Parsley Bakery & Resto: Menyajikan Roti yang Fresh dan Aneka Menu Makanan

Bisnis yang berkaitan dengan kebutuhan perut adalah bisnis yang cukup prospektif. Berbekal keyakinan itulah, Utari Raharjo, yang dikenal sebagai salah satu pebisnis peralatan kedokteran yang cukup sukses di Jogyakarta, tertarik untuk mengembangkan bisnis kuliner. Pemilik Cobra Denta ini berkongsi dengan beberapa teman akrabnya untuk mendirikan PT Prospekta Buma Gemilang (Buma).

Buma ternyata merupakan kepanjangan dari ibu-ibu berlima, karena pemilik saham perusahaan ini adalah ibu-ibu yang jumlahnya lima orang. Mereka adalah Utari Raharjo, Liyanti Sugiyarti, Lidya Indrawati, Anggia Murni dan Susan. Belakangan Susan mengundurkan diri dan digantikan Seli Sagita yang dikenal sebagai pengusaha perak, Borobudur Silver. “Karena namanya pake Buma maka pemilik sahamnya harus lima,” kata Dwi Budi Darmaji, Direktur PT Prospekta Buma Gemilang, kepada Gigin W. Utomo.

Parsley-Budi

Tahun 2002, dengan modal awal Rp 500 juta, lima sekawan tersebut mendirikan toko khusus bakery dengan nama Parsley di Jln. Magelang, Jogya. Bakery dipilih karena mereka memiliki koki yang andal. Koki yang dimaksud adalah Haryono Darmaji, suami dari Liyanti Sugiyarto, salah satu pendiri perusahaan tersebut.

Untuk menjalankan operasional harian diserahkan penuh kepada Budi, panggilan akrab Dwi Budi Darmaji. Maklum, pria betubuh tambun inilah yang sejak awal memang memiliki gagasan untuk pendirian bakery tersebut. “Kami mengusung konsep bakery yang selama ini ada di Jakarta dipindahkan ke Jogya, dan ternyata tanggapan masyarakat sangat bagus,” kata Budi, alumni Teknik Elektro Universitas Atmajaya,Jakarta ini.

Singkat cerita, dengan konsep roti yang selalu fresh from the oven dan menawarkan aneka rasa yang selama ini belum banyak ditemukan di Jogya, Parsley tumbuh dengan cepat. Dalam tempo setahun sudah membuka cabang di Jln. Solo. Dan sampai tahun 2013 sudah memiliki enam cabang yang tersebar di beberapa sudut kota Jogya.

Parsley_Budi2

Setelah sukses dengan bakery, tahun 2008, Parsley mulai merambah ke bisnis restoran. Pengembangan ke bisnis resto tersebut, setelah melihat kebutuhan pasar yang dinilai masih sangat terbuka lebar. Gerai Parsley yang ada di Jln. Kaliurang menjadi pilot proyek. “Awalnya kami hanya memanfaatkan ruang garasi mobil untuk diberi kursi dan meja, kami ingin memberi kesempatan kepada mereka yang ingin makan roti di tempat,” kata Budi.

Menurut ayah dua anak tersebut, ternyata respons masyarakat cukup bagus. banyak konsumen yang tertarik untuk makan di tempat sambil ngobrol dan minum secara santai, Mereka pada umumnya ibu-ibu yang menunggu jam jemputan sekolah anak anaknya. “Karena itulah kami mulai serius masuk ke bisnis restoran,” tutur Budi.

Penggabungan bakery dan resto menjadikan pertumbuhan bisnis Parsley meningkat tajam. Bahkan tawaran untuk membuka cabang di luar kota terus berdatangan. “Kami belum bisa memenuhi tawaran buka di luar Jogya karena persoalan SDM yang belum siap,” kata suami dari psikiater Desi Andriani tersebut.

Dari sisi bisnis, Parsley bisa dibilang cukup sukses. Kunjungan untuk setiap gerainya sehari rata-rata di angka 300 pengunjung. Ini angka yang cukup besar di Jogya. Meski terkesan sebagai resto kelas menengah atas, pada dasarnya resto ini menggaet semua segmen pasar. “Pada dasarnya siapapun bisa masuk ke sini karena memang banyak pilihan menu dengan harga yang relatif terjangkau,” ungkap Budi.

Dibandingkan resto berjaringan lainnya, Parsley ternyata memiliki keunikan tersendiri. Meski memiliki nama sama, hampir semua gerai dibuat dengan penampilan arsitektur dan tawaran menu yang berbeda. Selain menyediakan bakeri, Parsley menawarkan aneka menu food mulai dari oriental, western (masakan Indonesia, Eropa, Chinese food, dan Japanese food, fushion,dll). “Meskipun namanya sama-sama Parsley tapi menu yang disajikan di tiap gerai berbeda, khususnya untuk yang makanan kalau yang bakery standar,” ujar kelahiran Malang, 13 September 1978 tersebut.

Satu hal yang ditawarkan Parsley, suasana resto yang nyaman dan homey dengan tujuan membuat konsumen betah. apalagi juga dilengkapi hotspot berkecepatan tinggi. Selain itu juga disediakan ruang meeting yang representatif.

Karena kelengkapan menu yang disediakan, selama ini bukan hanya konsumen lokal yang menjadi pelanggan tetap di Parsley. Resto ini juga menjadi langganan banyak ekspatriat yang berkunjung ke Jogya. Sayangnya belum ada angka yang membandingkan berpa jumlah konsumen asing dibandingkan dengan konsumen lokal. (Gigin W.Utomo)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)