Kiat Anggit Membesut JakPat

Umumnya, pelaksanaan survei, jajak pendapat atau riset pasar sangat menyita waktu dan menyedot biaya operasional. Komponen biaya survei konvensional, di antaranya honor petugas survei agar bisa menyambangi responden satu per satu atau membayar honor bagi penyedia jasa surveinya. Itu pun hasil survei tidak bisa cepat lantaran harus diolah lebih dulu dengan cara manual. Bagi perusahaan yang menuntut kecepatan dan akurasi survei, bisa jadi cara ini tidak efektif dan efisien. Apalagi saat ini eranya digital, semuanya harus serba cepat dan tepat.

Maria Regina Anggit Tut Pinilih Maria Regina Anggit Tut Pinilih, CEO Gongsin International Transindo

Aplikasi JakPat (Jajak Pendapat) memberikan pilihan sebagai jalan keluar bagi perusahaan yang ingin mendapatkan hasil survei dengan cepat, akurat, dan biayanya 10 kali lebih murah dibanding survei konvensional. JakPat adalah aplikasi yang dikembangkan PT Gongsin International Transindo (GIT), perusahaan startup digital dari Yogyakarta. “JakPat adalah platform untuk melakukan survei di mobile phone yang langsung menghubungkan klien dengan responden,” kata Maria Regina Anggit Tut Pinilih, CEO GIT.

Anggit, demikian sapaannya, mengamati kesuksesan survei dan riset pemasaran online berbasis telepon pintar di negara maju. Karena itu, dia mengembangkan JakPat untuk merespons pertumbuhan pengguna smartphone dan potensi bisnis survei mobile di Indonesia. Anggit menginisiasi pengembangan aplikasi JakPat sejak Maret 2014. Dia menggelontorkan modal hingga Rp 100 juta rupiah. Dua bulan kemudian, perusahaannya merilis JakPat berbasis Android, tepatnya pada 20 Juni 2014. Sebulan setelah itu, aplikasi untuk IOS (Apple Store) dilansir ke pasar.

Lajang kelahiran 22 Agustus 1986 ini, menempuh berbagai tahapan uji coba demi meraih kepercayaan konsumen atau responden. Sejak pertengahan tahun lalu, ia sudah mengumpulkan responden sembari mengembangkan fungsi dashboard (tampilan visual) untuk kliennya, kemudian aplikasi ini diluncurkan pada November 2014. Lalu, Anggit memberikan layanan cuma-cuma untuk menjaring minat konsumen. “Awalnya, kami cukup kesulitan meyakinkan klien. Tetapi kami bisa membuktikan nilai yang diperoleh klien setelah membuat survei melalui JakPat,” ia menuturkan.

Menurut Anggit, nilai tambah yang diberikan JakPat adalah kecepatan survei dan akurasi dibanding metode tradisional. “Rekor tercepat kami, survei untuk 5 ribu responden bisa diselesaikan dalam empat jam,” alumni Magister Manajemen Universitas Gadjah Mada ini menjelaskan. JakPat mengklaim rata-rata bisa menjaring 100 responden dalam 10 menit dari jumlah total sebanyak seribu responden. Jika dihitung-hitung, survei untuk seribu responden itu akan selesai dalam tiga jam.

Metode survei online ala JakPat ini sesuai dengan standar survei. Ketika klien melakukan survei, JakPat menyediakan responden dari gudang datanya. “Setiap individu bisa mendaftar sebagai responden untuk survei dan mendapatkan poin yang bisa ditukar reward,” ia menambahkan. Inilah apresiasi JakPat kepada responden dengan menyediakan berbagai hadiah, seperti uang tunai, pulsa telepon, voucer belanja dan hadiah lainnya. Responden akan beroleh poin tambahan apabila rajin memverifikasi datanya atau mengajak temannya sebagai responden. Jenis hadiahnya bergantung pada bobot poin responden. Sejauh ini, Anggit berhasil menjaring 53 ribu responden yang tersebar di 300 kota. Sebanyak 70% dari jumlah total respondennya itu berdomisili di Pulau Jawa. Mayoritas responden berusia 17-35 tahun, sisanya berumur 36-59 tahun.

Tiap responden wajib mengunduh JakPat yang tersedia gratis di Google Play atau App Store. Berikutnya, responden harus mencantumkan biodatanya sebelum mengisi survei. Anggit rutin memantau dan mengecek ulang sistem pendaftaran responden, verifikasi identitas responden, target responden, validasi jawaban hingga sistem penampilan data real time demi menjamin validitas responden. Itulah yang menjadi salah satu kunci sukses Anggit mendulang kepercayaan dari para pelanggannya.

JakPat pun mendapatkan sambutan positif dari korporasi. “Klien pertama JakPat di Januari 2015 yang membayar jasa pengumpulan data,” ujar Anggit. Klien JakPat, menurutnya, bermacam-macam, yakni perusahaan yang berbisnis di sektor consumer goods, ritel, agensi periklanan dan pemasaran, konsultan, perusahaan startup dan perusahaan modal ventura. Perusahaan itu, antara lain, Nutrifood, Garuda Food, Accenture, McKinsey&Company, JKT 48, Dentsu, Iris Worldwide, Mirum Agency, dan Indomaret. “Kini, klien JakPat sekitar 50 perusahaan,” katanya.

Salah satu klien yang sudah merasa puas atas survei online ala JakPat ini adalah PT Nego Hotel International. Budi Patiran, CEO Nego Hotel International, mengatakan, pihaknya menggunakan aplikasi JakPat berdasarkan rekomendasi kolega bisnisnya dua bulan lalu. Budi menelusuri kompetensi dan rekam jejak JakPat dari berbagai sumber sebelum menghelat surveinya. “Kami telah menyelesaikan dua kali survei dengan JakPat. Persiapan survei sehari saja, dan kami meraih apa yang kami inginkan, bahkan hasilnya lebih dari target,” tutur Budi.

Setiap klien ditangani apik oleh Anggit. Dia memberikan kemudahan kepada kliennya untuk membuat kuesioner, infografis atau simple analyzed XLS report. Klien yang ingin membuat survei bisa mengakses jakpat.net/signup. “Klien tinggal create survei,” Anggit menandaskan. Pada proses ini, staf pemasaran JakPat akan membantu klien hingga surveinya rampung. Budi bercerita, saat membuat survei, Anggit dan Account Manager JakPat bekerja keras membantu surveinya. “Saya tidak menyangka diberi harga diskon,” kata Budi. Adapun tarif layanan survei JakPat bergantung pada jumlah pertanyaan dan responden yang dibidik pelanggannya. Tarifnya berkisar Rp 5-15 ribu per responden.

Vicky Rachman & Raden Dibi Irnawan

Riset: Hana Bilqisthi

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)