Peralihan Generasi Tantangan Terberat Perusahaan Keluarga

Sebagai Partner and Managing Director Boston Consulting Group (BCG), Dean Tong berkantor di Jakarta dan Singapura. Ia menghabiskan empat hari di Jakarta tiap minggu. Kemudian sisanya, ia kerap berkeliling Singapura dan Malaysia. Sudah sejak 1996, ia bekerja di BCG. Dan memang, Dean menggeluti konsultasi untuk bisnis keluarga. Ia berbagi resep kepada Rosa Sekar Mangalandum untuk menumbuhkan bisnis keluarga secara berkesinambungan.

Apa saja kekuatan bisnis keluarga?

Ada banyak kekuatan dalam bisnis keluarga. Saya punya pengalaman bekerja sama perusahaan terbesar di Indonesia, baik yang dijalankan secara profesional maupun yang dijalankan keluarga. Kekuatan bisnis keluarga dapat terlihat jelas. Dalam berbagai penelitian, BCG membahas penyelarasan kepentingan (alignment of interest). Dalam bisnis keluarga, kepentingan yang utama ada di tangan keluarga. Kapan pun keluarga membuat keputusan bisnis, keputusan tersebut selalu untuk kepentingan keluarga, dalam hal bisnis.

Keadaan ini tidak selalu terjadi di bisnis profesional. Kadang mereka membuat keputusan untuk melindungi karier masing-masing, bukan untuk kebaikan perusahaan.

Artinya, bisnis keluarga masih menggunakan model bisnis penyelarasan keputusan akhir di tangan keluarga sendiri. Dengan itu, ada beberapa manfaat. Keputusan bisa diambil secara cepat dan tangkas.  Pengambilan keputusan yang biasanya membutuhkan waktu berbulan-bulan di perusahaan profesional bisa dilakukan on the spot oleh pemilik perusahaan keluarga. Kecepatan dan ketangkasan seperti itulah yang dimiliki perusahaan keluarga.

Kekuatan lain yang saya lihat dari bisnis keluarga adalah keberanian mereka mengambil keputusan jangka panjang. Saya pernah cukup frustrasi bekerja dengan sebuah korporasi besar di Indonesia yang berkinerja amat baik. Namun, saat didorong untuk memanfaatkan pertumbuhan ekonomi Indonesia supaya mereka berinvestasi, mereka justru enggan karena ingin fokus pada dividen dan laba saja. Bedanya, ketika saya berdiskusi dengan pemilik bisnis keluarga, mereka memandang jauh ke depan. Apalagi yang ambisius, mereka ingin membangun bisnis terbesar dan terkuat, bahkan melampaui pantai-pantai Indonesia. Maka, perusahaan profesional tumbuh bertahap pada umumnya. Di sisi lain, perusahaan keluarga bisa membuat lompatan dalam waktu singkat. Menurut saya, ini kekuatan terbesar.

Dean Tong 

Kelemahan?

Bisnis keluarga punya banyak kelemahan juga. Secara pribadi, saya menyebutnya growing pains. Pertama, di antara generasi lama, generasi baru, dan juga tenaga profesional yang bekerja di perusahaan itu, seringkali tak ada keselarasan visi. Pendiri bisnis yang adalah generasi lama memiliki tujuan yang ingin dicapai. Tetapi, generasi baru tidak paham atau tidak menghargai itu sebab tujuan tersebut tidak diartikulasikan lebih dulu oleh si pendiri. Lebih lagi bagi tenaga profesional, mereka sekadar menerima perintah. Tetapi, mereka tidak memiliki tujuan yang sama.

Akibatnya, si pendiri merasa sendirian dan frustrasi. Ia masih ambisius meraih tujuan. Namun, organisasi tidak bisa mengikuti arah langkahnya.

Kelemahan kedua adalah struktur organisasi di perusahaan keluarga. Banyak perusahaan keluarga memiliki struktur yang lemah karena kurangnya transparansi yang terkadang sengaja diciptakan. Ada bermacam alasan. Salah satunya, si pendiri tak ingin karyawan mengetahui formula bisnisnya. Karena itu, mereka hanya tahu sebagian saja dari bisnis dan kinerja. Hanya anggota keluarga yang bisa tahu keseluruhannya.

Walaupun ini dilakukan untuk melindungi rahasia keluarga, akibatnya adalah kinerja tak dapat diukur karena tak ada sistem yang transparan. Bisnis keluarga lebih mengandalkan pengamatan ketimbang data dan fakta untuk mengevaluasi kinerja karyawan. Karyawan melakukan manajemen persepsi, misalnya ketika sedang berpresentasi, supaya pemilik perusahaan mengingat kesan yang baik tentang dia. Setelah presentasi, dia tidak perlu bekerja keras, tapi pemilik perusahaan memberinya bonus berdasarkan persepsi. Ini menimbulkan budaya tak sehat yang sarat dengan politisasi di jajaran eksekutif.

Jadi, untuk membawa bisnis ke tahap selanjutnya, pemilik perusahaan keluarga harus mendesain organisasi yang terukur. Supaya ketika bisnis itu membesar, mereka tidak harus selalu mengubah susunan organisasi.

Apa tantangan paling berat bagi bisnis keluarga?

Pertama, marketplace sudah berubah dan persaingan makin berat. Pesaing-pesaing yang dihadapi perusahaan keluarga kini sudah berbeda dengan pesaing dari jaman dulu.

Kedua, war on talent makin ketat. BCG memproyeksikan, Indonesia akan mengalami jurang kekurangan talent yang besar pada tahun 2020 mendatang, terutama di taraf manajemen menengah (middle level management) yang mencapai 50%. Ini merupakan jurang yang sangat besar. Jika perusahaan keluarga tak memiliki value proposition yang kuat untuk mempertahankan SDM, mereka akan kehilangan orang-orang terbaik. Padahal talent merupakan kunci penentu, siapa yang menang dan kalah di masa depan.

Tantangan ketiga sekaligus terberat, peralihan generasi. Statistik menunjukkan, tingkat keberhasilan (survival) transisi dari generasi ke-1 ke generasi ke-2 hanya 30%. Artinya, sisa 70% mengalami kegagalan. Kemudian tingkat keberhasilan dari generasi ke-2 ke generasi ke-3 jatuh menjadi 7%. Ini cukup menakutkan.

Maka, anggota keluarga harus paham bahwa tiap transisi bisa membawa perusahaan mereka mengalami lonjakan ke arah pertumbuhan positif. Syaratnya, diprofesionalisasi dengan baik.

Kesimpulannya, tantangan terberat buat bisnis keluarga ada tiga, yaitu persaingan, war on talent, dan peralihan generasi.

 Dean Tong

Bagaimana caranya agar bisnis keluarga bisa tumbuh berkesinambungan? Apa strateginya?

Yang harus dilakukan oleh bisnis keluarga adalah mengolah tantangan ini. Cara pertama, memprofesionalisasi bisnis mereka. Maksudnya, memiliki pandangan yang jernih tentang sistem dan proses. Ini bukan lagi “kota koboi”. Maka, dengan bertumbuhnya besaran bisnis, mereka harus menerapkan sistem dan kendali yang benar.

Family constitution sangat penting disepakati. Permasalahan yang Anda temukan dalam bisnis keluarga, segala konflik, disebabkan oleh persetujuan semacam itu belum dibuat di depan. Saat pendiri usaha masih ada, kesempatan untuk membuat sebuah family constitution tidak dimanfaatkan. Begitu si pendiri meninggal, generasi mudanya akan berselisih satu sama lain karena mempunyai pemahaman yang berbeda-beda tentang bagaimana mereka seharusnya meneruskan usaha tersebut. Sebenarnya ini tidak sulit diwujudkan, tapi banyak orang melalaikannya.

Bagaimana caranya agar generasi penerus bisa menjadi creator and builder bagi bisnis keluarganya? Bagaimana caranya agar mereka bisa terus menciptakan sumber-sumber pertumbuhan baru? Apa yang mesti dilakukan?

Saya pikir, persoalan ini tidak perlu dibatasi pada pembukaan area-area bisnis baru saja. Ada banyak kesempatan bagi generasi penerus untuk menumbuhkan perusahaan keluarga mereka di dalam lingkup bisnis yang sudah berjalan sekarang. Jika Anda bisa berkembang dalam inti bisnis Anda sendiri dan membawa itu ke tahap selanjutnya, itu akan menjadi sukses besar dengan sendirinya. §

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)