Kuncoro Wibowo, Sejak Bocah Terjun ke Bisnis

Tidak tertulis jabatan apa di kartu nama yang diberikan Kuncoro Wibowo saat bertukar kartu dengannya. Pria kelahiran1956 ini, sudah terlihat sangat humble pertama bertemu. Padahal pria berpawakan sedang ini adalah putra pertama pendiri Grup Kawan Lama. Menerima tamu-tamu pentingnya tanpa pembedaan. Ia menemui di beberapa ruang meeting berdinding kaca transparan yang disediakan kantor. Tidak seperti presiden direktur umumnya yang membawa tamunya ke ruang kerjanya untuk bertemu. Ruang kerja pribadinya pun tanpa sekat pembatas. Terbuka dengan karyawan lainnya.

KuncoroKawanLama

Gambaran ini menunjukan bagaimana Kuncoro menjalani hidup. Apa adanya, katanya. “Hidup jangan dibuat rumit,” ujar pria yang datang pukul 8 pagi dan baru kembali ke rumah pukul 9-10 malam ini kepada Herning Banirestu.

Anak pertama dari sembilan bersaudara ini, memandang perjalanan hidupnya sederhana saja, tidak terlalu ruwet. Walau banyak yang sudah ia lewati dalam membangun bisnis hingga sebesar ini.

Kuncoro mengakui bisnis Grup Kawan Lama dimulai dari sebuah toko kecil di kawasan pertokoan Glodok oleh ayahnya. Kuncoro sejak kecil sudah terbiasa pulang sekolah langsung ke toko, membantu ayahnya mengelola toko tersebut bersama beberapa adiknya. Ibunya lebih banyak mengurus rumah dan makanan mereka selama di toko.

Perjalanan sukses itu ya perjalanan hidup. Kalau dilihat dari kecil, memang seperti gemblengan,” tuturnya. Perjalanan sukses itu harus melewati penggemblengan, pemupukan, penempaan hingga bagaimana orang itu terbentuk.

Kuncoro mengaku dibesarkan dalam keluarga yang semua berawal dari dasar sekali. Dan semua dibangun melalui perjalanan yang dimulai dengan terjun langsung (hands on). “Jakarta zaman dulu dengan sekarang kan beda, dulu ibarat jalan kaki dari Jakarta Kota ke Senen saja, dekat,” selorohnya sambil terbahak. Seperti kala ia sekolah dari rumah ke Mangga Besar jalan kaki hanya setengah jam saja. Itu hal biasa.

Membantu pekerjaan ayah di toko Glodok sepulang sekolah, hingga tutup toko, mulai dari buka, membungkus barang, kirim barang, mengantarkannya ke pelanggan hingga tugas sales ia lakukan dengan biasa saja, bukan sebagai beban. Sekitar usia 13-14 tahun, Kuncoro sudah mulai melakukan ini. “Saya jalani secara natural saja, bukan beban, waktu itu kan segala sesuatu itu, tidak ada jam kerja atau aturan. Tidak terpaksa, malahan senang,” ujarnya sambil tersenyum.

Ia senang, karena ayahnya mengajarkannya banyak hal selama di toko, terutama soal bisnis. Turun tangan langsung. Kuncoro juga menganggap ini sebagai bagian dari waktunya bersama ayahnya. Melihat langsung bagaimana ayahnya melayani pelanggan, berinteraksi dengan orang lain, tidak ada juklak-juklak (petunjuk-pelaksanaan). Semua dijalani secara alami. Dan diantara kesibukannya itu, Kuncoro selingi dengan les bahasa asing lain (Inggris dan Mandarin), setelah itu ia kembali lagi ke toko.

Kuncoro2

Artinya kalau siang, ia selalu ngepos di toko, di sela kesibukan bantu mengurus toko bersama ayahnya, ia kursus-kursus. Ia baru pulang ke rumah pukul 5 sore, setelah toko tutup. Ia melakukan ini bersama adiknya bersamaan. Memang kegiatan yang dijalaninya seperti berat, tapi Kuncoro menganggap tidak begitu. Biasa saja, katanya, karena menurutnya kegiatan dan suasana dahulu tidak sehiruk pikuk seperti zaman sekarang. Ia melihat justru banyak pelajaran-pelajaran dari sana, merasa ditempa.

Yang lebih penting adalah hubungan kami dengan orang tua lebih erat, kedekatannya lebih terasa. Ayah saya sangat hands on. Orang tua zaman itu lebih mengajarkan dengan memberikan contoh,” jelasnya.

Kuncoro tidak merasa waktunya habis karena membantu ayahnya di toko selepas sekolah. Tidak pernah ia merasa bahwa waktu bermainnya berkurang disebabkan rutinitas tersebut. “Sabtu-Minggu kan saya masih bisa main, masih bisa nonton juga,” katanya.

Bahkan remaja ia sudah keliling melanglang buana ke negera lain. Bukan jalan-jalan tapi terkait dengan bisnis ayahnya. Sejak usia 16-17 tahun Kuncoro sudah mulai berinteraksi dengan para pemasok tokonya yang dari luar negeri. Mengunjungi pameran-pameran. Dari sana lah ia melihat dunia yang lebih besar.

Mulai usia 17 tahun saya sudah pengalaman dealing dengan para supplier. Pasar di Indonesia saat itu masih kertas putih. Kami bisa memilih produk apa yang bisa dibawa ke Indonesia. Jadi jauh lebih mudah membawa produk itu ke sini, kami coba impor dan jual ke sini. Hubungan kami hingga 20-30 tahun hingga sekarang, bahkan masih baik hingga kini,” paparnya. Kuncoro mengaku tidak merasakan adanya diskriminasi, tidak dianggap sebagai “anak kecil” oleh pemasoknya saat negosiasi di usia belia.

Ia mengaku diuntungkan dengan kondisi saat itu karena pasar Indonesia masih baru bagi produk-produk yang dibawanya. Sehingga banyak yang membuka tangan untuk bekerjasama.

Kuncoro mengaku tidak sempat mengenyam pendidikan formal. Sekolah-sekolah Tionghoa saat itu banyak yang ditutup, karena peristiwa Gestapu tahun 1966an. Sekolah ia jalani di rumah, belajar private terutama belajar bahasa Mandarin di rumahnya dengan mengundang guru. Akibatnya ijasah SD resmi pun ia tidak memilikinya. Walau begitu ia belajar di rumah hingga setingkat SMA.

Semua situasi itu tidak dirasakan sebagai halangan, beban, atau kondisi yang menyulitkan. Semua ia jalani mengalir saja. Namun Kuncoro mengaku sangat serius melakoninya. Adik-adiknya selepas kondisi tahun 1966an lewat, melanjutkan sekolah ke luar negeri. Tidak demikian dengan Kuncoro. Ia tetap tinggal mengurus bisnis ayahnya. Terlebih selama kondisi Gestapu itu, bisnis tidak tutup, tetap jalan seperti biasa.

Bahkan kala ayah yang dicintai, dikagumi dan menjadi panutannya meninggal dunia pada tahun 1981. Saat itu ia harus bertanggung jawab penuh pada kelangsungan bisnis yang dibangun ayahnya, juga ke-8 adik-adiknya serta ibunya. Kuncoro mengaku, ia jalani itu tanpa beban sama sekali, terlebih sejak tahun 1977 ia dan adik-adik sudah diserahkan pengelolaan bisnis. Menurut Kuncoro, kepergian ayahnya untuk selamanya itu, tidak terlalu memberi dampak guncangan yang berarti pada kelangsungan bisnis.

Saya dan adik-adik sudah terbiasa menjalankan bisnis sendiri,” ujarnya.

Lalu benarkah semua mulus? Adakah masa teramat sulit, hingga itu menjadi titik balik hidupnya? Kuncoro mengaku dalam hidup tentu tidak semua mulus dirasakan. Hanya saja ia mengaku, tidak ada peristiwa luar biasa yang membuatnya terpuruk. “Kami jalani saja setiap episode hidup, tidak pernah ada tuh yang membuat saya down,” tuturnya.

Dalam bisnis pun demikian, ia mengaku menjalani semua apa adanya. Kuncinya, menurutnya adalah bekerja keras. Kuncoro tidak suka bermalas-malasan. Sejak remaja, diceritakannya, sudah terbiasa tidur larut malam. “Pulang, sampai di rumah, saya tidak langsung tidur, tapi membereskan bon-bon. Buat perencanaan besok, semua saya jalani bahkan hingga jam 1 dini hari, padahal esoknya masih sekolah,” ujarnya.

Tapi ia tidak merasakannya sebagai sesuatu yang memberatnya. Semua dijalani sebagai sesuatu yang menyenangkan.

Kita menjalani hidup itu harus dimulai dari kebenaran dari dalam diri. Nama Kawan Lama itu, nama yang diberikan ayah saya, filosofinya dalam berbisnis kita harus menjaga hubungan interaktif dengan orang itu harus dijaga, terutama kepercayaan,” jelasnya. Sebelum berbisnis, hubungan manusia harus diutamakan, setelah itu kepercayaan, itulah yang ditanamkan ayahnya melalui filosofi nama Kawan Lama.

Hingga kini ia mengelola bisnis bersama kelima adik-adiknya yang lain. “Waktu kecil dan remaja, kami hidup dalam keluarga sederhana. Namun kalau dibilang susah banget ya tidak, hubungan keluarga antar anggota keluarga cukup harmonis, baik itu ayah-ibu juga dengan antar adik-adik,” jelasnya. Diceritakannya, ayah dan ibunya beda usia cukup jauh, ayah baru menikah pada usia 45 tahun sedang ibunya berusia 20an tahun. Ayahnya memang menikah telat, ini menandakan ayahnya pekerja keras. Semua itu diturunkan oleh ayahnya pada semua anak-anaknya. Bisnis diturunkan dengan sangat baik. Ibunya saat ini masih sehat berusia 80an tahun, sejak dulu menjalani perannya sebagai Ibu Rumah Tangga saja.

Hingga kini hubungan harmonis itu tetap dijaga Kuncoro dan adik-adiknya. Bahkan hingga ke generasi selanjutnya, anak-anak mereka. “Kami rutin ada kegiatan makan bersama, sebagai tempat diskusi, sharing, dan juga sebagai tempat debat,” ujarnya. Beruntung, bisnisnya didukung oleh profesional yang handal. Hingga berkembang sangat pesat dan besar hingga kini. “Dalam keluarga, kami ada kekurangan dan kelebihan. Kelebihan itu digunakan untuk kontribusi pada perusahaan,” ujarnya. Ia selalu serius dalam bisnis, tidak main-main, tegas dan siap untuk tidak populer. Bukan berarti tidak disukai dan tidak disayang, tapi karena ia termasuk yang berani mengambil kepututusan.

Dalam bisnis, mengapa Kawan Lama terus membesar, menurut Kuncoro ini didukung oleh manusianya. Dukungan pasar yang besar, memanfaatkan peluang yang ada dengan baik salah satu kunci yang dipegangnya. Makanya Grup Kawan Lama pun masuk ke ritel. “Kami jump for the next level,” ujarnya.

Kalau soal pribadi, Kuncoro mengaku tidak pernah merasa terpuruk dalam hidup. Bukan berarti ia tidak ada masalah. Menurutnya mungkin karena prinsip hidupnya : “Jangan rumit-rumit menjalani hidup”. Ia tidak pernah melihat sesuatu berlebihan. Just Do It !! Begitu moto yang selalu dipegangnya. Baginya, terutama dalam bisnis, berpikir praktis yang selalu diterapkannya. “Jangan sampai orang sudah dua tiga langkah di depan kita, gara-gara kita kebanyakan mikir,” ujarnya.Akhirnya tidak jalan-jalan, kalau ada salah, diperbaiki, jangan terlalu komplikasi.

Hidup ini hadapi saja. Kegagalan itu harus diperhitungkan, kalau terjadi, harus diterima. Begitu saja,” tutur Kuncoro yang masih 3 kali fitnes saban minggu.

Kuncoro menyampaikan jangan membuat kesulitan hidup itu menjadikan kita down, putus asa, merasa tidak ada jalan keluar dan sebagainya. “Sesuatu itu pasti tidak ada jalan keluarnya,” tegasnya. Apapun pekerjaan dan bisnisnya, kalau dikerjakan dengan senang hati, dibantu dengan ketulusan hati dalam melakoninya, tidak ada yang menjadi beban.

Wisdom yang selalu dijalankannya adalah mengerjakan dengan hati nurani dan bekerja keras. “Saya selalu sampaikan ke anak buah, kalau orang lain masih tidur, kita harus sudah bangun, kita harus selangkah di depan,” ujar ayah dari empat anak. Dua anaknya sudah bergabung dalam grup bisnisnnya. Yang pertama memegang marketing communication, yang kedua memegang bisnis ritel. Sedang yang ketiga dan keempat masih remaja.

Saat ini Kuncoro aktif sebagai pendiri dan pengurus Perhimpunan Indonesia-Tionghoa (Sejak 1998). Ia sangat konsern pada pembauran. Bahwa ia dan teman-temannya, lahir, hidup, besar dan mati di Indonesia. Tidak ingin dianggap sebagai minoritas. “Saya sendiri bukan termasuk yang susah bergaul dan berinteraksi, saya pikir bersosialisasi dan berbaur sangat penting. Makanya dalam organisasi tersebut sering dilakukan seminar tentang itu,” ujarnya. Ia juga aktif di Perkumpulan Barongsai. Ia berhasil membuat Barongsai masuk dalam KONI, sebagai salah satu cabang olah raga. (***)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)