Newbee Corp. “Pabrik” Aplikasi dengan Banyak Apresiasi

Harland Firman Agus Harland Firman Agus

Penyakit jantung merupakan pembunuh nomor satu yang menyumbang 29% dari total kematian penduduk dunia setiap tahun. Di Indonesia, penyakit jantung berada di peringkat kedua, yang menyebabkan 26,8% dari kematian penduduk.

Itulah alasan trio sahabat lulusan Fakultas Teknik Informatika Institut Teknologi Telkom (ITT) Bandung: Harland Firman Agus, Evan David Kristian dan Emille Junior, mengembangkan aplikasi unik yang diberi nama AortaLife pada akhir 2012. “AortaLife merupakan aplikasi telepon seluler yang berfungsi memantau detak jantung, irama jantung, elektrofisiologi jantung, suhu, dan pantauan pergerakan motorik seseorang,” Harland menjelaskan. Menurutnya, sistem kecerdasan buatan itu mampu menganalisis kondisi kesehatan seseorang secara real-time. Dengan begitu, setiap indikasi masalah pada jantung bisa diketahui lebih cepat, sehingga bisa diambil tindakan penanganan.

Karena keunikan dan kegunaannya, aplikasi AortaLife beroleh banyak apresiasi. Antara lain sebagai juara Android Mobile Apps Competition di Bandung Digital Valley, yang membuat mereka dapat kesempatan jalan-jalan ke Silicon Valley. Di Amerika Serikat, AortaLife juga mendapat apresiasi dari seorang chief medical officer di Kalifornia. “Dia sangat kagum dengan AortaLife, dan berharap bisa bekerja sama dengan kami,” kata Harland semringah.

Menurutnya, belum ada pihak yang membeli aplikasi kesehatan ini, meskipun sudah ada yang menawar dan menyatakan ingin berinvestasi di perusahaan start-up mereka, Newbee Corp. “Kami ingin punya produk sendiri. Karena itu, saat ini kami fokus membesarkan AortaLife,” katanya lagi.

Selanjutnya, Harland bahkan merencanakan data yang diperoleh dari AortaLife bisa dibagikan kepada masyarakat dan kalangan dokter melalui jejaring sosial khusus kesehatan. Untuk itu, mereka mengembangkan pula AortaLife.net – semacam jejaring media sosial khusus tentang kesehatan jantung. Di sini, tiap anggota bisa berbagi segala informasi mengenai kesehatan jantung kepada anggota lainnya.

Dari segi bisnis, Harland dkk. berencana memasarkan AortaLife ke lembaga-lembaga pemerintah terkait. Termasuk, saat ini menjalin kerja sama dengan PT Telkom, sehingga beberapa aplikasi dan game yang dikembangkan Harland dkk. dapat diunduh di Telkom Store. Kerja sama dengan Telkom ini bersifat revenue sharing.

Selain AortaLife, lewat Newbee, anak-anak muda ini telah mengembangkan beberapa aplikasi dan game. Pada 2011 mereka telah membuat aplikasi e-Gamelan – aplikasi berbasis iOS (iPhone atau iPad) dengan adaptasi bunyi-bunyian gamelan Sunda sesuai dengan aslinya. Aplikasi ini diapresiasi oleh Rumah Musik Hary Roesli, Dinas Pariwisata Bandung dan Saung Angklung Mang Udjo.

Mereka juga mengembangkan Iqra Digital, yakni aplikasi Al Quran yang bisa diakses lewat desktop, perangkat mobile, dan website. Newbee juga mengembangkan e-Resto, aplikasi untuk pelaku atau komunitas restoran yang terintegrasi dengan aplikasi informasi resto, katalog menu, peta (Google Maps API) dan media sosial (Facebook API). Lalu, aplikasi Cholestera yang berfungsi mengatur gaya hidup penggunanya disesuaikan dengan tingkat kesehatannya. Tingkat kesehatannya didapat dari data pribadi orang tersebut yang disesuaikan dengan data dari American Health Association, sehingga akurasi hasil lebih valid.

Newbee juga mengembangkan game Agustusan, yakni game ketangkasan yang bisa dimainkan oleh multiplayer. Juga, ada aplikasi Pinterus (Pinter Terus) untuk pelajar. Pinterus merupakan aplikasi berisi materi pelajaran, bank soal beserta jawabannya, kumpulan rumus digital dan fasilitas pemberi saran pilihan perguruan tinggi. “Sebagai anak Indonesia, saya cukup prihatin. Selama ini negara kita hanya menjadi pasar. Kenapa banyak aplikasi diciptakan orang luar negeri saja? Padahal, orang Indonesia juga bisa,” ujar Harland dengan nada serius.

Kendati sudah memiliki banyak aplikasi dan game yang dikembangkan, Harland mengaku belum ada yang memberi keuntungan bagi perusahaan. Pasalnya, perusahaan yang dikembangkannya secara efektif baru berjalan satu tahun. “Sejauh ini biaya untuk operasional perusahaan diperoleh dari funding, hadiah, dan hasil mengerjakan proyek. Terus terang, dengan banyaknya apresiasi dan penghargaan terhadap produk-produk kami, harga pengerjaan proyek kami juga naik,” ujarnya sambil tersenyum. “Kami hanya ingin mengembangkan produk sendiri, lalu membesarkannya supaya dapat menikmatinya. Jadi, tidak untuk dijual ke investor. Justru berhasil-tidaknya adalah ketika kita bisa membesarkan produk yang dibuat. Itu tantangannya,” kata Harland mengenai idealismenya.

Yang pasti, kompetensi awak Newbee ini diakui Agnesia Candra Sulyani, Community Planner R&D Center Telkom Indonesia. Menurut Agnes, Newbee mampu membidik pasar yang cukup unik. Misalnya, aplikasi e-Resto kini masuk dalam ekosistem e-Tourism milik Telkom sebelum nantinya dijadikan perusahaan joint venture dengan Telkom. Dalam penilaian Agnes, dibandingkan aplikasi resto lainnya, e-Resto punya sejumlah keunggulan, seperti inventori menu tiap resto dan customer booking. Jadi, manajemen resto bisa memeriksa ketersediaan menu. Di sisi lain, pelanggan bisa memesan meja sekaligus menu sebelum mereka datang ke resto yang dituju.

Dengan kemungkinan menjadi perusahaan patungan dengan Telkom Indonesia, Newbee diperkirakan mendapat gelontoran dana hingga miliaran rupiah. “Nanti pada tahap validasi pasar, Telkom akan memberi funding lagi untuk pengembangan pasar mereka,” ujar Agnes sembari menyebutkan. nantinya kepemilikan Telkom diperkirakan hanya 12%. (*)

Sigit A. Nugroho & A. Mohammad B.S./ Riset: Armiadi

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)