Masayu Shaskia Noerdin, Melambungkan Kembali 5asec

Bakat bisnisnya yang sudah kentara dari kecil membuat orang tuanya tak menyarankan melanjutkan sekolah. “Cita-cita kamu kan pengusaha. Ngapain sekolah, kan tidak mau jadi guru,” ujar Masayu Shaskia Noerdin menirukan ucapan ayahnya. Maka sejak dia meraih gelar BSBA in Entrepreneur Major, Accounting Minor di Suffolk University, Boston, Shaskia langsung terjun ikut mengelola bisnis keluarga. “Ayah ingin saya mengelola 5asec,” ujar putri pengusaha Joes Noerdin ini.

5asec merupakan merek dagang perusahaan laundry asal Prancis yang hak master franchise-nya di Indonesia dimiliki oleh keluarga Joes Noerdin. Gerai 5asec pertama kali hadir di kawasan elite Pondok Indah (1990-an awal). Bisnis laundry itu sempat berkembang sangat baik, tetapi kemudian menemui titik pertumbuhan yang stagnansehingga Shaskia disuruh ikut membenahi bisnis keluarga tersebut. “Ayah saya bisnisnya banyak. Biar 5asec maju, saya disuruhlah fokus di sini,” Shaskia mengilas balik.

Saat bergabung di 5asec tahun 2008, dia tak langsung duduk di kursi empuk dan tinggal memberi komando. Dia harus magang dulu jadi tukang cuci dan setrika di gerai 5asec Pondok Indah. “Selama tiga bulan saya di posisi paling bawah, agar lebih paham dunia laundry,” kata lajang kelahiran 2 November 1986 ini. Setelah lulus menjadi “karyawan”, Shaskia masuk ke divisi pemasaran, lantas ke divisi keuangan, hingga akhirnya menjadi komandan 5asec setelah lebih dari satu tahun bergabung.

Masayu Shaskia Noerdin, Direktur Pengelola PT Grita Artha Keamindo (5asec)

Setelah mendalami perusahaan itu, dia menemukan masalahnya ada pada sumber daya manusia. Direktur Pengelola PT Grita Artha Keamindo (5asec) ini waktu itu menilai banyak karyawan yang kurang bertanggung jawab pada pelayanan sehingga pihaknya terpaksa membuat kebijakan untuk merumahkan beberapa karyawan yang tidak mau berkembang. “Tidak semuasaya ganti. Beberapa posisi penting masih dipegang orang lama,” katanya.

Untuk memaksimalkan pelayanan, dia kemudian mengubah sejumlah pola kerja. Antara lain, mulai membudayakan rapat pagi setiap hari untuk mengevaluasi operasional bisnis sampai detail. Karyawan juga diberi pelatihan tiga bulan sekali. Lalu, menggunakan mystery shopper untuk menilai kualitas pelayanan karyawannya. Tak lupa, tampilan gerai juga diubahdengan desain yang lebih segar, dinamis, sekaligus futuristik. “Ada yang bilang, ngapain repot-repot ngebagusin outlet, paling yang datang juga sopir dan pembantu,” kata Shaskia menirukan cibiran orang. Namun, baginya, tampilan gerai akan menjadi senjata ampuh menggaet pelanggan. “Mereka kan juga nanti menceritakan outlet kami ke majikannya,” ujarnya.

Setiap gerai juga dilengkapi dengan mesin cuci dan perlengkapan laundry lainnya. Cara ini ditempuh untuk memudahkan quality control tiap gerai. Pelanggan bisa melakukan laundry cepat, misalnya satu jam. Dan, bila terjadi kehilangan pakaian, langsung bisa dicari di gerai tersebut. “Kalau tempat lain kan cuciannya di-pool di tempat tertentu. Kalau ada baju yang kurang, nyarinya jadi susah,” kata dia. Tiap gerai hanya menerima maksimal 2.000 potong pakaian. Harga per potong pakaian Rp 30-65 ribu.

Upaya itu kini menampakkan hasilnya. Di tangan Shaskia, jumlah gerai 5asec kini berkembang hingga 47 dari sebelumnya yang hanya 30-an. Dia memang menargetkan tiap tahun membuka lima gerai. Dia baru mau membuka gerai 5asec di suatu area yang sudah ada pemain lain masuk alias yang sudah ada pasarnya. “Ngapain capek-capek nyiptainmarket kalau kita bisa merebut,” ujar Shaskia percaya diri. Selain itu, dia tak menginginkan sewa tempat. “Tiap outlet harus milik kami, dari mulai tanah hingga bangunan,” katanya. Strategi ini memang memakan biaya, “Tidak apa-apa. Kami kan membuat capital investment. Ini kan juga bisnis properti,” kata dia. Apalagi, beberapa gerai 5asec juga disewakan untuk kantor.

Yang menarik, selain menangani bisnis keluarga 5asec, Shaskia juga membuka resto di Plaza Senayan. Namanya, ShasBu Bistro. “Cita-cita saya kan jadi entrepreneur, jadi pengen punya usaha sendiri,” katanya. Menurutnya, tanggung jawab menjalankan usaha sendiri tidak sebesar menjalankan perusahaan keluarga. “Kalau perusahaan keluarga, tanggung jawab saya pada keluarga besar,” kata sulung dari tiga bersaudara ini. Kini, Shaskia mebawahkan 1.000 karyawan di 5asec dan 40 karyawan di ShasBu Bistro.(*)

Sigit A. Nugroho & Sudarmadi

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)