Major Minor Ingin Berkembang di Pasar Domestik

Major Minor ~~

 Usia label lokal Major Minor belum genap dua tahun, tetapi langkahnya untuk menjadi sebuahmerek besar sudah mulai menunjukkan titik terang. Busana siap pakai yang dimotori pasangan suami istri, Ari Seputra dan Sari Seputra, serta desainer muda Inneke Margaretha dan Ambar Pratiwi ini mampu menembus Harvey Nicols, London. Di situs belanja onlinewww.harveynichols.com, busana hasil karya Ari Seputra dkk. itu tampil bersama busana rancangan desainer kondang kelas dunia, seperti Kenzo, Armani, Alexander McQueen, Lanvin, Stella McCartney, Polo Ralph Lauren, Chloe, Michael Kors, dll. Harga Major Minor di Harvey Nicols berkisar 150-350 poundsterling (atau Rp 2,25-5,25 juta) per potong.

Major Minor bukan sekadar mejeng diHarvey Nicols, melainkan juga laris manis. Buktinya, setelah pesanan pertama sebanyak 105 potong, mereka melakukan order ulang untuk musim spring/summer. Padahal, Harvey Nicols membuat aturan yang cukup ketat. Jika penjualan busananya loyo, desainer harus siap-siap ditendang dari Harvey Nicols. “Sekarang mereka sudah mau mulai order untuk yang autumn/winter. Lookbook untuk season ini sudah kami kirim ke mereka," kata Ari.

Di jagat fashion nasional, nama Ari Seputra tak asing lagi. Ia sudah satu dekade meramaikan panggung fashiondi Tanah Air, dan sempat memperkuat Rumah Mode Prajudi. Ia banyak bermain di kain tradisional. Setelah keluar dari Rumah Mode Prajudi, Ari mulai membuat labelnya sendiri di tahun 2000. Sementara istrinya, Sari Seputra, yang berkarier sebagai pengacara korporat akhirnya meninggalkan pekerjaan karena kecintaannya pada dunia fashion. Pasutri ini mulai merintis label Elaborate, Ari by Ari Seputra. Kemudian, pada 2011 meluncurkan label Major Minor.

Menurut Ari, ide awal label Major Minor ini terjadi setelah mengamati pasar busana nasional untuk anak-anak muda yang berkembang pesat. "Banyak merekbuat anak muda bermunculan, termasuk yang dijual melalui online shopping," ungkap Ari. Akhirnya ia berpikir, kenapa tidak mencoba masuk ke pasar ini.

Nah, untuk meluncurkan Major Minor, Ari pun menggandeng dua desainer muda, Inneke Margaretha dan Ambar Pratiwi yang memang sudah bergabung dengannya dalam menggarap Elaborate dan Ari by Ari Seputra.

Label Major Minor pun mulai mejeng di the Goods Dept lewat proses seleksi yang ketat. Di Goods Dept, Major Minor mengirimkan 100 potong dan ludes dalam tempo dua minggu saja. Apa kekuatan desain Major Minor sehingga digandrungi pecinta busana? Menurut Ambar, busana karya desainer lain di Goods Dept cenderung pada warna-warna gelap. "Keunggulan kami di Major Minor lebih berani main warna, mencampur warna. Desain kami juga ada detail tapi masih bisa dipakai sehari-hari, easy to wear," ia menuturkan.

Ari menekankan, konsep desain Major Minor, antara lain, blocking warna dan edgy. "Itu garis besar konsep desain kami, sehingga berbeda dari desainer lain," ia menandaskan. Menurut Sari, untuk mengorbitkan Major Minor, selain bersandar pada kekuatan desain, juga mengandalkan kualitas bahannya yang bagus. Karena itu, Major Minor punya banyak kelebihan dibanding baju biasa atau buatan garmen pada umumnya. Harganya juga cukup kompetitif.

Di dalam negeri, selain di Goods Dept, busana Major Minor juga bisa dijumpai di Sogo, dan tahun ini membuka toko sendiri di EX Plaza Indonesia. Ke depan, Sari menambahkan, Major Minor ingin memiliki jaringan toko independen sendiri. Sari mengakui, kehadiran Major Minor belum terlalu banyak diketahui di Indonesia. Maklum, baru jalan satu setengah tahun. "Jadi, strategi pemasaran kami harus lebih kuat lagi, harus lebih gencar lagi berpromosi," ujarnya.

Untuk mengorbitkan Major Minor di luar negeri, Sari pertama kali melangkah ke Singapura. Ia keluar masuk mendatangi department store di negeri tetangga itu. Hasilnya? “Lumayan. Saya bikin presentasi November, Desember dari mereka udah nelepon balik saya dan April kami bisa masuk Isetan, dept. store kenamaan di Singapura," kata Sari.

Menurut Sari, Major Minor sudah memiliki basis pelanggan yang cukup banyak di Singapura. Karena itu, Sari berkeinginan untuk memperbanyak pelanggan di pasar domestik. Ia berharap, banyak dept. store yang mau menjual produknya. Sayangnya, semua dept. storedi sini selalu menerapkan sistem konsinyasi. "Dari sudut bisnis kami yang masih kecil, hal seperti itu menyusahkan untuk berkembang. Maka, kami berusaha sekali untuk punya toko sendiri," ungkapnya.

Didin Abidin Masud & Nimas Novi Dwi Arini

 

Riset: Sarah Ratna

 

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)