Martin Schwarz: 2013, Bukan Tahun yang Baik bagi Pertambangan dan Komoditas

Seperti tahun sebelumnya, SWA100 membeberkan kembali 100 saham yang paling produktif bagi pundi-pundi investor. Lagi-lagi terekam dalam daftar, HM Sampoerna, Astra International, BCA, dan Unilever. Meski rasanya tak ada yang berbeda, Martin Schwarz, Senior Vice President Stern Stewart and Co., memberikan sejumlah catatan. Pemegang gelar MBA dari Universitas Old Dominion yang lahir di Uruguay ini jauh-jauh datang dari Negeri Singa untuk berbagi pemikiran dengan SWA. Apa saja catatan Martin? Simak obrolannya dengan Rosa Sekar Mangalandum berikut ini:

Bagaimana analisis Anda terhadap pemeringkatan SWA100 maupun ASEAN100 2013?

Jika Anda melihat contoh jelas dari Wilmar, sebuah perusahaan Singapura, salah satu isu kunci yang akan ditemukan adalah sektor industri tertentu, yang semula berkinerja sangat baik, kini tak sebaik itu lagi.

Contohnya komoditas, pertambangan, energi. Tahun-tahun sebelumnya, kinerja mereka sangat bagus. Tapi kini, ekonomi China sedikit melambat. Eropa juga kian menurun. Industri-industri tersebut ikut terpengaruh.

Beberapa tahun terakhir, Wilmar selalu masuk 5 besar. Sekarang jadi 5 terbawah. Semua karena mereka mengalami tahun yang sangat buruk pada 2012 lalu. Ingat tahun lalu? Kita bicara, “Kinerja Wilmar bagus sekali.” Lalu harga kedelai dan minyak sawit mulai merosot. Perusahaan agrobisnis lainnya pun ikut menurun. Menurut saya, persoalan dan transisi di Eropa adalah penyebabnya.

Sementara itu di Indonesia, masih ada benefit buat beberapa sektor industri lain. Kalau Anda lihat juara WAI tahun ini, akan ditemukan bahwa penyebabnya adalah konsumsi domestik (internal consumption) melebihi jumlah ekspor. Perusahaan-perusahaan itu berkinerja baik karena situasi domestik Indonesia sedang baik juga. Sejak China melambat dan ekspor Indonesia turun, tinggal domestik yang jadi mesin pertumbuhan utama. Di sinilah letak pergesaran (shift) itu.

Di Indonesia, yang cukup jadi perhatian adalah perlambatan sektor energi karena peraturan pemerintah. Negara ASEAN lainnya menghadapi masalah energi karena sektor tambang saja. Bedanya, Indonesia punya lebih banyak masalah, baik karena sektor tambang maupun peraturan pemerintah yang kurang mendukung. Contoh kasus Bakrie dan Bumi merupakan persoalan besar. Dampaknya juga besar tahun lalu.

Investor akan berpikir skeptis memandang perusahaan yang tercatat di BEI. Penyebabnya, sebagian besar saham dikuasai oleh berbagai kelompok bisnis keluarga.

Artinya, perusahaan energi dan komoditas berisiko lebih tinggi dibanding perbankan dan consumer goods tahun ini?

Saya tak yakin apakah memang berisiko lebih tinggi. Justru saya pikir, risiko di sejumlah industri lain berkurang karena pemerintah berhasil memfasilitasinya dengan baik. Sebaliknya, risiko dalam industri tambang dan komoditas meninggi karena campur tangan pemerintah dalam pertambangan.

Sementara risiko pertambangan meningkat, risiko dalam perbankan tampaknya sedikit menurun. Saya rasa, ini isu familiar. Melihat peringkat perusahaan-perusahaan perbankan, sebagai industri, mereka berhasil memberi nilai (value) atau kekayaan (wealth) dalam perspektif WAI. Jika Anda menjumlahkan angka dari semua bank, akan diperoleh WAI positif. Ini dikarenakan bank bersifat lokal. Tidak ada bank regional di Indonesia. Utamanya adalah bank yang memang beroperasi di Indonesia, yang bisa memanfaatkan pertumbuhan kelas menengah.

Maka, industri-industri yang bergantung pada ekspor tidak berkinerja baik. Banyak intervensi di situ sehingga risiko meninggi. Sementara itu, industri di sektor lainnya mendapat dampak positif dari keadaan pasar lokal dan mengalami pengurangan risiko.

Jadi, ada tiga alasan utama terkait hal ini. Pertama, risiko dalam industri. Kedua, pertumbuhan kelas menengah. Dan ketiga, perlambatan ekonomi China.

Apa saja catatan penting Anda dari peringkat SWA100 2013? HM Sampoerna sekarang nomor satu, mengalahkan Astra International.

Pertanyaannya, mengapa? Perusahaan apa pun yang mengalami kemajuan karena pertumbuhan ekonomi Indonesia berada di peringkat atas kita. Menurut saya, ini mengesankan karena tak terjadi tahun lalu. Indonesia bertumbuh terus sejak 7 tahun terakhir. Karena pemeringkatan WAI ini mencakup periode 5 tahunan, perusahaan-perusahaan yang saya singgung tadi telah menciptakan WAI positif.

Contohnya Astra yang telah bertahun-tahun menempati peringkat atas WAI. Selalu nomor 1 atau 2. Karena pertumbuhan ekonomi, orang tak mau naik ojek terus. Mereka mau mobil dan motor pribadi. Astra ikut tumbuh karena kelas menengah tumbuh. Pertumbuhan GDP per kapita Indonesia saja mendekati 60% beberapa tahun terakhir ini. Besarnya luar biasa.

Padahal hanya sebanyak 2,5% saham Sampoerna yang dimiliki publik. Apakah WAI Sampoerna memang menunjukkan keadaan nyata di pasar?

Tentu saja mencerminkan semua perubahan yang terjadi pada harga saham. Kalau ada segelintir saham yang diperdagangkan secara aktif, saya tidak yakin mereka memberikan kekayaan (wealth) sebanyak itu pada investor. Kalau saham diperdagangkan secara tipis, tampaknya penyebab WAI yang tinggi adalah kinerja Sampoerna memang baik. Saya tidak tahu berapa volume sahamnya yang diperdagangkan secara likuid.

Walaupun demikian, makin banyak investor yang meminati saham Sampoerna. Mereka menganggapnya peluang emas untuk investasi karena kinerja Sampoerna yang bagus. Dan persentase saham yang aktif diperdagangkan itu, meski kecil, diperebutkan banyak orang. Ini menyebabkan kenaikan harga saham Sampoerna dan, tentu saja, WAI-nya.

Apakah ini menandakan saham Sampoerna lebih menarik bagi investor dibandingkan saham Astra? Mengapa?

Volume saham Astra yang diperdagangkan 10 kali lipat dibanding Sampoerna. Mengapa perusahaan tersebut berkembang? Kalau kita lihat, itu terjadi karena perusahaan itu benar-benar memanfaatkan pertumbuhan kelas menengah. Semakin besar kelas menengah, semakin besar keuntungan mereka karena bertambahnya pelanggan. Plus faktor likuiditas yang tidak begitu saya ketahui berapa besarnya.

Tapi faktanya, Astra memang saham yang bagus karena situasi Indonesia kini. Itulah alasan keberadaan mereka di peringkat WAI teratas. Terutama karena bagusnya kinerja Astra dalam beberapa tahun terakhir. Tapi, bukan alasan likuiditas.

Lalu, apa komentar Anda tentang saham perbankan dan saham consumer goods?

Sekarang pertumbuhan PDB per kapita Indonesia mencapai 60%. Apa artinya? Angka 60% ini mencerminkan penduduk makin banyak yang bisa membeli barang. Mereka tak pergi ke pasar tradisional lagi. Alih-alih, mereka berbelanja di supermarket, membeli barang-barang berkemasan. Ini menjadi sumber keuntungan perusahaan makanan-minuman. Perusahaan rokok pun jadi yang paling diuntungkan karena itu.

Lebih banyak lagi penduduk yang membuka rekening bank. Jadi, pertumbuhan konstan selama 5-6 tahun belakangan, telah memberi keuntungan besar bagi perusahaan-perusahaan consumer goods dan perbankan.

Apakah dalam jangka panjang kondisi WAI perusahaan consumer goods akan terus bagus (sustainable)? Apa pula ancaman bagi mereka yang bisa membuat WAI mereka tersebut memburuk?

Pemilu akan digelar dalam waktu dekat. Ini selalu jadi pembahasan. Apalagi karena pada Pemilu mendatang, tak ada calon presiden incumbent yang bisa membawa stabilitas. Dampaknya, pasar bisa sedikit “menggila”. Selama setahun atau 18 bulan menjelang Pemilu, harga-harga mudah berubah.

Biasanya investor merugi karena mereka mengacu pada pengalaman masa lalu untuk memutuskan masa depan. Tapi, kalau melihat tingkat pertumbuhan Indonesia, kelas menengah, dan demografi, paling aman berinvestasi untuk perusahaan yang fokus menggarap pasar kelas menengah. Selain itu, berinvestasi untuk perusahaan yang benar-benar dimanajemen dengan baik.

Salah hal terpenting saat memilih satu saham tertentu, manajemen sangat penting. Suatu perusahaan bisa menggarap sektor industri yang sedang naik daun. Tapi, tanpa manajemen yang baik, harga sahamnya tidak akan menyamai perusahaan lain di bidang sama. Investor mesti mengidentifikasi perusahaan yang punya manajemen dan tata kelola (corporate governance) yang baik.

Semakin banyak orang yang memperhatikan ini, jika investor memilih bidang industri yang tepat, memilih perusahaan yang tepat dengan sistem tata kelola yang kuat, dia bisa mendapat hasil yang sangat baik. Investor selalu memilih perusahaan yang tata kelolanya lebih baik.

Bagaimana Anda melihat Charoen Pokphand yang masuk SWA 100 pertama kali tahun ini?

Alasannya mereka masuk dalam pemeringkatan tahun ini adalah mereka tumbuh pesat dalam kapitalisasi pasar sehingga mereka masuk dalam 100 besar. Memang Charoen Pokphand tumbuh signifikan. Ini ditunjukkan oleh grafik. Mereka berubah dari hampir bukan apa-apa pada awal 2009 menjadi perusahaan besar. Seiring ekonomi Indonesia membaik, pertumbuhan harga saham Charoen Pokphand ikut membaik. Sekali lagi, ini merupakan contoh kasus perusahaan yang tidak siklikal. Karena itu, jika terjadi benturan di pasar (market crash), sektor ini tak terdampak. Serupa dengan consumer goods.

Jenis perusahaan seperti ini diuntungkan oleh segi nonsiklikal bisnis. Mereka memanfaatkan pertumbuhan kelas menengah. Dan menguntungkan lagi, sebagian besar bisnis mereka tidak diekspor. Karena jenis bisnis ini sangat penting, kemajuannya bisa sangat mengesankan selana beberapa tahun terakhir.

Mengapa WAI Charoen Pokphand bisa melebihi perusahaan yang lebih besar macam Indocement dan Kalbe?

Ukuran bisa menyebabkan harga saham naik turun. Pada umumnya, justru perusahaan besarlah yang lebih mudah naik turun. Bedanya, Charoen Pokphand masih berukuran kecil. Tapi, bisa naik konstan. Ini mengesankan karena harga sahamnya meningkat tiap tahun.

Tidak sering terjadi perusahaan kecil mendapat peringkat atas. Hanya perusahaan kecil menengah, dengan pertumbuhan konstan, yang punya peluang menduduki peringkat atas. Peluang tumbuh (growth opportunity) lebih besar dimiliki perusahaan yang mulai dengan sedikit kemudian mulai bertambah. Pertumbuhan harga saham akan lebih besar. Namun, kapitalisasi pasar masih kecil. Dampaknya, tidak terjadi perubahan signifikan.

Dalam daftar SWA100, perusahaan besar berada di peringkat atas dan juga bawah. Sementara itu, perusahaan kecil tersebar di tengah. Jika sebuah perusahaan kecil muncul di peringkat atas, itu menunjukkan overperformance secara konsisten.

Selain itu, apa yang bisa mendukung WAI positif perbankan dalam waktu lama (sustainable)?

Kira-kira separuh dari perusahaan perbankan yang tercatat menghasilkan WAI positif. Separuh lagi justru negatif. Tapi, kalau Anda jumlahkan angka perbankan secara total, hasil akumulasinya akan positif. Bisa disimpulkan, perbankan merupakan industri yang berkinerja baik tahun ini.

Semakin besar perusahaan bertumbuh, semakin besar kebutuhan mereka akan pembiayaan (financing). Makin besar kekas menengah, mereka akan membuka makin banyak rekening dan memakai kartu kredit. Tentu saja, perbankan dapat memanfaatkan keadaan ini. Sepanjang ekonomi negara tumbuh, perbankan akan untung.

Bank besar cenderung berkinerja lebih baik. Inilah yang saya lihat dalam contoh kasus Bank Mandiri dan BCA. Mereka cenderung menempati peringkat atas. Tentu saja, mutu manajemen bank amat penting. Jika bank mampu tumbuh secara berkelanjutan, tanpa berekspansi terlalu banyak ataupun terlalu cepat, akan kebih baik hasilnya.

Salah satu masalah dalam perbankan adalah pemiliknya terlalu bersemangat melakukan konsolidasi. Jika mengakuisisi bank lain, suatu bank cenderung membayar terlalu mahal. Untuk akuisisi, hargayang dibayarkan biasanya lebih mahal daripada harga pasar (market value). Ini terjadi di seluruh dunia. Pertanyaannya, seberapa mahal? Bisa jadi, bank yang mengakuisisi harus membayar terlalu mahal. Dan akhirnya sinergi itu tak kunjung dimaterialisasi. Tidak kunjung menghasilkan keuntungan pula.

Sayangnya, langkah konsolidasi tak selalu menjawab kebutuhan pemegang saham. Semakin mahal bank membayar, semakin rugi pemegang saham. Menurut saya, inilah hal yang tricky dalam perbankan.

Maka, supaya bank bisa berkelanjutan, hindari masuk ke wilayah bisnis yang tidak dikenal baik ataupun berisiko tinggi. Kedua, kalau bukan untuk konsolidasi besar, pastikan tidak membayar terlalu mahal (overpayment) saat mengakuisisi.Peran peraturan pemerintah juga membantu. Jumlah bank dibatasi. Besar modal yang boleh dimiliki juga dibatasi.

Apa catatan Anda untuk saham Bumi Resources yang kinerjanya menurun?

Mereka perlu lebih transparan. Kurangnya transparansi hanya membuat keadaan lebih buruk. Tidak mempunyai tata kelola yang tepat merupakan masalah bagi suatu perusahaan. Kesepakatan-kesepakatan (dealings) yang dibuat oleh perusahaan harus transparan. Bumi harus punya dewan yang lebih independen dan sistem yang lebih baik mengelola perusahaan, tidak hanya di taraf dewan, tetapi juga di tingkat manajemen. Tidak berarti bahwa Bumi harus membukakan semua hal dan membiarkan semua orang tahu.

Di samping itu, dibutuhkan perusahaan yang independen dari kepentingan politik sebagian besar pemilik. Jika Bumi melakukan perubahan dengan cepat, di antaranya menerapkan transparansi dan melepaskan perusahaan dari kepentingan politik, mereka bisa naik beberapa peringkat.

Apa catatan Anda tentang United Tractors. Perusahaan tersebut mengalami penurunan. Tahun 2012, berada di peringkat 8 dengan WAI Rp 42,32 triliun. Kini, melorot ke urutan 80 dengan WAI negatif Rp 11,34 triliun. Kenapa sampai terjadi seperti itu?

Ini berkaitan erat dengan sektor tambang. Maksud saya, jika terjadi perlambatan dalam pertambangan, industri traktor akan melambat juga. Jika Anda meninjau sektor lain yang membutuhkan alat berat juga, Anda akan menemukan bahwa kelesuan ekonomi China ikut berpengaruh. Sehingga ini bukan tahun yang baik buat industri alat berat. Harga sahamnya pun membuktikan.

Sebelumnya, sektor yang terhubung (linked) dengan alat berat di Indonesia sempat mengalami boom. United Tractors diuntungkan oleh keadaan itu. Sekarang karena penurunan ekspor dan harga komoditas, penurunan ekonomi China dan Eropa, jelas saja mereka mengalami perlambatan.

Bisa disimpulkan, United Tractors merugi tahun ini?

Itu tergantung, seberapa jauh perlambatan tecermin pada harga sahamnya? Jika harga saham cukup mewakili perlambatan ekonomi yang terjadi di China dan industri tambang Indonesia, ada kemungkinan United Tractors tak merugi terlalu banyak. Jika nantinya China kembali berjaya karena satu dan lain hal, dan pasar ASEAN lainnya berkembang, outlook industri dan harga sahamnya akan mulai membaik. Kalau tidak, akan stabil saja. Menurut saya, penurunannya pun tak akan terlalu banyak. Kenaikan baru akan terjadi jika ekonomi China dan Eropa sangat-sangat menanjak.

Pasalnya, sampai April tahun ini, sebanyak 52% penjualan United Tractors datang dari tambang. Jika pertambangan menurun, 52% dari penjualan United Tractors akan ikut menurun.

Bagaimana pula dengan Telkom, yang ternyata belum mampu naik dari posisi terbawah. Apa yang mesti dilakukan perusahaan ini untuk memperbaiki posisinya?

Menyoal peringkat terbawah, biasanya yang jadi “tersangka” adalah sektor telekomunikasi (telko). Jelas, ini berkaitan dengan kebijakan pemerintah dan isu industrinya. Terlalu banyak pemain telko di region ini. Dan kalau jadi perusahaan telko, Anda harus harus tanamkan investasi besar.

Paling tidak, sudah 3 tahun Telkom berada di posisi bawah.

Persoalan dalam sektor telko bisa Anda lihat juga dalam contoh kasus Singtel, Singapura. Perusahaan tersebut berada di posisi bawah juga. Persoalan yang dihadapi industri telko Singapura adalah sangat banyaknya pesaing. Ada tiga perusahaan telko besar di Singapura, padahal luas Singapura tak besar. Penduduknya pun hanya 5 juta. Di samping itu, ada banyak peraturan pemerintah yang mengikat.

Keadaan ini berbeda dengan AS. AS punya tiga perusahaan telko utama juga, sedangkan penduduknya 300 juta jiwa. Jumlah ini 60 kali lipat penduduk Singapura.

Artinya, dibutuhkan konsolidasi dalam industri telko yang padat seperti Indonesia dan Singapura. Idealnya, ini mesti terjadi suatu saat nanti. Saya rasa, memang seperti itu alaminya bisnis telko. Ini industri yang sangat bergantung pada profitabilitas jangka panjang. Karena perusahaan harus berinvestasi besar untuk menara, teknologi, lisensi. Jadi, kalau perusahaan telko tak punya business plan yang tepat, dan perusahaan terpaksa membayar terlalu mahal untuk lisensi, akan sangat sulit menciptakan wealth jangka panjang dalam industri ini. Membangun infrastruktur butuh biaya mahal dan waktu lama. Setelah itu, masih harus membayar lisensi. Semuanya harus dihadapi dalam industri yang sudah diisi banyak pemain ini. Ini sudah jadi masalah lama dalam sektor telko.

Hal serupa terjadi juga di Filipina. Kinerja perusahaan Globe Telecom sedang tak begitu cerah.

Bagaimana pandangan Anda terhadap kinerja XL Axiata?

Di sini mereka berhasil menciptakan nilai yang jauh lebih baik daripada Telkom. Sebenarnya saya tak tahu mengapa XL berhasil menciptakan wealth, sedangkan telko lain tidak. Entah itu merupakan isu strategi atau memang karena mereka lebih muda dan fleksibel.

Lalu, ke depan bagaimana kondisinya? Apakah Anda berani memprediksi, akan makin banyak perusahaan yang WAI-nya makin tinggi? Apakah perusahaan-perusahaan di Indonesia akan makin dominan di level ASEAN ke depan?

Saya tidak akan terkejut jika tahun depan, perusahaan-perusahaan Indonesia masih bertengger di peringkat atas. Tapi, saya memperkirakan, 1 atau 2 perusahaan Filipina akan masuk juga. Tahun 2013 ini, bursa saham di wilayah ASEAN menunjukkan bahwa sejumlah top performer adalah Filipina, paling tidak sepanjang kuartal kedua ini. Kuartal lalu saja, Filipina bisa tumbuh lebih cepat daripada China. Namun, meski total indeksnya banyak membaik, sebagian besar masih harus berjuang menegakkan tata kelola yang baik (GCG). Jika pasar berlanjut dalam keadaan baik, bisa saja perusahaan Filipina masuk 20 besar, bahkan 10 besar, ASEAN100. (***)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)