Tekad Mulyati Gozali Memakmurkan Petani Anggur di Bali

Pendiri PT Sababay Industry, Mulyati Gozali, kadung jatuh cinta dengan Pulau Dewata, Bali. Selepas pensiun sebagai Presiden Komisaris dan Direktur Keuangan PT Gajah Tunggal Tbk, terbersit keinginan untuk menetap dan membesut bisnis di Bali. Bisnis winery akhirnya yang dipilih. Saat hendak meritis bisnis, ia justru prihatin melihat nasib para petani di bagian Utara Bali, yang merupakan sentra pertanian di pulau tersebut. Di wilayah ini memang minim turis dan penduduknya lebih banyak menjadi petani. Lain halnya dengan wilayah Selatan Bali yang lebih makmur berkat industri pariwisata.

Pendiri PT Sababay Industry, Mulyati Gozali. Pendiri PT Sababay Industry, Mulyati Gozali.

Jutaan turis asing menyambangi Pulau Dewata. Dari hasil analisisnya, mereka menghabiskan 21 juta liter wine setiap tahunnya. Itu belum termasuk konsumsi pelancong domestik dan pebisnis yang rutin datang ke Bali. Namun, potensi besar itu tak bisa dinikmati para petani anggur di Bali Utara, penghasil buah yang menjadi bahan baku wine. “Bayangkan saja, petani di sana pendapatannya hanya Rp 1 juta per tahun. Padahal, mereka rajin, mau bekerja di lahan seluas 3.000 m2. Sayang, tengkulaknya banyak. Hasil panen anggur mereka hanya dihargai Rp 500 per kilogram,” katanya.

Hatinya pun tergerak ingin mengangkat derajat kehidupan para petani di Bali. Caranya, dengan memutus rantai distribusi. Dari hasil lawatannya ke mancanegara, ia akhirnya bisa memotret perbedaan petani anggur di Indonesia dengan sejawatnya di Thailand. Petani di Tanah Air diperlakukan tidak adil karena tengkulak hadir di empat-lima lapis distribusi hingga saat buah masuk ke kotak penyimpanan. “Itulah kenapa petani anggur di Thailand bisa kaya sedangkan di sini masih banyak yang miskin,” ujarnya.

Tekad Mulyati membangun bisnis wine sekaligus memakmurkan petani sudah bulat. Apalagi, pasokan anggur dari Bali Utara, tepatnya dari kawasan Buleleng sudah cukup memadai. Ada sekitar 1.000 hektare tanaman anggur di daerah tersebut. Sababay Wine akhirnya yang diproduksi di pabrik seluas 2 hektare pun meluncur ke pasaran. Demi memutus mata rantai tengkulak, pabriknya pun dibangun di satu lokasi dengan area perkebunan rakyat. “Kami juga memberdayakan petani agar bisa hidup layak dan mendapatkan hasil yang fair,” katanya.

Dengan pola perkebunan dan pabrik yang terintegrasi, para petani anggur di Bali Utara bisa menikmati harga lebih tinggi untuk hasil panennya, yakni Rp 5 ribu per kilogram, atau 10 kali lebih tinggi dari harga di tengkulak. Saat ini, total sudah ada 160 petani binaan Sababay Industry. Yang lebih menggembirakan hatinya adalah para petani binaannya kini bisa meraup hasil panen hingga Rp 100 juta per tahun. Sebuah angka yang tak pernah terbayangkan oleh para petani di wilayah Bali Utara.

“Lima tahun pertama, kami dorong petani untuk mandiri. Lima tahun kedua menjadi makmur. Saat ini, petani sudah happy, anak-anaknya bisa kuliah, punya banyak hewan ternak, dan lainnya,” ujarnya. (Reportase: Herning Banirestu)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)