Putra Andrean, Siap Melesatkan Bisnis Sang Ayah

Putra Andrean ~~

Seiring kemajuan bisnis Johnny Andrean di bidang salon kecantikan dan food and beverage (F&B), dia tak lupa melakukan regenerasi. Itulah sebabnya, sejak dini Johnny sudah menyiapkan sang putra mahkota untuk menerima tongkat estafet. Dan, generasi kedua yang beruntung itu adalah Putra Andrean, anak kedua dari empat bersaudara. Kebetulan Putra adalah satu-satunya anak lelaki Johnny.

Johnny punya cara khusus mengenalkan anaknya ke dunia bisnis. “Sejak kecil Papa mengarahkan saya untuk doyan makan. Jadi, setiap ada makanan, saya diminta untuk mencoba, sehingga saya lumayan tahu makanan enak dan tidak enak. Saya juga diajari tidak pilih-pilih makanan,” ujar lulusan keuangan dan kewirausahaan dari sebuah universitas di San Francisco, Amerika Serikat ini.

 

Dari kebiasaan doyan makan itu, passion dunia F&B Putra mulai muncul. “Bisa dikatakan, saya memiliki six sense untuk memprediksi makanan apa yang akan laku dan berhasil. Di situlah awal mula passion saya di bisnis makanan mulai keluar. Ketika Papa mulai mengelola bisnis F&B, saya mengikuti jejaknya untuk terlibat dalam manajemen bisnis,” Putra menjelaskan ketertarikannya menggeluti bidang F&B.

 

Begitu tamat kuliah, ia dilibatkan langsung dalam operasional bisnis keluarga, yaitu mengelola bisnis donat J.CO dari posisi pemula sebagai barista sejak tahun 2010. “Waktu itu saya juga memakai topi J.CO, mengantarkan pesanan donat dan minuman ke meja pelanggan. Kalau anggota keluarga kami melihat saya sedang berpenampilan barista itu, mereka suka ketawa-ketawa sambil menunjuk saya,” kata pria kelahiran tahun 1988 itu mengenang.

 

Saat menjadi barista, Putra tidak merasa diperlakukan istimewa oleh papanya. Dia melakukan pekerjaan dan tugas yang sama dengan staf lain. Demikian pula dalam bekerja, dia menganggap staf lain sebagai teman. Para staf lebih senior, sedangkan Putra masih baru sehingga harus banyak belajar dari mereka.

 

Putra sadar bahwa untuk menjadi bos kelak, dia harus paham semua operasional perusahaan mulai dari bawah. “Awalnya memang capek, tapi saya tahu itu adalah proses belajar. Kebetulan keinginan saya belajar F&B di J.CO didukung oleh Papa,” ungkapnya.

 
Putra Andrean ~~

Beberapa poin penting didapat Putra selama belajar di J.CO. Pertama, customer service itu sangat penting. Pasalnya, jika pelayanan jelek, pelanggan komplain dan tidak akan kembali lagi. Kedua, kecepatan dalam melayani dan penyajian makanan ke pelanggan harus diutamakan. Ketiga, menjaga kualitas produk. Ketiga hal ini ujung-ujungnya akan berpengaruh pada penjualan dan profit bisnis.

 

Putra terlibat di J.CO selama 1,5 tahun, yakni 6 bulan di bagian operasional dan 12 bulan sebagai manajer. Setelah itu, dia mendapat tugas lain dari ayahnya, yaitu mengelola resto baru: Roppan. Kala itu Roppan baru mulai beroperasi. Setelah satu tahun Roppan berjalan, Johnny melihat bahwa Roppan ini memiliki potensi untuk dikembangkan dan Putra diangkat sebagai CEO.

 

Lantas, apa saja terobosannya di J.CO dan Roppan? Putra membantu memperlancar beberapa hal di bidang operasional seperti cara membuat produk atau SOP yang bisa memudahkan karyawan dalam bekerja agar lebih cepat dan efisien. Selain itu, mengembangkan beberapa produk seperti J.Coffee. Semula kopinya dari luar, ketika Putra masuk dia membuat kopi khas J.CO sendiri.

 

Sementara itu, terobosan di Roppan lebih banyak. Waktu itu Roppan masih baru dan identitasnya belum kuat. Setelah dikelola Putra, konsep resto lebih difokuskan untuk masakan khas Jepang, semisal bento, ramen, udon, sushi, dan roti T-Pan. Untuk membuat perubahan di Roppan, dia memerlukan waktu satu tahun.

 

Kinerja Roppan terus menanjak sejak dipimpin Putra. Hal ini terlihat dari pertumbuhan bisnisnya yang diklaim Putra mencapai 80%. Jumlah gerai pun meningkat, yang awalnya hanya tiga kini berkembang menjadi 10 gerai selama dua tahun terakhir. “Tahun 2014, kami berencana menambah dua gerai Roppan di luar kota. Adapun penjualan ditargetkan naik 120%,” ujar Putra.

 

Kepiawaian Putra dalam berbisnis saat ini tidak luput dari peran sang ayah yang menjadi mentornya. Banyak nilai bisnis yang ditanamkan oleh orang tuanya, di antaranya, pertama, bersikap tegas dan tajam. Contoh, ketika ada orang bicara bertele-tele, maka sikap sang ayah langsung to the point. Begitu pula jika ada masalah, cepat diselesaikan dan tidak boleh ditunda. Kedua, selalu sopan santun dan menghargai orang lain, apa pun posisi mereka. Jadi, ketika Putra mulai bekerja, dia tidak pernah menganggap dirinya lebih hebat dibanding orang lain. Dengan para staf lain di toko, dia menyamakan posisinya dengan mereka. “Saya datang ke sini untuk bekerja, bukan untuk menjadi bos,” Putra menandaskan.

 

Sejatinya pola regenerasi yang dilakukan Johnny simpel. “Papa selalu meminta saya mendengarkan dan banyak melihat. Karena saya masih banyak belajar, maka saya harus banyak mendengar, terutama dari orang tua yang memiliki pengalaman lebih banyak. Jadi, saya tidak boleh menganggap diri lebih pintar dibanding orang lain. Saya harus siap mendengarkan masukan dari orang lain juga,” tutur Putra yang tidak pernah bekerja di perusahaan lain.

 

Eva Martha Rahayu/Destiwati Sitanggang

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)