SamWon Group, Asa Albert Populerkan Kuliner asal Korea

Orang asli Indonesia mungkin sangat jarang atau bahkan ogah mencicipi masakan asal Korea. Ada sejumlah persepsi miring di masyarakat tentang kuliner asal Negeri Ginseng ini, antara lain, harganya mahal, mengandung babi sehingga tidak halal, dan rasanya aneh sehingga tidak cocok di lidah orang Indonesia. Namun, justru ini yang membuat Albert Sentosa kian mantap ingin membuka usaha masakan asal Korea. Di bawah bendera SamWon Group, pria yang pernah menjalankan bisnis jok kulit mobil ini punya tekad kuat untuk mempopulerkan kuliner asal Korea di Tanah Air.

Ia bukan ikut-ikutan demam Korea saat membangun SamWon di tahun 2010. Kala itu, K-Pop memang belum booming di Tanah Air. Banyaknya boyband dan girlband yang meniru gaya artis asal Korea memang baru muncul di tahun 2012. Nama SamWon yang dipilih juga tak punya arti khusus. “Hanya nama biasa saja. Bukan nama tokoh atau sosok tertentu di Korea. Ya, seperti nama panggilan Budi atau nama yang umum lainnya di Indonesia. Samwon adalah nama panggilan yang sudah akrab di telinga masyarakat Korea,” ujarnya.

Albert memang penyuka kuliner dari banyak negara. Saat kuliah di Australia, ia sudah mencicipi aneka masakan mancanegara. Maklum, penduduk di Negeri Kangguru heterogen. Hampir semua bangsa di dunia ada di sana sehingga penduduk aslinya malah menjadi minoritas. Ia merasa cocok di lidah saat mencicipi masakan asal Korea dan Jepang. “Saat pulang, sudah banyak kuliner asal Jepang di Indonesia. Sebaliknya, masakan Korea belum banyak. Jadi, prospeknya bakal bagus,” katanya.

albert Albert Sentosa, Owner SamWon Group

 

Berbekal pengalaman magang di restoran besar semacam KFC dan McDonald's saat menimba ilmu di Negeri Kangguru, Albert bertekad membangun usaha masakan asal Korea di Tanah Air. Ia tak ragu meski kedua orang tuanya tak ada yang pernah berbisnis di bidang kuliner. Langkah pertamanya adalah menggandeng tiga koki berpengalaman dan pernah menetap di Korea selama 20 tahun. “Jadi, mereka paham betul dengan resep dan konsep menu masakan khas Korea. Kami juga fokus menghadirkan masakah dengan cita rasa yang mengadopsi rasa internasional,” ujarnya.

Untuk mengubah perspektif miring di masyarakat tentang masakan asal Korea, SamWon menawarkan harga yang terjangkau antara Rp30-40 ribu per porsinya. Daging yang digunakan juga bukan daging babi agar masakannya halal dan bisa diterima masyarakat. Rasanya pun, kata Albert, disesuaikan dengan lidah masyarakat Indonesia. “Urusan untung saat itu masih nomor dua. Kami memperkenalkan dulu resep dan konsep kami pada masyarakat. Total investasi yang kami keluarkan sekitar Rp1,5-2 miliar, paling besar untuk desain interior sekitar Rp1 miliar,” katanya.

Upaya Albert berbuah manis. Untuk SamWon House (restoran), saat ini omsetnya rata-rata Rp 350-400 juta perbulan. Sementara, omset SamWon Express (fastfood) mencapai Rp 150 juta perbulan dan K-Drink SamWon (minuman bubble) sebesar Rp 100 juta perbulan.

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)