Paula, Generasi Kedua Eva Bun

Eva Bun Wedding Gallery bukan nama baru dalam bisnis bridal di Tanah Air. Sudah 27 tahun berkiprah di dunia bridal, gaun-gaun pengantin Eva Bun terkenal dengan desainnya yang manis, simpel, lebih menonjolkan aplikasi, serta menggunakan aksesori yang serasi. Selain terkenal dengan desain gaun pengantinnya, Eva Bun juga memberikan layanan rias pengantin dan kue pengantin. Semua hasil rancangannya ini melengkapi usaha Eva Bun Wedding Gallery yang mengusung konsep one stop service.

Kini, bisnis yang menginjak usia matang ini sudah melakukan regenerasi. Eva Bun, sang pendiri, telah menyerahkan kendali bisnis kepada anaknya, Paula Meliana. Putri tertua Eva Bun ini didapuk menjadi General Manager Eva Bun Wedding Gallery

Paula Meliana2 Paula Meliana, General Manager Eva Bun Wedding Gallery

Bagi Paula, mempertahankan bisnis bridal saat ini bukan perkara mudah. Maklum, persaingan dan pemain baru terus bermunculan. Dibutuhkan semangat baja dan kreativitas untuk membesutnya. Paula beruntung, sejak kecil ia sudah dikader sang bunda sebagai desainer. “Mami sering ajak saya ke mana-mana. Sekolah hingga kuliah ke luar negeri pun dipilihkan tidak jauh dari bidang fashion. Mami berharap saya dapat membantunya,” kata kelahiran Jakarta 1979 ini.

Diceritakannya, akhirnya ia mulai membantu bisnis ibunya sejak 2002. Itu pun masih kecil-kecilan. Ketika itu ia baru menyelesaikan kuliah jurusan fashion di Negeri Abang Sam. Barulah pada 2010 ketika ibunya sakit, ia secara penuh terjun membesarkan bisnis bridal yang dirintis sang ibu. Ia bertanggung jawab atas kelangsungan Eva Bun Bridal, Grand Wedding Hall dan usaha kue pengantin. Grand Wedding Hall ini terdapat di beberapa lokasi, antara lain di Grand Bellagio, Grand Maspion dan Grand Daan Mogot.

Tentu, bukan hal mudah tiba-tiba harus mengendalikan bisnis jasa yang sudah sangat besar. “Setelah Mami sakit, saya sendiri dan harus bisa memutuskan beberapa hal tanpa harus bisa konsultasi lagi,” ujar Paula mengenang. Namun, masa-masa berat itu berhasil dilampauinya. Justru dalam situasi seperti itu ia menjadi lebih matang dan semakin lebih paham seluk-beluk bisnis di industri ini.

Berkat pengamatan dan pengalamannya, Paula mulai membuat gebrakan baru. Desember 2011 ia mendirikan Eva Bun Academy, yang membuka kelas make-up dan rambut untuk pemula dan profesional. “Yang tadinya iseng-iseng, ternyata banyak diminati. Muridnya sudah seribu orang,” ujarnya. Beberapa cabang pun sudah berdiri. Pesertanya tak hanya perorangan, tetapi juga kelompok, di antaranya kelompok suster dan komunitas Hijaber.

Kami sudah memberkan kontribusi pada Gadis Sampul, Men’s Health, dan Pemilihan Koko-Cici tahun ini,” ucap Paula bangga. Koko-Cici adalah ajang pemilihan duta pariwisata Jakarta Barat dari etnis Tionghoa. Tak sampai di situ, ia juga mendirikan Octopus Foto Studio, Paula Cake, Paula Meliana Wedding, dan Grand Wedding Hall.

Kini bisnis bridal Eva Bun makin eksis di tengah banyaknya pemain lain seangkatan yang gulung tikar. Menurut Paula, banyaknya bisnis serupa yang gulung tikar tak lain karena persaingan yang semakin ketat dan tak terelakkan, terutama dengan hadirnya pemain-pemain asing di bisnis bridal. Dulu ada lima pemain besar di bisnis bridal, yakni Kim Thong, Vivi Young, La Diana Clinic Kecantikan, Rumah Mode David G Tasma dan Chenny Han, yang kini hanya fokus ke bisnis kecantikan. “Kami mampu bertahan karena ibu seorang pekerja keras,” kata Paula memuji ibunya.

Di antara pemain lain, bisnis Eva Bun sekarang tergolong paling komplet. “Kami sediakan dari busana, kue sampai mengelola tempat pesta pernikahan. One stop service. Kami juga melayani customer dari Jepang, Australia dan Arab Saudi. Ada yang pesta di luar negeri, mereka datang ke sini dan kami yang layani,” ujar Paula. Dengan makin berkembangnya bisnis yang ia kendalikan, Paula pun menargetkan bisnisnya akan tumbuh 20% di 2013.(*)

Dede Suryadi dan Siti Ruslina

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)