Rusman Heriawan: Petani Kita Hanya Jago Off Farm

Para petani Indonesia pada umumnya hanya jago di on farm. Bagaimana dia mengolah lahan, menanam benih, mengelola tanaman, sampai panen, semua bisa. Off farm-nya, dia tidak punya pengalaman. Jadi di situlah kadang-kadang petani banyak yang merasa kecewa. Hasil panenannyabagus, tapi ketika dijual harganya jatuh. Selama ini yang diedukasi, hanya bagaimana cara menanamnya. Bukan cara jualannya. Dia tidak bisa jualan, kecuali nanti alirannya simpel saja. Tengkulak datang, dibeli, harganya ditentukan oleh tengkulak.

Betapa jagonya petani pada waktu dia menanam dan hasilnya bagus, tapi kalau dia tidak punya kemampuan di bidang agribisnisnya, dia juga akan menjadi pihak yang kalah. Oleh karena itulah, bantuan dan dukungan kita tidak sekedar ada pada on farm-nya, tapi juga pemerintah bisa turut membantu mereka di off farm-nya tadi.

Bagaimana strategi pengembangan sektor pertanian Indonesia? Wakil Menteri Pertanian, Rusman Heriawan, memaparkannya kepada Gustyanita Pratiwi:

Seberapa besar potensi industri pertanian/pangan di Indonesia?

Kita jangan bicara kualitas dulu. Tapi kita bicara kuantitas. Volume produksi pangan kita itu 10 besar di dunia. Ya, kalau yang terbesar pastinya Amerika, China, dll. Apa saja produknya? Tergantung. Mungkin Amerika besar di gandumnya. Kita besar di berasnya. Kalau tidak salah beras kita terbesar nomor dua di dunia. Jangan dikira bahwa produksi beras kita lebih rendah dari Vietnam atau Thailand. Kita tetap lebih besar, hanya saja posisi food security-nya mungkin di bawah Thailand. Karena penduduk mereka kan lebih sedikit. Sedangkan kita 250 juta jiwa. Tapi kalau produksinya (terutama beras), kita nomor 1 di Asia. Produksi kita bisa sampai ke angka 40 juta ton. Thailand mungkin baru 20-25 juta ton.

Rusman (tegak)

Kapasitasnya meningkat berapa persen untuk beras?

Normalnya rata-rata 3,5-4 %. 5% juga pernah, tapi jarang. Nah, itu sebenarnya masih cukup untuk memenuhi kenaikan penduduk supaya merasa aman dan kebutuhan pangannya terpenuhi.

Selain beras, potensi apa lagi yang memang ingin digalakkan oleh pertanian kita?

Yang utama tadi kan beras. Itu karena dimensi pembicaraan beras sangat luas. Karena beras juga bisa diangkat ke ranah politik. Kemudian yang besar lainnya adalah jagung. Jagung ini masih menjadi pilihan kedua setelah beras. Tapi jagung sendiri lebih banyak masuk ke industri pakan. Besarannya mencapai 80%.

Apa karena nilai komersial jagung masih rendah?

Bukan begitu. Justru jangung ini sangat komersial. Tapi memang banyak terpakai di industri perunggasan. Karena 50% dari pakan unggas terkonversi ke jagung, misalnya untuk pakan ayam broiler, dan sebagainya.

Sebenarnya apa masalah /kendala utama di industri pertanian/pangan kita?

Yang pertama tipikal pertanian pangan kita. Di Indonesia itu, jumlah petaninya terlalu banyak. Sementara lahannya terlalu kecil. Rata-rata petani kita, terutama beras, itu hanya 0,3 ha. Idealnya minimal harus 2 ha. Jadi karena ukurannya kecil, akhirnya tidak memenuhi skala ekonomi untuk berkembang cepat. Karena dia juga tidak bisa berbuat banyak, kalau kena hama, habis. Kalau dia punya 2 ha, setidaknya kalau yang ini kena hama, yang lain masih bisa produksi. Dia masih survive.

Oleh karena itu, untuk mengatasi lahan yang kecil, ada bagusnya dibuat farming. Jadi, untuk hamparan yang sama, di mana terdiri dari petani-petani kecil, itu dikelola dalam satu kegiatan farming. Dikelolanya secara bersama-sama. Baik panen, pengadaan bibit, penanganan hama, sampai panennya pun bersama-sama. Tapi kalau sendiri-sendiri, misal ini baru menanam, yang ini diserang hama, yang lain panen, kan jadi tidak kompak. Jadi istilah farming itu muncul karena petani kita mempunyai skala lahan yang kecil-kecil.

Konsep farming apakah sudah jalan ?

Beberapa ada yang jalan. Makanya di tiap kecamatan, ada yang namanya lembaga tinteng, yang biasa disebut sebagai Balai Penyuluh Pertanian (BPP). Lembaga ini menjadi prime mover supaya petani bisa mempunyai gerakan yang sama supaya penanamannya pun jadi lebih mudah.

Apakah karena farming marginnya kecil, jadi banyak yang tidak tertarik, atau bagaimana Pak?

Awalnya pasti dia curiga, karena dia berpikirnya akan dikuasai swasta. Bisa saja ada perusahaan formal yang masuk ke sana dan menggandeng semua petani yang sama di berbagai bentuk kemitraan.

Artinya farming ini dikelola oleh swasta?

Iya. Hanya kadang-kadang kalau swasta masuk, sudah dicurigai duluan oleh petani. Seolah-olah nanti dia mau mengganggu bisnis yang sudah turun-temurun dilakukan oleh petani. Seolah-olah, nanti dia mau mengambil keuntungannya. Sebenarnya kalau win-win, kan swasta itu punya pengalaman, peraturan, dan disiplin. Karena dalam farming yang terpenting adalah disiplinnya. Nah, itu yang kadang-kadang kalau dilakukan sendiri, petaninya jadi tidak disiplin. Ketika sudah menanam, lalu ditinggal. Tahu-tahu padinya kering. Dia tidak tahu perkembangan padinya karena jarang ditengok. Jadi harus ada disiplin.

Yang kedua, akses petani yang sangat terbatas. Pertama dari sisi pembiayaan. Kita adalah salah satu negara yang tidak mempunyai bank pertanian. Jadi seakan-akan tidak ada

Bank BUMN Juga tidak mau membantu?

Ya ada. Tapi maksud saya untuk by name, Bank Pertanian itu tidak ada. Makanya di DPR baru saja disahkan tentang Undang-UNdang Pemberdayaan Petani. Amanat dari UU tersebut adalah, kalaupun tidak didirikan bank pertanian, paling tidak bank-bank BUMN harus membentuk divisi khusus mengenai pertanian supaya ada keberpihakan pada petani.

Kemudian akses terhadap asuransi (keamanan). Kalau petani terkena puso, tiba-tiba diserang tikus, kan habis semua. Dia sudah tidak punya apa-apa karena memang tidak diasuransikan. Jadi, pembiayaan dan asuransi ini begitu penting untuk petani supaya mereka bisa melakukan bisnisnya dengan nyaman, tidak merasa dihantui. Kan banyak peristiwa, sorenya padi terlihat begitu indah, menguning. Besoknya, ketika mau dipanen tiba-tiba habis. Karena ketika tikus sudah menyerang, dalam waktu 1 malam habis. Nah kalau sudah begitu tidak menolong petani. Risiko jadi ditanggung sendiri. Tapi kalau bisa diasuransi dengan sistem yang baik, walaupun harus bayar tentunya, tapi jadinya lebih nyaman.

Yang ketiga adalah petani-petani kita itu hanya jago di on farm. Bagaimana dia mengolah lahan, menanam benih, mengelola tanaman, sampai panen, semua bisa. Off farm-nya, dia tidak punya pengalaman. Jadi di situlah kadang-kadang petani banyak yang merasa kecewa. Hasil buminya bagus, tapi ketika di jual harganya jatuh. Selama ini yang diedukasi, hanya bagaimana cara menanamnya. Bukan cara jualannya. Dia tidak bisa jualan, kecuali nanti alirannya simpel saja. Tengkulak datang, dibeli, harganya ditentukan oleh tengkulak. Untung saja kalau beras ada Bulog sebagai penyangga harga. Tapi Bulog jangkauannya kan juga terbatas. Oleh karena itu, pengetahuan-pengetahuan petani seperti ini penting. Terutama yang di holtikultura. Petani itu kalau tidak dijaga agribisnisnya/ pascapanennya, pada akhirnya akan kecewa dia. Betapa jagonya petani pada waktu dia menanam dan hasilnya bagus, tapi kalau dia tidak punya kemampuan di bidang agribisnisnya, dia juga akan menjadi pihak yang kalah. Oleh karena itulah, bantuan dan dukungan kita tidak sekedar ada pada on farm-nya, tapi juga pemerintah bisa turut membantu mereka di off farm-nya tadi.

Bagaimana caranya?

Ya mungkin ada partnership dengan perusahaan eksportir yang selalu menjadi off taker (pembeli) dari barang-barang itu. Swasta inilah yang punya jaringan, misalnya dengan Timur Tengah, atau negara-negara manapun yang akan kita tuju. Atau dengan supermarket. Karena kan petani tidak mungkin sendirian memikul hasil panennya lalu datang ke supermarket supaya dibeli. Maka harus dikembangkan network-nya. Nah, supermarket kan biasanya menuntut apakah ada jaminan pasokan. Sebab sayur-sayuran dan buah-buahan itu kan musiman. Nanti giliran konsumen di supermarket, tanya barangnya mana dan ternyata tidak ada, kan jadi mengurangi kepercayaan dari supermarket. Pokoknya petani harus diajarkan sampai sejauh itu.

Permasalahan lainnya?

Lalu yang keempat, pemahaman petani terhadap kualitas dari produknya. Kalau kita bicara kualitas, petani itu harus dikasih pengetahuan juga mengenai good agricultural practices (bagaimana bertani yang baik), bagaimana kemudian dia menghasilkan sayur dan buah-buahan yang save. Ada istilah organik, dan segala macam, pokoknya itu ada teknologi pascapanennya. Perilaku petani buah-buahan kita jarang melakukan grading. Asal petik saja. Ada yang kecil, ada yang besar. Sayang kalau kita jual yang besar, nanti yang kecil tidak laku, begitu selalu kata petani. Karena berpikirnya seperti itu, maka dicampur saja. Nah, itu mengurangi kepercayaan konsumen. Karena konsumen itu pada dasarnya mencari yang terbaik. Dia perlu KW 1, KW 2, dll. Jadi grading itu diperlukan. Yang ukurannya sama dikelompokkan. Nanti dibanderol dengan harga tertentu. Yang satunya (yang ukurannya kecil-kecil), sebenarnya juga bisa digunakan tanpa harus dikonsumsi langsung, misalnya bahan baku produk olahan seperti jus, dll.

Seberapa sering penyuluhan-penyuluhan untuk petani untuk mentransfer pengetahuan maupun teknologi ini dilakukan?

Dalam bahasa Inggrisnya, penyuluh itu kan berarti extention worker. Pekerja penyambung dari inovasi-inovasi teknologi yang ditemukan untuk ditransfer kepada para petani. Jadi dia menjadi intermediatornya. Saya menyebut penyuluh itu juga sebagai guru sebetulnya. Bukan guru di kelas yang mengajar murid, tapi guru yang seharusnya mengajari para petani di lapangan. Nah, problem penyuluh kita ini macam-macam. Berbeda dengan zaman Bimas dulu tahun 1970-an, penyuluh kita menghadapi dua persoalan sekaligus.

Pertama, kita kekurangan dari sisi kuantitas. Jumlahnya berkurang terus karena ada moratorium pegawai negeri. Kemudian mengangkat pegawai negeri yang baru, yang profesinya penyuluh, tidak seimbang dengan mereka yang harus memasuki masa pensiun. Jadi yang pensiun itu lebih banyak daripada pengangkatan barunya. Akhirnya dari tahun ke tahun secara jumlah menurun. Idealnya itu kan 1 penyuluh menangani 1 desa pertanian. Tapi sekarang ini ada yang 2-3 desa. Jadi servis mereka dalam mendampingi petani juga sangat terbatas. Nah, itu dari sisi kuantitas.

Kemudian dari sisi kualitas, karena kekurangan penyuluh pegawai negeri, muncullah penyuluh-penyuluh sukarela. Kami menyebutnya tenaga harian lepas. Kami bayar honor bulanan, tetapi mereka tidak berstatus sebagai pegawai negeri sipil. Dalam jangka pendek, ya kita beruntunglah ada mereka karena mereka mengompensasi jumlah penyuluh PNS yang setiap tahunnya berkurang. Tadinya ya sekedar volunteer lah yang kami bayar honor bulanan. Tapi lama-lama, karena umur makin tua, kan mereka juga tentunya berpikir tentang masa depan. Akhirnya tuntutannya minta diangkat. Niat awalnya memang menjadi volunteer, tapi mungkin karena sudah menikmati dan mencintai pekerjaan tersebut, akhirnya ingin diangkat menjadi PNS. Nah, karena bukan PNS, pembinaan dari pemerintah pun tidak seintensif seperti pembinaan terhadap penyuluh PNS. Jadi dari sisi kualitas sudah berbeda. Ini juga menjadi tantangan tersendiri. Oleh karena itu, memang banyak komplain dari petani bahwa rasanya kok banyak masalah di lapangan, tetapi mereka sendirian. Penyuluh pada kemana? Pengaduan yang seperti itu juga banyak.

Termasuk mungkin kendalanya dari regulasi yang belum pro ke mereka atau seperti apa Bapak menilainya?

Kalau kelembagaannya memang masih mix up. Begini, semua penyuluh itu kan organnya kementerian, organnya pemerintah pusat. Tapi sejak otonomi daerah, mereka beralih menjadi organ pemerintah daerah sampai bupati. Ya kadang-kadang bupati kan tidak berlatar belakang pertanian semua. Mungkin apresiasi terhadap petani jadi beda-beda. Ada yang bupatinya tidak kenal penyuluh itu apa sih? Atau karena dia memang tidak paham pertanian, akhirnya kurang pro petani. Nah, ini juga menjadi critical. Harus ada masa transisi yang harus kami lalui dan ini harus dipercepat, supaya perpindahan mereka yang tadinya pegawai pusat menjadi pegawai daerah ini tidak menimbulkan kerugian untuk mereka sendiri. Misalnya penghargaan dari bupatinya, fasilitas yang harus diberikan, ya itu tetap berjalan lah. Dan itu berangsur-angsur baik lagi.

Banyak orang awam yang beranggapan bahwa petani di Indonesia tidak sekaya dengan petani-petani di luar. Kita harus benchmark kemana untuk industri pertanian pangan?

Mungkin Jepang. Jepang itu sama tipikal tanahnya dengan kita. Karena lebih sempit kan? Tapi dia itu pertaniannya modern. Jadi begini, salah satu pertanyaan yang sering ditanyakan dunia internasional kepada Indonesia adalah kenapa sih anak muda Indonesia tidak mencintai pertanian? Pertanian itu ibaratnya pilihan terakhir. Karena tidak ada pekerjaan lain misalnya. Jadinya bukan pilihan, tapi keterpaksaan. Ini yang harus kita putus regenerasinya.

Anak-anak petani itu, kalau dia harus meneruskan usaha bapaknya bertani, dia sudah merasa siap miskin. Karena dia mengambil contoh bapaknya yang miskin. Jadi banyak sekali bentuk dukungan kami terhadap rumah tangga petani, anak-anaknya kami kasih bantuan sekolah, dll. Tapi setelah SMA, bahkan perguruan tinggi, dia tidak kembali lagi ke pertanian. Jadi banyak yang tua-tua di pertanian kita sekarang. Nah, bagaimana supaya mereka jadi tertarik? Efisiensi dan mekanisasi. Jadi kita bayangkan saja, tipikal petani kita kan selama ini seperti apa. Imejnya pakai kolor item, singlet, kadang-kadang singletnya pun sampai bolong-bolong, berlumpur, dll. Ya ini yang harus diubah imejnya dengan memodernkan pertanian kita. Dengan alat-alat pertanian, hand tractor, pakaiannya, dll. Kalau di Jepang itu, walaupun dia petani, tapi tetap ada ciri khasnya. Pakaiannya seragam seperti seragam di bengkel atau pegawai lain. Jadinya kan bagus-bagus dan terlihat keren.

Apakah memang kondisinya stagnan saja dibandingkan Thailand, Vietnam, dll. Karena orang berpikir sekarang kita mungkin kalah dengan mereka?

Pandangan itu keliru ya, sebab banyak juga petani Vietnam atau Thailand yang juga belajar dari kita. Biasa saja lah, kalau kita punya keunggulan di satu komoditas dan bagus, mereka juga belajar. Contoh, salak. Sampai sekarang juga ampun-ampunan mereka. Tetap saja salak menjadi buah superior Indonesia. Thailand gagal terus. Tapi beberapa komoditas seperti buah-buahan lain, Thailand yang lebih maju. Beras produktivitasnya juga tidak lebih hebat dari Indonesia. Varitas dan rasanya juga tidak beda. Cuma tadi, penduduknya lebih sedikit, kita 250 juta. Dengan luasan yang mirip-mirip, ya tentu mereka surplus? Seolah-olah, pertaniannya jadi berhasil. Cuma kalau dari sisi teknologi, sebanding saja lah. Jadi antara kita dengan mereka tidak bisa dibandingkan, karena kondisinya berbeda.

Tadi Bapak menyebutkan bahwa kendala-kendala tentang pangan sedemikian banyak, lantas apa implementasi kongkretnya di lapangan dan hasil nyatanya seperti apa? Yang sedang berjalan atau mungkin 3-5 tahun lagi akan berjalan seperti apa?

 Pertama kita terus-menerus mencari inovasi-inovasi terbaru teknologi pertanian kita. Ada usaha yang never ending. Never ending activity itu namanya pemuliaan tanaman, yaitu menemukan benih-benih yang bagus. Untuk padi misalnya. Kan dinamika di pertanian itu terus berkembang. Contoh, perubahan iklim. Mungkin benih padi yang kita kembangkan sebelumnya tidak bisa merespons perubahan iklim. Sekarang harus bisa. Bagaimana supaya dia tetap hidup, secepat apapun iklimnya berubah. Dan ini perlu pemikiran. Kedua, percuma, kalaupun inovasinya hebat-hebat, tapi petaninya tidak mengimplementasikan buat apa? Kembali lagi ke bagaimana inovasi ini bisa meyakinkan dan bisa diterima serta dijalankan oleh petani.

Di sinilah fungsi para penyuluh itu penting. Karena mereka adalah kepanjangan tangan dari teknologi untuk disampaikan kepada para petani. Ini harus dijalankan terus. Yang berikutnya adalah bagaimana petani diajarkan supaya tidak cukup memenuhi kuantitasnya saja, tetapi mulailah menjaga disiplin untuk menghasilkan pangan yang tingkat keamanannya lebih baik untuk dikonsumsi.

 Itu ada kontrolnya?

Iya. Ada indeks pengukurannya. Contoh yang sederhana yang sering saya kritik adalah banyak karung pupuk yang dipakai tidak sesuai fungsinya. Awalnya, dia beli dalam bentuk karung berisi urea, kemudian dibawa ke sawah, ditabur. Karungnya kan jadi kosong, lalu ketika panen gabah, karungnya dipakai lagi untuk memasukkan gabah-gabah itu. Kan itu tidak boleh karena mengandung zat kimia. Makanya saya sudah minta agar pabrik-pabrik pupuk itu mencantumkan label yang bertuliskan, hanya boleh digunakan untuk pupuk. Sementara itu, kesadaran petani masih rendah. Makanya harus ada edukasi. Jadi tidak cukup dengan pemenuhan kuantitasnya saja, tapi juga bagaimana kualitas/ keamanan dari produk yang dihasilkan petani dapat terjaga.

Sebenarnya Kementerian sudah punya blue print, atau bisa tidak untuk diterapkan untuk industri pangan kita. Apa yang paling nyata?

Kami kan punya empat sukses. Semuanya itu sangat komprehensif dengan action-action yang kami rumuskan dengan baik. Tapi memang, di lapangan pasti timbul masalah. Yang pertama adalah swasembada berkelanjutan. Jadi bagaimana kita bisa mencukupi kebutuhan masyarakat itu dengan kemampuan kita sendiri. Kalau perlu menghindari impor. Tapi yang namanya swasembada ini juga harus berkelanjuan, artinya tidak sekarang swasembada, besoknya kekurangan. Tapi ada semacam kontinuitas untuk menjaga swasembada ini tetap terjadi.

Yang kedua, program diversifikasi pangan. Bagaimana masyarakat itu tidak selalu tergantung kepada satu komoditas pangan saja. Misalnya beras. Makanya ada pangan-pangan alternatif yang terus dikembangkan supaya konsumsi beras per kapita menurun dan kebutuhan karbohidratnya dapat digantikan oleh komoditas pangan yang lain.

Yang ketiga, agribisnis. Bagaimana meningkatkan nilai, value dari produk-produk yang dihasilkan oleh petani. Terutama untuk produk holtikultura. Yang keempat, sebagai ultimate goal-nya adalah kesejahteraan petani itu sendiri.

Tapi kalau misalnya konsep agropolitan dan agrobisnis ini sudah sejauh mana berjalan?

Kalau semarak dari Sabang-Merauke, belum lah. Karena kita terlalu luas. Tapi simpul-simpul mengenai suksesnya agribisnis itu ada. Agropolitan untuk satu kawasan, integrasinya, semua itu ada beberapa. Malah sudah banyak. Kalau di Jawa Tengah, ada yang dikenal dengan Suro Pandan yang ada di daerah Temanggung. Itu semacam agribisnis center. Jadi banyak eksportir yang datang ke situ, transaksi di situ, bagaimna proses menanam, handling-nya bagaimana, grading-nya bagaimana, semuanya dikasih lihat. Itu sebenarnya bisa dikatakan ruang pamer besar yang sifatnya live. Itu banyak dicontoh. Banyak sekarang petani-petani seperti di Jateng, yang sudah bisa akses ke Carrefour atau yang lain dalam kelompok-kelompok. Dan mereka lebih sejahtera, karena kan pasarnya jadi sangat menjamin.

Kalau inti plasma, sekarang konsepnya sudah sejauh mana?

Banyak ya contohnya. Ada yang partnership. Ada yang fully partnership. Artinya kemitraan penuh. Si inti memberi fasilitas. Yang punya lahan tetap petani, yang menggarap dan mengelolanya juga petani, tapi sarana produksinya seperti benih, pupuk, dsb dari si inti. Nanti, setelah hasilnya ada, si inti juga berfungsi sebagai off taker. Dia menjadi pembelinya juga. Ini yang paling ideal, posisi tawarnya sama, harga ditentukan di awal, bahwa nanti kalau petani bisa melakukan ini dengan disiplin dan melaksanakan good agriculture practices, petani tersebut akan dapat harga premium, inti berjanji akan membeli. Jadi kan enak.

Kalau dulu kita mengenal ada Bimas, tadi Bapak juga menyebutkan ada bank pertanian, itu sebenarnya berapa serius sih, dan kalau memang nanti ada, itu akan seperti apa konsepnya?

Ya tetap cita-citanya kalau memungkinkan ada lah ya. Pada kondisi sekarang sih belum ya. Tetapi paling tidak ada mandatori bagi bank untuk membentuk divisi pertaniannya sendiri.

Bank pelat merah ya Pak?

Iya harus bank pelat merah.

Jadi mereka kasih kredit begitu Pak?

Artinya fokus untuk membantu petani.

Rusman

Apa target dan rencana ke depan?

Swasembada beras bisa tercapai 2014. Kalau daging sapi yang terus-menerus diributkan itu, saya masih pesimis. Mungkin 2014 belum tercapai. Tapi kami tetap berusaha. Jagung, kita sudah swasembada. Gula kristal putih untuk konsumsi (gula pasir) juga sudah swasembada. Yang ragunya paling banyak sebenarnya kedelai. Karena ada lima komoditas yang ditargetkan untuk swasembada yaitu, beras, jagung, kedelai, daging sapi, dan gula pasir. Tinggal dua ini saja yang belum tercapai. Yang paling dalam pesimisnya adalah kedelai ini.

Kenapa?

Kan baru-baru saja kedelai ini ditentukan HPP-nya, karena selama ini, banyak petani yang tadinya menanam kedelai, dia tinggalkan karena memang tidak punya prospek terhadap harganya. Kalau dia berharap harganya Rp 7.000, tapi kalau sedang panen, tengkulak atau pembeli hanya mau bayar Rp 4.000. Rp 4.000 itu bukan siap untung, tapi siap rugi.

Tapi sejauh ini masih Jawa atau Sumatera yang menjadi penyumbang terbesar industri pertanian pangan ini?

Masih Jawa. Jauh itu. Lebih dari 60%. karena walaupun Jawa paling sempit lahannya, tapi untuk pertanian, Jawa memang paling tua usianya. Irigasinya juga paling bagus. Jadi walaupun tidak seluas daerah lain diluar Pulau Jawa, tapi produksinya tetap menjadi yang terbesar.

Leave a Reply

1 thought on “Rusman Heriawan: Petani Kita Hanya Jago Off Farm”

Dear SWA, Saya mau bertanya, sebenarnya petani kita hanya jago "on farm" atau "off farm"? Soalnya, judul dan isi paragraf pertama sepertinya tidak konsisten.
by fajar, 24 Jul 2013, 09:12

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)