Street Gourmet, Resto Berjalan Besutan Tito Afrianto

Selain menjadi daerah tujuan wisata, Bandung menjadi surganya wisata kuliner yang menawarkan aneka sajian yang menggoyang lidah bagi penikmat kuliner. Kedua hal itu menjadi daya pikat bagi wisatawan yang mengunjungi Bandung. Bagi pengusaha muda, seperti Tito Afrianto, pariwisata dan kuliner adalah kombinasi bisnis yang menjanjikan. Maka, Tito bersama koleganya sejak Desember tahun lalu menggodok konsep bisnis yang mengemas pariwisata dan kuliner dalam satu paket.

Tito AfriantoBisnisnya itu diberi nama Street Gourmet. Tito merupakan salah satu pendiri dan pemilik saham mayoritas di perusahaan yang mengelola Street Gourmet, yakni PT Trinity. Street Gourmet dibesut Tito bersama 6 rekannya, di antaranya dua pemain sepak bola nasional, yaitu Tony Sucipto (Persib Bandung) dan Airlangga Sucipto (Semen Padang). “Saya membuat bisnis ini karena melihat potensi bisnis kuliner, transportasi dan pariwisata di Bandung masih akan berkembang,” ungkapnya.

Tito dkk. membesut Street Gourmet dengan menawarkan paket tur mengelilingi Bandung sekaligus menyantap aneka kuliner Indonesia, Jepang dan Eropa yang dimasak di dalam bus oleh para juru masaknya. “Konsep Street Gourmet ini memang baru untuk kuliner, karena kami lebih menawarkan sensasi baru untuk menikmati keindahan Bandung sambil menikmati hidangan yang kami sajikan di atas bus ini,” dia menjelaskan. Yuswohady, pengamat pemasaran dari Inventure, menilai, bisnis kuliner yang inovatif tumbuh subur dalam beberapa tahun terakhir.

Gagasan Street Gourmet dipetik Tito dari pengalamannya mengarungi bisnis kuliner dan jasa menyewakan bus pariwisata. Ia memiliki beberapa perusahaan, semisal Trinity Promotion & Advertising, MR Komot Cafe & Cake Shop, dan Surya Gemilang Tour & Travel. Kemudian, dia mematangkan konsep dan model bisnisnya, serta mencari berbagai referensi di Internet. Ia menemukan konsep Street Gourmet mirip di Prancis atau Spanyol, seperti yang ditontonnya di YouTube.

Lalu, Tito selama dua bulan menggodok konsepnya tersebut agar semakin matang. Kemudian, ia memberanikan diri untuk memulai bisnis Street Gourmet pada Juni 2015. Ia menggelontorkan dana hingga Rp 1,2 miliar untuk memodali bisnis patungannya itu. Sumber pendanaannya berasal dari keenam rekannya. Dia membelanjakan modalnya untuk berbagai keperluan, semisal membeli bus dan mendandani interior layaknya restoran premium.

Hasilnya adalah bus restoran yang bagian eksteriornya didominasi warna hitam, dan diberi aksen warna keemasan bertuliskan Street Gourmet. Bus itu diklaimnya sebagai bus restoran pertama di Indonesia. Busnya menempuh perjalanan menyusuri daerah wisata dan bersejarah di Bandung. Bus diberangkatkan setiap tiga jam sekali yang dimulai pada pukul 09.00 WIB. “Saat ini, kami masih bertahan dengan satu bus dengan tetap mempertahankan frekuensi perjalanan 4-5 trip per hari, mungkin di satu sisi hal ini untuk menjaga eksklusivitas bisnis Street Gourmet,” ungkap Tito lagi.

Tur wisata kota dan kuliner ini beroperasi setiap hari dengan durasi perjalanan 1,5 sampai 2 jam. Kecepatan rata-rata bus hanya 30 km/jam agar para tamu merasa nyaman menyantap makanan sambil menikmati panorama Bandung. Kapasitas tempat duduknya sebanyak 24 kursi dan dilengkapi fasilitas lainnya, seperti Wi-Fi, pemandu wisata dan mesin pendingin ruangan yang memanjakan para tamu.

Street Gourmet menawarkan dua paket menu. Paket yang pertama dibanderol Rp 300 ribu untuk dua orang, dan paket kedua tarifnya Rp 600 ribu untuk empat orang pengunjung. Menunya terdiri dari menu pembuka, utama dan penutup. Respons konsumen sangat positif. Setiap bulan, bus Street Gourmet rata-rata disesaki 970 orang. Omsetnya, disebutkan Tito, mencapai Rp 7 juta per hari. Apabila dihitung dalam sebulan, pendapatannya sekitar Rp 210 juta. “Kami membidik wisatawan lokal dan asing sebagai target pasar,” ucap Tito. Dia mempekerjakan 15 pegawai yang ditugasi mengoperasikan Street Gourmet.

Yuswohady mengingatkan pengelola Street Gourmet untuk fokus pada konten dan konteks bisnisnya agar bisnisnya terus berkesinambungan. Dalam bisnis kuliner, menurut Yuswohady, kelezatan menunya menjadi konten utama, sedangkan unsur konteksnya adalah berkeliling Bandung dengan bus. Berdasarkan pengamatannya, bisnis yang konteksnya unik tetapi mengabaikan kontennya, rata-rata gulung tikar hanya dalam satu tahun saja. “Jika yang difokuskan pada konteksnya, bisa jadi orang hanya sekadar ingin tahu. Sebaliknya jika konten yang akan ditonjolkan, harus benar-benar memperhatikan rasa dan kualitas makanannya,” ujar Yuswohady.

Maka, Tito meracik berbagai resep bisnis agar laju Street Gourmet semakin menanjak. Resep yang pertama adalah menawarkan pengalaman baru bagi konsumen, serta mempromosikannya melalui Tony dan Airlangga. Yuswohady menambahkan, cara Tito menggandeng pemain sepak bola sebagai tim promosi bisa meningkatkan promosi getok tular (word of mouth) yang dampaknya terasa dalam jangka pendek. “Nah, untuk long-term-nya, Tito harus memperhatikan unsur kontennya,” dia menyarankan.

Ke depan, Tito berencana menambah armada busnya dan membuka cabang di kota lain. Hingga saat ini, Tito fokus mengamati dan mengevaluasi bus yang sudah dioperasikannya itu.

 

Vicky Rachman & Syukron Ali

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)