Yusdi & Yohan, Duet Pemenang Kompetisi Game Tingkat Dunia

Ajang Mobile World Congress 2014 di Barcelona, Spanyol, Februari lalu, memberikan kesan tersendiri bagi Yusdi Saliman dan Yohan Alexander. Pada ajang tersebut mereka berhasil menjuarai The Tizen Apps Challenge – kompetisi yang mendorong para pengembang untuk menciptakan aplikasi menggunakan platform yang masih baru. Game Sage Fusion 2 yang mereka kembangkan berhasil menjadi pemenang utama kategori Role Playing Game and Strategy dan menggaet hadiah sebesar US$ 250 ribu. “Ini pengalaman yang sangat menarik, karena pada awalnya kami tidak pernah menyangka akan menang,” kata Yusdi, seraya menyebutkan kompetisi tersebut berskala dunia.

Yusdi Saliman dan Yohan Alexander Yusdi Saliman dan Yohan Alexander

Yusdi menceritakan, ketika mereka mendengar Samsung dan Intel yang membuat platform Tizen menggelar kompetisi bagi para pengembang aplikasi, mereka pun mendaftarkan game Sage Fusion 2. Kebetulan game itu menggunakan teknologi HTML-5, yang sesuai dengan platform Tizen. “Kami sebetulnya menang di dua kategori, yakni RPG dan HTML-5,” ujar lelaki kelahiran Jakarta 20 November 1985 ini dengan nada bangga.

Bisnis pembuatan game kini memang telah menjadi pilihan kedua lajang asal Bandung tersebut. Padahal, seperti dikatakan Yusdi, “Awalnya kami berencana ingin buka usaha, tapi belum terpikir mau usaha apa. Kemudian jadi bikin game,” ujar penggemar game ini seraya tertawa.

Saya pernah iseng-iseng bikin komik dengan teman, tapi tidak jadi. Lalu ketemu Yusdi yang ingin bikin game RPG. Kemudian komik yang baru jadi 32 halaman itu saya sodorkan ke Yusdi. Kami pun mengembangkan ceritanya dan ditulis dalam bahasa Inggris,” Yohan menambahkan.

Yusdi si penggemar game yang lulusan Jurusan Elektro ITB memiliki kemampuan di bidang programming, bertemu dengan Yohan, Magister Desain lulusan ITB yang memang hobi menggambar. Pada awal 2012 mereka sepakat membangun studio game, yang diberi nama Kidalang Studio.

Mereka berdua pun berbagi peran. Yusdi mengurus aspek teknis pemrograman, sedangkan Yohan mengurus ilustrasi dan desain. Menurut Yusdi, yang mereka buat bukanlah game kasual, tetapi memiliki diferensiasi, yakni game yang berciri story-driven. “Kekuatannya ada pada ceritanya. Jadi, ini game RPG tapi ada cerita seperti novel,” ujarnya. “Ya, ini sesuai dengan nama studio kami, Kidalang. Seorang dalang kan menceritakan sebuah kisah,” Yohan menambahkan.

Pada November 2012, mereka merilis game pertama yang diberi nama Sage Fusion. Selanjutnya, sekuel Sage Fusion 2 dirilis pada Agustus tahun lalu. Game kategori RPG dengan genre sci-fi futuristik ini menceritakan petualangan seorang pebisnis yang terjebak di sebuah dunia underground, yang diselimuti konspirasi. Kedua game ini bisa diunduh di AppStore untuk pengguna iPhone, iPad,dan iPod, juga di BlackBerry World untuk penguna BlackBerry. Dalam waktu dekat, game itu bisa dinikmati pengguna Android dan MacApp Store. Game itu dijual seharga US$ 3, dengan pembagian keuntungan 70% untuk pengembang. “Ya, boleh dibilang, penjualannya belum memuaskan. Selain banyak pesaing, kami ini pengembang indie, tidak pakai publisher,” ungkap Yusdi, sambil menyebutkan saat ini game kedua mereka sudah mencatat 2 ribu download.

Keduanya menargetkan, tahun depan Kidalang bisa membuat game RPG baru. Diakui Yusdi dan Yohan, untuk mengembangkan game berbasis RPG, apalagi yang fokus dengan cerita, tidaklah mudah. Selain gamer-nya masih relatif sedikit, pengembangannya juga butuh usaha dan sumber daya yang relatif lebih besar. Yusdi mencontohkan, untuk mengembangkan Sage Fusion 2, mereka membuat sekitar 120 background, plus sejumlah animasi kecil.

Yohan mengaku optimistis dengan pengembangan bisnis game-nya, meskipun fokus pada pengembangan produk, bukan berdasarkan pesanan. “Sepengetahuan saya, belum ada yang bisa berdiri murni dengan produk. Biasanya dari pesanan. Tetapi kami ingin berbasis produk,” kata Yohan. “Dengan memenangi Tizen Apps kemarin, ada dorongan bahwa kami bisa membuat game yang berkualitas,” ucap pria kelahiran Bandung 5 Juni 1982 ini.

Untuk jangka panjang, sebenarnya kami tidak cuma ingin di bisnis game, tapi juga ke graphic story. Intinya kami mau bermain di bisnis media interaktif digital, bisa game, novel visual, digital story book, dan sebagainya,” Yusdi mengimbuhi.

A. Mohammad B.S. & Rif'atul Mahmudah

Riset: Rizki Faisal

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)