Menebar Virus Sehat dengan Burgreens Resto

Ide dan peluang bisnis bisa datang dari mana saja. Lihat saja yang dilakukan Helga Angelina dan Max Madias. Berangkat dari keseharian sebagai vegetarian, mereka menggelindingkan restoran yang sesuai dengan gaya hidup mereka. Lewat Burgreens Resto yang dibesut pada November 2013 di Rempoa, Jakarta Selatan, mereka menyajikan aneka makanan dan minuman dari bahan organik. “Berawal dari kecintaan terhadap makanan sehat dan keinginan untuk hidup sehat, kami membangun Burgreens Resto,” ungkap Helga, lulusan Komunikasi Internasional, Arnhem Burgreens School, Belanda.

Gaya hidup sehat yang menjadi tren beberapa tahun terakhir ini membuat Burgreens Resto disambut hangat para penikmat makanan organik. Terlebih, resto ini juga melayani para vegetarian. Jangan heran, dalam tempo singkat, resto kedua pun dibuka, masih di Jak-Sel, yakni di Tebet.

Hidup sehat dilakukan Helga sejak berusia 15 tahun. Kelahiran 2 Desember 1990 ini sering mengonsumsi obat-obatan kimia sejak kecil. Seiring dengan bertambahnya pemahaman mengenai pola hidup sehat, ia memutuskan jadi vegetarian dan menjalani gaya hidup sehat. Sementara Max yang lulusan Manajemen Keuangan dari kampus yang sama, dituturkan Helga, pernah berada di titik jenuh dalam hidupnya. Kelahiran 28 Juni 1988 itu mulai merasa bosan dengan hidup tidak sehat, lalu mencoba mencari hobi-hobi baru yang sehat. Juga, melakukan riset tentang vegetarian. “Dari situ, Max mulai mencintai healthy food yang bisa menyembuhkan penyakit pada tubuh manusia.”

Saat kembali ke Indonesia setelah sekian lama bermukim di Belanda, mereka membuka resto yang sesuai dengan gaya hidup mereka. Awalnya, mereka memilih menularkannya lewat usaha online. Ternyata, rekan mereka, Banyu Bening Prieta, memiliki tempat di Rempoa. Kami mendirikan bisnis ini berempat, saya, Max, Banyu dan Glenn Patrick yang merupakan staf pertama kami,” tutur Helga. Mereka berempat memiliki latar belakang yang berbeda sehingga bisa saling melengkapi. Banyu, yang lahir pada 19 April 1991, lulusan Hubungan Internasional Universitas Parahyangan dan Glenn (lahir 27 Mei 1995) lulusan Homeschooled High School.

Pemilihan menu di Burgreens lahir dari kreasi Max serta tim dapur dan tim pemasaran. “Kami fokus pada kualitas bahan baku dan rasa produk,” kata Helga. Agar produknya menarik, Burgreens menawarkan produk sehat yang fokus pada kualitas bahan dan rasa. “Kami mencari bentuk junk food dan kami olah menjadi makanan sehat. Kami menawarkan burger tetapi berbahan dasar organik. Kami juga menawarkan steak yang kami buat dari mushroom.”

Bahan baku diambil langsung dari petani organik lokal di bawah bimbingan mitra mereka, Yayasan Usaha Mulia, juga bekerja sama dengan Organik Klub yang lokasinya berada satu gedung dengan Burgreens Resto Tebet. “Kami juga berkolaborasi dengan Klub Organik dalam membuat event edukatif seperti healthy plant-based cooking class,” imbuhnya.

Mengusung konsep green, Burgreens juga menyediakan tempat yang nyaman, hijau, sejuk, dan tidak terlalu banyak tercampur polusi udara. “Seperti cabang di Tebet, kami memilih lokasi tersebut karena berhadapan langsung dengan taman, sehingga ada suasana sejuk dan asri yang mendukug konsep resto kami,” kataya.

Burgreens bukan sekadar bisnis yang profit oriented. “Kami juga memedulikan social impact dari bisnis kami,” Helga menendaskan. Dari awal didirikan, Burgreens pun memperkenalkan makanan dan hidup sehat kepada anak-anak di sekolah. “Dengan mendirikan bisnis ini, kami juga bisa memberikan manfaat kepada masyarakat sekitar.”

Helga yakin, salah satu kunci untuk kemandirian bangsa, revolusi dan keberlanjutan lingkungan hidup adalah social entrepreneurship. “Untuk teman-teman yang ingin membangun bisnis, carilah bisnis yang memberikan solusi untuk isu-isu sosial di Indonesia. Untuk membangun bisnis yang sustainable, penting banget untuk improving people's lives, jangan hanya membangun bisnis yang sedang tren. Bila kita hanya membangun bisnis yang sedang tren, brand kita akan hilang saat tren tersebut berganti. Selain lebih sustainable, social entrepreneurship juga jauh lebih fulfilling untuk kita yang melakukan,” paparnya.

Menurut Helga, tak ada strategi khusus dalam menjalankan Burgreens. Dari sisi produk, Burgreens mengutamakan kualitas. “Kami ingin menyediakan makanan sehat dan simpel, karena bagi kami makanan simpel itu sudah menjadi kebutuhan bagi warga Jakarta,” katanya. Mereka mengedepankan pula kualitas pelayanan. Produk dan pelayanan yang berkualitas, masih menurut Helga, akan menggiring orang untuk datang kembali dan mengajak teman atau saudaranya.

Selain mengandalkan getok tular, mereka juga menggunakan media sosial, yakni Facebook, Twitter dan Instagram. “Saat ini yang paling sering kami gunakan adalah Instagram,” kata Helga. Awalnya, kebanyakan pengunjung Burgreens adalah warga asing dan pesohor seperti Sharena Gunawan, Titi DJ, serta Dewi Lestari bersama suaminya, Reza Gunawan, yang memang sudah lebih paham mengenai gaya hidup sehat. Pemasaran dari mulut ke mulut pun terjadi sehingga resto mereka ramai pengunjung. Bahkan, enam bulan belakangan, mereka melihat antusiasme warga lokal untuk menikmati sajian organik Burgreens semakin besar.

Vani, misalnya. Warga Jakarta ini sejak usia 18 tahun memilih menjadi vegetarian karena ingin hidup sehat. “Saat ini belum banyak restoran yang menyajikan menu makanan sehat atau khusus vegetarian. Burgreens mampu menyediakan makanan untuk vegetarian dan makanan yang disediakan juga enak dan healthy pastinya. Tempatnya juga enak, suasananya homey banget,” katanya. Ia juga melihat harga yang dibanderol Burgreens sesuai dengan makanan yang disajikan.

Hanya saja, Vani melihat, di Burgreens belum tersedia menu vegan tanpa bawang. Pasalnya, menurut dia, banyak orang vegetarian yang menunya vegan dan tidak mengonsumsi bawang. “Saya berharap semoga ke depannya restoran ini bisa menyediakan menu vegan tanpa bawang, sehingga saya dan para vegan tanpa bawang lainnya dapat memilih menu makanan yang lebih banyak. Di restoran ini memang bisa request untuk makanan yang tanpa bawang, tetapi jenis pilihan yang kami punya jadi lebih sedikit,” ungkapnya.

Burgreens menyediakan hampir 50 jenis menu, mulai dari veggie burger, steak, rice, snack, minuman, hingga aneka pasta. Harganya beragam sesuai dengan jenis menu makanan dan minuman. Misalnya, veggie burger mulai dari Rp 48.000 hingga Rp 125.000; steak mulai dari Rp 55.000 hingga Rp 80.000. Jumlah pengunjung Burgreens setiap hari 20-40 orang dan pada akhir pekan cenderung meningkat, bisa sampai 50 orang.

Diakui Helga, meski kini sudah memiliki dua resto, bukan berarti perjalanan bisnisnya mulus. “Membangun bisnis ini tidaklah mudah. Karena kami benar-benar fresh management, kami cukup menemui berbagai kesulitan. Jadi masih belum terlalu stabil, masih belum menemukan keseimbangan dan masih terus melakukan trial and error,” paparnya. Menurutnya, ketika ia dan rekan-rekannya memberanikan diri membangun bisnis, berarti mereka harus siap memberikan seluruh waktu untuk bisnis tersebut. “Berbisnis tidak seperti bekerja di kantor yang ada jam kantor. Berbisnis harus siap dengan waktu yang tersita selama 24 jam selama satu minggu,” imbuhnya.

Helga mengungkapkan, kiat sukses Burgreens yaitu pendiri memiliki visi yang jelas. “Have a clear vision, keep the faith, build & nurture your people, look for people who are passionate about your vision, dan keep learning, juga focus,” katanya. Dengan begitu, hambatan apa pun yang ditemui, bisa dilalui.

Mengedepankan kualitas produk dan pelayanan serta atmosfer yang disuguhkan membuat Burgreens diganjar berbagai penghargaan. Antara lain, Voted as Jakarta's Best Healthy Food Restaurant by Yahoo, Winner of Trip Advisor's Certification of Excellence 2014, dan Zomato's Best Healthy Food Restaurant & Top 10 Trending Restaurant. “Selain dari segi penghargaan, pencapaian bagi kami adalah ketika kami bisa memberikan manfaat bagi orang-orang sekitar. Kami merasa sudah cukup berhasil membuat movement kepada orang-orang sekitar kami untuk makan dengan berkesadaran, untuk makan makanan yang bagus bagi kesehatan dan lingkungannya,” papar Helga.

Ke depan, Helga menargetkan bisa membuka cabang baru Burgreens. Ia juga tengah ancang-ancang membuat Burgreens Corner dengan ukuran resto yang lebih kecil. “Jadi, bisa mengajak orang di Jakarta untuk hidup lebih sehat,” katanya. Terpenting, menurutnya, mereka berempat menjalankan bisnis yang sesuai dengan passion dan gaya hidup sehat yang mereka jalani. “Pemilik restoran harus living the brand. Kalau sang owner saja masih makan makanan tak sehat, bagaimana pengunjung percaya bahwa makanan yang disajikan memang sehat dan dari bahan-bahan organik,” ujar Helga tandas.(*)

Henni T. Soelaeman dan Nerissa Arviana

Riset: M. Khoirul Umam

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)