Lima Sekawan Besut Sepatu Sport Kasual

Tren sepatu jenis loafer dan boot kini menjangkiti anak muda dalam bergaya. Namun Mohammad Rizal, Marvin Giovani, Ikhsan Hikhmatiar, Naldi Feriyandi dan Farazandy Fidinansyah tak mau terjerembab pada tren yang sama. Pilihan mereka jatuh pada penciptaan sepatu dengan fungsi ganda, sport dan kasual, dengan merek Havehad.

Ikhsan Hikhmatiar, Marvin Giovanni dan M. Rizal Maulana Ki-Ka: Ikhsan Hikhmatiar, Marvin Giovanni dan M. Rizal Maulana

Havehad lahir awal tahun lalu. Kala itu, lima sekawan yang rata-rata berusia 24 tahun itu tengah berembuk untuk menciptakan sebuah ide bisnis sebagai syarat kelulusan dari kampusnya, Prasetiya Mulya. Bagi mereka, tugas tersebut bukan sekadar penambah poin. “Kami ingin bisnis yang dibangun bisa menjadi bisnis masa depan,” ujar Marvin Giovani, Chief Executive Officer Havehad.

Sebagai calon entrepreneur terdidik, plus kenyataan sebagai anak kampus dengan kantong terbatas, mereka berlima pun melakukan riset dengan berhati-hati. Selama empat bulan mereka menggarap survei kualitatif dan kuantitatif, termasuk mencari material dan perajin. Setelah merasa mendapat data yang memadai, konsep bisnis pun dirancang. “Waktu itu kami punya dua pilihan lain, yakni membangun bisnis makanan atau bisnis pembuatan seragam. Namun, pilihan jatuh ke bisnis sepatu karena kami sendiri suka fashion. Dan, meski banyak pemain, peluang bisnisnya tidak pernah sepi,” ungkap Mohammad Rizal, Chief Operating Officer Havehad. Mereka akhirnya urunan hingga terkumpul Rp 40 juta sebagai modal awal.

Ikhsan Hikhmatiar, Direktur Merek Havehad, mengungkapkan, Havehad dirancang dengan identitas yang berbeda dari sepatu kebanyakan. “Saat ini tidak banyak pemain yang memproduksi sepatu kasual, semuanya hanya ikut-ikutan. Berbeda dari Havehad yang mencoba menciptakan tren baru,” Ikhsan mengklaim dan menegaskan identitas Havehad.

Lebih detail lagi, keunikan timbul karena Havehad dirancang sebagai sepatu kasual tetapi dengan “otot dan urat” laksana sepatu olah raga. Kenyamanan membalut kaki dengan Havehad datang dari pilihan bahan yang digunakan yakni kanvas, suede dan nubuck. Adapun kekuatannya berasal dari pola jahitan dan potongan khusus yang diaplikasikan. “Jadi, selain bisa digunakan untuk bergaya, sepatu kasual ini bisa dikenakan dalam segala aktivitas,” ujarnya.

Keunikan lain adalah temanya. Di musim hujan seperti saat ini, misalnya, Ikhsan menciptakan sepatu dengan warna-warna gelap karena terinspirasi oleh keindahan sore Jakarta. Hingga saat ini, Havehad yang menyasar konsumen pria usia 18-26 tahun dan dibanderol seharga Rp 300-900 ribu, sudah menetaskan lima model sepatu.

Untuk berpromosi, mereka menempuh tiga jalur: melalui dunia maya, menggandeng komunitas sepatu kets dan merangkul media massa. Kehadirannya di Internet bisa disimak di antaranya di situs havehadworld.com, situs jual beli fashion Zalora, Twitter @havehadfootwear dan Facebook Havehadfootwear. Selain itu, lantaran pilihan gaya kasual yang diusungnya, mereka menggandeng Indonesia's Sneakers Community. Havehad juga pernah diliput beberapa majalah fashion seperti Hai, Nylon dan Juice Magazine.

Bagi yang ingin menyentuh langsung sebelum membeli ataupun yang masih enggan berbelanja online, Havehad hadir di The Goods Dept Pacific Place, Jakarta. Seperti halnya Rangga Fadillah. Anak muda usia 25 tahun yang bekerja di agensi iklan itu ketika ditemui SWA terlihat sedang asyik memilih Havehad di The Goods Dept. Rangga mengaku belum percaya berbelanja online. Karena itulah, The Goods Dept menjadi pilihannya untuk memboyong model terbaru Havehad.

Rangga menyukai Havehad karena desainnya yang dianggapnya maco dan elegan. Selain itu, sepatu santai ini terasa nyaman dan bisa digunakan di segala acara. Harga pun tak jadi masalah baginya, bahkan dianggap cukup masuk akal. “Selain menggunakan kulit asli, jahitan Havehad sangat kuat. Jadi gak perlu ngesol lagi. Dibuat lari juga kuat,” ujarnya.

Meski demikian, Rangga memiliki kritik tersendiri, yakni Havehad harus memperbanyak gerai offline. “Kalau bisa sih ada outlet sendiri, kan lebih enak. Jadi penggemar sepatu kasual kayak saya, gak perlu jauh-jauh ke PP.”

Rangga hanya satu dari sekian penggemar Havehad yang tersebar di berbagai wilayah seperti Jakarta, Bandung, Padang, bahkan di mancanegara seperti Singapura dan Australia. Tak heran Havehad merambah ke luar negeri, karena sepatu ini juga sudah dijual di Asia Fashion Inc. Singapura, baik secara online maupun via penjualan langsung.

Karena perkembangan yang cukup baik itulah Havehad sudah mencetak impas setelah empat bulan berdiri. Selain itu, meski omsetnya baru menyentuh sekira Rp 30 juta per bulan, aroma kesuksesannya telah menerbitkan gairah para investor. “Belum saatnya dijual. Kami ingin membesarkan merek ini hingga benar-benar merasakan arti kesuksesan,” tukas Marvin, memadamkan hasrat beberapa orang yang berniat turut mencicipi kesuksesan Havehad.

Kelima anak muda tersebut memang masih memiliki segudang ambisi untuk bayi mereka. Tahun depan, mereka akan mengampanyekan merek Havehad ke pasar internasional. Portofolio baru juga akan diciptakan yaitu kaus dan produk clothing lainnya. Mereka optimistis, Havehad bisa menjadi merek favorit sebagai sepatu kasual asli Indonesia yang mampu bertarung di tengah tren sepatu boot dan loafer. “Visi kami adalah menjadi sepatu kasual Indonesia yang bisa mendunia,” kata Marvin optimistis.

Ario Fajar dan Eddy Dwinanto Iskandar

Riset: Armiadi

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)