Ria Miranda, Fokus di Warna-Warna Pastel

Perjalanan Ria Miranda di bisnis fashion dimulai dari tahun 2009 ketika ia memutuskan untuk berhenti bekerja sebagai fashion stylist. Pemilik nama lengkap Indria Miranda ini kemudian membuat label baju dengan nama shabby chic by riamiranda. Dulu sistem jualannya hanya mengadalkan sarana blogspot dan hasil perkenalan antarteman. Memang saat itu produknya masih terkendala jumlah dan modalnya pun limit. “Merintisnya dari bawah banget, dari semua di-handle sendiri sampai sekarang sudah ada team masing-masing untuk bisa lebih fokus,” tutur pehobi traveling ini sembari mengenang. 

Ria Miranda, pemilik label riamiranda

Hingga akhirnya berkembang dan mempunyai konveksi sendiri, Sarjana Ekonomi Universitas Andalas dan lulusan ESMOD ini akhirnya mengubah labelnya menjadi riamiranda. Stretagi ini diyakini Ria agar produknya terkesan simple dan menunjukan identitas dirinya sebagai designer. Di samping itu, Ria juga berkeinginan untuk apply APPMI melalui cara ini.

Lantas kenapa akhirnya Ria memilih busana muslim? Awalnya, istri dari Muhamad Pandu Rosadi ini hanya ingin memenuhi kebutuhan busana muslim pribadinya dulu. Ria mengaku jenuh dengan baju muslim yang ‘begitu-begitu’ saja. Dirinya bertekad ingin membuat busana muslim yang dapat menggambarkan pribadinya secara langsung melalui potongan-potongan feminim dengan warna-warna lembut seperti nude pink dan baby blue.

Design saya ready to wear. Dengan warna pastel, orang akan mengenal design saya yang bergaya shabby chic. Konsep yang ingin saya tawarkan adalah muslimah bisa tampil cantik setiap hari, menarik tetapi tidak heboh.  Dengan gaya yang simple, mereka akan terlihat cantik bersahaja, “ terang ibu dari Askana Katyaluna Rosadi ini yang menyasar produknya ke anak muda hingga ibu-ibu, dari usia 20 - 35 tahun serta anak kecil/balita perempuan.

Ria juga getol memperkenalkan karyanya lewat media sosial dan membentuk hijabers community. Selain harus update perkembangan trend busana, dirinya juga harus menyesuaikan dengan syariat islam dalam berhijab. “Saya sekarang lebih ke konsep dan tema apa yang ingin saya bawa ke setiap season rancangan saya,” terang kelahiran Padang, 15 Juli 1985 yang pada November 2012 ini ikut meramaikan ajang Jakarta Fashion Week untuk Show Threelogy bersama dua perancang busana muslim lainnya.

Dalam 3 tahun terakhir, pertumbuhan bisnisnya merangkak cepat. Meski pemain di market yang sama kini banyak bermunculan, justru hal tersebut menjadi pemicu Ria untuk terus berkarya. Produksi per bulan bisa mencapai 2000-2500 pcs. Sementara nilai penjualan per bulan mencapai 500 juta. Peningkatan sales disebutkan Ria dapat mencapai 20%.  

Saat ini pun outletnya sudah mencapai 13 outlet dan tersebar di seantero Indonesia meliputi : Aceh, Padang, Medan, Jakarta, Bandung, Cirebon, Balikpapan, Samarinda, Makassar dan Surabaya. Di Jakarta sendiri, outletnya ada di Bintaro, FX Mmall, Jl. Ahmad Dahlan dan akan dibangun di Kemang Raya. Selain itu, Ria juga tetap mengandalkan website www.riamiranda.com, yang sudah berkembang meski harus selalu diperbaiki di beberapa lini.  Ria juga memanfaatkan dukungan public figure yang sudah menjadi pelanggan setia karyanya seperti Inneke Koesherawati, Berliana Febrianti, Puput Melati dan Marini Zumarnis.

Ria Miranda

Ke depan saya ingin punya gerai di beberapa negara dan bisa menjadi bagian dari APPMI, serta bisa terus berkarya utuk kemajuan industri busana muslim,” ujarnya yang pernah sukses pula menampilkan songket Sumatera Barat yang dipadupadukan dengan warna pastel ini optimis. (EVA)


Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)