Duet Erwin - Becky Besarkan Talk Inc

Kelahiran Talk Inc dibidani oleh Erwin Parengkuan dan Rebbeca “Becky” Tumewu, seusai kerja bareng sebagai presenter televisi. Merasa punya banyak pengalaman di dunia komunikasi, akhirnya kedua presenter kondang itu membesut Talk Inc, sebagai wadah untuk berbagi pengalaman bagi mereka yang ingin mengarungi karier di dunia komunikasi, sebagai MC atau presenter.

Pada awal pendiriannya, jumlah siswa hanya 15 orang. Lewat WOM, muridnya berkembang hingga menjadi 2.000 orang. Klien korporatnya juga terus bertambah. Siswanya beragam, mulai dari anak-anak muda yang ingin mengembangkan diri di bidang public speaking, para artis, anggota DPR, hingga pemimpin perusahaan besar.

Bagaimana lika-liku Erwin-Becky membesarkan Talk Inc, dipaparkan Erwin kepada Ria Efriani Pratiwi berikut ini:

Erwin Parengkuan Erwin Parengkuan

Bisa diceritakan latar belakang pendirian Talk Inc?

Talk Inc berdiri enam tahun lalu ( tahun 2007). Alasan saya dan Becky (Tumewu) mendirikan Talk Inc, karena berangkat dari praktisi sebagai presenter TV dan penyiar radio, sehingga sudah punya banyak pengalaman. Pengalaman dan pengetahuan yang kita miliki lebih berhubungan dengan dunia komunikasi, terutama menaklukkan audiens, menyampaikan pesan, kepercayaan diri (confident), dan penampilan. Master of Ceremony (MC) dituntut untuk selalu tampil prima, dan penyiar radio dituntut untuk punya vokal dan confident level yang baik. Jadi, dengan pengalaman-pengalaman itu, terpikirkan untuk membangun sebuah institusi yang dapat membagikan pengalaman tersebut.

Pada waktu itu kan profesi sebagai seorang penyiar atau presenter (MC) menjadi impian anak-anak muda, karena mereka tahu kalau menjadi artis (sinetron atan film) itu sifatnya lebih temporary atau ada durasi waktunya yang lebih singkat. Tapi kalau presenter itu durasi waktunya lebih panjang. Karena presenter itu semakin banyak pengalamannya, jam terbangnya makin tinggi, kapasitasnya makin luas, maka dia akan semakin banyak digunakan berbagai pihak untuk jasanya.

Jadi, tujuan pertama mendirikan Talk Inc adalah kami ingin berbagi pengalaman yang sudah dimiliki. Lalu karena banyak juga orang yang ingin menekuni dunia broadcasting atau entertainment sebagai MC atau presenter. Seiring berjalannya waktu, kami melihat juga pada saat itu sekolah-sekolah public speaking sudah mulai ada, walaupun belum seramai sekarang. Jadi kami pikir ini nyambung atau sejalan dengan dengan komunikasi. Maka kami juga buka kelas public speaking.

Berarti memang pada waktu awal mendirikan Talk Inc, bisnis seperti ini belum banyak di Indonesia?

Ya, memang belum banyak. Cuma mungkin ini yang berbentuk institusi nonformal ya. Kalau yang formal kan sudah ada berbagai Sekolah Tinggi Komunikasi. Tapi enam tahun lalu belum ada. Meskipun pada waktu itu misalnya IKJ sudah punya, tapi kan bagiannya berbeda.

Pada awalnya, kami tidak melihat kepada sisi bisnisnya, tapi lebih kepada “the joy of sharing”. Namun dengan berjalannya waktu, kebutuhan pasar yang makin banyak, kemampuan kami makin baik, pengalaman kami makin banyak, akhirnya kami dipercaya banyak perusahaan (sebagai trainer di public speaking). Yang mana sampai saat ini sudah lebih dari 120 perusahaan yang menjadi klien kami, dalam arti kami membagikan pengalaman berkenaan dengan public speaking atau komunikasi kepada mereka. Lalu, dari awal bentuk bisnis kami ini memang sudah PT (Perseroan Terbatas).

Kenapa dulu memutuskan ingin bekerja sama dengan Becky Tumewu dalam mendirikan Talk Inc?

Jadi awalnya begini, saya membawakan sebuah program acara live di sebuah stasiun televisi bersama Becky. Terus kontraknya habis, lalu Becky ngomong ke saya, “Eh, jangan berakhir dong kerja sama kita berdua. Kita bikin sesuatu yuk bareng-bareng”. Terus saya jawab “Oke”. Karena memang kehadiran saya di dunia entertainment kan on-off; saya muncul tiga tahun dan dikenal, lalu saya menghilang karena bikin perusahaan (event organizer (EO) dan production house (PH)), terus karena itu orang pikir saya tidak muncul lagi atau mau di belakang layar saja.

Ketika krisis moneter (tahun 1998) terjadi, akhirnya saya ditarik masuk ke radio lagi, kemudian mendapatkan tawaran program TV lagi. Jadi, dalam urusan manajerial atau membangun bisnis, sebenarnya saya sudah memiliki track record sebelumnya. Nah, Becky melihat itu, selain kita juga merasa bahwa partnering kita di TV itu nyambung dan nyaman banget. Lalu saya tanya ke dia mau bikin usaha bersama seperti apa. Kalau EO, saya sudah tidak mau, karena sudah malas memulai dari awal lagi. Kalau perusahaan ekspor-impor atau handycraft, dia tidak tertarik. Kemudian saya bilang, “Bagaimana kalau kita bikin sekolah public speaking saja? Itu sekolah tempat orang jadi komunikator yang baik, dan yang ingin jadi MC atau presenter TV”. Terus katanya, “Boleh juga tuh. Ya sudah, kita bikin”. Kemudian kita bikin deh. Persentase kepemilikan kita di Talk Inc ini equal. Sampai saat ini juga tidak ada investor lain. Becky sebagai komisaris dan saya yang menjalankan semua roda bisnis dan program (managing director).

Berapa modal atau investasi awal yang dikeluarkan untuk bisnis ini?

Itu tidak banyak, dan berasal dari kocek kami sendiri. Karena ini perusahaan jasa, maka kita mulai dari kecil sekali, kelasnya cuma satu waktu itu. Dulu tempatnya di Martha Tilaar di Wahid Hasyim. Sebenarnya saya kerjasama dengan Becky sudah sembilan tahun. Tiga tahun pertama kita belum pakai brand Talk Inc, dan masih bekerja sama dengan pihak Martha Tilaar. Lalu setelah tiga tahun kontraknya berakhir dan mau diperpanjang, kami memutuskan untuk membuat brand sendiri saja. Baru kita lahirkan Talk Inc di tahun 2007, dengan modal awal mungkin hanya di bawah Rp100 juta. Sedangkan waktu dengan Martha Tilaar (modalnya) mungkin sampai Rp2 miliar, tapi ini bekerja sama dengan mereka (permodalannya). Setelah kontrak selesai, maka kami bagi keuntungan (dengan Martha Tilaar), dan kita berdua mengembangkan bisnis kita sendiri, yaitu Talk Inc.

Kalau dengan Becky sendiri, pembagian hasil atau keuntungannya bagaimana?

Talk Inc kepemilikannya itu kami berdua. Tapi saya di sini punya pendapatan tetap setiap bulan juga sebagai managing director.

Ketika mendirikan Talk Inc enam tahun lalu, kapan sudah mencapai break event point (BEP)nya?

Tahun kedua sepertinya sudah BEP deh. Ini cepat sekali.

Talk in

Berarti sampai saat ini bisnis public speaking masih menarik? Bagaimana prospeknya ke depan?

Ya, masih sangat menarik. Kalau Talk Inc sendiri, kami sedang fokus ingin menjadi institusi formal, yaitu menjadi Sekolah Tinggi Komunikasi. Ya, kita sedang mengajukan proposal pendirian sekolah tinggi itu kepada Dikti. Prosesnya saat ini sudah mendirikan yayasan, kemudian sedang mempersiapkan dokumen-dokumen legal aspect yang diperlukan untuk mendapatkan izin menyelenggarakan sekolah tinggi tersebut.

Pada awal berdiri, berapa jumlah peserta atau siswa Anda, dan sekarang sudah berapa?

Pada awal berdiri, jumlah siswa kami tidak sampai 15 orang. Mereka tahu tempat kami itu dari mulut ke mulut, dan masih satu networking dengan kami. Sekarang siswa kami sudah kurang lebih 2.000 orang (kalau dihitung dari 2007). Karena lokasi kami cuma ada di sini (Jakarta), makanya ada siswa yang datang dari luar kota, misalnya Surabaya, yang dia pakai penerbangan pagi pertama, jam 9 sudah sampai sini, lalu sore atau malam dia pulang lagi ke Surabaya.

Siswanya itu lebih banyak individu atau perusahaan?

Kami ini punya dua market. Pertama, yang di hari Sabtu adalah individu yang datang untuk meningkatkan kemampuannya dalam presentasi (presenter/MC) atau jadi public speaker. Mereka sadar datang dan membayar untuk kelas General di hari Sabtu. Pada setiap Sabtu, kami punya 7 kelas, dan itu selalu penuh. Kadang-kadang kita sampai menyewa tempat lain. Satu kelas kurang lebih ada 15 orang. Mungkin jika ditotal sejak enam tahun lalu, kami sudah punya siswa sebanyak kurang lebih 2.000 orang.

Kalau hari biasa (Senin-Jumat), kami ke perusahaan-perusahaan. Seperti tadi saya habis mengajari salah satu calon legislatif (caleg) secara privat, lalu kemarin saya mengajari CEO salah satu perusahaan juga. Besok juga akan mengajari lagi sebuah grup perusahaan, karena Departemen HRD-nya melihat kepentingan masing-masing divisi untuk diberi kemampuan komunikasi. Jadi mereka menghubungi kami untuk meminta pelatihan in-house.

Apa ada peserta pelatihan yang merupakan public figure atau selebritis?

 Banyak sekali public figure yang belajar di Talk Inc ini, baik yang masih maupun sudah pernah belajar di waktu lalu, sebut saja Tamara Blezinsky, Ryan D’Massiv, Krisdayanti, Dian Sastrowardoyo, Teuku Wisnu, Atiqah Hasiholan, Irgi Ahmad Fahrezi, Laudya Chintya Bella, Acha Septriasa, dan lain-lain. Pada akhir Juli ini kami juga akan mulai mengajar band Noah. Setiap ada kelas baru dibuka pasti ada public figure (yang jadi peserta). Mereka ini juga bergabung di kelas reguler bersama siswa-siswa yang lain. Tapi ada juga yang privat, misalnya disuruh agensinya, seperti Atiqah Hasiholan, Teuku Wisnu, dan Tamara Blezinsky.

Kalau dari perusahaan, siapa saja yang pernah ikut pelatihan dari Talk Inc?

Wah, itu banyak, dari perusahaan migas (misalnya Pertamina, Medco E&P, Exxon Mobile, PGN), perbankan (misalnya Bank Indonesia, Bank Mandiri, BNI 46, BTN), consumer goods (misalnya Unilever, Mead Johnson, Heinz ABC Indonesia, Frisian Flag), serta pemerintahan (misalnya Kementerian PU, Kedubes Australia), dan masih banyak lainnya lagi. Saya pernah mengajari Ahok (Basuki Tjahaja Purnama, Wakil Gubernur DKI Jakarta). Sekarang saya mengajari salah seorang anggota DPR. Sebentar lagi, saya juga mau mengajar seorang calon gubernur. Lalu semua CEO XL itu kami semua yang mengajari, baik dari sisi confident maupun presentasi. Itu ada 40 pertemuan dengan tujuh CEO XL, yang programnya baru habis di Januari 2013 lalu.

Tiga politisi yang pernah saya ajari, mereka sebenarnya sudah sadar bahwa perlu diajari lebih lagi soal communication skill, termasuk di-upgrade penampilannya, diperbaiki body language-nya, meng-handle pertanyaan-pertanyaan dari publik, menghadapi media massa, dan sebagainya. Itu yang kita bereskan dari A sampai Z.

Ada perbedaan biaya antara siswa individual dengan perusahaan?

Tentu saja ada (perbedaan). Kalau individual itu bayarnya ritel atau pribadi. Kalau kantor itu kan bayarnya berkelompok, misalnya satu batch itu harganya berapa. Biaya (pelatihan) satu hari berbeda dengan biaya dua hari. Setiap batch tersebut bisa diikuti puluhan orang. Misalnya ada dua sampai tiga batch untuk setiap perusahaan, bisa dikali saja misalnya satu batch itu berapa rupiah, jadi biayanya per satu batch berada di kisaran Rp 30 - 45 juta.

Kalau individual, rata-rata biayanya mulai di angka Rp 2 - 6 juta. Kalau yang Rp 2 juta itu sebanyak tiga kali pertemuan. Kalau yang Rp 6 juta itu 9 kali pertemuan. Satu kali pertemuan itu empat jam, dari jam 9 pagi sampai 1 siang. Ini setiap hari Sabtu, dalam tiga minggu.

Apa saja program yang ada di Talk Inc?

Kami ada dua program yaitu Basic dan Professional. Di Basic itu ada tiga program yang ditawarkan, pertama Boosting Confidence, kedua Speaking Impressively, dan ketiga Creating Total Look. Boosting Confidence itu mengajari orang menjadi pede (percaya diri) dalam tiga kali pertemuan. Kemudian setelah tingkat pede-nya naik, dia akan belajar mengolah dan memilah kata, mengatur vokal, segala macam; ini dalam program Speaking Impressively, yang mana siswa membayar Rp 2 juta lagi, untuk tiga kali pertemuan juga. Lalu, jika si siswa ingin mendapatkan pelajaran tentang penampilan, karena itu juga penting bagi MC/presenter atau public speaker, jadi dia harus ikut lagi program Creating Total Look untuk tiga kali pertemuan juga, dengan membayar Rp 2 juta lagi.

Setelah lulus program Basic, kita punya dua program Professional, pertama apabila siswa ingin jadi MC atau TV presenter, atau kedua jika dia ingin menjadi public speaker. Keduanya punya 9 kali pertemuan, yang masing-masing seharga Rp 6 juta. Mereka (siswa) tinggal pilih sendiri. Kalau di kelas public speaking, mereka ada pelajaran bagaimana caranya mastering your stage and audiences, memilih kata-kata yang tepat untuk power forwards dan sesuai struktur bahasanya. Kemudian ada know yourself untuk membangun self image, lalu ada materi understanding people untuk memahami jenis kepribadian orang yang berbeda-beda. Juga ada pembelajaran tentang cara membuat slide presentasi dan menggunakan alat-alat presentasi, bagaimana memberikan pembukaan dan penutupan yang menarik, dan bagaimana menyampaikan presentasi atau speech dengan baik.

Kalau pesertanya dari perusahaan, biasanya materinya lebih ke presentation skill dan confident level. Jadi kadang-kadang orang di jabatan tertentu tidak confident di posisinya. Misalnya middle management manager, yang dia janjian dengan klien untuk menawarkan produk baru, tapi si klien bilang kalau dia akan mengajak bosnya, nah dia sudah ciut duluan. Jadi, itu yang kami ajarkan kepada peserta supaya dapat meningkatkan kepercayaan dirinya, tahu kekuatan dirinya, tahu bagaimana caranya berkomunikasi, presentasi, sampai table manner. Semua ini ada modulnya tersendiri. Setelah lulus, ada sertifikat dari Dikti. Lalu, kalau kliennya dari partai politik (parpol), mereka biasanya sistemnya sama dengan perusahaan, yakni in-house training, dengan dua atau tiga kali pertemuan untuk per batch.

BEcky Erwin Parengkuan dan Becky Tumewu

Berarti yang program basic itu dikhususkan untuk orang-orang yang masih pemula atau belum ada pengalaman sama sekali di bidang public speaking ya?

Ya, memang untuk mereka. Tapi ada juga orang yang merasa sudah pede, jadi dia merasa tidak perlu belajar lagi tentang confident, tapi mau langsung ke speaking impressively dan penampilan. Ya sudah, kami lakukan placement test dulu kepada dia, untuk melihat apakah dia memang mampu atau tidak. Tesnya adalah dia disuruh berbicara di depan kamera untuk direkam, lalu kita review apakah dia cocok atau tidak jika mau langsung masuk kelas profesional. Jika dievaluasi belum sanggup, maka dia sebaiknya tidak langsung masuk ke (kelas) profesional, karena takut dia ketinggalan dari teman-temannya yang lain.

Apa sih sebenarnya perbedaan antara kelas public speaking dengan MC/TV Presenter?

Memang public speaking dan MC/TV presenter itu beda lho. Public speaking itu adalah teknik berbicara di depan orang, misalnya untuk menawarkan suatu produk, jadi pesertanya adalah mereka yang datang dari dunia kerja profesional, misalnya dari perusahaan A, B, dan C, atau bisa juga anggota DPR, pemuka agama, dan lain-lain. Tapi kalau kelas MC/TV presenter, pesertanya biasanya “banci tampil”, mereka sudah dandan keren ketika masuk ke kelas.

Bagaimana materinya dibuat? Atau apakah Anda belajar lagi khusus soal public speaking?

Saya belajar secara otodidak. Karena interaksi saya sangat banyak dengan orang setiap harinya. Jadi saya mengamati mereka dan baca buku. Dan kami juga punya afiliasi dari pihak ketiga yang kadang-kadang juga bisa memberikan kontribusi tentang materi. Jadi, kami rangkum semuanya dan didesain. Di sini memang ada tim khusus untuk membuat materi ajar, tapi saya tetap involve di situ untuk mengarahkan maunya ke mana, dan pendekatannya bagaimana. Karena materi itu kan bukan hanya sekadar konten, tapi juga audio video yang kita berikan. Video yang cocok, kemudian Direkam. Misalnya video orang ngomong atau presentasi, atau juga video-video lain yang bisa menginspirasi mereka tentang penguatan sebuah materi.

Berapa jumlah pengajar di Talk Inc? Apa latar belakang mereka semua dari dunia presenter/MC?

Jumlah pengajar kami ada 30 orang, dan tidak semua berlatar belakang dunia presenter/MC. Mungkin memang ada 40 - 50% yang background-nya di dunia entertainment. Sisanya ada yang berprofesi sebagai psikolog, public speaker, ataupun pemasar. Tapi itu juga harus saya seleksi, karena tidak semua orang yang jago ngomong di depan kamera televisi punya kemampuan untuk berbagi atau mengajar orang lain. Banyak yang gagal. Misalnya saya ketemu orang di atas panggung, saya pikirnya orangnya enak nih (punya kemampuan presenter yang bagus), terus saya tanya ke dia “Mau tidak ngajar?” Lalu dia jawab, “Ah, saya tidak berani.” Tapi saya bilang ke dia, kirim CV dulu deh, kemudian dia bisa observasi di kelas untuk melihat bagaimana kita mengajar. Sekali, dua kali observasi, kalau dia sudah pede baru kita kasih modul yang bisa dia pilih untuk mengajar, di situ dia bisa memilih materi ajar yang dianggapnya nyaman.

Setelah dia berani mengajar di satu kelas akan kita review, apakah dia berani menaklukkan audiens (peserta) di kelas. Karena yang kami lakukan adalah mengirimkan kepada mereka bukan hanya modul tapi juga lesson plan. Lesson plan itu adalah rencana aksi sampai rundown pengajar harus melakukan aktivitas apa saja di dalam kelas. Setiap kelas berakhir, kami punya evaluation form, di mana peserta pelatihan tidak menuliskan nama mereka, jadi mereka bisa jujur berkomentar apa saja tentang pelaksanaan pelatihan/pengajaran selama mereka belajar. Data dari evaluation form itu juga yang kami jadikan salah satu dasar dalam melihat apakah si pengajar A itu mampu, sedangkan si pengajar B tidak mampu (memenuhi tujuan pengajaran dan menarik hati para siswanya).

Para pengajar ini dibayarnya per kedatangan. Saya punya dua kategori guru, yang pertama itu memang guru tamu yang bisa dibayar kapan saja per kedatangan, dan ada guru tetap yang kita bayar setiap bulan. Komunikasi itu kan tidak hanya ngomong, tapi juga berhubungan erat dengan mental dan emosi seseorang. Maka, mereka-mereka yang terjun di dunia psikologi yang kami perlukan. Sementara para pengajar yang dari dunia entertainment biasanya itu news anchor, seperti Tommy Tjokro, Prabu Revolusi; juga ada yang MC dengan jam terbang tinggi, seperti Indy Barends, Novita Angie, Kamidia Radisti (mantan Miss Indonesia), Stenny Agustaf, Dave Hendrik; kemudian ada psikolog Putri Suhendro, aktivis LSM Baby Jim Aditya; lalu ada Ferry Fibriandani yang ahli dalam ilmu memahami orang lain dalam berinteraksi; dan masih banyak lagi. Saya dan Becky juga kadang-kadang masih ikut mengajar.

Berarti mereka fleksibel ya dalam waktu mengajarnya?

Jadwal kami setiap bulan keluar. Kalau mengajar setiap Sabtu kan sudah ketahuan mau mengajar apa saja, karena modulnya sudah beruntun. Tapi kalau pelatihan in house, Senin-Jumat, kan kadang-kadang ada klien yang minta di waktu-waktu tertentu. Nah, untuk itu kita sudah siapkan jadwal dan modulnya; kita juga sudah tahu apa saja yang dibutuhkan untuk pelatihan (khusus) itu, juga soal siapa saja pesertanya. Itu tinggal di-briefing ke guru tetap kami.

Peserta itu berarti boleh bebas ya memilih materi yang mau dipelajari?

Klien (peserta) memang bebas memilih materinya, karena dia juga bebas datang kepada kami untuk mengungkapkan problem yang dia miliki (dalam hal presenting/public speaking) itu apa saja. Untuk klien yang perusahaan, kami tanya pelatihannya itu untuk karyawan yang entry, middle, atau sudah BOD.

Kalau Anda lihat, apakah di Indonesia sudah banyak kursus sejenis, lalu apa kelebihan Talk Inc jika dibandingkan dengan yang lain?

Kalau saya lihat sepertinya belum banyak jenis usaha yang seperti kami, walaupun memang banyak kursus lain dimana-mana. Maksudnya orang tahu bahwa dunia pendidikan itu tidak akan pernah habis, yakni dari sisi kebutuhan market itu juga sangat banyak. Tapi kalau untuk mapping siapa saja kompetitor kami, saya tidak melakukannya, jadi tidak tahu (siapa saja).

Maksudnya kenapa sampai saat ini kami bisa mempertahankan brand, kenapa sampai saat ini murid kami dan pelatihan yang kami selenggarakan makin banyak, itu karena yang kami tawarkan adalah sesuatu yang praktis tentang komunikasi, bukan sekadar teori saja. Karena kalau teori itu bisa didapatkan di mana saja. Justru kekuatan kami adalah menghadirkan sesuatu yang modern dan terkini, serta memang dibutuhkan oleh masyarakat pada umumnya.

Kalau dulu gaya presentasi itu kaku, tapi sekarang harus persuasif dong. Jika seseorang ngomong-nya datar ketika menawarkan produk atau presentasi di depan klien, mana ada yang tertarik, walaupun mungkin proposal yang diberikannya sudah sangat menarik dan sesuai kebutuhan. Jadi, saya rasa Talk Inc unggul di sisi itu. Juga karena keberadaan kami (Erwin dan Becky) yang masih eksis di dunia entertainment sampai saat ini. Lalu, saya juga melakukan banyak interaksi bisnis dengan berbagai pihak, karena selain punya sekolah ini, saya juga punya The Baked Goods Cakes Shop. Jadi saya sudah bertemu dengan para pebisnis juga, jadi (pengalaman) itu yang saya bagikan kepada guru-guru kami.

Kalau soal branding sendiri bagaimana? Karena yang datang ke Talk Inc kemungkinan besar karena melihat Anda dan Becky Tumewu juga kan. Lalu juga bagaimana untuk lebih membangun serta mempertahankan brand Talk Inc ini ke depannya?

Kami sadar bahwa sebuah brand itu harus independen, tanpa adanya intervensi dari pihak yang lebih superior. Ketika kami membangun sekolah ini, orang memang melihat kami berdua, tapi sudah saatnya kami tidak selalu dekat atau menempel (image-nya) dengan Talk Inc. Kami harus melepas brand pribadi sehingga Talk Inc-nya bisa berkembang. Jadi tidak selalu harus di-nurture terus. Itu yang sekarang kami lakukan, dan ternyata berhasil. Jadi ketika sekarang orang datang ke Talk Inc, di top of mind mereka sudah terpatri bahwa kita itu adalah sekolah komunikasi, sementara dulu orang tahunya kita sebagai sekolah MC/TV Presenter.

Sekarang kami tambahkan fasilitator/pengajar lebih banyak, memperkaya modul misalnya dengan menambahkan lagi aktivitas role play di dalam kelas, dan mengangkat kekinian kita. Sehingga kalau sekarang calon peserta itu datang, misalkan saya atau Becky tidak bisa mengajarnya, mereka tetap bisa percaya juga meskipun dipegang oleh guru lain. Jadi intinya mereka sudah percaya dengan Talk Inc.

Keberhasilan juga yang didapat oleh para siswa yang belajar MC/TV Presenter, kalau mereka casting dan memberikan CV-nya, terus dilihat bahwa mereka lulusan Talk Inc, maka mereka sudah dapat pengukuhan (secara tidak langsung) bahwa jebolan Talk Inc itu sudah punya pakem MC yang baik dan tahu dasar-dasar presenting yang benar. Bahkan sudah banyak sekali PH atau stasiun televisi yang selalu mengirimkan lowongan pekerjaan kepada kami untuk memenuhi kebutuhan (MC/presenter) program-programnya. Lalu misalnya jika mereka mau langsung casting di sini, mereka bisa langsung janjian dengan kami. Kami sebarkan infonya ke para siswa, dan di hari H datanglah mereka untuk casting.

Sistem seperti ini kan menguntungkan kedua belah pihak. Untuk saya yang provider, saya bisa “menjual” open recruitment/casting itu kepada calon siswa; kita bisa memfasilitasi mereka untuk itu, walaupun kami tidak bisa menjamin bahwa siswa itu pasti akan menjadi presenter tv. Semua siswa boleh ikut casting, tidak peduli apakah nilainya di kelas bagus atau jelek, karena kan program tv itu macam-macam; misalnya ada yang perlu presenter yang cerdas, ada yang perlu presenter yang lucu doang dan tidak begitu menghiraukan materinya, dan sebagainya. Jadi banyak banget jebolan kami yang sekarang sudah muncul di televisi dan membawakan program.

Sejauh ini, apa saja yang dilakukan untuk menggaet peserta kursus?

Saya rasa sebuah produk itu kalau servisnya tidak bagus dan manfaatnya tidak ada, mau dia kampanye gila-gilaan di koran, full page full color, lima hari berturut-turut, itu hanya bisa membuat awareness, tapi tidak bisa membawa traffic. Yang bisa membawa traffic adalah word of mouth marketing. Murid datang ke sini, cuma 15 orang awalnya. Dari 15 itu ngomong ke 15 temannya lagi bahwa dia merasakan belajar di Talk Inc itu bagus dan mendapatkan banyak manfaat. Mungkin dari 15 temannya itu paling yang datang 50%, dari sini mereka ngomong lagi ke temannya yang lain (soal Talk Inc). Akhirnya akan bisa menjadi domino effect. Jadi kami sendiri sebagai perusahaan tidak pernah mengeluarkan biaya iklan tersendiri untuk promosi. Pindah kantor ke (Jalan Wijaya 1) sini saja, tinggal pasang muka kami di billboard, orang sudah datang. Malah, bagi saya, kalau beriklan di tv itu spill over atau kelebaran. TV itu yang menonton adalah middle to lower class, jadi apa mungkin yang lower class itu punya duit untuk belajar di sini?

Dulu pernah melakukan sistem barter dengan televisi, misalnya brand kita akan muncul di credit title program mereka. Tapi kalau mereka sekarang datang, saya sudah tidak mau, karena tidak butuh; saya maunya mereka bayar ke kami (bukan barter lagi). Kalau media majalah misalnya, kita baru mau barter kalau iklan kami itu bisa full page full color. Saya bantu mereka deh, misalnya untuk setahun atau dua tahun, kalau dia ada acara Miss-Miss-an kita yang training, dan kalau dia butuh pembicara ya dari kita semua, jadi value-nya barter to barter. Maka baru kita muncul di majalah atau koran tertentu.

Kami merasa tidak perlu barter lagi, karena sudah (berpromosi) dengan word of mouth dari para siswa yang banyak, yang setiap minggu belajar di sini. Kita juga sudah bikin buku, kan itu salah satu alat promosi juga. Buku kita itu sudah national bestseller. Kita sekarang masih menyiapkan buku terbaru yang mungkin akan diluncurkan pada akhir tahun ini.

Kalau untuk pengembangan bisnis ke depan seperti apa? Inovasi-inovasi apa yang akan dilakukan?

Ya tentu akan ada banyak hal yang kita lakukan (untuk pengembangan bisnis). Kalau dulu kita banyak memberikan kebebasan kepada para fasilitator/pengajar untuk mengembangkan cara pengajarannya, sementara kalau sekarang mau kita pagari. Kita mau lebih spesifik, kalau dalam tahap belajar Modul A, berarti yang diajarkan harus yang berkenaan dengan Modul A itu. Jadi jangan melenceng ke yang lain. Karena kalau tidak, akan jadi bias, misalnya dulu di pertemuan pertama bisa membahas bahan yang harusnya disampaikan di pertemuan ketiga. Sedangkan untuk sekarang, saya tidak mau lagi begitu, misalkan sedang membahas power forwards ya tentang itu saja yang dibahas. Jadi pengajar juga tidak akan banyak melakukan improvisasi. Dengan ini, saya hanya mau memastikan bahwa semua output kita akan sama hasilnya. Mau siapa pun yang mengajar, kita mau semua materi yang disampaikan di kelas itu sama. Saya tidak mau angkatan A dengan angkatan-angkatan yang selanjutnya dapat hasil yang berbeda-beda. Jadi itu kita sudah lengkapi dengan alat-alat pengajaran, misalnya slide presentasi, lesson plan, dan rundown (misalnya dalam 15 menit di kelas mau aktivitas apa saja). Program baru juga banyak yang mau kita kembangkan, misalnya materi tentang social media, charm (bagaimana seseorang bisa tampil menawan dan menarik), dan lain-lain.

Apa ada uji materi ajar juga?

Kalau uji materi tentu saja ada, karena hanya pengajar yang qualified yang kita undang (mengajar di sini). Mereka sudah kita brief terlebih dulu bahwa sekarang pendekatan mengajarnya berbeda, lebih terperinci, akurat, dan spesifik.

Apa ada rencana membuka cabang di kota lain?

Kita tidak akan lakukan itu.

Erwin Parengkuan(utama)

Kalau misalnya nanti jadi Sekolah Tinggi Komunikasi, apa lokasinya akan tetap di sini? Lalu berapa lagi jumlah siswa atau peserta yang ingin digaet setelah menjadi sekolah tinggi?

Ya, akan tetap di Jakarta, namun akan mencari gedung baru yang lebih besar. Target pendirian (Sekolah Tinggi Komunikasi)nya secara resmi mungkin dalam setahun atau dua tahun ke depan. Untuk berapa target jumlah siswa setelah kita bertranformasi menjadi sekolah tinggi itu masih belum kita perhitungkan, tapi yang penting sudah kita siapkan semuanya menuju ke sana. Itu yang pertama. Lalu, kita akan punya tiga jurusan yang akan dikembangkan. Tapi jurusannya apa saja belum bisa saya sebutkan, karena sekarang kita masih dalam tahap perolehan izin pendirian dari Dikti. Persoalan jumlah kelas yang akan dibuat sampai berapa, kita akan mengikuti suggestion dari Dikti saja.

Untuk mengukur hasil yang didapat para peserta itu dilakukan dengan cara-cara apa saja? Apakah dari kualitas berkomunikasi para siswa, atau mungkin keberhasilan mereka setelah lulus dari Talk Inc?

Kalau keberhasilan mereka setelah mengikuti kelas, kami tidak tahu, karena belum pernah kami ukur atau riset juga tentang itu. Tapi kan kita punya progress report dari setiap pertemuan, sampai ke final presentation mereka masing-masing. Itu yang kita monitor tentang perkembangan peserta. Biasanya di pertemuan kedua, orang sudah mulai berani bicara, lalu di pertemuan ketiga, dia sudah memikirkan strukturnya bagaimana, dan pertemuan keempat, dia sudah punya lebih banyak kosakata dan fleksibel. Lalu, di kelas profesional, kami juga punya video pre test dan post test. Jadi sebelum mereka masuk, kita video-kan, lalu setelah ujian kita video-kan lagi. Itu kita kumpulkan di satu CD, jadi dia bisa melihat before dan after-nya.

Di Indonesia, profesi presenter tv atau penyiar radio memang sangat menjanjikan ya?

Itu tidak juga sih. Memang banyak yang terkenal karena berprofesi sebagai seorang penyiar, tapi ada juga penyiar yang hanya “jago kandang”. Ini kan tergantung dari seberapa banyaknya pengalaman seseorang untuk mempraktikkan pengetahuan yang dia miliki. Tantangannya bukan hanya kontribusinya, tapi bagaimana servisnya di-deliver. Memang ada yang jadi penyiar radio sebagai jenjang karier menuju televisi, namun ada juga yang tidak mau menjadi presenter televisi. Tapi biasanya penyiar radio yang berhasil bisa punya peluang besar di tv. Kalau jadi presenter, punya jam tayang program tetap, apalagi itu setiap hari ditayangkan (stripping), maka dari sana dia bisa mengumpulkan uang yang tidak sedikit. Apalagi kalau namanya makin beken, dia bisa negosiasi harga di akhir kontrak. Jadi pendapatannya akan semakin banyak.

Dulu di akhir 1990-an, penyiar radio dinilai tidak boleh cacat suara, tapi ketika sudah masuk abad millenium, khususnya sekarang, orang sudah tidak memikirkan lagi soal cacat suara. Tapi yang dipikirkan adalah lebih ke brand image. Orang ini punya karakter spesifik seperti apa yang tidak dimiliki pesaingnya. Jadi orang sekarang lebih ke personality wise instead of technical skill. Sekarang ini kan ternyata ada juga penyiar radio yang cadel dan ngomongnya acak adul, tapi dia terkenal dan dihargai. Lebih menjamin bagi PH atau televisi untuk menerima seseorang dengan background penyiar radio sebagai presenter programnya, karena dia akan selalu punya bahan untuk dibicarakan. Karena kita di radio tidak boleh dead air atau vakum satu detik pun. Juga kita (penyiar radio) kan selalu menambah wawasan dan kemampuan komunikasi.

Apakah Talk Inc sudah pernah mendapatkan penghargaan atau prestasi khusus?

Itu belum pernah. Dan saya tidak memikirkan itu. Yang penting buat saya adalah murid-murid, khusunya yang reguler, itu senang, punya jam terbang, dan lebih pede. Juga mereka bisa tahu profesi yang mereka inginkan, nantinya bisa menjadi sandaran hidupnya. Sudah banyak yang tadinya MC atau presenter amatir menjadi profesional dan dikenal orang setelah lulus dari Talk Inc. Buat saya itu adalah bentuk kesuksesan yang tidak bisa dibayar oleh apapun. Saya bisa memberikan contoh beberapa orang yang tadinya belum terlalu terkenal, setelah belajar bersama kami menjadi semakin bagus dan dikenal orang, misalnya Rahma Ummayah (presenter tv), Ichsan Akbar (presenter infotainment dan penyiar radio), Aviani Malik (news anchor Metro TV), Jessica Iskandar (presenter dan artis sinetron), dan masih ada beberapa yang lainnya.

Kemudian, hal yang juga menyenangkan buat saya adalah ketika saya tahu bahwa pelatihan-pelatihan ke perusahaan itu bisa membuat mereka happy dan akhirnya melakukan repeat order (kepada Talk Inc). Ini merupakan sesuatu yang lebih besar dari sekadar penghargaan apapun. Kalau dapat penghargaan itu syukur, kalau tidak (dapat) pun saya sudah bahagia dengan keberadaan pengajar saya, tim di kantor, bisa menjaga hubungan baik dengan klien dan memenuhi semua kebutuhan mereka, sehingga kita saat ini berhasil berada di top of mind orang. Kalau lima tahun lalu, orang hanya bilang bahwa Talk Inc adalah sekolah MC dan TV Presenter, tapi sekarang orang sudah bisa bilang bahwa kami adalah sekolah MC-TV Presenter serta public speaking, karena sudah banyak pelatihan yang dihasilkan dari tangan Talk Inc. Bagi saya ini sudah membuat senang banget.

Apa ada saran dari Anda jika ada orang yang mau membuka bisnis public speaking seperti ini di kota lain?

Saran saya yang pertama adalah jangan hanya mengejar (keuntungan) bisnisnya saja, tapi harus value yang lebih dikejar. Karena saya sendiri juga tidak terlalu memikirkan bisnisnya. (***)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)