Stephanie Yoe Memulai Karier di Usia 19 Tahun

Di usianya yang ke 24, Stephanie A. T. Yoe, menduduki beberapa posisi di beberapa perusahaan. Selain menjadi Business Development Manager di Blibli.com, ia juga menjadi Founding Partner & CEO di Appstrak, sekaligus menjadi Babson Global Ambassador of Indonesia. Sejak SMA, Stephanie rajin menjadi pegawai magang di perusaahan untuk merasakan dan mengetahui karir apa yang ia inginkan. Perjalanan karirnya dimulai dari usia 19 tahun, ketika ia menjadi Co-Founder dan CEO di www.blendsallure.com, sebuah e-commerce yang menjual syal kepada konsumen di pesisir barat dan timur di Amerika Serikat sekaligus kepada konsumen B2B. Kemudian, ia bergabung dengan perusahaan manajemen database, EMC, di bagian marketing dan keuangan. Setelah lulus dari Babson College jurusan kewirausahaan spesialisasi di high-tech dan pemasaran, ia bergabung dengan perusahaan M&A di Boston, MA sebagai analis.

swa3

Karena OPT (Optional Practical Traning) nya saat itu sudah habis dan visa H1B susah didapat karena krisis di Amerika, ia mendapat pengalaman berjualan langsung dari pintu ke pintu untuk menjual Verizon Fios sebelum kembali ke Jakarta. “Aku ketuk satu persatu pintu di perumahan, tiga puteran sehari, untuk menawarkan Fios atau beralih dari Comcast ke Fios. Capek dan panas sekali, tapi itu merupakan pengalaman yang sangat berharga buat aku karena aku belajar cara dan bagaimana berjualan secara langsung,” ujar perempuan cantik kelahiran 17 Juni 17, 1991 ini.

Setelah OPTnya habis, Stephanie terbang ke Shanghai untuk belajar bahasa Mandarin. Namun, baru beberapa bulan, ia dipanggil oleh Babson College untuk membantu partner Babson College sebagai bagian dari tugas dari Babson Global Ambassador of Indonesia . Salah satu tanggung jawabnya adalah untuk mengenalkan ide baru, strategi inovatif di departmen pemasaran, dan membantu untuk menciptakan suasana yang nyaman dan seru di Podomoro University. Ia juga bertanggung jawab dalam mengurus komunitas alumni Babson di Indonesia. Sejalan dengan tugasnya sebagai Babson Global Ambassador of Indonesia, Stephanie mendirikan media digital, Jakarta City Life (JCL) yang mengulas seputar gaya hidup, event, dan tempat wisata di Jakarta. “Sayangnya, saat ini JCL sedang berhenti beroperasi. Selain mengurusi JCL saat itu, aku juga membantu beberapa venture capitalist dari Silicon Valley untuk mengerti dan masuk ke pasar Indonesia sekaligus memberi konsultasi mengenai gambaran perkembangan teknologi di Indonesia. Sebaliknya, aku juga belajar banyak sekali dari mereka. Karena aku sering bertemu dengan para venture capitalist baik di Asia Tenggara maupun Amerika, Peng T. Ong, Founder dan CTO di Match.com dan Venture Partner at Monk’s Hill’s Ventures, Anis Uzzaman, CEO Fenox Venture Capital, Kusumo Martanto, COO GDP Ventures and CEO Blibli.com, Mr. Martin Hartono, CEO of GDP Ventures menjadi mentorku. Mereka mengajarkan aku banyak tentang kehidupan, mengenai perusahaan rintisan dari sisi venture capitalist dan teknis secara lebih mendalam dan menjadi entrepreneur yang lebih baik, ” jelasnya.

Baru-baru ini, ia dan tim membuat Appstrak, sebuah web/platform dan mobile apps development dan venture builder yang dikenal sebagai “start-up friendly” karena harganya, reabilitasnya dan kualitasnya yang terjangkau. Misi utamanya adalah untuk membuat tech start-ups yang mengedepankan transparasi ke masyarakat dan membuat masyarakat hidup lebih baik, cepat,dan efisien. Pintu selalu terbuka untuk berkolaborasi dengan entrepreneur yang tidak cukup memiliki modal dan tim namun memiliki passion yang kuat, ide, dan jaringan. “Jika saya dan partner saya suka dengan orangnya dan idenya cocok dengan core valuesnya Appstrak dan jika kita melihat potensinya besar kedepan, kita akan invest waktu dan resources kita dari Appstrak in exchange for equity, dan kita akan bantu start up itu untuk ‘bootstrap and grow’ sampe phase Series A at the minimum”. Saat ini portofolio Appstrak meliputi Trolea.com, Cutbroker.com, AdvocaTech.com. dan portofolio lainnya akan segera diumumkan

Stephanie pernah mengikuti ajang kecantikan Putri Indonesia di tahun 2015 karena ia ingin menerapkan pengalaman dan pengetahuannya untuk mengembangkan Indonesia. “Aku lihat Miss Universe sebagai kesempatan untuk lebih ‘menjual’ pariwisata Indonesia yang nantinya akan berpengaruh kepada pertumbuhan ekonomi kita. Apalagi karena Indonesia sebenarnya sangat berpotensi menjadi Top 10 ekonomi terbesar di dunia di tahun 2030, sayang sekali kalo tidak di pakai kesempatannya. Dan juga, ini sebagai saluran saya untuk menjangkau ‘audience’ yang lebih luas agar saya bisa menginspirasi lebih banyak orang dan membuat ‘impact’ yang positif di negara ini. Aku tidak menang tapi aku dianugrahi sebagai Miss Universe Jakarta 2015/ Puteri DKI Jakarta 2015 – Top 10 in the Miss Universe Indonesia Pageant”.

Sebagai Business Development Manager di Blibli.com, Stephanie bertanggung jawab untuk mencari ide baru dan menciptakan lebih banyak lagi perusahaan rintisan yang berpotensi untuk dapat diintergrasikan dengan model dan proses bisnis saat ini. Ia juga bertugas untuk membuat proyek dan kampanye yang menarik dan inovatif untuk Blibli.com.

Tinggal dan bekerja cukup lama di Amerika membuat standar kerja Stephanie sangat tinggi. Ia mengungkapkan bahwa salah satu tantangan terbesarnya di sini adalah menemukan talent yang profesional, jujur, produktif, konsisten, dan efisien. “Berdasarkan laporan McKinsey’s Unleashing Indonesia, untuk mencapai target GDP (Growth Domestic Product) sebesar 7% pertahun, Indonesia membutuhkan produktivitas tenaga kerja yang 60% lebih cepat dibanding kecepetan produktif sebelumnya di tahun 2000-2010. Masih banyak sekali PR yang harus dikerjakan di Indonesia”. Stephanie membocorkan rahasianya untuk mencapai tujuan, yaitu selalu peka terhadap peluang dan pandai memprioritaskan hal-hal yang ingin dikerjakan. Untuk melatih kemampuannya, setiap minggu ia menjadi mentor untuk banyak wirausaha. “Aku membantu untuk membentuk konsep, bisnis model, dan juga dari sisi komersialnya. Menjadi mentor melatih kemampuan sekaligus juga memvalidisikan strategi saya sendiri. Jadinya aku parallel belajar dengan mereka,” ujarnya sambil bersemangat.

Dengan segudang aktivitas, Stephanie melepas stressnya dengan bermain piano, gitar, dan juga bernyanyi. “Aku suka menghabiskan waktu luang sendiri. Biasanya aku menonton Netflix atau ke bioskop, dan café ‘chilling’ dengan teman teman saja”.

Meski tinggal lama di luar negeri, Stephanie masih memegang paspor Indonesia dan berdedikasi untuk membuat perubahan yang positif di Indonesia. “Aku ingin membantu Indonesia berjaya di dunia teknologi sambil menginspirasikan wanita muda untuk lebih berdikari, percaya diri, sukses dan mandiri secara finansial,” tutupnya.(EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)