Sentuhan Atiek Memoles Trans Media

Atiek Nur Wahyuni Atiek Nur Wahyuni, Presiden Direktur Trans Media

Sulit mengelak bila ada yang menyatakan kiprah Trans Media Group dalam lima tahun terakhir cukup fenomenal. Tilik saja: TransTV melaju sebagai stasiun ber-positioning kuat di segmen hiburan. Lalu, TV7 ( menjadi Trans7) yang mereka akuisisi dari Kelompok Gramedia juga disulap hingga melesat fantastis. Kemudian, memasuki bisnis online dengan mengakuisisi Detik.com yang sudah lama dikenal sebagai portal yang menguntungkan. Berangkat dari nol, Trans Media bukan lagi new kid on the block, tetapi sudah menjadi big icon bisnis media di Indonesia.

Tak banyak yang tahu, seorang wanita berperan kuat di balik melesatnya Trans Media. Dia adalah Atiek Nur Wahyuni, Presiden Direktur Trans Media. Bagi orang dalam di Trans Media, Atiek sebenarnya bukan nama baru. Bila dihitung hingga saat ini, tak kurang dari 12 tahun dia bekerja di kelompok bisnis Trans Corp milik “Si Anak Singkong”, Chairul Tanjung. Hanya saja, karena bekerja di divisi bisnis (iklan), dia memang tak sepopuler para petinggi TransTV yang berkutat di dunia program (konten acara). Padahal, sosok wanita ini perannya sangat sentral, yakni sebagai Direktur Pemasaran & Penjualan Trans TV.

Salah satu prestasi paling fenomenal Atiek terjadi saat Trans Corp mengakuisisi TV7 milik Kelompok Gramedia tahun 2006 – pada 2007 diubah namanya menjadi Trans7. Tahun pertama saat TV7 menjadi milik Trans Corp, Atiek menjabat Wakil Presiden Direktur, mendampingi Chairul Tanjung, yang biasa disebut CT, sebagai Presdir. Namun, hal itu hanya berlangsung setahun karena setelah itu CT langsung memercayakan posisi Presdir TV7 ke Atiek.

Di Trans7, sentuhan tangan dingin Atiek bekerja. Di tahun-tahun sebelumnya, saat masih di bawah kendali manajemen Kelompok Gramedia, Trans7 selalu merugi, dan setahun dipegang Trans Corp langsung untung. Melalui berbagai upaya yang dilakukan, pendapatan penjualan meningkat signifikan. Jangan heran, mulai 2007, Trans7 berhasil menjadi perusahaan yang selalu menghasilkan laba.

Ya, dalam masa kepemimpinannya, periode 2007-12, Atiek berhasil membangun budaya kerja yang solid dan sehat. Hasilnya, kinerja Trans7 terus meningkat dari tahun ke tahun, baik dari sisi audience share (jumlah penonton) maupun revenue. Di tahun 2012, Trans7 bahkan berhasil mencapai peringkat ke-3 dari sisi audience share. Prestasi itu bagi dunia pertelevisian sangat menonjol karena saat diakuisisi, market share Trans7 hanya 5,8% dan berada di urutan 8 dalam peta pertelevisian nasional.

Karuan saja, tak lama setelah Wishnutama Kusubandio mundur dari jabatannya sebagai Presdir TransTV, April 2012, CT langsung memercayai Atiek untuk merangkap posisi Presdir TransTV. Demikian juga saat Trans Corp mengakuisisi Detik.com dari Abdul Rachman dkk, CT langsung menempatkan Atiek di posisi Direktur Pemasaran & Penjualan Detik.com. Posisi Atiek di bisnis Trans Media pun menjadi sangat sentral. Kini tantangan terbesar Atiek: meningkatkan kinerja ketiga lini bisnis yang menjadi tanggung jawabnya.

Atiek Nur WahyuniBila dilihat satu per satu, tantangan yang dihadapi Atiek di tiap-tiap perusahaan itu memang berbeda. Di Trans7 yang mulai dia jalankan tahun 2007, misinya melakukan turnaround. Membalikkan dari yang dulu rugi menjadi menguntungkan. Tentu saja, itu bukan pekerjaan gampang karena selama lima tahun berturut-turut sejak kelahirannya, TV7 terus merugi. Atiek dan timnya saat itu langsung melakukan pemetaan SDM dan persoalan yang dihadapi. “Kami lakukan SWOT. Kekuatan kami di mana, bagaimana pola marketing yang sudah dijalankan, sistem administrasinya, apa yang harus di-upgrade, dan sebagainya,” papar lulusan Manajemen Universitas Trisakti tahun 1988 ini.

Waktu itu, aspek penting yang dijalankan antara lain pemilihan SDM. Langkah yang diambil Atiek cukup mengagetkan karena dia melakukan assessment kembali terhadap SDM yang mengisi posisi-posisi penting di Trans7. Artinya, ada yang harus dipindahkan ke divisi lain, tetapi ada juga yang harus digeser naik (dipromosikan) dan diberi tantangan. ”Kami akan speed up, lalu SDM kami petakan. Hasilnya ada 50% yang masih bisa dipertahankan. Saya katakan ke komisaris, dalam enam bulan ke depan, bila 50% masih bisa bersama saya, itu sudah bagus,” ujar Atiek yang bergabung dengan TransTV sebagai Kepala Divisi Pemasaran & Penjualan di tahun 2000.

Diakui Atiek, pekerjaannya di Trans7 sanggat menantang karena dia benar-benar menciptakan budaya baru. Ya, dilihat dari budaya perusahaan, berbeda total dari sebelumnya. Salah satu pilar terpenting dari budaya baru yang dia bangun adalah kedisiplinan. Tentu, pekerjaan ini tak mudah karena secara kultur antara Trans Corp dan Gramedia berbeda. “Bayangkan, ibarat orang yang tadinya bisa tidur-tiduran tiba-tiba harus berlari, bahkan ada yang sampai terjungkal-jungkal,” Atiek menggambarkan. Pada akhirnya, tim yang dipakai untuk membenahi Trans7 merupakan gabungan antara tim TransTV dan Trans7. Strategi itu cukup efektif sehingga di tahun 2007 pertumbuhan tahunan Trans7 bisa mencapai 70%. Dari sisi audience share, revenue dan profit naik, bahkan bisa menyaingi TransTV. Dari situlah akhirnya CT memberikan keleluasaan kepada Atiek untuk memimpin dan menjalankan bisnis Trans7.

Kini tugas yang diemban Atiek tentu saja lebih berat karena sejak Oktober 2012 juga harus memimpin TransTV serta membantu meningkatkan kinerja bisnis Detik.com. Khusus untuk TransTV, persoalannya cukup unik. Stasiun teve ini mengalami penurunan dari sisi audience share dalam tiga tahun terakhir sekalipun dari sisi billing iklan, kondisinya masih bagus. “Ini tidak gampang. Kalau TV7 lebih jelas, dari nomor 8 diminta dinaikkan. Kalau TransTV dari ranking 3 turun ke 5 dan diminta mengembalikan ke posisi semula atau lebih baik,” ungkap wanita yang mulai menempati pos Direktur Pemasaran & Penjualan TransTV tahun 2005 ini.

Strategi Atiek di TransTV tak berbeda jauh dengan yang pernah dilakukannya di TV7 dulu. Tahap pertama, menata organisasi. “Prioritas saya memetakan organisasi. Memang organisasi hanyalah alat, vehicle, tetapi kalau tidak didukung struktur organisasi yang tepat, pasti larinya kurang cepat juga,” mantan Manajer Penjualan RCTI ini memberi alasan. Dia memberi contoh, ada bebeberapa system operating procedure (SOP) yang diubah agar karyawan lebih produktif, efektif dan efisien. “Kalau ada yang perlu diubah, akan kami ubah,” lanjut Atiek. Program reorganisasi sudah dilakukan sejak Oktober 2012.

Strategi reorganisasi itu juga dijalankan karena dalam setengah tahun terakhir TransTV kehilangan sejumlah orang kunci yang mengundurkan diri. Atiek mengakui, sebagai konsekuensi dari program-program bagus yang dihasilkan, akhirnya banyak SDM TransTV yang dibajak perusahaan lain. “Orang-orang kami laku di pasar. Kadang-kadang mereka ambil orang kami sampai bedol desa. Bahkan, ada sebuah stasiun teve yang mengambil SDM kami dua kali bedol desa,” katanya. Termasuk di antara yang keluar ini ialah bagian produksi (program). Tak mengherankan, pihaknya kini harus menata ulang agar bisa berkompetisi dengan baik.

Selain SDM, salah satu prioritas yang ditata ulang di TransTV adalah memperbaiki program. “Objektif kami, ke depan TransTV bisa di peringkat 3 lagi,” kata Atiek. Dalam analisisnya, penyebab turunnya audience share TransTV antara lain kurang cepat dalam meremajakan program. “Kami harus lebih disiplin merejuvenasi sebuah program,” lanjutnya. Dia memberi contoh acara Bukan Empat Mata, dulu audience share-nya pernah mencapai 20% kemudian turun menjadi 4%. Namun dalam beberapa bulan terakhir, setelah ada beberapa perbaikan, bisa naik lagi menjadi 10%-14%.

Sebelum orang menjadi bosan, kami harus terus meremajakan program. Program itu laiknya sebuah brand. Harus diberi sesuatu yang baru agar tambah kuat. Harus di-improve terus,” Atiek menceritakan hasil evaluasinya. Maka, untuk itu, tiap hari dia selalu memantau audience share semua acara Trans TV -- bahkan juga Trans7. “Kalau ada acara yang turun, biasanya saya langsung adakan meeting ad hoc dan tanya bagian programming.”

Sekarang, berhubung Atiek tak hanya mengurusi bisnis di satu unit usaha -- tetapi tiga unit (TransTV, Trans7 dan Detik.com) -- dia sangat berkepentingan mengintegrasikan alias membangun kolaborasi antar-unit bisnis. Untuk itu, yang harus dibangun terlebih dulu, menurutnya, adalah sistem kerja dan budaya kerja. Walau masing-masing punya target audiens, kultur yang dibangun harus sama, yakni disiplin, militan dan kerja keras.

Adapun bidang-bidang yang dikolaborasikan sebenarnya bisa beragam. Atiek kemudian menunjuk contoh di Detik.com. Sejauh ini kolaborasi sudah terjadi di bagian pemasaran dan penjualan, juga bagian programming. Untuk bagian programming, sudah ada konten di Detik.com yang dibuat menjadi acara di TransTV. Lalu, untuk bagian pemasaran, saat ini orang penjualan di TransTV dan Trans 7 sudah banyak yang ditempatkan di Detik.com untuk menjadi mentor, khususnya untuk posisi group head. “Mereka mengajarkan cara menjual dan juga melakukan mentoring. Kami jalankan pelatihan dan kolaborasi dengan sistem mirroring. Teman-teman Detik.com bisa belajar dari anak-anak TV,” kata Atiek.

Atiek Nur WahyuniKolaborasi juga dilakukan dengan memperbantukan staf antar-unit usaha. Atiek mencontohkan karyawan yang mendampimginya saat wawancara dengan SWA, Anita Wulandari, Head of Marcomm Trans7. “Anita, walaupun secara struktur ada di Trans7, juga membantu marketing communication Detik.com. Dia kadang juga diperbantukan pada acara-acara Carrefour. Dia akan me-manage-nya tanpa mengganggu tugas rutinnya. Kami terbiasa menangani beberapa pekerjaan dari unit-unit bisnis Trans Corp,” Atiek menerangkan.

Hal yang sama juga terjadi pada diri Atiek. Pada saat memimpin Trans7, dia juga harus menangani penjualan TransTV. “Kuncinya, kami tidak bekerja sendiri. Sebetulnya Pak CT melihat leadership dari situ. Bagaimana kami bisa memilih orang-orang yang tepat untuk membantu kami dan bisa bekerja sama secara maksimal, mengolaborasikan teman-teman dari unit yang berbeda untuk menghasilkan goal yang bagus,” dia memaparkan. Atiek mengibaratkan dirinya seorang dirigen, harus bisa mengolaborasikan orang-orang dengan nada yang berbeda untuk menghasilkan suara yang indah. “Karyawan kami terbiasa bekerja multitasking dan berkolaborasi dengan anak-anak usaha,” kata Anita.

Ke depan tentu saja pola-pola integrasi dan kolaborasi antar-unit akan semakin banyak terjadi. Atiek mencontohkan integrasi di organisasi penjualan (iklan). Sampai saat ini masing-masing stasiun (TransTV dan Trans7) punya tim penjualan yang berjalan sendiri-sendiri. “Sebentar lagi akan kami gabung supaya sinergis,” katanya. Nantinya mereka menjadi tim penjualan & pemasaran Trans Media sehingga seorang manajer pemasaran sebuah produk yang akan ditawari iklan tidak akan didatangi oleh dua tim yang terpisah seperti sekarang. “Nanti yang datang juga satu GM atau satu head. Hanya AE-nya yang dua agar bisa menjelaskan masing-masing programnya. Ini juga akan lebih simpel,” kata Atiek.

Dia menceritakan sebenarya pekerjaan mengolaborasikan tersebut merupakan rencana kerja yang akan direalisasikan mulai Januari 2013, bagian dari visi menuju Trans Media Corp. “Nantinya, target kami adalah target grup, jadi sudah mencakup dua stasiun. Cara ini akan menolong unit yang kondisinya kurang baik. Demikian juga dari sisi tim, tidak ada tim yang lemah dan kuat. Karena, semuanya harus berlari dengan kecepatan yang sama," katanya.

Bila penggabungan tim penjualan TransTV dan Trans7 sudah terealisasi, akan segera disusul media yang lain seperti Detik.com. “Diupayakan kami bisa menjual one stop shopping. Tetapi, tidak harus bundling. Misalnya, paket siaran La Liga Spanyol di Trans7, lalu juga dibuatkan programnya di Detik.com. Ini sudah berjalan,” tambah Atiek. Contoh lain, ada kanal di Detik.com yang dibuatkan programnya di Trans7. Misalnya, kanal jodoh di Detik.com dibuatkan programnya di TransTV dengan nama acara Mencari Cinta, ditayangkan setiap Sabtu.

Kendati demikian, tiap-tiap unit tetap mempunyai karakter berbeda sesuai dengan genrenya. Dia menyebut Trans7, kekuatannya ada pada program-program berita dan Opera van Java. “Dari siang sampai sore program news, sedangkan dari sore sampai malam adalah program-program hasil tim produksi, dan malamnya program hiburan komedi,” Atiek menjelaskan. Adapun TransTV sekarang lebih banyak program FTV dan komedi di siang hari, sementara tengah malam acara-acara film.

Atiek mengakui, pasti ada kalanya akan terjadi program yang saling bersinggungan. “Secara garis besar, di kedua teve itu dibuat patokan: dari pagi sampai pukul 12 siang adalah acara female house wife. Lalu, setelah agak sore programnya ditambah dengan kehadiran segmen teenager dan kids yang baru pulang sekolah. Sedangkan sore sampai malam, itu untuk keluarga,” paparnya. Yang pasti, agar terus bisa menelurkan program yang bagus, di Trans Media ada sebuah tim yang dinamai Program Committee yang tugasnya menentukan apakah sebuah program layak tayang atau tidak.

Terlepas dari pengembangan program dan kolaborasi yang akan dilakukan, Atiek melihat pekerjaan yang sangat krusial tetap saja membangun kultur yang positif dan militan. Untuk itu, sangat penting baginya merekrut SDM dari bibit yang baik agar lebih mudah dibentuk kulturnya. “Bibit yang baik bila diajari hal yang baik akan jadi cemerlang. Kuncinya pada rekrutmen,” katanya. Saat ini dia juga tengah sibuk mencari leader yang bisa meng-groom grupnya secara objektif. Dengan kata lain, mengembangkan kepemimpinan di internal organisasi.

Atiek yakin dalam memimpin sebuah organisasi, pengetahuan teknis penting, tetapi sisi leadership dan managerial skill lebih dibutuhkan. Dia belajar dari pengalamannya sendiri saat mengembangkan Trans7. Dia harus membawahkan semua divisi: programming, produksi, news, dll, sementara dia tak menguasai sisi teknis. “Dari sisi manajerial, kita harus memimpin mereka, membuat objektif, menentukan prioritas dan langkah-langkah yang harus didahulukan. Tak mungkin kita memimpin perusahaan hanya dari technical skill,” pesan wanita yang selalu memberi tantangan pada dirinya sendiri dalam berkarier ini.

Ke depan, selain punya target meningkatkan penjualan, Atiek juga ingin memperkuat kultur. “Saya ingin semua orang lebih solid, komunikasi antardepartemen lebih lancar, dan berpikir positif. Ini sepertinya klise, namun memang paling penting. Komunikasi harus optimal agar bisa membangun suasana positif,” dia menjelaskan rencananya.

Unsur budaya seperti itu jelas sangat penting, apalagi Trans Media tampaknya akan sangat ekspansif. Bila ekspansi tidak berjalan dengan budaya perusahaan yang kondusif, hasilnya tentu tak akan maksimal. CT menegaskan, kini pihaknya baru masuk di dua bidang bisnis informasi, yakni bisnis free to air (TransTV dan Trans7) dan online (Detik.com). “Nanti kami juga akan masuk ke TV kabel dan jenis media yang lain. TV digital kami sudah coba. Pokoknya, semua media akan kami kembangkan. TV kabel sudah kami dapatkan lisensinya,” ungkap CT.

Sementara itu, tentang dipiihnya Atiek sebagai Presdir TransTV, Ishadi, Presiden Komisaris Trans Media, melihat karena CT ingin mengambil dari orang dalam. “TransTV dan Trans 7 itu dikembangkan secara spesifik. Bisnisnya spesifik, manajemennya spesifik, tak mungkin kami ambil dari luar,” ungkap Ishadi. Bahwa kemudian CT menunjuk Atiek, karena itu memang alternatif terbaik dan tidak ada alternatif lain. “Sebenarnya, beliau sudah lama pegang ketiga media ini (TransTV, Trans7 dan Detik.com) secara bisnis. Orangnya gigih, strong leader dan tahu mengenai bisnisnya very much,” Ishadi memuji.

Pemerhati bidang manajemen Lilik Agung melihat Atiek sebagai sosok yang akan mampu mengembangkan budaya disiplin, kerja keras dan militan di Trans Media sebagaimana sudah dibuktikan di Trans7. “Program, teknologi, sistem bisa diperoleh dan dijiplak dari luar. Yang tidak akan pernah bisa didapatkan dari luar yaitu SDM yang memiliki disiplin tinggi, selalu bekerja keras dan punya militansi luar biasa untuk kemajuan. Saya merasakan sendiri kondisi ini. Pukul 7 malam saya pernah memulai meeting dengan divisi SDM. Padahal, biasanya orang SDM di lain perusahaan tidak akan kerja sampai jauh malam dibanding divisi operasional,” ungkap Lilik. Selain itu, Trans Media juga menciptakan ruang bagi karyawan untuk berpikir kreatif dan bertindak inovatif walaupun akibatnya banyak juga karyawannya yang dibajak perusahan lain.

Langkah yang perlu dilakukan selanjutnya, menurut Lilik adalah integrasi kultur dan struktur. Integrasi kultur dimulai dari integrasi nilai-nilai perusahaan. “Ketika semua karyawan Trans Group sudah sama nilai-nilainya, manajemen akan mudah mengintegrasikan sistem, strategi ataupun struktur model bisnis Trans Group,” demikian pesan Lilik. Sementara kolaborasi bisa dilakukan melalui pengembangan karyawan, baik itu sisi soft skill (kepemimpinan, motivasi, karakter) maupun hard skill (teknis), juga kolaborasi karyawan kompeten (ahli), misalnya dengan merangkapkan jabatan, sampai pada kolaborasi pemasaran.

Melihat rekam jejaknya, boleh jadi pola-pola seperti inilah yang akan dilakukan Atiek. Dan, publik tentu menunggu sampai sejauh mana sentuhan magisnya akan bekerja.(*)

Sudarmadi

Reportase: Siti Ruslina

Riset: Armiadi Murdiansah

Langkah Atiek Mengintegrasikan Trans Media

  1. Membangun kultur positif dan militan

  2. Menempatkan orang-orang penjualan TV di posisi-posisi group head Detik.com

  3. Membiasakan karyawan bekerja multitasking, membantu pekerjaan di unit bisnis lain

  4. Mereorganisasi tim penjualan menjadi satu tim yang mulai diwujudkan pada Januari 2013

  5. Mengembangkan leadership dan managerial skill di internal organisasi

  6. Mengolaborasikan program antarmedia di grup

  7. Memberikan pelatihan on job dengan pola mirroring bagi karyawan lintas-unit usaha

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)