My Meal Catering: Katering Sehat untuk Penderita Penyakit

Ignatius Zaldy adalah alumnus Tekni Elektro Universitas Trisakti. Ia sempat bekerja di bidang telekomunikasi, kemudian beralih ke alat-alat kesehatan, sebelum akhirnya terjun ke bisnis kuliner yang unik: membuka katering untuk orang-orang sakit atau yang punya kesadaran tinggi mengenai kesehatan. Pada 2005, Ignatius bersama isterinya mendirikan My Meal Catering. Kini My Meal Catering sudah memiliki empat cabang. Bagaimana lika-likunya mengembangkan My Meal Catering? Ignatius Zaldy memaparkannya kepada Ria Efriani Pratiwi:

Bagaimana latar belakang pendirian My Meal Catering ini?

Pada awalnya, dulu saya memiliki penyakit hipertensi, sehingga istri saya menganggap bahwa kita perlu pola makan yang berbeda daripada keluarga lain. Jadi, istri saya harus membuatkan makanan khusus buat saya, karena orang yang hipertensi kan harus mengurangi konsumsi garam. Lalu, kita sempat mencari-cari katering juga (yang menyediakan menu untuk orang berpenyakit hipertensi), tapi kok kayaknya susah. Nah, saya melihat ini sebagai peluang, karena saya melihat orang di sekitar saya yang sakit membutuhkan makanan sehat atau untuk diet. Sebelumnya saya pernah bekerja di bidang (penjualan) alat-alat kesehatan (alkes). Di sana saya memang sering berhubungan dengan dokter.

Jadi, katering ini saya dirikan bersama istri saya, tidak mengajak pihak lain. Pertamanya kita pakai badan hukum CV, yaitu CV Sehat Makmur Abadi, yang kita dirikan pada 2005. Jadi kita mulai pertama kali kateringnya pada September 2005. Lalu, grand launching-nya pada Januari 2006. Kantor pertama My Meal Catering saya buka di Gading Serpong. Waktu itu yang di-cover masih area Tangerang dan sekitarnya.

My Meal (tegak)

Waktu itu Anda mau membuka usaha katering itu, apakah brainstorming dulu dengan istri atau seperti apa?

Ya sih (brainstorming). Jadi ini memang bisnis yang saya lakukan bareng-bareng istri. Tapi brainstorming-nya itu sudah dari dua tahun sebelumnya mungkin, yang mana kita berpikir mau membuat usaha katering atau apa. Kita kan, awalnya, melihat kebutuhan pribadi. Lalu, kita lihat orang lain dan tanya-tanya ke teman-teman dulu, misalnya kalau mereka sakit paling susah itu ngapain, dan kalau ada yang menyiapkan makanan untuk orang sakit bagaimana? Jawab mereka, “Oh, enak banget.” Jadi kita survei dulu sendiri, dan akhirnya mengetahui kalau katering (untuk orang sakit) itu perlu. Pada saat itu, kebanyakan orang belum tahu soal katering yang khusus untuk orang sakit begitu. Teman-teman saya malah tanya, “Apa ada katering seperti itu? Kalau ada, mau dong”. Kita juga berusaha melihat operasional usaha katering itu seperti apa.

Pada awal bikin, kita sudah bangun kantor di ruko. Saya niatnya bikin dapur dalam bentuk dapur, karena maunya ini dijalankan secara profesional. Pada awalnya, saya rekrut koki 3 orang, ahli gizi 2 orang, lalu kita juga cari orang untuk administrasi dan delivery. Kalau di kantor yang sekarang baru dua tahun. Karena kita ingin cover area Tangerang itu tengah-tengahnya di mana, biar misalnya kalau ke Cengkareng, sebagian Jakarta Barat, Gading Serpong, BSD, Karawaci, atau ke mana dekat.

Pada awal buka itu, apa sudah langsung membuat katering yang berisi makanan untuk orang sakit atau bagaimana?

Jadi kita menyediakan makanan untuk orang sakit dan untuk menurunkan berat badan. Dari awalnya juga sudah begitu. Customer pertama juga orang yang sakit, yaitu tetangga kantor. Selain itu, di awal customer kita ada yang sakit tipes, diabetes, kolesterol, dan mau turun berat badan.

Bagaimana cara Anda mencari referensi resep-resep makanan untuk katering sehat ini?

Kalau resep-resep untuk pelanggan yang sakit, misalnya diabetes, kan kita ada ahli gizi. Jadi dia yang menentukan mana makanan yang boleh dan tidak boleh untuk dia. Memang pada mulanya, kita pasti ada trial and error, yaitu kita coba segala macam makanan. Karena memang semua bahannya kan ganti, misal kita tidak pakai vetsin atau msg, juga tidak mau pakai yang ada pengawet dan zat pewarna, karena kita ingin semua bahannya organik dan fresh. Bahkan sampai pakai saus tomat dan mayonaise botolan saja tidak boleh, jadi kita berusaha bikin saus tomat dan mayonaise sendiri. Sehingga kita memang berusaha membuat semua bahan sendiri, sampai ketemu standarnya. Jadi memang koki kita harus bisa membuat bahan-bahan itu sendiri.

Bagaimana suplai bahan-bahan organik yang digunakan?

Suplai bahan organik, pada awalnya memang susah banget. Sehingga waktu itu mau tidak mau membeli dari supermarket, belum ada suplier yang mau mengantar ke kita, karena kita butuhnya sedikit sekali. Kalau sekarang sih suplier kita sudah banyak dan merupakan suplier besar, misalnya ada suplier sayur, daging, dan ayam, telur, yang semuanya organik. Memang tidak semua bahan yang kita gunakan itu organik, misal bawang-bawangan, karena ya tidak semua bahan ada yang organik di Indonesia ini. Kita juga ada bahan yang impor, karena tidak semua bahan ada di Indonesia, tapi diusahakan pakai bahan makanan lokal sih.

Siapa target pasar dari My Meal Catering ini?

Target pasar yang terbesar adalah orang-orang yang sudah sadar kesehatan. Juga bisa orang yang sakit, atau orang yang sehat tapi ingin memesankan makanan untuk salah satu anggota keluarganya yang sakit. Lalu, ada juga anak-anak, orang hamil, ibu menyusui, dan bayi. Jadi memang dari usia kecil sampai tua sih. Customer yang berpenyakit yang sudah parah, seperti diabetes, jantung, ginjal, liver, juga ada.

Kalau untuk anak-anak, mungkin ada yang susah makan, jadi kita jelaskan ke orang tuanya bahwa anak susah makan itu bukan karena makanannya enak atau tidak enak, tapi karena suasananya, disiplinnya, karena kalau anak sudah kenyang, mana mau dia disuruh makan lagi. Biasanya yang memesan untuk anak adalah orang tua yang masih muda yang baru punya anak satu atau dua, karena mereka kerepotan memasak untuk anak-anaknya. Lalu, ada juga orang tua yang memesan katering kita karena anaknya alergi terhadap suatu jenis makanan, atau makanannya harus bersih, dia tidak bisa percaya kepada pengasuhnya, karena takut dikasih vetsin segala macam. Tapi kita agak konservatif, kalau bagi ibu yang baru melahirkan dan sedang menyusui, kita menganjurkan supaya dia jangan diet dulu. Karena dia masih punya tugas memberi ASI ke bayinya. Kalaupun dia memaksa, paling kita hanya bisa memberikan dia menu sehat saja, tapi bukan berefek menurunkan berat badannya dengan cepat.

My Meal (utama)

Apa Anda sendiri juga membaca berbagai referensi tentang menu makanan sehat, selain hanya bergantung kepada ahli gizi saja?

Ya, tentu saja. Saya dan istri saya suka masak, jadi kita memang selalu ada inovasi dari segi menu. Misalnya kita makan di luar, lalu kita merasa makanannya enak, bisa saja kita masukan ke dalam resep kita untuk customer kalau memang cocok.

Bagaimana promosi dan pemasaran yang Anda lakukan selama ini?

Kalau dulu di awal-awal, dalam promosi dan pemasaran, kita hanya berani pakai brosur, belum berani yang lain. Juga pemasaran dari mulut ke mulut, dan ini yang paling kuat efeknya (terhadap bisnis kami). Kemudian, pada tahap selanjutnya, pemasaran kita juga dibantu media. Maka semakin banyak lagi orang yang tahu kita. Saya juga sering menjadi pembicara di radio, seminar, dan sebagainya. Dari sini otomatis pemasaran kita jalan. Kita juga pernah coba iklan beberapa kali (di media cetak), juga menjadi sponsor di sebuah acara. Semua dicoba, untuk melihat keefektifannya. Kita punya tim pemasaran khusus, juga ada budget khusus untuk pemasaran, tapi tergantung berapa banyak cash flow kita saat itu. Untuk media baru, seperti Twitter dan Facebook, baru kita buat tahun kemarin, cuma ini masih belum jalan, karena perlu SDM yang khusus ya. Kalau website memang sudah jalan, lalu kalau konsultasi biasanya kita email-email-an. Kalau orang gabung My Meal, biasanya dia sudah dapat nomor handphone dan pin BB ahli gizi, jadi dia bisa langsung konsultasi.

Sekarang ini My Meal Catering sudah punya berapa koki, dan tenaga lainnya?

Dari empat cabang, total semua pegawai kira-kira 90 orang. Jumlah pegawai di masing-masing cabang tidak sama ya, terbagi-bagi. Kalau lebih banyak ya di sini, kantor pusat, karena misalnya bagian akunting juga di sini, dan sebagainya. Ya, untuk yang kantor pusat, kita punya kira-kira lima koki. Mereka itu profesional, tapi memang pada mulanya mereka harus belajar lagi kan untuk memasak menu kita, karena semuanya berubah. Kalau biasanya mereka bisa langsung pakai saus tomat botolan, tapi di sini mereka harus buat semuanya sendiri.

Berapa jumlah pelanggan sampai saat ini?

Jumlah pelanggannya beda-beda ya, antara cabang yang satu dengan lainnya. Yang pasti kita memang ada kapasitas, karena memang personalized, jadi kita tidak bisa menampung terlalu banyak customer, jadi maksimal 100 customer per cabang. Tapi tidak semua cabang pelanggannya sudah mencapai 100 orang sih. Kalau dari produksi masakannya, bisa saja sih lebih dari itu, tapi yang jadi problem adalah menu dan delivery-nya, kecuali kalau kita restoran yang bisa menampung banyak orang. Ya, benar sampai kita ada waiting list-nya, dan baru bisa kita akomodir antara satu sampai dua minggu. Biasanya ada bulan-bulan tertentu yang penuh sekali. Orang yang sudah tidak jadi pelanggan lagi, misalnya dia sudah bisa memasak menu sehatnya sendiri, biasanya kalau dia sudah langganan minimal sebulan ya, kalau masih dua minggu biasanya masih balik lagi pesan ke sini. Bulan-bulan yang ramai itu biasanya di awal tahun, setelah bulan puasa, karena setelah puasa biasanya orang langsung diet lagi. Kalau yang paling sepi, biasanya ketika masa liburan, karena orang berhenti katering dulu untuk sementara.

Pelanggan kita sudah tidak ada lagi yang sejak awal buka, tapi yang sudah tiga atau empat tahun (menjadi pelanggan) itu ada. Mereka kebanyakan memang punya penyakit, tapi ada juga yang sehat, tapi biasanya ya yang “healthy freak”, misal dia ingin semua bahan makanannya organik, kemudian dia ingin mengontrol supaya kolesterolnya tetap baik, dan macam-macam alasan lainnya. Dari 100 orang ini, kadang ada yang satu minggu off, lalu ada yang pesan siang dan malam saja, ada yang pagi dan siang saja, dan sebagainya. Kalau ada customer yang pesan untuk satu keluarga intinya, ya mereka dihitung masing-masing sebagai satu customer. Tidak bisa satu customer bisa memesankan untuk banyak anggota keluarganya yang lain. Maka di dapur kita, masakannya bisa macam-macam banget.

Dengan membatasi jumlah pelanggan hanya 100 orang di setiap cabang, apa itu semua menutupi biaya operasional dan lain-lainnya dari bisnis Anda, atau maksudnya apa Anda tetap dapat untung?

Ya, memang ada batasan berapa yang mesti kita dapat baru bisa untung. Tapi dengan jumlah pelanggan yang sekarang sih masih tertutupi. Biaya operasional itu memang kebanyakan habis di SDM, kemudian di bahan-bahan baku masakan, serta di delivery. Karena delivery kita itu harus sampai pada hari itu juga, tidak seperti jasa pengantaran lain yang baru sampai esok harinya.

Apa pernah ada customer yang komplain makanannya telat diantar?

Sekarang jarang (yang komplain). Tepat waktu banget sih tidak, tapi ya diusahakan jangan sampai melewati batas akhir waktu pengantaran. Kita sih mempunyai sistem pengawasan tersendiri untuk si petugas delivery. Nah, ini yang jadi kelebihan My Meal juga. Di sini, kita memang inovasi terus. Kalau pakai GPS masih belum sekarang ini, tapi pasti nanti akan pakai, karena perlu.

Apa benar di sini ada pelanggan yang selebritis?

Ada. Misalnya Sandra Dewi, dr. Sonia Wibisono (yang juga langganan bareng anaknya), Vega Darwanti (Bukan Empat Mata), lalu ada juga menteri (tapi dia tidak menyebutkan namanya).

Apa target dan rencana ke depannya dari My Meal Catering?

Targetnya saya ingin di semua kota besar ada cabang My Meal Catering, karena memang permintaan customer masih banyak dari daerah-daerah lain. Tapi untuk buka cabang My Meal di satu kota kan butuh SDM yang betul-betul pas kan. Saya juga harus cocok dengan orang yang akan jadi partner saya; dia harus punya visi-misi serta target yang sama. Di 2013, malah saya belum buka cabang lagi. Terakhir dua tahun lalu, saya buka di Semarang dan Cibubur itu. Saya tidak bisa merekrut orang sembarangan, karena tantangannya banyak banget, dan menjalankannya juga kompleks. Kita ini menyediakan makanan untuk orang sakit, salah sedikit bisa langsung terjadi problem. Saya memang membuat sistem di My Meal ini gampang diduplikasi, misalnya si customer bisa mengecek sendiri berapa banyak kalori yang masuk ke tubuh dari makanan kita. Konsep saya di sini memang bukan rahasia, orang mau belajar dan tiru sistem saya tidak apa-apa. Tapi yang susah ditiru adalah pelayanan kepada customer ya. (***)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)