Raymond Tedjokusumo, Si Bungsu Penerus Bisnis PT Superton

Sudah sekitar 30 tahun PT Supertone, memproduksi perangkat keras komputer seperti monitor, keyboard, mouse, UPS, notebook,  telepon genggam tablet hingga aksesori komputer dengan merek SPC. Pendirinya adalah Satrijo Kusumo, yang kini masih menjabat CEO PT Supertone. Bisnis keluarga Tedjokusumo ini terus mengisi ruang di riuhnya produk-produk perangkat keras komputer buatan lokal hingga impor di Indonesia.

SPC Raymond2

Setelah 25 tahun memimpin, Satrijo menyadari perlu seorang penerus untuk memimpin bisnis yang dirintisnya. Ia juga berpikir perlu suatu perubahan dalam bisnisnya, seiring menjamurnya produk telepon pintar di Indonesia. Satrijo ingin serius mengembangkan bisnisnya bermain di produk tersebut.

Tahun 2008, Satrijo memanggil pulang anak bungsunya yang bekerja sebagai auditor di kantor akuntan publik Pricewaterhouse Cooper selama dua tahun di Australia datang ke Indonesia. Si bungsu ditugaskan memimpin divisi SPC Mobile, yang membawahi produk ponsel, tablet, powerbank dan modem. Si bungsu itu ialah Raymond Tedjokusumo.

Satrijo mengatakan bahwa penerusnya nanti harus mampu mengikuti perkembangan pasar. “Generasi muda perlu mengganti posisi saya. Pengalaman Raymond memang masih kurang, tapi ia punya kualitas untuk menjadi usahawan yang mampu mengendalikan bisnis ini,” ungkap Satrijo, ayah dari empat orang anak.

Raymondspc

Menanggapi pemilihan dirinya sebagai penerus bisnis orang tua, Raymond tidak pernah berpikir sebelumnya untuk menggantikan posisi Satrijo. Padahal, sejak kuliah Raymond tidak berpikiran untuk meneruskan bisnis kelurga. “Dari empat bersaudara, kenapa saya yang dipilih? Karena mereka (tiga saudaranya –red) enggak ada yang mau,” kata Raymond kepada Mochamad Januar Rizki sambil tertawa.

Raymond melanjutkan, ada dua alasan dirinya bergabung di PT Supertone. Pertama, ia melihat potensi pasar di Indonesia mengalami pertumbuhan. “Saya rasa berbisnis di Indonesia memiliki potensi yang besar untuk berkembang saat ini. Ini merupakan kesempatan yang besar bagi saya,” kata Raymond. Lalu, ia menambahkan alasan keluarga juga menjadi motivasinya untuk bergabung dengan PT Supertone. “Saya ingin dekat dengan keluarga,” tambah pria setinggi 1,9 meter itu.

Raymond didapuk untuk menjabat sebagai Chief Operation Officer (COO) PT Supertone. Saat ini, antara Satrijo dan Raymond terdapat pembagian tugas. Satrijo membawahi produk IT sedangkan Raymond menanggungjawabi produk mobile device, seperti ponsel pintar dan tablet. “Pelan-pelan bisnis ini dialihkan ke Raymond,” ungkap Satrijo.

Tugas utama Raymond mengembangkan bisnis PT Supertone menjangkau pasar ponsel pintar dan tablet langsung dilakukan. Sebelumnya sebelum tahun 2008 masih memproduksi perangkat keras seperti monitor, dan keyboard dan featured phone. Namun melihat kecenderungan pasar berubah, PT Supertone sejak tahun 2010 memproduksi ponsel pintar dan tablet, powerbank dan modem. Komposisi jumlah produksi seimbang, 50:50.

Raymond yang menempuh pendidikan Bisnis dan Teknologi di Melbourne University dan memiliki pengalaman sebagai auditor melakukan berbagai perubahan di PT Supertone. Dari pembenahan laporan keuangan perusahaan hingga cara mengambil keputusan pun diubah. “Ketika zaman ayah saya, pengambilan keputusan sifatnya mengandalkan hirarki atau satu orang. Ayah saya. Ketika saya masuk, pengambilan keputusan lebih flat. Manajer pun ikut dilibatkan,” kata Raymond.

Menjadi pimpinan di perusahaan yang dirintis oleh sang ayah, bukan berarti Raymond dengan mudah menjalankan program kerjanya. Hambatan kerap ia jumpai di periode awal kepemimpinannya. Perubahan bisnis environment dinilai Raymond harus dilakukan perubahan.  

Perubahan yang Raymond lakukan misalnya, memperbaiki pelayanan perbaikan atau service center. Layanan perbaikan dilakukan lebih singkat. “Dulu konsumen bisa nunggu hingga dua atau tiga minggu. Sekarang tidak bisa lagi. Saat ini user maunya cepat. Kalau tidak bisa ngikutin kami gagal. Pola pikir itu yang harus kami ubah,” ungkap Raymond.

Selain itu, saat awal ia bergabung Raymond juga megalami kesulitan mengubah cara kerja perusahaan yang sudah ada sejak kepemimpinan ayahnya. “Banyak manajer yang awalnya merasa lebih senior sehingga sulit berubah. Misalnya, pemanfaatan teknologi baru dalam bekerja. Dulu, manajer yang  nyaman bekerja menggunakan laporan kertas berubah ke teknologi cloud juga sulit berubah,” tambah Raymond. Mengantisipasi permasalah tersebut, Raymond melakukan pendekatan personal kepada bawahannya. Butuh waktu hampir setahun bagi Raymond sehingga bawahannya terbiasa dengan cara kerjanya.

Tak semua karyawannya mampu mengikuti cara kerja yang dibawa oleh Raymond. PT Supertone memiliki delapan divisi yang dipimpin oleh manajer. Dari delapan, sebanyak dua orang manajer keluar dari PT Supertone. “Kami sudah melakukan pendekatan secara personal, namun masih tidak bisa juga mengikuti gaya kerja yang baru,” ungkap Raymond.

Kini, memasuki tahun keenam Raymond sebagai COO PT Supertone, kinerja perusahaan mampu tumbuh dengan stabil.  PT Supertone dengan merek SPC menyasar pasar menengah bawah. Raymond mengatakan pertumbuhan penjualan mencapai 15 persen per tahun. Penjualan produk mencapai rata-rata 200 ribu unit per bulan atau sebanyak 2,4 juta unit sepanjang tahun 2013.

Belanja modal untuk tahun ini PT Supertone mengucurkan dana hingga US$ 6 juta. Dana tersebut dialokasikan untuk pengembangan produk dan promosi.

Raymond mengatakan PT Supertone memfokuskan pada produk ponsel pintar di tahun ini. Sebanyak 16 tipe ponsel pintar akan diluncurkan sepanjang tahun ini. Delapan tipe diluncurkan pada semester satu, sisanya diluncurkan semester berikutnya. Ia tidak ingin melewatkan momen pemilihan umum yang dinilai mampu meningkatkan penjualan SPC.

Selain ponsel pintar, PT Supertone juga berencana meluncurkan empat jenis tablet pada tahun ini. Peluncuran tablet tersebut dilakukan bersamaan dengan ponsel pintar. Dua jenis tablet diluncurkan pada semester satu, sisanya di semester berikutnya.

“Kami ingin mengeluarkan produk dengan harga yang terjangkau. Untuk tablet kami rencananya meluncurkan produk seharga Rp 800 ribu. Sedangkan untuk smartphone seharga Rp 600 ribu. Kami melihat pemain di kelas middle low. Kalau sudah di atas harga satu juta pemainnya sudah banyak,” papar Raymond.

Membedakan dengan pemain lain di kelas yang sama, PT Supertone dengan merek SPC memberikan pelayanan lain kepada konsumennya. SPC memberikan layanan SPC Store, toko aplikasi online. Selain itu, SPC juga memberikan layanan pusat perbaikan.

SPC dengan moto service pasti cepat berencana menambah pusat perbaikan tahun ini menjadi sebelas pusat pebaikan di Makasar dan Samarinda. Tahun lalu, SPC sendiri sudah memiliki sembilan pusat layanan perbaikan di Solo, Medan, Cibinong, Surabaya, Bandung, Garut, Yogyakarta dan Jakarta yang terdapat dua tempat.

Sebagai generasi penerus, Raymond ingin lebih berhasil dibandingkan sang ayah. Ia punya ramuan tersendiri sebagai generasi penerus. “Saya memadukan antara nilai-nilai yang dibawa oleh ayah saya sebagai founder dengan kemampuan saya,” ungkap Raymond.  (***)

 

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)