Indra Utoyo: “Strategi Digital Bagian dari Strategi Korporat”

Belakangan ini perkembangan dunia digital makin semarak.  Mulai dari makin populernya penggunaan media sosial,  makin banyaknya penggunaan mobile app, bermunculannya startup berbasis digital, hingga makin lazimnya transaksi lewat online (e-commerce), serta berkembangnya fenomena sharing economy.

PT Telekomunikasi Indonesia (Telkom) yang merupakan pemain terkemuka di bidang telekomunikasi dan layanan turunannya di Indonesia merupakan salah satu yang terdampak dengan fenomena digitalisasi bisnis di Indonesia. Seperti diakui Indra Utoyo, Direktur Inovasi dan Portofolio Strategis Telkom, bisnis tradisional  (legacy) Telkom seperti voice dan SMS menunjukkan kecenderungan menurun dibandin tahun-tahun sebelumnya.

Indra Utoyo, Direktur Inovasi dan Portofolio Strategis Telkom Indra Utoyo, Direktur Inovasi dan Portofolio Strategis Telkom

Di sisi lain, menurut Delta Partners (2015),  porsi bisnis digital ke depan akan semakin membesar tumbuh 8 kali  lebih cepat dibanding  bisnis telco.  Karena itulah, lanjut Indra, Telkom mentransformasi bisnisnya dengan memasukkan strategi digital sebagai bagian dari strategi korporat.

Menariknya, bukan sekadar merespons fenomena digitalisasi tersebut,  dalam lanskap bisnis baru ini,  Telkom malah mematok visi untuk menjadi King of Digital, dengan misi: To lead Indonesia digital innovation and globalization.

Arah ke sana sebenarnya sudah dirintis Telkom sejak beberapa tahun terakhir. Kini, selain bermain di jasa telekomunikasi, Telkom juga sudah bergerak di bisnis digital lewat sejumlah unit usaha, seperti  Melon (digital music), Metranet (digital advertising & payment), Metraplasa (digital commerce), dan unit TVV (digital video). Indra mengklaim, pada triwulan I/2016  porsi revenue bisnis digital sudah mencapai 51% dari total revenue Telkom.

Untuk mengupas faktor apa saja yang mendorong Telkom menggarap serius bisnis digital dan bagaimana perusahaan andalan Pemerintah RI ini merancang dan mengeksekusi strategi digitalnya, reporter SWA Tiffany Diahnisa mewawancarai Indra Utoyo.  Berikut petikannya:

Apa tantangan bisnis terkait dengan fenomena bisnis digital yang dihadapi Telkom?

Ada tantangan perubahan gaya hidup pelanggan ke arah digital yang menimbulkan kebutuhan akan aplikasi digital dengan pengalaman yang memesona: sederhana, mudah, cepat, dan lain-lain. Ini merupakan tantangan Telkom dalam menyediakan berbagai aplikasi untuk mendukung gaya hidup digital dengan customer experience yang lebih baik. Juga ada tantangan perubahan model bisnis yang disruptif,feel like free”. Dengan kemajuan teknologi, memungkinkan perusahaan digital dunia seperti WhatsApp, Line dan Kakaotalk membuat aplikasi messaging dengan model bisnis free of charge,  sehingga menjadi tantangan bagi Telkom, khususnya layanan voice dan messaging, karena umumnya Telkom menggunakan model bisnis berbayar.

Sejauh mana tantangan bisnis tersebut berdampak pada sektor industri di mana perusahaan Anda bergerak?

Tantangan tersebut menyebabkan perubahan dalam lanskap kompetisi di pasar dan berdampak pada kinerja finansial perusahaan di mana bisnis tradisional/legacy Telkom seperti voice dan  SMS menunjukkan kecenderungan menurun dibanding tahun-tahun sebelumnya.

Telkom sebagai entitas bisnis dituntut untuk selalu tumbuh. Telkom ke depan memiliki visi menjadi King of Digital dan misi: To lead Indonesia digital innovation and globalization. Untuk mencapai target tersebut Telkom memandang strategi digital merupakan strategi yang fit untuk mewujudkan aspirasi tersebut.

Apa konteks cakupan strategi digital ini?

Dalam menyusun strategi digital, Telkom melakukan transformasi digital melalui dua sisi.  Pertama,  dengan melakukan transformasi digital internal perusahaan seperti digitalisasi proses operasional dan transformasi fungsi back end, serta pemanfaatan data analytic dan aktivasi budaya digital untuk membangun Telkom menjadi digital master. Kedua,  membangun peluang bisnis digital ke depan melalui meningkatkan nilai tambah bisnis inti dengan men-deliver layanan digital, menyediakan platform mediasi untuk para pelaku bisnis digital, serta melakukan kerja sama dan investasi dalam value chain ekosistem bisnis digital.

Bagaimana menjadikan strategi digital ini sebagai bagian dari strategi bisnis?

Telkom menjadikan strategi digital sebagai bagian dalam setiap kebijakan yang ditetapkan mulai dari level korporasi, level bisnis,  hingga level fungsional. Pada level korporasi, strategi digital menjadi salah satu bagian dari strategi korporat yang tercantum dalam dokumen Corporate Strategic Scenario, di mana Telkom menjabarkan secara detail strategi digital, target pencapaian dan unit pelaksananya. Kemudian di level bisnis, kebijakan tersebut diacu dan dijabarkan dalam bentuk master plan unit yang menjabarkan program digital yang akan dijalankan pada periode waktu tertentu. Kemudian di level fungsional/operasional termasuk SDM dan keuangan, dijabarkan kebijakan pendukung untuk mewujudkan target tersebut. Dengan cara ini maka strategi digital menjadi acuan di semua lini perusahaan baik di level korporasi, unit bisnis, unit fungsional maupun di anak perusahaan.

Telkom juga melakukan transformasi digital dalam lima aspek.  (1) People,   mentransformasi SDM dan membangun great leader yang memiliki kompetensi digital; (2) Bisnis, melalui peningkatan porsi kontribusi revenue dari bisnis digital terhadap business legacy; (3) Budaya, melakukan aktivasi budaya digital  untuk mencapai peningkatan nilai cultural entropy; (4) Struktur/Organisasi, melakukan transformasi organisasi melalui strukturisasi customer facing unit untuk men-deliver customer experience dan membangun unit khusus digital service yang bersifat vertikal ke pelanggan dan horisontal mendigitalisasi unit lain; (5) Sistem/Proses Bisnis, melalui digitalisasi dan simplifikasi proses bisnis dan sinergi Grup Telkom.

Apa model dan pola strategi digital yang dijalankan Telkom?

Sebagai perusahaan telekomunikasi, maka model dan pola strategi digital yang dijalankan selaras dengan kompetensi perusahaan. Maka, model strategi digital yang dijalankan Telkom menitikberatkan pada strategi digital yang dapat memperkuat bisnis inti, misalnya pemakaian teknologi digital untuk interaksi dengan pelanggan, otomatisasi proses bisnis, dll. Diharapkan dengan cara ini terjadi pertumbuhan pada bisnis inti Telkom. Model kedua yang diterapkan, bagaimana mengoptimalkan aset Telkom untuk membantu pertumbuhan bisnis perusahaan lain. Misalnya, Telkom memiliki kemampuan billing yang baik, bagaimana kemampuan ini juga digunakan perusahaan lain dalam proses transaksinya. Telkom akan menyediakan kapabilitas platform yang dapat diakses para pengembang atau perusahaan digital untuk digunakan dalam meningkatkan bisnis. Dengan model ini diharapkan Telkom akan tumbuh bersama-sama industri, serta menciptakan ekosistem yang kuat dan saling menguntungkan.

Apakah perusahaan membentuk divisi/unit digital tersendiri? Selevel apa unit ini dan selevel apa kepalanya?

Pada dasarnya implementasi strategi digital dilaksanakan di semua unit bisnis dan anak perusahaan Grup Telkom. Meski demikian, Telkom juga membentuk Divisi Layanan Digital, yang diharapkan menjadi pionir Telkom dalam menciptakan produk digital yang memiliki nilai tinggi. Keberadaan divisi ini untuk melengkapi anak-anak perusahaan Telkom yang juga bergerak di industri digital,  seperti Melon (digital music), Metranet (digital advertising & payment), Metraplasa (digital commerce), dan unit TVV (digital video). Dengan adanya unit-unit tersebut diharapkan dapat mempercepat proses implementasi strategi digital perusahaan. Kendati begitu, Telkom pun menyadari bahwa perkembangan dunia digital sangat pesat dan sulit untuk dikejar, sehingga Telkom membuka kerja sama dengan startup digital ataupun global player melalui program Indigo dan modal ventura untuk mendapatkan inovasi yang baik dengan cepat. Sehingga diharapkan Telkom tidak ketinggalan dalam mempersiapkan kebutuhan aplikasi digital untuk para pelanggannya.

Bagaimana perencanaan dan alokasi bujet untuk strategi digital? Berapa persen dibanding total biaya operasional perusahaan?

Untuk mewujudkan strategi digital tersebut Telkom menerapkan pola portfolio balancing, yaitu dalam pengembangan strategi digital dibagi menjadi dua area: area eksploitasi untuk mendukung pengembangan bisnis inti, dan area eksplorasi untuk penciptaan inovasi digital. Saat ini, Telkom telah mengalokasikan 1% dari net income perusahaan dalam upaya di area eksplorasi, dan selanjutnya direncanakan naik menjadi 0,5% dari total revenue tahun 2017. Di samping itu, Telkom mengalokasikan dana sebesar US$ 100 juta untuk modal ventura korporat melalui anak usaha PT Metra Digital Innovation (MDI).

Apa jenis program digital yang dijalankan? Apa sasaran/targetnya?

Kami menjalankan penyediaan solusIndra_Utoyo-2i digital untuk enterprise market melalui pola kerja sama dengan pihak eksternal seperti penyediaan e-Ticketing PT KAI, produk Link Himbara bekerja sama dengan Bank Mandiri, BNI, BRI dan BTN.

Kedua,  ada penyediaan solusi yang terkait consumer digital life, yang dikembangkan secara internal seperti Indihome, Useetv, UPoint. Ketiga, penyiapan platform untuk pengembangan layanan ekosistem digital. Keempat, melakukan kemitraan strategis dengan perusahaan digital, dan berinvestasi di startup lokal ataupun global melalui salah satu anak perusahaan Telkom, MDI.

Kendala apa saja yang muncul?

(1) Tantangannya  dalam hal transformasi SDM: Kapasitas dan kapabilitas karyawan yang perlu memiliki daya saing global, bersertifikasi internasional, dan karyawan yang memiliki kemampuan di bidang Digital. (2) Tantangan dalam transformasi kultur: Mindset dan isu kultural karyawan terhadap perubahan paradigma yang biasanya masih terbawa pada masa transisi yang membutuhkan waktu penyesuaian dalam mengadaptasi perubahan. (3) Tantangan dalam transformasi organisasi: Resistensi dikarenakan kekurangpahaman  karyawan terhadap perlunya perubahan transformasi organisasi, budaya dan kesisteman SDM, serta seluruh aspek yang ingin dicapai perusahaan ke depan, demi menyesuaikan dengan arah perkembangan strategi bisnis perusahaan. (4) Tantangan dalam transformasi bisnis: Perubahan regulasi UU Telekomunikasi (lisensi, infrastructure sharing, pengaturan OTT, dll).  (5)  Tantangan dalam transformasi infrastruktur: Kecepatan dalam membangun infrastruktur untuk mendukung program utama, matching capacity versus demand.

Sejauh mana hasil strategi digital tersebut?Bagaimana cara perusahaan mengukur keberhasilannya?

Sejauh ini pertumbuhan bisnis digital Telkom menunjukkan peningkatan yang cukup siginifikan. Akhir tahun 2015, porsi revenue bisnis digital kurang lebih Rp 39 triliun atau 38% dari total revenue. Kemudian per triwulan I/2016 meningkat. Porsi revenue bisnis digital mencapai 51% dari total revenue.

Kemudian dari sisi penerapan budaya perusahaan dari pengukuran entropi yang dilakukan tahun 2015, nilai entropi Telkom secara keseluruhan 9%. Nilai di bawah 10% menandakan perusahaan itu sehat, karena semakin tinggi nilai entropi, menandakan semakin besar waktu atau energi digunakan untuk mengerjakan hal yang tidak produktif.

Apa target dan rencana ke depan?

Target Telkom sampai tahun 2020 adalah menjadi Top 10 Market Capitalization Telco in Asia Pacific. Saat ini Telkom Indonesia berada di posisi 11 masih di bawah operator seperti China Mobile, NTT, Telstra dan Singtel. Diharapkan dengan bisnis Telkom yang terus tumbuh dua digit, target tadi bisa dicapai.

Tiffany Diahnisa dan Joko Sugiarsono

 

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)