Puriyani Hasanah, Jeli Menggarap Ceruk Agribisnis

Agribisnis, bisa jadi, merupakan pilihan terakhir yang terlintas di benak anak-anak muda saat ini ketika terjun menjadi pengusaha. Namun tidak bagi Puriyani Hasanah. Sarjana Kehutanan lulusan Institut Pertanian Bogor ini dengan penuh percaya diri memilih produk kehutanan dan hortikultura sebagai jalan bisnisnya.

Puriyani Hasanah Puriyani Hasanah

Dengan bendera Popon's Nursery, perempuan kelahiran tahun 1986 itu mantap mengibarkan bisnisnya. Popon – sapaan akrab Puriyani yang kemudian dijadikan nama usahanya – menawarkan aneka bibit tanaman buah, obat, tanaman hias, bibit pohon hutan atau kayu keras dan bibit sayur-mayur. Bibit yang ditawarkan antara lain bibit pohon rambutan, lengkeng, durian, pohon eboni, jabon merah, salam, trembesi, sengon merah, kayu manis, tomat, cabai, anggrek, kaktus dan ratusan varian bibit lainnya.

Uniknya, Popon menawarkan produknya tidak hanya untuk pengguna akhir, pekebun dan pehobi tanaman, melainkan juga kepada calon mempelai. Kok bisa? Bisa saja. Pasalnya, Popon juga mengemas bibit tanamannya sebagai cenderamata pernikahan. Dan, hanya dengan bantuan blog dan Facebook Page, dia juga sukses menggaet perusahaan kakap menjadi kliennya.

Perempuan lajang berhijab itu memulai bisnisnya pada 2012, setelah sempat 6 kali bekerja di beberapa perusahaan besar seperti Surveyor Indonesia dan Kalimaya Farming. “Saya memang cinta tanaman,” ungkapnya memberikan alasan perihal pilihan lahan bisnisnya.

Popon lantas memilih lahan seluas 2 ribu m2 di Kampung Lembur Leutik, Bogor, Jawa Barat, yang letaknya sekitar 3 km di belakang IPB, kampus almamaternya. Untung saja, saat itu pemilik lahan bersedia diajak menjalin kerja sama, sehingga Popon tidak harus merogoh kocek dalam-dalam sebagai modal awal. Di sana, ia menyemai berbagai benih untuk bakal produknya. Belakangan, pola kerja sama serupa dijalinnya dengan berbagai pemilik lahan di sejumlah daerah.

Kini, Popon bekerja sama dengan empat pemilik lahan. Di kawasan Winasari, Ciapus, Ja-Bar, dia bekerja sama menggarap lahan seluas 1 ha untuk perkebunan jambu kristal, sedangkan di Ciampea menggarap lahan seluas 3,5 ha untuk pembibitan pohon jabon merah. Selain itu, lewat perusahaannya, Popon juga sanggup mengelola penanaman sekaligus mengurusi perkebunan seluas 20 ha di Lampung.

Popon menyediakan berbagai bibit pohon buah, hutan ataupun sayuran dan tanaman obat tidak hanya untuk para pekebun serius dan pehobi, tetapi sejak setahun silam juga mengemas produknya sebagai cenderamata pernikahan, khitanan ataupun kenang-kenangan acara kelulusan anak TK. Sebagai kenang-kenangan istimewa, Popon mengemas produknya dengan polybag untuk bungkus tanamannya dan anyaman bambu cantik sebagai wadah, lengkap dengan labelnya. Harga bibit yang ditawarkan Popon sangat bervariasi, mulai dari Rp 500 hingga Rp 300 ribu per bibit.

Sebagai gambaran, di awal tahun ini saja, anak ketiga dari empat bersaudara itu sudah kebanjiran order menyediakan ribuan bibit untuk cenderamata di 10 pernikahan. “Ada nikahan bulan Mei 2014 nanti pesan bibit jengkol 50 dari 600 bibit yang mereka pesan untuk suvenir, sisanya bibit lain campur-campur,” tuturnya memaparkan keunikan pesanan kliennya. Meski demikian, Popon mengaku kebanyakan bibit yang dipesan untuk suvenir adalah tanaman bunga, buah dan pohon pucuk merah.

Untuk pemasaran, Popon sangat terbantu oleh Internet. Diakuinya, mayoritas pelanggannya merupakan pengunjung akunnya di blogspot, Facebook, Twitter ataupun di Indonetwork. “Permintaan memang kencang dari blog dan Indonetwork. Hampir 80% permintaan dari Internet,” ujarnya ketika ditemui di kebunnya yang asri di kawasan Lembur Leutik.

Selain itu, sejumlah pesanan reguler diterimanya seperti order bibit pohon eboni untuk HM Sampoerna. Terakhir, Pemkot Depok juga memesan 300 bibit pohon untuk program penghijauan kotanya. Omsetnya kian bertambah dari hasil kebun sayur dan buah yang dikelolanya langsung seperti kebun jambu kristal, pepaya calina dan sayur katuk.

Buah dari kegigihannya kian manis dengan keberhasilannya didaulat sebagai salah satu wirausaha muda terbaik Shell Livewire 2013. Di sana, Popon berhasil menyisihkan lebih dari 350 pemuda pemilik usaha berusia 18-32 tahun, yang telah berhasil menjalankan usahanya dalam kurun waktu 3-24 bulan.

Ke depan, Popon mengaku masih antusias membesarkan bisnis pembibitannya. Ia berencana pula membenahi sistem pengelolaannya lebih baik lagi. Maka, saat ini ia tengah mencari karyawan yang bisa dipercaya untuk mengelola kebunnya. “Saya nantinya sebagai pengawas dan akan lebih banyak lagi mengembangkan bisnis,” ucap Popon optimistis.

 

Herning Banirestu & Eddy Dwinanto Iskandar
Riset: Aini Zahra

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)