Rumus Word of Mouth ala D’Cost

Siapa bisa menyangka sekarang restoran D’Cost bisa berkembang begitu pesat. Restoran itu mempunyai ciri khas: menjual makanan berkualitas dengan harga yang terbilang murah. Sesuai dengan taglinenya, “Mutu Bintang Lima, Harga Kaki Lima.” Selain mengusung itu, pihak perusahaan juga mempunyai resep tersendiri dalam memasarkan restoran tersebut.

david d'costApa resep itu? David Vincent Marsudi, Presiden Direktur PT Pendekar Bodoh, di sela-sela acara penghargaan Word of Mouth Marketing 2013, yang diselenggarakan Majalah SWA, di Jakarta, pekan lalu, menuturkan, “Jadi,  sebenarnya kalau bicara word of mouth (WOM), semua program marketing kami itu landasannya cuma satu, yaitu WOM.”

“Cuma yang paling penting sebenarnya yang bisa saya bagikan, bahwa semua (perusahaan) bisa promo yang unik dan menarik, tapi ada hal yang paling penting yang mungkin orang lain belum pakai adalah, di perusahaan kami, falsafahnya adalah give and receive. Di mana biasanya orang bisnis itu (biasanya) take and give,” lanjut dia.

Apa yang dimaksud dengan give and receive? Dalam slide yang ditampilkan oleh David, dua kata itu artinya hanya berkonsentrasi pada apa yang dapat Anda berikan, dan jangan khawatir atas apa yang Anda dapatkan. Kalau David mengatakan hal ini seperti, “kasih ibu.”

Ia pun percaya, pendulum bila dilempar, akan kembali. Hanya tidak diprediksi kapan pendulum itu akan kembali. “Kami ingin kembalinya biar Tuhan yang mengatur. Kami berinvestasi sebaik-baiknya, nanti biar Tuhan yang mengatur. Apapun hasilnya kami terima,” terang David.

“Jadi, sebenarnya kembali lagi pada saat kita berbisnis, itu kita mengharapkan apa. Kalau semua orang, saya yakin semua mengharapkan dapat untung. Padahal kalau kita mengejar untung, kita pasti tidak akan dapat untung. Semakin kita tidak mengejar untung, semakin simpati masyarakat berdatangan,semakin untung akan datang ke kita sendiri. Jadi, falsafahnya (D’Cost) kami berikan yang terbaik pada masyarakat, dan biar masyarakat yang menilai.”

d'costFalsafah tersebut menjadi roh dalam setiap kegiatan promosi yang D’Cost lakukan. David menerangkan, ada tiga syarat dalam setiap kegiatan promosi, yaitu unik, nothing to lose to try, dan too good to be true.

“Unik itu tidak mencontoh orang lain. Kami tidak pernah buat promosi yang mencontoh orang lain. Kalau orang lain sudah buat kami tidak akan mau buat. Kenapa? Karena kalau tidak unik, tidak akan dibicarakan. Dan tidak akan diliput oleh media massa,” sebutnya.

Terkait syarat kedua, nothing to lose to try, ia menyebutkan, “Jadi, pada saat kami memberikan promosi itu, kami dengar, dalam waktu tiga detik, ok, cukup, saya akan ikut promosi. Jadi, untuk si konsumennya tidak ada ruginya untuk ikut promosi.”

“(Syarat) ketiga, itu harus too good to be true. Apa iya sih? Apa iya sih? Nah,makin too good to be true, itu makin dibicarakan oleh orang. Jadi, yang kami lakukan ini, kami generate, WOM-nya dari mereka (konsumen) sendiri.”

Ketiga syarat itu menjadi dasar dari setiap kegiatan promosi yang dilakukan D’Cost. Lantas apa saja kegiatan promosi yang sudah dilakukan? Mereka telah mengadakan Up To You Price, Hamil Baru Bayar, Diskon Umur, Diskon Gerombolan, dan Uang&Doa.

Misalnya, mengenai Up To You Price, David menjelaskan bahwa pelanggan dapat makan sepuasnya, dan bayarnya terserah. “Bayar berapapun kami terima. Ini semua dilandasi oleh falsafah give and receive. Kalau falsafah take and give nggak mungkin ambil promo seperti ini,” ucap dia.

Ada juga promo Hamil Baru Bayar. Ini sudah dijalankan hampir dua tahun. Maksudnya seperti apa? Pihak D’Cost menyediakan resepsi pernikahan di restoran dalam kuota tertentu, dan kalau konsumennya sudah hamil, dia baru bayar. Kalau tidak hamil, tidak perlu membayar. “Syaratnya apa? Syarat hanya fotokopi KTP, fotokopi surat pernikahan. (Ini untuk mereka yang) sudah menikah resmi, tapi belum punya dana untuk melakukan resepsi pernikahan. Terus pertanyaannya? Kira-kira promo seperti ini apakah ada yang sudah bayar? Ini sudah jalan dua tahun dan belum ada yang mengaku hamil,” jawab dia disambut gelak tawa para tamu acara.

Promosi Diskon Umur, maksudnya, dalam satu meja dipilih orang yang tertua. Diskon diberikan sesuai umur yang tertua. Misalnya, yang tertua berumur 99 tahun, maka diskonnya adalah 99 persen. Fakta di lapangan, ada konsumen yang berumur lebih dari 100 tahun yang datang ke restoran. “Diskon umur ini sudah jalankan hampir empat tahun. Dan itu banyak sekali momennya. Pada hari itu adalah hari cinta kasih anak kepada orang tua. Karena mereka (orang tua) harus dibawa, nggak bisa KTP saja. Jadi, terpaksa opa-oma dituntun.”

Diskon Gerombolan, terang dia, misalnya yang mau makan adalah sekelompok orang yang  berjumlah 99 orang, maka diskon yang didapat adalah 99 persen. Kalau 100 orang, maka diskon pun 100 persen. Dan ini harus serentak masuk. “Rekor waktu itu anak SD sebanyak 135 anak yang dibawa sama guru-gurunya. Cuma mau memenuhi orang banyak dalam waktu bersamaan nggak gampang.”

“Promo Uang&Doa ini kami lakukan pada saat hari raya lebaran. Kami berikan promo Uang&Doa, yakni separuh bayar pakai doa, separuh pakai uang,” lanjut David.

“Promo-promo ini bisa menciptakan sensasi dan berita. Promo-promo give and receive ini menimbulkan simpati dari masyarakat yang sangat besar, yang tidak bisa dinilai oleh apapun. Dan, otomatis menciptakan komunikasi dari mulut ke mulut,” tandasnya. (EVA)

Leave a Reply

1 thought on “Rumus Word of Mouth ala D’Cost”

Dalam tulisan kali ini akan sedikit membahas secara ringkas mengenai promosi atau yang sering disingkat dengan promo yang sudah pasti tidak asing lagi dalam kehidupan kita sehari-hari. Dengan dilakukannya kegiatan promosi perusahaan mengharapkan adanya peningkatan angka penjualan dan keuntungan.
by Elsa Mccullough, 04 Sep 2013, 12:45

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)