Mohammad Nadjikh, Harus Kaya untuk Membiayai Adik-adiknya

Mohammad Nadjikh datang dari keluarga sederhana. Sulung dari 8 bersaudara ini menjadi ujung tombak di keluarganya. Karena itu, sejak remaja ia sudah bertekad untuk menjadi orang kaya supaya bisa membantu adik-adiknya. Dan kini, cita-cita itu sudah tercapai. Perusahaan yang didirikannya, PT Kelola Mina Laut menaungi 25 perusahaan dan menampung sekitar 14.000 karyawan. Bisnisnya terus berkembang. Apa rahasia sukses CEO PT Kelola Mina Laut itu? Semuanya diceritakan kepada Sigit A. Nugroho:

Bagaimana ceritanya Anda sukses berbisnis dari nol?

Kalau saya anak orang kaya, saya tidak mungkin jadi pengusaha. Orang tua saya keluarga yang sederhana. Saya anak pertama dari 8 bersaudara. Artinya saya menjadi ujung tombak. Saya harus kaya dan sukses. Kalau membaca sejarah pengusaha sukses, mayoritas mereka memulai dari nol.

Najikh

Cara untuk meraih sukses?

Waktu itu saya tidak punya apa-apa. Jadi, biar bisa kaya, jalannya harus pintar dulu. Di sekolah saya harus punya prestasi. Karena kalau punya prestasi, pasti orang akan melihat kita. “Wah siapa itu? Dari mana dia?” Kan begitu.

Anda selalu berprestasi selama menempuh pendidikan?

Bisa dibilang seperti itu. Kuliah juga begitu. Prestasi saya selalu bagus. Kalau tidak begitu bagaimana saya bisa kuliah?

Selama kuliah di IPB, bagaimana Anda bergaul dengan orang yang secara ekonomi lebih tinggi?

Bergaul ya bergaul saja. Saya justru punya banyak teman. Makanya saya harus selalu berprestasi. Karena sayai orang biasa-biasa saja, maka tinggalnya di asrama. Biar bisa gratis. Hehehe. Tapi saya jadi ketua di sana. Orang biasa, tapi jadi lurah. Jadi bisa nyuruh-nyuruh.

Teman-teman saya banyak yang anak direktur. Saya sering diajak jalan-jalan mereka. Pernah mereka tanya, “Djikh, hari Minggu kamu ke mana?” Saya bilang di asrama. “Ngapain? Mending jalan-jalan.” Saya bilang kalau tidak punya uang. Eh, dia mau bayarin saya. Jadi, waktu itu saya sering disangka anak orang kaya juga. Karena kumpulnya sama anak-anak orang kaya.

Tidak perlu minder. Kemiskinan jangan ditonjolkan. Yang membuat miskin itu kan cuma perasaan kita saja. Padahal orang lain belum tentu menilai begitu. Kita harus mengubah yang negatif menjadi positif untuk melecut diri.

Menyiasati biaya kuliah bagaimana?

Saya buka les privat, bantu penelitian dosen, jadi guru SMA, sampai jadi asisten dosen.

Sebelum jadi pengusaha, Anda menjadi dosen, lalu kerja di pabrik cokelat dan cold storage....

Waktu masa pertengahan kuliah, ayah saya meninggal. Saya ini kan ujung tombak. Harus biayai adik-adik juga. Saya harus kaya untuk bisa biayai itu semua. Saya melihat waktu itu ada peluang di industri ikan teri.

Modalnya? Saya kumpulkan dana bersama teman-teman. Saya juga meminjam uang dari paman saya. Saya putarkan uang itu.

Waktu mulai usaha, usia Anda sudah 30 tahun....

Iya. Pertimbanganannya, kalau saya gagal, masih bisa kerja lain lagi. Bicara jeleknya, saya bisa tinggal bersama mertua. Hahahaa... Tapi karena ini dana punya paman saya, mau tidak mau bagaimana caranya harus jalan. Harus bisa untung. Saya kerja keras. Akhirnya pelan-pelan uang itu bisa saya kembalikan dan memberikan keuntungan.

Kalau dirumuskan, apa prinsip Anda dalam meraih dan terus menciptakan momentum sukses?

Tidak cepat puas dan jangan berada di comfort zone. Itu sangat berbahaya. Begitu merasa nyaman, pelan-pelan akan punah. Kita juga harus memosisikan diri selalu dalam keadaan darurat. Meskipun sudah di atas, harus selalu dalam keadaan darurat supaya bisa terus berinovasi dan maju. Punya semangat tinggi dan prinsipnya harus bisa.

Dalam berbisnis, kita harus punya daya saing di industri sejenis. Tidak cukup itu saja, kita harus benchmarking kepada perusahaan-perusahaan di luar negeri. Dari situ kita bisa modifikasi. Inovasi juga jadi kunci. Makanya, saya kalau ada waktu luang, pasti jalan-jalan ke luar negeri. Melihat-lihat tren yang ada di sana. Kita pelajari, dan lihat peluang apa saja yang ada.

Kita perlu juga knowledge management. Selain praktek, juga secara teori kuat. Misalnya saya baca “Why Samsung”. Dari situ ada ide-ide untuk perusahaan saya.

Oiya, saya ini termasuk orang unik. Karena selain pintar, saya juga entrepreneur. Biasanya, orang pintar di akademis ya pekerjaannya seputar itu saja. Kalau saya, pintar akademis tapi bisa mempraktekkan juga.

Jiwa entrepreneur ini juga harus dibentuk. Jadi pengusaha tidak hanya bisa modal berani saja. Ya saya memang berani. Tapi juga melihat potensi. Punya intuisi, kepekaan yang kuat terhadap tren pasar. Itu harus terus diasah melalui berbagai cara tadi.

Najikh (utama)

Bagaimana dengan bisnis Anda sekarang?

Tiap tahun saya selalu ekspansi. Kalau dulu kan fokus dulu di satu hal. Sekarang harus ekspansi. Saat ini ada 25 perusahaan di bawah Group Kelola Mina Laut. Ada di microfinance sampai mining.

Berapa total karyawan sekarang?

Sekitar 14.000 orang.

Ke depan, sukses apa lagi yang bakal Anda raih?

Orang hidup itu tergantung targetnya. Sekarang bagi saya, uang sudah cukup. Hidup juga sederhana. Target saya ingin bermanfaat untuk orang banyak. Jadi, nanti begitu ada opportunity harus saya tangkap.

Anda sukses berbisnis juga berkeluarga, bagaimana caranya?

Kalau mau berhasil, memang harus ada waktu yang dikorbankan. Kita harus memilih mau tiap hari kumpul, tiap waktu kumpul keluarga tapi hidup biasa saja atau menjadi sukses. Saya memilih kualitas waktu. Kalau kumpul keluarga, harus berkualitas. Ngobrol apa saja. Orang dibilang sibuk itu bukan berarti dia tidak punya waktu. Tapi orang yang bisa membagi waktu. Itulah orang sibuk.

Pernah suatu kali ibu saya menginap di rumah saya. Hari pertama sampai hari ketujuh, dia bingung melihat saya selalu keluar rumah. Pergi pagi, sore pulang ganti baju, pergi lagi. Hari kedelapan, beliau njagongke saya. “Kamu kerja terus, ibadahmu kapan?” Rupanya ada perbedaan konsep beribadah antara ibu dengan saya.

Saya jelaskan, dengan bekerja keras saya juga beribadah. Karena saya memberikan manfaat bagi orang banyak. Bayangkan 14.000 orang bisa menghidupi keluarganya. Itu namanya kan saya beribadah. Yang penting saya shalat 5 waktu, zakat, puasa, dan sudah haji juga. Saat ini target saya ingin bermanfaat bagi orang banyak. (***)

Leave a Reply

2 thoughts on “Mohammad Nadjikh, Harus Kaya untuk Membiayai Adik-adiknya”

Mantaps nih, beliau adalah sosok yang menginspirasi saya. . . .semoga bisa mencontoh kesederhanaan dan daya juang untuk sukses.
by kang Rahmat, 01 Sep 2014, 17:29
"Tidak perlu minder. Kemiskinan jangan ditonjolkan. Yang membuat miskin itu kan cuma perasaan kita saja. Padahal orang lain belum tentu menilai begitu. Kita harus mengubah yang negatif menjadi positif untuk melecut diri." Saya suka kata-kata ini seperti yang saya alami
by Irwan, 02 May 2014, 11:36

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)