Thendy Susanto, Raja Dapur Modern dari Semarang

Gagal menjadi pemain musik profesional, sukses menjadi seniman peralatan dapur modern. Itulah Thendy Susanto. Pria kelahiran Palembang, 64 tahun silam itu adalah pendiri Nayati, produsen peralatan dapur modern. Produknya banyak digunakan mulai dari hotel, restoran, kafe, rumah sakit, perusahaan swasta hingga sekolah-sekolah kuliner.

Produk Nayati dengan mudah ditemukan di dapur hotel berbintang dan restoran ternama. Tak hanya di dalam negeri, tapi hampir di seluruh penjuru dunia. Jaringan hotel yang menggunakan produk Nayati antara lain, Gumaya, Hyatt, Ibis, JW Marriot, Holiday Inn, dan Sheraton.

Hampir sesuai restoran cepat saji sebut saja misalnya McD, KFC, Pizza Hut, Bread Talk, Starbuck, King Burger, dan JCO juga tak mau ketinggalan menggunakan produk Nayati. Nayati juga ditemukan di kantin perusahaan kelas dunia seperti Indofood, Djarum, Sidomuncul, dan Polytron.

Yang menarik, Nayati satu-satunya brand dari Asia yang mampu menembus pasar Eropa. Jepang yang dikenal memiliki standar produk yang bagus cemburu karena produk mereka belum satupun yang diterima di Eropa. “Kami banyak belajar dengan mitra di Jepang tapi produk mereka belum ada yang masuk ke Eropa,” kata Thendy.

3 Kunci Sukses Thendy Susanto

1. Menjalin networking industri sejenis
2. Memahami budaya negara tujuan
3. Fokus spesifik produk untuk negara tujuan

Thendy Susanto, pendiri Nayati Thendy Susanto, pendiri Nayati

Selama ini, Eropa menerapkan standar yang sangat tinggi untuk produk dari luar yang ingin masuk ke sana. Apalagi produk berkaitan dengan pengolahan makanan, prosedur masuknya sangat ketat. Ada standarisasi yang wajib dipenuhi setiap produk peralatan dapur yang akan digunakan di sana. “Kami paham, Eropa sangat ketat dalam kualitas. Mereka tidak kompromi dengan produk-produk yang tidak berstandar mutu yang mereka tentukan,” katanya.

Menembus pasar Eropa adalah strategi Nayati untuk manembus pasar dunia. Eropa menjadi kunci untuk masuk ke negara lain di belahan dunia manapun. Bila sebuah produk bisa diterima di Benua Biru, dipastikan akan dengan mudah menembus konsumen international. “Eropa memang menjadi barometer dunia untuk kualitas,” ujar pria kelahiran 24 Agustus 1952 ini.

Jauh sebelum masuk pasar Eropa, Thendy sebenarnya sudah mengekspor produknya ke Jepang, yang juga sama-sama menerapkan standar tinggi untuk sebuah produk peralatan dapur. Namun produk yang dikirim ke Negeri Sakura tanpa menyertakan merek Nayati. “Kami hanya jadi produsen, buyer di Jepang yang nempeli merek,” ujarnya.

Untuk masuk ke Jepang dibutuhkan proses yang panjang. Ia harus meyakinkan pembeli bahwa Nayati menerapkan standar kualitas yang bisa dipertangunjawabkan. Untuk lebih meyakinkan, ia mengundang pelanggan dari Jepang tersebut untuk melihat langsung proses produksinya di Semarang.

Hasilnya, permintaan terus naik. Produksi yang semula di pabrik seluas 500 m2 di Lingkungan Industri Kecil tidak lagi memadai. Sejak tahun 1991 proses produksi dipindah ke pabrik baru di Kawasan Industri Terboyo dengan luas 5.000 m2 dengan jumlah karyawan 600 orang.

Menurut Thendy, perbandingan pasar lokal dan ekspor 50:50. Nilai ekspor Nayati setiap tahunnya rata-rata mencapai US$ 10 juta. Beberapa produk yang menjadi unggulan antara lain, Nayati Western Cooking, Oriental Cooking, ovens, foods counter, refrigeration, dishwasher, furniture & exhausts, gourmet kitchen block dan home kitchen. (Reportase: Gigin W Utomo)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)