yakni bagaimana pengalaman konsumen berinteraksi dengan sebuah merek atau produk. Hal inilah yang digeluti Ketut Sulistyawati, spesialis UX asal Bali yang bergelar Ph.D. dari Nanyang Technology University.

Lulusan S-1 bidang desain produk mekanis dan S-3 bidang human factors engineering ini punya pengalaman kerja sebagai desainer UX di Dell Experience Design Group, Hewlett-Packard Global Design Centre di Singapura, serta sebagai spesialis UX di Reading Room (konsultan web di bidang yang sama). Kini ia mengibarkan perusahaan konsultan sendiri di Indonesia, Somia Consulting, yang membidang UX. Kendati bidang ini masih baru bagi masyarakat bisnis Indonesia, Sulis mampu merengkuh sejumlah perusahaan menjadi kliennya: Philips, Jobs DB (Hong Kong), Kompas, XL, dan beberapa perusahaan start-up.

Harus diakui, UX adalah hal baru di Indonesia walau perannya sangat penting. “Saya perkirakan baru akan booming tiga tahun ke depan,” ungkap Sulis. Wanita kelahiran Denpasar 11 Oktober 1982 ini awalnya tak terlalu serius menceburkan diri di bidang UX. Antusiasmenya baru muncul saat magang studi S-1 di produsen kemasan Tetra Pak di Singapura. Di sana, setelah melihat intranet dan website Tetra Pak tak ramah bagi user, dia lalu mengajukan proposal pembenahan, yang ternyata disetujui. “Dari situ saya makin tertarik dan kemudian mengambil tugas akhir di bidang UX dan juga kemudian mendapat beasiswa S-3 di bidang UX,” katanya mengenang.

Saya menyebutnya sebagai solusi karena produk yang dibuat bisa berupa digital software atau web dan juga berupa service design,” ujar Sulis yang meraih gelar Ph.D.-nya pada usia 26 tahun karena langsung mengambil studi S-3, tanpa melalui jenjang S-2. Sebagai konsultan UX, pekerjaannya mencakup seluruh siklus hidup (life cycle) dari pengembangan produk, mulai dari memahami karakter target pengguna, mencari solusi apa yang tepat untuk mereka, membuat konsep bagaimana pengguna akan berinteraksi dengan solusi yang dibuat (user interface design), hingga melakukan expert evaluation dan usability testing (apakah solusinya sesuai, mudah digunakan, dan memberikan kepuasan kepada pengguna).

Bidang UX, dikatakan Sulis, berkaitan dengan psikologi manusia dalam kehidupannya sehari-hari, terutama dalam urusan bagaimana membuat konsumen lebih terbantu, lebih mudah, dan lebih senang dalam berinteraksi. Saat ini, menurutnya, di luar negeri ahli UX banyak dicari, bahkan permintaan lebih banyak dibanding penawaran. “Mereka berlomba-lomba karena ingin memberikan user experience terbaik ke konsumen,” ujarnya. Di Indonesia, diakuinya, bidang UX baru mulai dikenal. Sebagian besar kliennya pun saat ini datang dari rekomendasi klien yang sudah bekerja sama.

Rima Sjoekri, entrepreneur digital pendiri Rasamassa.com (akan meluncur), menilai sangat pentingnya peran spesialis UX bagi pengembangan portalnya yang berisi informasi tentang masakan rumahan Indonesia. Awalnya, dia sudah puas dengan desain portal yang dikembangkan tim desain internalnya. Namun setelah berbincang dengan Sulis, dia lalu merombak ulang desain portalnya. “Kami pikir user experience ini penting sekali. Inilah yang kami cari. Sebagus apa pun desain. tidak ada gunanya kalau tidak dilihat user. Sebelumnya, kami hanya tahu tentang desain,” ungkap Rima yang juga menjadi Direktur PT Rasa Massa.

Kevin Mintaraga, pendiri dan CEO agensi dijital XM Gravity, mengatakan bahwa Indonesia patut berbangga memiliki talenta seperti Sulis. Sebab, di Indonesia sangat sedikit spesialis UX yang benar-benar mendalami dan memiliki latar belakang pendidikan yang semestinya. “Mungkin hanya tiga orang,” kata Kevin. Kebanyakan spesialis UX lainnya di Indonesia, menurutnya, hanya berdasarkan intuisi dan pengalaman. “Yang benar-benar expert tidak banyak,” tambahnya.

Sebelumnya, Kevin pernah bekerja sama dengan Sulis, yaitu sewaktu memberi pelatihan kepada awak XM Gravity yang di dalamnya terdapat Divisi UX. “Sulis kasih training ke kami,” katanya. Dia juga menceritakan bahwa XL, yang juga menjadi klien XM, pernah secara langsung mendekati Sulis untuk memberi pelatihan UX di XL.

Mengingat profesinya masih langka sementara keahliannya sangat dibutuhkan, Sulis optimistis pertumbuhan bisnisnya ke depan akan kian berkembang. Dia menyasar dua target: perusahaan besar pemilik merek dan perusahaan start-up digital.

Saya pikir banyak perusahaan yang membutuhkan kemampuan Sulis. Sulis tidak pelit berbagi ilmu. Input-nya sangat insightfull,” ungkap Kevin mengomentari prospek bisnis ini. Ke depan, jika ada proyek besar yang membutuhkan kemampuan Sulis, pihak Kevin pasti akan mengundang Sulis untuk terlibat.(*)

Denoan Rinaldi & Sudarmadi

Riset: Dinda Khalil

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)