Unjuk Gigi Itop di Rodamas

Bila pola pengelolaan bisnis keluarga telah disiapkan sejak awal, bisa dikatakan jalan lempang telah disiapkan buat para penerus. Itulah yang dilakukan Grup Rodamas, konglomerat yang bergerak di bidang distribusi barang elektronik, alat pendingin dan kimia, yang juga merambah sektor makanan dan alat-alat berat. Tak ada kendala berarti ketika Christopher Tanuwidjaja ikut terjun mengelola perusahaan yang didirikan sang kakek, Tan Kang So dan temannya (Tan Siong Kie) di tahun 1960. Kini, bahkan boleh dibilang Christopher merupakan penerus tunggal Tan Kang So di Rodamas.

Christopher Tanuwidjaja, Direktur PT Kasana Teknindo Gemilang

 

Tan Kang So memiliki 11 anak. Namun, hanya tiga orang yang terlibat di bisnis keluarga: Iskandar Tanuwidjaja, Ishak Sumarno dan Tan Koh Young. Christopher adalah putra Iskandar, anak kedua sekaligus anak laki-laki pertama dari 11 bersaudara. Bila Christopher yang akrab disapa Itop aktif di Rodamas, tidak demikian dengan sepupunya. “Kedua sepupu saya itu lebih aktif di Asuransi Buana Independen, perusahaan yang tidak berhubungan langsung dengan Rodamas, tapi memiliki mitra yang sama,” ujar Itop saat ditemui di kantornya di kawasan Rawabuaya, Cengkareng.

Debut Itop di perusahaan keluarga diawali di PT Kasana Teknindo Gemilang (KTG). Setamat kuliah Jurusan Manajemen Oral Roberts University di Oklahoma, Amerika Serikat tahun 2000, dia langsung terjun mengelola perusahaan alat berat tersebut. Menurutnya, cikal bakal KTG bernama Buanaloka, sejak 1998 diakuisisi oleh keluarganya dan nama perusahaan diganti menjadi KTG. “Saat ini pemilik KTG adalah keluarga kami sendiri: Tan Koh Young dan ayah saya (Iskandar). Pak Ishak Sumarno lebih fokus berbisnis asuransi,” cerita Itop mengenai sejarah KTG.

Itop mengungkap sedari awal yang menjadi mentornya adalah sang paman, Tan Koh Young. Mengapa? Sudah lama sang ayah menderita stroke. Lantaran kondisi Iskandar terus memburuk, Itop buru-buru pulang ke Indonesia dan bergabung ke KTG. Setelah tiga tahun, dia masuk ke holding Rodamas. Pada mulanya dia ditempatkan di bagian produk konsumer, kemudian sempat pindah ke berbagai divisi lainnya sampai akhirnya didapuk sebagai Komisaris Rodamas.

Ya, Itop merangkap sejumlah jabatan. Di KTG dia menjabat sebagai direktur yang mengurusi operasional sehari-hari dan bertanggung jawab langsung kepada Tan Koh Young yang berdomisili di Singapura. Sementara itu, sebagai Komisaris Rodamas mengharuskannya banyak menghadiri meeting penting induk perusahaan. Bahkan, dia pun masih dipercaya mengelola investasi keluarga Iskandar di bidang properti dan finansial.

Di KTG, Itop all out berekspresi. Ide-ide segar mencuat darinya. Dia berani membuat terobosan dengan menambah deretan produk baru. Sekadar informasi, selama ini KTG dikenal sebagai distributor alat-alat berat buatan Jepang merek TCM. Sejak medio 2011, mereka mengusung merek Lon King dari Cina. Sementara TCM menyasar segmen premium, Lon King sebagai second hand market kategori produk alat-alat berat.

Lantaran belum genap setahun, Itop mengaku hasil terobosan mendatangkan Lon King ke Indonesia belum terlihat signifikan. “Mungkin akhir tahun 2012 lebih jelas hasilnya,” kata kelahiran Jakarta 25 November 1979 ini berkilah. Akan tetapi, sebagai gambaran awal, dia mengklaim penjualan produk Cina cukup bagus. Apalagi sales force KTG lebih percaya diri menjual Lon King lantaran harganya murah dan mutunya lumayan. Sayang, informasi soal nilai penjualan masih dirahasiakan Itop.

Melihat aksi Itop, Patricia Susanto dari Jakarta Consulting Group punya saran untuk memajukan KTG. Pertama, jika ingin berkembang cepat, KTG dapat mengakuisisi distributor alat berat skala kecil untuk mendorong pertumbuhan anorganik. Kedua, terkait unit bisnis baru atau merek alat berat baru yang dibawa ke Indonesia, dia menyarankan membentuk tim masing-masing bagi unit atau merek tersebut. Tim itu harus sendiri-sendiri, biarpun ada tim yang sama seperti tim keuangan. Namun, tim yang berhubungan dengan pelanggan, baik soal product knowledge, promosi maupun layanan harus berbeda.

Saran di atas tentunya menarik untuk dikaji lebih lanjut. Yang pasti, meski sudah menduduki kursi empuk di sejumlah perusahaan di usia yang muda, Itop sendiri tak mau lekas berpuas diri. “Yang penting bisa mengembangkan investasi keluarga dengan lebih baik,” ucap pria yang hobi nonton dan bermain basket ini. Baginya, basket bukan sekadar kesenangan, melainkan sekaligus menjadi momen titik balik dalam hidupnya. Berkat basket, dia mengaku bisa lepas dari ketergantungan narkoba tanpa harus mengikuti program rehabilitasi.

Sekarang saya masih terlibat di basket karena inilah kesempatan saya mengembalikan ke masyarakat apa yang sudah saya dapatkan dari basket. Mimpi saya di basket untuk mengajak pada kebaikan dan gaya hidup positif buat anak-anak muda. Jadi, perlu melibatkan pebasket profesional yang berpengaruh dan menjadi idola,” ungkap Itop. Impian ini pula yang membuatnya menerima tawaran dari CLS sebagai mitra pengelola yang bertugas mengurus klub profesional CLS Knights Surabaya.

Eva Martha Rahayu dan Denoan Rinaldi

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)