Barberbox Meraup Fulus dari Rambut

Di dunia bisnis, selalu ada tempat bagi mereka yang kreatif. Tak terkecuali di segmen pasar yang kata kebanyakan orang sudah jenuh, seperti di bisnis pangkas rambut. Tengohlah apa yang dilakukan Triputra Salman Salim (23 tahun) dan Muhammad Emyranza (21 tahun), yang sejak Desember 2012 mengibarkan pusat pangkas rambut pria muda, Barberbox. Dengan mengusung konsep When a Man Turns Into Gentleman, mereka menjual kenyamanan dan kelas tersendiri di bilangan Senopati dan Kelapa Gading, Jakarta.

Barberbox

“Tertarik bisnis ini karena saya sendiri suka ganti-ganti model rambut, jadi ini soul saya,” ujar Emyranza. Sebelumnya dia merasa sulit menemukan pangkas rambut yang bisa memberikan solusi yang dia inginkan. “Keunikan kami, memberikan solusi ke konsumen. Kami memberikan model rambut yang sesuai bentuk wajah konsumen, bentuk kepala, tekstur rambut, elastisitas rambutnya, ini berbeda-beda. Ini kami kembangkan sendiri,” papar pria yang masih duduk di bangku kuliah ini.

Emyr menjelaskan, dia dan mitranya mendirikan bisnis ini dengan modal terbatas, sekitar Rp 80 juta. Awalnya dia justru ingin membuka gerai di dalam kontainer, tetapi urung karena keterbatasan modal. Dari sana pula muncul konsep barberbox: barber di dalam box. “Saya ingin mengubah era barbershop. Jadi, dulu barbershop sekarang barberbox. Nama itu kami pakai, tapi kami buka di toko karena keterbatasan modal,” ujar Emyr.

Untuk menyukseskan bisnisnya, dia berusaha membuat terobosan promosi yang berbeda agar calon konsumen penasaran. Contohnya, kalau ada wanita yang mau potong rambut, digratiskan. Soalnya ini memang pangkas rambut pria. Lalu, aktif menyebarkan informasi melalui media sosial. “Pertama kami buka, hanya bermodal media sosial. Kami undang teman-teman dari Path dan Instagram,” kata Emyr. Selain itu, pihaknya berani menjamin kualitasnya bagus sehingga tidak ada konsumen keluar dari gerai dengan wajah kecewa. “Misalnya ada konsumen yang wajahnya kecewa, langsung saya kasih diskon. Tapi kami tidak bersaing di segi harga, kami bersaing di segi nilai,” ujar Emyr seraya menjelaskan, figur publik seperti Diego Michel, Irfan Bachdim (sebelum pergi ke Jepang), Ariel Noah, dan sejumlah pemain bola pernah potong rambut di tempatnya.

Yang pasti, setiap kali potong, konsumen Barberbox dikenai tarif Rp 65 ribu. “Ini paket potong rambut, cuci rambut, pijat, konsultasi dan dapat minum,” katanya. Sekarang kinerja gerainya terbilang lumayan, omset per hari sekitar Rp 4 juta/gerai dan per bulan sekitar Rp 130 juta. Jumlah pelanggan rata-rata pada weekdays 45-50 orang dan weekend minimum 60 orang.

Barberbox-YoungSWA

Emyr mengakui, tantangan terbesar di bisnisnya, soal SDM dan menjaga kualitas. Dia tak ingin agresif ekspansi tahun ini karena kesibukan kuliah. Tahun ini rencananya akan membuka lima gerai dulu di Jabodetabek dan baru tahun depan akan ekspansi ke seluruh Indonesia. “Tawaran franchise setiap hari selalu ada, tetapi kami belum. Ingin fokus membangun kualitas dan sistem, seperti improvisasi teknologi,” katanya. Pihaknya juga sedang mengembangkan sistem membership dan merintis kerja sama dengan para pengelola kafé. Dengan kreativitas dua pendirinya, bukan tak mungkin Barberbox yang menyasar anak muda (15-25 tahun) akan menyalip kiprah salon-salon ternama yang lebih dulu hadir. (***)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)