Telkomsel Makin Intens Menggarap Broadband dan Digital Business

Bisnis telekomunikasi, khususnya telepon selular, belakangan ini dianggap sudah “matang” mengingat penentrasinya sudah hampir mencapai 100%. Karena itu, banyak yang menganggap bahwa potensi pertumbuhan bisnis seluler tidak akan sepesat di masa silam karena sudah mendekati titik jenuh. Bagaimana pandangan Alex J. Sinaga, Direktur Utama Telkomsel, penguasa pasar terbesar bisnis selular di Indonesia? Semua diungkapkan kepada Herning  Banirestu:

Telkomsel Alex

Menurut Anda, benarkah bisnis telekomunikasi masih mempunyai prospek? Bukankah pasarnya sulit tumbuh?

Sekalipun penterasi selular sudah mencapai hampir 100%, pasar di industri telekomunikasi khususnya seluler  masih mempunyai ruang untuk berkembang. Industri operator selular diprediksi mampu tumbuh 7-8% pada 2014. Salah satu faktor pendorong pertumbuhan adalah rencana operator yang terus meningkatkan layanan data dengan menggelontorkan dana triliunan rupiah untuk memperkuat jaringan infrastrukturnya.

Saat ini  penetrasi internet di Tanah Air baru mencapai 25% dari total penduduk. Masih ada ruang pertumbuhan yang menjanjikan untuk seluler, baik secara demografis, geografis, dan layanan selular baru seperti digital.

 

Jika memang sudah jenuh, apa yang akan Telkomsel lakukan untuk menyiasati pasar? Inovasi-inovasi apa saja yang akan dilakukan untuk membuat bisnisnya tetap tumbuh?

Ada tiga faktor untuk mengantisipasi pasar dan pada akhirnya dapat mendongkrak kinerja operator, yakni komitmen pembangunan infrastruktur, inovasi layanan, dan keahlian sumber daya manusia (SDM). Telkomsel  selalu mengutamakan tiga faktor ini.

Di 2014 Telkomsel juga  akan terus memperkuat layanan data yang akan menjadi penopang pendapatan perseroan. Secara industri, saat ini rata-rata 70% pendapatan operator berasal dari layanan suara dan pesan singkat, sedangkan 30% dari layanan data. Namun, porsi tersebut bisa terbalik dalam tiga sampai empat tahun mendatang. Dengan kata lain, kontribusi layanan data bisa mencapai 70% pada 2016.

Hal ini terkait dengan gencarnya perkembangan broadband dan smartphones, sehingga mendorong perkembangan data dan digital business. Basic service seperti voice dan SMS tetap masih berperan penting untuk kebutuhan dasar konsumen dalam berkomunikasi, namun untuk 18 bulan ke depan kita akan melihat perkembangan yang cukup signifikan pada  broadband dan digital business, di mana nantinya kedua hal ini akan menjadi pendapatan utama bagi operator.

Terkait dengan perkembangan broadband dan digital business tadi, ke depan kompetisi untuk memenangkan pasar tidak lagi ditentukan oleh harga semata, namun juga pada kekayaan konten dan kualitas jaringan yang baik.

Karena itu, di tahun 2014 kami menetapkan tema The Smart Year di mana kami akan meneruskan fokus kami pada  digital business, yang saat ini kami bagi menjadi empat portopolio yaitu digital lifestyle services, mobile payment and digital money, digital advertising, dan enterprise digital services.

Selain itu, sepanjang tahun 2014 kami terus melakukan berbagai inovasi di antaranya dalam hal pelayanan dan jaringan. Untuk pelayanan, kami menghadirkan 268 Mobile GraPARI (MOGI) yang tersebar di seluruh Indonesia untuk menjangkau pelanggan-pelanggan hingga ke pelosok. Karena kemampuannya yang dapat berpindah tempat, maka MOGI menjadi solusi penting, khususnya di tempat-tempat yang letaknya cukup jauh dari titik pelayanan kami. Hal ini menunjukkan komitmen kami dalam menghadirkan layanan yang merata kepada pelanggan kami di mana pun mereka berada.

Selain itu, dari sisi jaringan tahun ini kami menambah jumlah Compact Mobile BTS  (COMBAT) hingga 400 unit guna memastikan ketersediaan jaringan hingga ke pelosok. COMBAT dapat menjamin kualitas jaringan di wilayah-wilayah tertentu yang memiliki kebutuhan khas dalam waktu yang cepat, khususnya saat momen hari Natal dan Tahun Baru.

Peluang-peluang baru apa yang masih digarap di bisnis telekomunikasi ini? Bagaimana strateginya untuk menangkap peluang tersebut?

Segmen bisnis/enterprise (korporat) akan menjadi salah satu fokus kami di tahun mendatang, karena kami melihat adanya potensi untuk berkembang akibat meningkatnya trend dari Machine to Machine (M2M) di kalangan tersebut. Saat ini telekomunikasi juga bersinggungan dengan bisnis lainnya seperti di keuangan, periklanan, media dan lain sebagainya, sehingga hal ini membuka peluang bagi operator untuk masuk ke dalam bisnis tersebut.

Apakah Anda optimistis, bisnis perusahaan masih tetap tumbuh? Ditargetkan tumbuh berapa persen?

Hingga kuartal ketiga, kami terus tumbuh year-on-year (YoY) secara kuat, baik dalam hal finansial maupun operasional. Kami mencatat pertumbuhan double digit untuk revenue, EBITDA dan net income. Revenue tumbuh 10.4% YoY, yang ditopang oleh pertumbuhan data broadband, sementara EBITDA dan Net Income tumbuh sebesar 11.1% dan 11.9% YoY. Pertumbuhan yang positif ini juga berdampak pada tumbuhnya customer base kami, di mana pada kuartal ketiga 2013 kami mendapat tambahan 2.8 juta pelanggan baru, sehingga secara total jumlah pelanggan kami mencapai 128 juta.

Adapun untuk tahun depan kami menargetkan 130 juta pelanggan dengan angka investasi yang sama dengan tahun ini sekitar Rp 10 triliun.

Apakah ada rencana melakukan investasi/ekspansi? Apakah ada rencana untuk melakukan akuisisi perusahaan telko lain?

Saat ini kita dapat melihat bahwa ada kecenderungan  pertumbuhan pendapatan operator dari tahun ke tahun mengalami penurunan, terutama karena tingginya kompetisi. Konsolidasi serta merger & acquisition yang terjadi menunjukkan bahwa efisiensi sangat diperlukan untuk dapat survive di bisnis ini. Namun, di sisi lain permintaan pasar, khususnya untuk broadband mengalami peningkatan yang tajam, dan hal ini akan medorong perusahaan untuk melakukan investasi dan ekspansi dalam hal jaringan guna menghadirkan kualitas jaringan yang baik.

Untuk dapat melayani permintaan yang tinggi tersebut, Telkomsel telah melakukan beberapa langkah strategis seperti menginvestasikan tambahan 3G carrier (2100 MHz) dan menambah jumlah BTS.  Salah satu alasan di balik pertumbuhan positif kami adalah konsistensi dalam membangun jaringan, tidak hanya di kota-kota besar namun juga ke berbagai pelosok daerah di seluruh Indonesia. Tahun ini saja kami membangun sebanyak 15.000 BTS, sehingga secara total kami memiliki 67.000 BTS, di antaranya 24.000 adalah BTS 3G.

Berapa belanja modal (Capex) yang dianggarkan, dan dialokasikan untuk apa saja?

Capex untuk infrastruktur di tahun ini mencapai Rp 10 triliun dan kami akan mengalokasikan jumlah yang sama untuk penambahan jaringan di tahun 2014. Rencana kami adalah membangun BTS 3G di seluruh kecamatan di Indonesia. Sedangkan rasio untuk investasi di cakupan dan kualitas jaringan berkisar antara 30:70 hingga 50:50. (***)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)