Lucy T. Mayasanti Tingkatkan Kesejahteraan Peternak Sapi Lewat “Serba Susu”

Lembang sejak lama dikenal sebagai daerah penghasil susu terbesar di Jawa Barat di samping Pengalengan. Kisah Lembang sebagai daerah penghasil susu sapi sudah dimulai, bahkan sejak zaman pendudukan Belanda. Seiring waktu berjalan, kini Lembang tidak hanya dikenal sebagai daerah penghasil susu sapi, tetapi juga sebagai daerah wisata yang menyimpan banyak potensi pariwisata yang sangat menakjubkan.

Namun, hingga saat ini, industri sapi perah di Lembang masih mendapatkan tempatnya tersendiri. Bahkan, bersama dengan industri holtikultura yang juga banyak berkembang di Lembang, industri susu sapi perah terus berkembang dan menjadi tulang punggung ekonomi bagi daerah yang tergabung di Kabupaten Bandung Barat ini.

Hal itu tampak dari semakin banyaknya kelompok peternak sapi perah di Kecamatan Lembang. Tidak hanya itu, perkembangan industri sapi perah di Lembang juga terlihat dengan bermunculannya kelompok usaha pengolahan susu di Lembang beserta hasil kreasi produk susu yang tidak lagi hanya mengandalkan produk susu murni semata.

Lucy2

Salah satu kelompok usaha pengolahan susu di Kecamatan Lembang yang memiliki tempat di hati para pecinta susu sapi adalah Serba Susu. Tidak mengherankan jika Serba Susu amat dikenal tidak hanya di telinga para pecinta susu namun juga bagi para wisatawan yang datang ke Lembang.

Serba Susu hingga saat ini dianggap sebagai pengolah susu yang paling banyak memiliki variasi produk terbanyak. Bagaimana tidak, ketika SWA menyambangi tempat pembuatan dan penjualan produk-produkyang berada di Jalan Sesko AU no.7, Lembang tersebut, kami mendapati banyak produk-produk hasil olahan susu murni yang cukup unik. Sebut saja kerupuk, rempeyek, kue pie, es mambo, es krim, bagelen, dan beberapa produk olahan lainnya yang jarang kami temui di tempat pengolahan susu lain yang ada di Jawa Barat.

Tempatnya yang berada di ujung jalan Sesko AU ini, memberikan suatu keuntungan tersendiri bagi Serba Susu. Setiap pengunjung yang datang ke Lembang dan melewati jalan tersebut, hampir dapat dipastikan akan berhenti di tempat tersebut. Meskti tempatnya tidak terlalu luas, namun sebuah papan bertuliskan “Serba Susu” dan corak sapi yang melekat pada bagunan mirip rumah ini, berhasil mengundang pandangan para pengunjung yang lewat. Tidak heran, ketika kami berada di sana, pengunjung yang datang tidak henti-hentinya menyempatkan diri mampir ke Serba Susu. Bahkan ada satu rombongan bis besar dari salah satu universitas swasta di Jakarta yang turut singgah di sana.

Serba Susu yang kami hampiri tak ubahnya seperti sebuah toko serba ada yang menyediakan hasil-hasil olahan susu murni. Tempat yang sudah mulai dirintis sejak Agustus 2009 ini di dirikan oleh Lucy T. Mayasanti, wanita muda yang memang sudah sejak lama bergelut di dunia sapi perah serta pengolahan produk susu.

Lucy yang mengenakan jilbab panjangnya, menuturkan, alasannya mendirikan pengolahan susu sapi ini kepada Radito Wicaksono. Lucy yang memang awalnya juga memiliki peternakan sendiri, merasa bahwa produk susu sapi saat itu tidak mendapatkan nilai yang semestinya. Hal tersebut berpengaruh terhadap kesejahteraan para peternak sapi yang hanya mengandalkan hasil ternak sapi perah mereka yang di jual ke koperasi usaha ternak disana.

Lucy merasa, semestinya, hasil produksi sapi perah berupa susu murni tersebut dapat menghasilkan nilai tambah lainnya. Dari situ, Lucy berpikir keras untuk memberikan sebuah nilai tambah dari produksi susu sapi perah yang dihasilkan.

Kegemaran Lucy mengolah makanan, menuntunnya untuk menghasilkan produk-produk susu sapi yang lebih bervariasi. Awalnya, Lucy mencoba untuk membuat yoghurt dari susu murni hasil sapi perah yang diternaknya. Ternyata setelah ditawarkan ke beberapa orang di sekitarnya, hasilnya tidak mengecewakan. Dari situ, Lucy mulai melanjutkan usahanya, hingga mampu membentuk sebuah kelompok usaha pengolahan susu Serba Susu yang terdiri dari 20 peternak dan perorangan yang menjual hasil ternaknya ke Lucy. Saking sibuknya mengurus kelompok pengolahan susu ini, peternakan sapi perah yang dulu di kelola Lucy, kini sudah sepenuhnya diserahkan ke adiknya.

Bagaimana latar belakang dan sejak kapan industri pengolahan susu Serba Susu ini didirikan? Siapa pemiliknya?

Awalnya kami berasal dari kelompok peternak sapi perah di sini. Saya sendiri sudah bergelut dengan peternakan saya sendiri, sejak tahun 2000-an awal. Saya juga dulu hitungannya peternak. Awalnya, saya seperti halnya peternak yang lain, sebagai anggota koperasi memiliki kewajiban untuk memberi setoran hasil ternak kami ke koperasi.

Tidak hanya saya, peternak-peternak yang lain pun rata-rata sudah lama menjadi peternak di sini. Tapi ketika itu, saya dan mungkin juga peternak-peternak lain berpikiran, untuk meningkatkan nilai jual susu tidak bisa hanya mengandalkan sistem penjualan susu murni ini secara langsung karena IPS (Industri Pengolahan Susu)-nya masih memberikan harga beli yang rendah.

Dari situ, saya memang dasarnya senang membuat kue, mulai-mulai coba membuat produk-produk dari hasil olahan susu murni tersebut. Saya coba bikin dodol dari susu, saya bikin permen, dan lain-lain. Meskipun saat itu, produk-produk dari hasil olahan susu tersebut sudah dikenal berasal dari Pengalengan, tapi saya ingin membuat yang berbeda. Saya ingin membuat yang lebih terasa susunya. Bahkan, untuk saat ini mungkin kami menghasilkan lebih banyak varian produk olahan susu dibandingkan dengan daerah lainnya.

Sekitar Agustus tahun 2009, saya berinisiatif mendirikan Serba Susu ini. Niatnya hanya ingin mengolah susu dari para peternak supaya dapat memberikan nilai tambah dari hasil perahan kami ini. Makanya, saya mulai coba-coba membuat produk-produk dari hasil olahan susu tersebut. Diawali ketika kami coba bikin yoghurt, ternyata tanggapan orang-orang cukup bagus.

Kebetulan ketika itu saya masih sering kembali ke kampus, saya coba sebarkan di sana. Ternyata juga banyak yang cocok. Tanggapan pasar saat itu cukup bagus. Karena nama nya Serba Susu, maka saya coba buat segala produk-produk yang berasal dari susu. Dimulai dari yoghurt tersebut, dan berlanjut ke produk-produk lainnya.

Sejak saat itulah pada November 2009, usaha dan Gabungan Kelompok Pengolahan Susu Serba Susu ini berdiri. Pemiliknya ya sebenarnya kelompok ini, bukan hanya saya. Saya hanya sebagai inisiator dan ketua yang mengelola hasil olahan-olahan dari para anggota kelompok yang terdiri dari 20 peternak dan perorangan (anggota keluarga si peternak dan juga masyarakat sekitar yang ingin ikut berpartisipasi dalam pengolahan susu. Contoh: masyarakat sekitar yang ingin membuat bungkusan produk dan lain-lain).

Saat ini urusan peternakan sudah saya serahkan ke adik saya. Saya sekarang fokus ke pengolahan susu ini. Di sini, semua susu murni yang masuk ke sini saya bayar dengan harga yang sesuai, baik susu tersebut dari peternak maupun dari kelompok ternak yang dikelola adik saya.

Harga yang saya berikan ke mereka biasanya lebih tinggi dibandingkan dengan harga yang diberikan oleh koperasi. Misalnya, jika koperasi memberikan harga Rp 3.500 per liter, kami bisa kasih harga sekitar Rp 4.000 per liter. Hal tersebut terjadi karena kalau koperasi kan memberikan pakan ternak dan keperluan-keperluan ternak lainnya kepada peternak-peternak.

Karena hal tersebut pula, makanya para peternak yang tergabung dalam kelompok peternak tersebut juga tetap setor hasil ternaknya ke koperasi. Termasuk kelompok ternak yang dikelola adik saya. Intinya, saya hanya ingin memberikan nilai tambah kepada para peternak dengan hasil ternak mereka tersebut. Saya juga ingin membantu mereka meraih kesejahteraan.

Apa saja produk yang dihasilkan?

Produk-produk yang kami hasilkan antara lain; susu murni, susu pasteurisasi, yoghurt krim, youghurt cair, yoghurt es krim, es krim susu, noughat susu, permen susu, dodol susu, pie susu, kerupuk susu, rempeyek susu, bagelen susu, milk stick, colostrum ,es mambo susu, donat susu, klappertart susu, kue kering, tiramisu dan sebagainya.

Bagaimana inovasi yang dilakukan sehingga mampu menghasilkan aneka ragam produk?

Bagaimana ya? Saya sih karena memang hobi masak dan bikin-bikin kue, jadi sering saja coba-coba. Pertama kali yang saya bikin waktu dulu yoghurt, dan karena yoghurt itu, saya jadi semangat sampai sekarang bikin yang lain-lain. Karena ketika bikin yoghurt langsung jadi, tidak pakai gagal he..he..hee. Sudah begitu, banyak yang suka. Saya jadi semangat bikin yang lain.

Lucy (utama)

Bagaimana memasarkannya?

Kami ini sebenarnya beruntung buka tempat ini di daerah wisata. Lembang kan semakin hari semakin banyak yang menjadikan sebagai tempat wisata. Saya benar-benar ketika awal tidak ada budget untuk pemasaran produk. Karena namanya juga ini masih industri rumahan. Kelompok kecil pula. Ketika awal, saya sering menawarkan produk-produk ke banyak orang. Dari mulai orang sekitar, teman-teman di kampus, dan keluarga. Alhamdulillah banyak yang suka. Dari situ mulai nama Serba Susu menyebar ke mana-mana. Jadi bisa dibilang, sampai sejauh in benar-benar pemasaran kami hanya dari mulut ke mulut.

Dari situ juga, media mulai ada yang menghubungi. Berkat pemberitaan di media-media, nama kami semakin dikenal banyak orang. Selain itu, mungkin karena posisi tempat kami yang berada tidak jauh dari ujung jalan masuk, jadi orang-orang banyak yang sering melihat dan tertarik untuk mampir. Soalnya di sini tempatnya cukup strategis. Selain sebagai daerah wisata, di sini juga banyak tempat-tempat pelatihan instansi-instansi tertentu. Jadi, semakin banyak yang mampir dan mencari ke sini.

Untuk distribusi sendiri, karena saya ingin punya konsep oleh-oleh Bandung, jadi saya tidak masukin ke tempat-tempat lain, supaya lebih khas Lembang saja. Tapi saya sudah ada rencana ingin memasukan produk-produk kami ke rest area di jalan tol. Saat ini sudah ada di rest area tol Purbaleunyi Km 125. Rencananya kami juga akan hadir di rest area tol Purbaleunyi km 97.

Berapa total produksi per bulannya?

Kalau berbicara mengenai total produksi, secara liter-an, dalam sehari kami menghabiskan kurang lebih 200 liter susu. Kalau lebaran dan liburan panjang bisa berkali-kali lipat. Padahal kami masih melakukan pengolahan secara tradisional. Kalau berbicara jumlah produksi dari tiap produknya, bervariasi. Yang pasti paling banyak dari kategori minuman, seperti susu dan yoghurt, serta permen. Rata-rata sehari minimal produksi 100 botol minuman dan bungkus permen.

Berapa omset per bulannya?

Omset minimal Rp 100 juta per bulan.

Selain menjual aneka produk susu, bisnis apa lagi yang dijalankan yang terkait dengan persusuan (misal agrowisata ke pabrik pengolahan?)

Sementara masih fokus di produksi pengolahan susu. Kalau yang lain, seperti agrowisata, dan lain-lain, itu di-handle sama pihak-pihak lain, seperti teman saya yang punya EO (Event Organizer). Mereka bikin acara untuk kliennya dan diajak ke sini (Serba Susu). Ada juga yang langsung datang ke saya untuk mengadakan acara kunjungan atau agrowisata ke Serba Susu dan kandang. Semua masih berjalan tanpa bentuk yang jelas. Kami di sini masih mengandalkan kemampuan kami sendiri. Karyawan-karyawan di sini sudah terbiasa menerima tamu.

Leave a Reply

1 thought on “Lucy T. Mayasanti Tingkatkan Kesejahteraan Peternak Sapi Lewat “Serba Susu””

masalah dalam pengelolaan pangan di indonesia: nggak pernah jelas apa saja bahan dasar makanannya, bagaimana pengolahannya, dan dalam kasus ini termasuk perawatan ternak sapinya. apa sapinya disuntik hormon, antibiotik, perangsang produksi susu, atau makan pakan yg tidak sehat. apa makan rumput yg udah tercemar pestisida. untuk produknya sendiri, apa mengandung bahan2 tambahan yg bisa menimbulkan alergi, atau tidak baik untuk penyakit/diet tertentu, misalnya apakah dikasih tambahan gula, apa peralatannya dicampur untuk mengolah produk lain, apa buahnya organik atau tidak, pakai pengawet? jika tidak bagaimana caranya memelihara kesegaran produk. hal2 seperti ini nggak pernah dijelaskan secara detil, dan itu membuat kepercayaan konsumen belum sepenuhnya terhadap produk "dairy" lokal. seperti sapi2 di lembang ini, apakah sudah bener2 dikelola dengan sehat??? atau hanya proses pengelolaan susunya yg baik, padahal susu yg dihasilkan tidak layak. sejauh ini, karena hal2 demikian belum bisa transparan, saya masih milih produk australia. KECUALI... kecuali ada pengusaha lokal yg bener2 total dalam pengelolaannya dan jujur, saya pasti beli dari lokal
by suka susu, 22 Dec 2013, 04:04

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)